Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 38


__ADS_3

Di antara banyaknya kisah hanya ada satu kenangan yang tidak bisa dilupakan. Bagaimana damainya sebuah perasaan yang datang selepas badai berlalu.


Seperti apa pengharapan baru yang mulai tumbuh setelah perginya hujan petir, dan perasaan berkecamuk berlabuh pada keinginan terdalam membuat perasaan tidak menentu,


Cinta begitu bergelora tidak sanggup harus ditahan. Katakanlah sebagaimana dorongan hati kian memaksa diri untuk melakukannya, membuat ia tidak bisa menampik lagi.


Itulah yang saat ini tengah menjadi pertarungan dalam diri seorang Danieal Arsyad. Sedari tadi ia terus berdiri di depan jendela besar tepat di ruang kerjanya.


Kedua tangan berada di dalam saku celana kain seraya menatap ke depan mengamati alam sekitar. Namun, di dalam kepalanya begitu riuh dan bergejolak mengenai sebuah perasaan.


Ia memikirkan banyak hal mengenai keinginan serta mimpi yang ingin dicapainya saat ini, tetapi Danieal tidak tahu apa wanita itu menginginkan hal sama? Ketakutan pun datang mulai menguasai diri.


"Apa aku harus mengatakannya? Tidak baik juga terus menyimpan perasaan, aku takut hal ini mendorong ke hal tidak diinginkan, baiklah... aku tahu apa yang harus dilakukan." Danieal menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerja.


Tidak lama berselang ia langsung menjalankan kendaraan roda empat meninggalkan garasi mansion. Celia yang kebetulan ada di rumah, mengerutkan kening mendapati putra pertamanya pergi begitu saja tanpa memberitahu.


"Ke mana dia pergi? Tidak biasanya Danieal pergi begitu saja tanpa memberitahu ibunya. Bukankah hari ini dia libur? Apa dia akan menyatakan cinta? Aku harus menghubungi Ayana," katanya berlalu mencari keberadaan benda pintar.


Di tempat berbeda, Ayana yang tengah menerima panggilan dari sang ibu pun melebarkan kedua sudut bibir.


Ia senang mendapatkan kabar yang belum pasti dari ibunya. Ia tahu firasat seorang ibu kepada anak-anaknya tidak mungkin salah.


Ia juga bisa memahami keinginan Celia terhadap putra pertamanya tersebut.


"Aku yakin, seperti itu. Mamah tidak usah khawatir aku akan menunggunya... ah, panjang umur sepertinya mas Danieal sudah tiba. Kalau begitu aku akhiri dulu teleponnya yah mah," ucap Ayana saat samar-samar mendengar mesin mobil berhenti di pekarangan.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Celia, panggilan pun terputus. Bersamaan dengan itu sang kakak masuk dan mereka saling bertatapan.


"Assalamu'alaikum," sapa Danieal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ayana berjalan mendekat.


"Apa kamu sedang menelepon seseorang?" tanya dokter itu lagi sekilas melihat Ayana menjauhkan ponsel dari telinganya dan hal tersebut membuat sang pelukis terpekik.


Firasatnya tidak pernah salah, pikir sang pelukis.


"Iya. Oh yah, ada apa Mas datang ke sini? Tumben sekali datang tanpa memberi tahu. Apa Mas mau bertemu denganku atau-" Ayana melirikkan bola mata ke atas memalingkan pembicaraan ke arah lain.

__ADS_1


Namun, tanpa Ayana duga, Danieal mengangguk mengiyakan. Ia terbelalak, terkejut tidak ada sedikitpun keraguan terlihat dari sorot matanya.


"Dia-"


Ayana tiba-tiba saja langsung menghentikan ucapan cepat kala menyadari ekspresi sang kakak.


Danieal terpaku dengan kedua mata terbelalak lebar, dan mulut menawannya sedikit terbuka. Ia terus melihat ke depan seolah ada sesuatu yang menarik pandangan.


Ayana pun berbalik dan mendapati sang tokoh utama hari ini berada di tengah-tengah anak tangga. Mereka memperlihatkan air muka yang sama persis, sama-sama terkejut mengetahui keberadaan masing-masing.


"Ah, Jasmine? Apa pekerjaan mu sudah selesai? Hari ini Mas Danieal datang untuk-"


"Jasmine." Panggil Danieal menghentikan ucapan Ayana lagi seraya berjalan beberapa langkah ke depan.


Wanita berhijab putih itu memundurkan kedua kaki naik ke anak tangga di belakang seraya menggelengkan kepala singkat. Hingga sedetik kemudian pergerakannya semakin intens membuat Jasmine langsung melarikan diri.


"Apa yang terjadi?" tanya Danieal terkejut.


"Mungkin Jasmine hanya terkejut melihat kedatangan Mas di sini. Bukankah sejak hari itu kalian belum bertemu lagi? Aku yakin ada sesuatu yang Jasmine pikirkan, apa mungkin-" Ayana menolehkan kepala ke samping kanan di mana Danieal tengah berdiri di sana.


Perkataan yang meluncur cepat dari celah bibir adik kecilnya membuat Danieal terbelalak. Jantungnya bertalu kencang dan dengan pergerakan pelan kepala bulat bersurai lembut itu menatap pada Ayana.


"Tenang saja, aku akan bicara pada Jasmine." Ayana menepuk pundaknya pelan lalu bergegas menemui Jasmine di lantai dua.


Sepeninggalan Ayana, Danieal mengusap wajah gusar. Ia benar-benar tidak tahu jika sikap abainya hari itu telah membuat Jasmine salah paham.


Di tengah kepelikkan mendera pukulan keras yang dilayangkan oleh adik iparnya mengejutkan. Danieal berpaling ke samping kanan mendapati sang pianis.


"Tidak usah khawatir, kamu tahu bukan? Ayana pasti bisa meyakinkan Jasmine. Mau minum minuman dingin di pinggir kolam?" ajaknya.


Danieal hanya mengangguk dan mengikuti ke mana langkah kaki Zidan pergi.


...***...


Ayana menyaksikan punggung sempit itu tengah berdiri di depan lukisan besarnya. Perlahan ia masuk ke dalam studio dan berjalan pelan mendekati Jasmine.


Wanita berabaya putih senada dengan hijabnya itu pun terus memandangi gambar senja yang menenangkan pikiran.

__ADS_1


"Dari dulu... aku selalu menyukai senja. Keberadaannya yang berada di ujung hari dan diawal kegelapan sangat menarik perhatian."


"Hadirnya yang kadang kala membawa orang-orang pulang menyisakan kesepian. Namun, meskipun kegelapan setelahnya datang, keberadaannya tidak bisa digantikan oleh apa pun."


"Allah begitu sempurna dalam menciptakan lukisan yang luar biasa," kata Jasmine membuat Ayana terpaku lalu melanjutkan langkah hingga berdiri di samping wanita itu.


"Iya kamu benar, aku juga selalu menyukai senja. Warna jingga, orange memancar dari sang raja siang yang pulang ke peraduan memberikan kebahagiaan kepada penikmatnya."


"Kamu tahu, saat aku melukis ini siapa yang menjadi inspirasiku?" tanya Ayana menatap ke arah sama.


Jasmine menggeleng singkat, walaupun keduanya masih kukuh mempertahankan posisi satu sama lain.


"Kamu, Jasmine."


"Eh!" Seketika itu juga Jasmine menoleh ke samping melihat Ayana melebarkan senyum menawan.


"Itu benar... kamu yang memberikan inspirasi padaku untuk menggambarnya. Aku memberi nama lukisan ini the sunset girl... kamu lihat di sana-" Ayana menunjuk di bawah bukit tepat sang raja siang hendak bersembunyi.


"Ada seorang wanita berhijab yang tengah memandangi sunset dalam diam. Di kedua pergelangan kakinya terdapat sebuah rantai yang melilit kuat. Namun, wanita itu tidak merasa kesakitan, melainkan ada senyum yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun."


"Karena di balik enggannya ia melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya... ia masih bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain, hanya di waktu sore hari ia bisa menikmati waktunya sendiri. Meskipun hanya sekejap, sebab kegelapan kembali menguasai, tetapi... wanita itu bahagia bisa mendapatkannya."


"Kamu lihat di balik pohon itu? Ada seorang pria yang sedang mengintip kesendiriannya. Pria itu selalu mengawasinya setiap hari dan berharap bisa berbicara dengannya."


"Namun, sang wanita tidak mengetahui jika ada seseorang yang ingin melepaskannya dari jerat rantai tersebut. Dengan cinta-" Ayana membalas tatapan Jasmine yang sedari tadi terus terpaku padanya.


"Dengan cinta yang tulus kamu benar-benar bisa terbebas Jasmine. Tidak hanya senja, bahkan kamu bisa mendapatkan malam bertabur bintang dengan cahaya bulan. Kegelapan tidak seburuk itu jika kita melihat dari sisi yang lain."


"Karena itulah... sudah saatnya kamu membuka hati untuk merasakan apa itu cinta. Bukan iba ataupun kasihan, tetapi cinta tulus nan ikhlas, kamu mengerti?"


Jasmine membulatkan manik bulannya dan kembali memandang ke depan. Ia melihat dua objek lain yang berada di sisi bukit lainnya.


Dua orang saling merangkul satu sama lain dan memandangi langit yang sama. Mereka tengah menyaksikan senja dengan penuh perasaan cinta.


"Apa aku bisa mendapatkannya?"


Pertanyaan itu berdengung dalam studio lukis Ayana.

__ADS_1


__ADS_2