
Senja kembali hadir mengenyahkan langit biru sepanjang hari. Cakrawala melebur memberikan pesona baharinya sendiri.
Panasnya sang surya perlahan meredup berganti udara sejuk.
Warna jingga dan orange memancar menjadi satu membersamai raja siang itu hendak pulang ke peraduan.
Waktu singkat, memberikan keindahan tiada tara pun menyuguhkan pemandangan luar biasa bagi sang penikmat senja.
Matahari yang turun dari singgasananya menghadirkan lukisan Allah begitu indah. Tidak ada yang bisa menyainginya ataupun menggantikannya.
Segala kenikmatan yang hanya bisa dirasakan di waktu sore menyuguhkan panorama tidak terkalahkan.
Di waktu itu, Ayana dan Hana kembali menikmatinya hanya berdua saja. Keempat pria yang ada di ruangan sudah sang pelukis minta tolong untuk keluar dulu memberikan jeda bagi mereka sendirian.
Mereka pun mengerti dan bergegas keluar ruangan.
Di balik jendela ruangan, kedua pelukis berbakat tersebut menyaksikan keindahan alam. Kecantikan luar biasa mencetuskan lengkungan bulan sabit di masing-masing wajah rupawan.
"Dari dulu sampai sekarang, aku tidak pernah bosan melihat indahnya senja. Aku sangat menyukainya... karena itulah banyak dari karyaku bertemakan senja," tutur Ayana memulai percakapan.
Hana diam beberapa saat mengingat kembali lukisan demi lukisan yang pernah Ayana buat. Benar apa yang dikatakan sang pelukis jika kebanyakan karyanya mengusung senja.
Hana yang sempat mengikuti bagaimana perkembangan sang sahabat selepas keluar dari rumah sakit pun ikut bangga dan bahagia.
Ia senang mendengar berita jika ada pelukis pendatang baru dengan nama Ghazella Arsyad mencuat ke permukaan.
Di saat melihat wajahnya, Hana menyadari jika itu adalah Ayana, seorang teman yang dirinya temui di rumah sakit.
Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ayana, tetapi Hana paham pasti ada sesuatu hal sudah menimpa membuat wanita itu mengganti namanya sendiri.
Namun, nama Ghazella sendiri masih teringat dengan jelas jika itu adalah milik Ayana.
"Syukurlah, aku benar-benar bahagia dan bangga pada akhirnya... kamu bisa mewujudkan mimpi sebagai pelukis. Aku sangat bersyukur, Ayana... aku benar-benar bersyukur." Hana mengungkapkan kebahagiaannya dengan memandang sang lawan bicara.
Ayana pun menoleh mendapati binar di kedua mata sang sahabat. Ia lalu menggenggam tangan Hana erat sembari membalas tatapan itu tak kalah lekat.
"Kamu tahu, Hana... perjuanganku untuk bisa sampai ke titik ini tidaklah mudah. Kita bertemu di rumah sakit yang sama, tahukah kamu... apa yang terjadi padaku saat itu?"
Hana menggeleng dengan jujur.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, sebab... aku tidak tertarik dengan penderitaan orang lain... yang membuatku tertarik padamu adalah... karena kita sama-sama menyukai dunia lukis."
"Saat pertama kali bertemu denganmu... aku berpikir apa aku bisa berteman dengannya? Siapa sangka? Jika kamu menyapaku lebih dulu," jelas Hana kemudian.
Ayana mengangguk singkat lalu menjawab, "Aku penasaran, ada seorang wanita yang setiap sore mengawasi ku di belakang tembok. Karena tidak nyaman aku langsung memanggilmu saja, eh siapa sangka... kita bisa berteman sampai sekarang."
"Kamu benar, Ayana... terima kasih sudah menyapaku waktu itu," ungkap Hana lagi, lega.
"Sama-sama, aku yakin kamu juga bisa menggapai mimpimu lagi. Karena untuk bisa dititik ini pun, aku harus melalui banyak sekali rintangan dan cobaan menghadang."
"Keberadaan ku di rumah sakit... karena pada saat itu aku mengalami trauma dan depresi... bahkan tidak ingin berada di dunia ini lagi. Namun, berkat kasih sayangnya Allah, aku mampu bertahan dan bekerja keras hingga pada akhirnya berada di titik sekarang," ujar Ayana.
Hana menyaksikan ada bekas perjuangan di dalam mata Ayana yang tidak luntur seiring berjalannya waktu.
Saat pertama kali Ayana menyapanya, waktu itu ia terlihat sangat pucat seperti seseorang yang tidak memiliki semangat hidup sedikitpun.
Hana memang tidak tahu apa yang telah terjadi pada Ayana, tetapi satu yang pasti masa lalu bisa membangkitkan rasa sakit dan mengubah masa depan menjadi lebih baik, jika disikapi dengan baik pula.
"Em, aku percaya... aku juga pasti bisa," jawab Hana positif.
Ayana mengangguk singkat dan mereka kembali saling berpelukan di bawah langit senja.
...***...
Danieal dan Jasmine pun ikut serta, ingin membelikan beberapa barang untuk keponakannya. Ayana maupun Zidan tidak menolak dan mereka pun pergi bersama.
Selepas memarkirkan kendaraan, Zidan menggandeng sang istri memasuki mall. Mereka bergegas menuju lantai atas tempat peralatan bayi ada di sana.
Setibanya di lantai lima, pandangan Ayana langsung jatuh ke salah satu pakaian bayi. Ia menarik Zidan mendekati toko tersebut dan seketika terpesona dengan semua peralatan bayi yang terpajang.
Jasmine dan Danieal pun ke toko sebelah, berpisah dengan mereka.
"Maa syaa Allah, Mas lihat pakaian ini lucu sekali." Ayana begitu antusias memperlihatkan salah satu pakaian bayi pada suaminya.
"Pelan-pelan, Sayang. Kita tidak akan kehabisan," ucap Zidan mengingatkan Ayana.
Beberapa pegawai yang ada di toko itu pun mengulas senyum, gemas menyaksikan orang tua baru tersebut.
Zidan maupun Ayana sama-sama sibuk memilah dan memilih pakaian apa saja untuk buah hati pertama mereka.
__ADS_1
"Baju tidur ini sangat nyaman dipakai untuk bayi yang baru lahir. Kainnya sangat halus dan juga hangat, cocok bagi bayi kalian," jelas salah satu karyawan wanita di sana.
Ayana menerima baju tidur berwarna biru muda itu dan merasakan kelembutan darinya.
"Benar Mas, ini lembut sekali!" ujarnya senang.
"Kalau begitu masukan ini ke keranjang. Em... Mbak dan masukkan semua barang yang tadi sudah istri saya sentuh," jelas pianis sekaligus pengusaha tersebut.
Beberapa bulan lalu, Zidan menjabat sebagai pemimpin di perusahaan milik sang ibu. Ia menggantikan Gibran yang lagi sibuk dengan dunia fashion nya.
Kakak beradik itu pun saling bekerja sama dan silih berganti untuk menjalankan bisnis sang ibu yang bergerak di bidang kosmetik.
"Se-semuanya, Tuan?" tanya salah satu karyawan lagi yang ada di toko itu.
"Iya semuanya, apa wajah saya terlihat bercanda?" tanya Zidan disertai senyum.
Karyawan itu pun menggeleng gugup dan buru-buru membawa barang-barang yang sudah Ayana sentuh tadi.
Sang istri yang masih sibuk di depan sepatu bayi mengulas senyum lebar melihat kelakuan suaminya. Ia senang Zidan benar-benar berubah dan menjadi calon ayah terbaik bagi buah hati mereka.
Di saat mereka duduk menunggu barang-barangnya dikemas, tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya mendudukkan diri di samping Ayana.
Ia melihat ke arah perut sang pelukis lalu bertanya, "berapa bulan?"
Ayana yang mendapatkan pertanyaan itu pun menjawab, "baru tujuh bulan, Nyonya."
"Benarkah? Aku pikir sudah sembilan bulan," katanya lagi.
Ayana dan Zidan hanya tersenyum menimpalinya.
"Bayi kalian pasti tampan atau cantik, mengingat orang tuanya begitu menawan. Eh, tapi tunggu! Kenapa wajah kalian tidak asing?"
Wanita paruh baya itu pun menutup mulut menganga nya tidak percaya.
"Bukankah kalian pasangan pelukis dan pianis itu?" tanyanya kemudian.
Ayana serta Zidan pun mengangguk singkat. Seketika wanita baya tadi kegirangan bisa bertemu langsung dengan dua orang yang disukainya.
"Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu kalian di sini. Saya sudah lama menjadi pembeli setia lukisan Anda Ayana, bahkan... saya juga sering melihat konser piano Anda, Zidan," ungkapnya lagi.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu pun lagi dan lagi mengangguk senang dan mengucapkan terima kasih banyak pada sang nyonya.
Mereka juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan seseorang yang menyukai karya-karyanya.