
"Cinta kadang kala tidak bisa dipaksakan. Kedatangannya bagaikan sebuah misteri yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Keberadaannya kadang kala menghadirkan kebahagiaan maupun luka."
"Namun, yakinlah jika keberadaannya adalah sebuah takdir yang telah Allah pilihkan untuk kita. Jika kita mampu melaluinya serta merasakan hal sama, tidak ada yang tidak mungkin jika... kebahagiaan itu bisa didapatkan," racau Ayana kembali menatap ke depan memindai karyanya.
Perkataan sang pelukis barusan membuat ia sendiri pun terkekeh pelan. Ayana sadar setelah sekian detik kemudian kata-kata tadi tersampaikan.
Kepala berhijabnya menunduk singkat dan kembali memperlihatkan lengkungan bulan sabit penuh makna.
Jasmine yang menyadari itu menautkan kedua alis, sama sekali tidak mengerti pikiran Ayana.
"Aku sadar... perkataan barusan tidak layak untuk aku katakan," katanya lagi.
"Eh? Maksudmu?" Jasmine terkejut langsung berpaling pada sang sahabat, menunggu dengan sabar apa yang hendak disampaikan Ayana lagi.
Seperti mengukir kisah di atas kanvas, satu persatu guratan masa lalu, kenangan yang telah terjadi, serta bayangan hari kemarin tergambar jelas.
Bak tayangan sebuah film diulang kembali, adegan demi adegan terus bersinggungan dalam ingatan. Catatan kelam yang seharunya tidak usah dibuka lagi nyatanya mencuat ke permukaan.
Ayana sadar tidak ada sebuah perasaan yang benar-benar tulus sebelum merasakan sesuatu. Karena dari kejadian kemarin ia belajar banyak hal, jika jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan, sebab bisa saja hal yang kita pikir baik malah berakhir sebaliknya.
Pikirkan dan renungkan lah lebih dulu serta serahkan semuanya pada Allah semata agar mendapatkan hasil maksimal.
"Seperti yang sudah kamu tahu, kisah percintaan ku tidak semulus itu. Perjuangan yang tidak mudah, serta banyaknya air mata mengiringi setiap perjalanan."
"Namun, setelah sekian banyaknya luka, kebahagiaan itu didapatkan. Kamu percaya kan? Allah Maha Membolak-balikkan hati seorang hamba," tutur Ayana kembali.
Suaranya mengalun, menemani setiap ingatan yang terus berkecamuk dalam kepala berhijab seorang Jasmine.
Ia pernah mendambakan cinta kepada seseorang. Namun, semua itu hanyalah sebatas ilusi dan keinginan semu semata.
Baginya tidak ada yang benar-benar bisa didapatkan. Hanya sebuah keinginan sederhana, tetapi sulit untuk digapai.
Semua bagaikan mimpi yang hanya ada dalam sebuah imajinasi semata. Karena kehidupannya pada saat itu sudah bukan miliknya lagi. Ia benar-benar dikendalikan oleh sang paman bagaikan boneka pekerja.
"Lentera cinta, apa bisa menyala dan terbang ke angkasa lepas untuk mengudarakan kisah mendebarkan ini?" tanya Jasmine membuat Ayana berpaling kembali padanya.
__ADS_1
"Bukan hanya lentera cintamu saja, tetapi cinta kalian. Kamu dan juga calon imam yang akan menyempurnakan separuh agama kalian. Jangan takut untuk mencoba dan melangkah ke arah lebih jauh lagi, kamu berhak bahagia, Jasmine" kata Ayana lagi disertai senyum tulus.
Jasmine pun membalas tatapannya tak kalah hangat. Bibir ranumnya melengkung sempurna seraya mengangguk singkat.
Mendapati hal itu, Ayana tidak kuasa membendung kebahagiaan. Ia senang pada akhirnya sang kakak mempunyai kesempatan untuk menyatakan cinta.
...***...
"Apa kamu sudah meyakinkan diri untuk mengungkapkan cinta?" tanya Zidan yang tengah duduk di salah satu kursi kayu pinggir kolam.
Danieal yang berada di sebelahnya hanya dihalangi oleh meja kecil tengah-tengah mereka pun mengangguk singkat.
"Rencananya memang seperti itu, tetapi setelah melihat reaksinya tadi... nyaliku kembali ciut," balasnya menegak minuman kaleng dingin dalam genggaman.
Zidan tergelak singkat, tidak menyangka kakak ipar yang berprofesi sebagai dokter memiliki nyali sekecil itu.
"Apa kamu pernah takut menghadapi pasien? Entah itu korban kecelakaan lalu lintas, kebakaran, dan lain sebagainya?" tanya Zidan lagi.
Danieal terdiam beberapa saat memikirkan pertanyaan terlontar dari adik iparnya. Manik kelam itu memandang riak air kolam yang tertiup angin siang ini.
"Pernah, tapi bukan korban yang kamu sebutkan tadi," balasnya menarik atensi Zidan yang seketika menatapnya lekat.
Ia pun tidak menduga jika tugas Danieal sebagai seorang dokter pernah merasa takut dalam menangani pasien. Ia pikir Danieal seorang pria batu mengingat ekspresi dinginnya yang kerap kali diperlihatkan.
Ia jadi teringat saat pertama kali bertemu, wajah Danieal tidak berbeda jauh dari kulkas dua pintu. Ia benar-benar dingin dengan tatapan nyalang, bak seekor elang tengah mengincar mangsanya.
Terutama jika menyangkut Ayana, Danieal benar-benar bisa berubah kejam tanpa melihat siapa pun itu. Ia sangat menyayangi sang adik layaknya sadari kandung.
"Ayana, aku pernah takut dalam menanganinya," balas Danieal kemudian.
Jawaban itu pun langsung membuat Zidan terdiam. Ia tahu sang istri pernah mengalami depresi serta trauma dalam menjalani hidup.
Semua itu terjadi akibat kelakuan yang pernah dirinya torehkan pada Ayana, serta kemalangan menimpanya.
Kejadian demi kejadian tak terduga itu memberikan luka teramat dalam di relung hati sang pelukis.
__ADS_1
"Pada saat itu aku hampir tidak bisa menanganinya lagi. Sebagai dokter yang bertanggungjawab atas Ayana, aku hampir kehilangan arah."
"Coba kamu bayangkan, wanita- tidak... pasien yang sudah aku anggap seperti adik kandung sendiri tergeletak bersimbah darah di ruang inapnya."
"Iya, kejadian Ayana yang menyayat lengannya sendiri benar-benar membuatku ketakutan. Aku hampir tidak bisa bernapas dan takut setengah mati. Dia... sangat luar biasa dalam memberikan kejadian mengerikan."
"Aku sangat terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, setelah mendapatkan kepercayaan diri lagi akibat bantuan dari dokter senior aku bisa menghadapinya kembali," tutur Danieal mengingat kenangan paling menyeramkan sepanjang dirinya bertugas sebagai seorang dokter.
Zidan termangu, lidahnya kelu, dengan pandangan jatuh ke bawah. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa kelamnya hari itu pada saat Ayana tergeletak tidak sadarkan diri dengan lengan terus mengeluarkan darah.
"Pasti berat bagimu, aku yang mendengar semua ceritanya... sangat terpukul. Aku tidak bisa menjaga istriku sendiri, bahkan hampir kehilangannya," balas Zidan sendu.
Ia mengusap wajah gusar dan mendengus pelan menetralkan sesak yang tiba-tiba saja datang menyapa. Kenangan yang sudah dua tahun berlalu masih segar dalam ingatan pun membuat Danieal tidak percaya bisa mengalami hal mengerikan itu.
Ia tidak ingin kehilangan siapa pun lagi selepas kejadian menimpa Eliza. Ia ingin Ayana bangkit dan bisa menerima kenyataan serta bersabar atas apa yang terjadi.
Sekarang ia bisa bernapas lega, pada akhirnya Ayana mampu melewati itu semua dan menyesali perbuatannya.
Ayana bertaubat dan terus meminta pengampunan pada Allah, sebab pernah menentang takdir-Nya untuk mengakhiri segalanya.
"Kamu, Ayana, dan aku... pernah mengalami kejadian mengerikan. Namun, luar biasanya Allah, menguatkan hati kita untuk memperbaikinya."
"Untuk itu tidak ada yang perlu kamu takuti. Besarkan nyali mu untuk mengatakan perasaan sebenarnya pada Jasmine."
"Seorang wanita butuh kepastian dan keseriusan. Jangan pernah menarik ulur perasaannya, sebab jika trauma itu sudah ada, maka kepercayaan tidak bisa kembali seperti semula."
"Itulah yang sudah aku rasakan. Sangat sulit mendapatkan lagi kepercayaan itu dari Ayana. Butuh waktu yang tidak sebentar hingga pada akhirnya kami bisa kembali bersama," kata Zidan bijak.
Danieal kembali dibuat tidak percaya oleh adik iparnya sendiri. Ia yang mengetahui Zidan sebagai pria tidak baik dibuat takjub seketika.
Pianis yang pernah menorehkan luka menganga di hati adiknya itu benar-benar sudah berubah. Ia bangga dan senang Zidan membuktikan jika dirinya sangat menyesal.
"Iya kamu benar, terima kasih. Aku akan mencoba mengatakan apa yang seharusnya Jasmine dengar." Danieal beranjak dari duduk dan dengan sorot mata penuh keyakinan kedua kaki jenjangnya melangkah meninggalkan Zidan.
Sang musisi terkejut, tidak percaya Danieal langsung berubah dalam hitungan detik saja.
__ADS_1
"Hei, benar kamu akan melakukannya sekarang?" teriaknya mengikuti ke mana Danieal pergi.
"Wah, pria itu benar-benar." Zidan tidak habis pikir dengan keyakinan yang dibawa dokter sekaligus kakak sang istri membuatnya melanjutkan niat untuk mengungkapkan perasaan.