Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 42


__ADS_3

Musim panas tahun 20xx Negara K


Perusahaan Nakazima merupakan sebuah tempat di mana banyak orang menjajakan tanamannya di sana.


Perusahaan itu berada dalam naungan Keluarga Rauf yang sangat menggilai berbagai macam tanaman hias, terutama bunga.


Mereka sudah berdiri selama bertahun-tahun lamanya dan telah bekerjasama dengan perusahaan parfum besar ibu kota, Floella parfume.


Ihsan Rauf yang masih berumur dua belas tahun pun sering mengirimkan tanaman bunga ke perusahaan besar.


Ia senang bisa membantu keluarganya dan hal itu didukung oleh orang tuanya yang mana mereka meyakini jika sang putra harus dididik keras sejak dini dan tidak tergantung hanya dari keberhasilan ayah dan ibunya semata.


Pada satu ketika di saat Ihsan hendak mengirimkan tanaman bunga yang cukup langka, ia tidak sengaja mendengar percakapan tetua Ashraf.


Ia yang masih remaja pun sangat terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan pot tanaman dalam genggamannya.


Suara bentuman itu menarik perhatian membuat beberapa orang yang sedang berbicara di ruangan langsung keluar.


Mereka menyadari jika di sana ada orang lain yang mendengarkan rencananya.


Ketiga orang pria berbadan besar keluar dari ruangan mendapati Ihsan tengah gugup tak karuan memandangi mereka.


"Sa-saya datang ke sini ingin mengantarkan tanaman ini," jawabnya takut-takut.


"Bos, apa yang akan kita lakukan?" tanya salah satu pria itu sembari menoleh ke belakang.


"Siapa namamu?"


Suara wanita dewasa tertangkap pandangan, Ihsan mendongak sekilas dan kembali menunduk menyaksikan kedatangannya.


"I-Ihsan," jawabnya singkat.


"Anak manis, apa kamu dari keluarga Rauf?" tanya Basima seraya mencengkram dagu anak itu membuatnya kembali melihat ke atas.


Ihsan mengangguk pelan mengiyakan.


"Apa yang kamu dengar tadi? Apa kamu akan memberitahu orang-"


"Aku tidak mendengar apa-apa," sambar Ihsan cepat.


Basima sedikit menghempaskan dagunya kuat membuat remaja itu oleng. Ia pun melipat tangan di depan dada sambil berkata, "ah, rupanya kamu mendengar semuanya. Bawa anak itu masuk," titahnya pada anak buah.

__ADS_1


Mereka pun langsung menarik Ihsan ke dalam dan di sana ia diberikan peringatan untuk tidak berbuat macam-macam.


Mau tidak mau Ihsan menyanggupi tugas yang diberikan, yaitu mengawasi jalannya rencana Basima. Ia harus berada di lokasi memantau setiap pergerakan anak buahnya.


Sampai di hari H, Ihsan benar-benar ada di lokasi perusahaan Nakazima. Ia tidak menyangka jika tempat itulah yang akan menjadi saksi bisu seperti apa rencana tersebut dilakukan.


Ia juga tidak pernah menduga jika orang tuanya menyerahkan perusahaan itu kepada tetua Ashraf.


Wanita keji itu membelinya dengan harga fantastis untuk melakukan tindakan kejam.


Pada saat itu Aliyah, Anwar, dan kedelapan orang lainnya yang disuruh mengambil tanaman langka di sana pun mengalami nasib malang.


Kelima pria berbadan besar yang disuruh untuk membakar gedung itu pun berhasil menyalakan si jago merah sampai memakan bangunan berlantai tiga tersebut.


Ihsan yang pada saat itu melihat sendiri bagaimana kobaran api langsung menghubungi pemadam kebakaran.


Kedua kakinya lemas mengetahui fakta jika di dalam sana ada sepuluh orang yang terpanggang oleh api. Ia menangis sejadi-jadinya mengetahui kesalahan yang seharusnya tidak diperbuat.


...***...


"Sejak saat itu Anda selalu diawasi oleh tetua Ashraf, Basima Ashraf. Bahkan sampai sekarang pun Anda tetap berada dalam pengawasannya. Karena orang-orang yang sudah bekerja sama dengan wanita itu... tidak akan lolos begitu mudah," ucap Ayana selepas tayangan tadi diperlihatkan.


Rekaman CCTV tadi diambil oleh Bening di perusahaan Floella parfume. Pada saat itu ia berpura-pura sebagai pengirim tanaman bunga yang disuruh oleh Zidan.


Mengandalkan informasi yang sudah dirinya kantongi, Bening menuju gudang tempat penyimpanan.


Di sana penuh sekali barang-barang dari beberapa tahun lalu sampai sekarang.


Ia mencari tahu di mana letak DVR tersebut dan menemukannya cukup mudah. Karena di sana sudah terpasang tanggal, bulan, serta tahun kapan benda itu diletakan.


Selepas mengendalikan CCTV yang ada di sana, Bening pun leluasa mengambil rekaman demi rekaman di dalamnya.


Ia duduk di sana selama berjam-jam guna memindahkan apa yang diinginkan. Ia sangat puas setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan.


Sampai pada saat ini rekaman percakapan antara Basima dan Ihsan dua puluh tahun lalu pun ditayangkan.


Ihsan kembali gemetaran mengingat kembali kejadian yang sudah lama berlalu.


"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Ihsan lagi masih tidak mengerti.


"Apa Anda lupa, dia-"

__ADS_1


"Saya cucu menantu Basima Ashraf, sekaligus anak dari dua orang yang ada di dalam kebakaran waktu itu," ungkap Ayana memotong ucapan Bening.


Mendengar penjelasan barusan membuat kedua kakinya lemas seketika. Ihsan limbung ke belakang tidak bisa menahan berat badannya sendiri.


Menyaksikan reaksinya membuat Ayana tersenyum penuh makna. Ia kembali melangkahkan kaki ke depan seraya terus memantaunya lekat.


"Pilihan ada padamu. Kamu bisa memilih mau membantuku bersaksi, atau menemui Kirana dan putri kalian? Jika kamu memilih opsi kedua posisimu saat ini pasti akan terancam, juga... pernikahanmu dengan putri gubernur itu pun bisa kandas," ancam Ayana membuat Ihsan tidak berkutik.


"A-apa yang ingin aku lakukan untukmu?" tanya Ihsan setelah beberapa saat bungkam.


Ayana mendengus kasar lalu tersenyum lebar.


"Mudah, kamu hanya harus menjadi rekanku saja. Kapan pun aku butuh, kamu harus ada. Apa kamu tidak keberatan wali kota terhormat?" pinta Ayana menyindir kedudukannya.


Ihsan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Baiklah jika itu mau mu akan aku lakukan," balas Ihsan kemudian.


Ayana menoleh ke belakang dan tersenyum tulus pada Bening. Wanita itu mengangguk senang, mereka bisa mendapatkan saksi yang tidak terduga pada kejadian dua puluh tahun lalu.


...***...


Ayana berjalan mendekat ke arah Kirana dan mencengkram punggung kursi kayu itu kuat. Masih dengan memperlihatkan bulan sabit sempurna, ia merunduk berbisik tepat di telinga sang model.


"Bisa Anda bangkit dari kursi ini, Nona Rauf?"


Mendengar nama itu Kirana menoleh cepat pada Ayana di mana wanita itu masih mengembangkan senyum penuh makna.


Kepala berhijabnya mengangguk-angguk seolah memberikan peringatan pada Kirana. Wanita itu pun langsung terbelalak menyadari jika Ayana sudah tahu sesuatu.


"Sepertinya kamu bisa membaca pergerakan ku yah?" tanya Ayana lagi membuat degup jantung Kirana bertalu tak karuan.


"Kamu-"


"Iya, aku tahu semuanya," balas Ayana memotong ucapan Kirana cepat.


Mereka pun saling bertatapan, memercikan api dalam sorot mata masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah, kedua wanita itu tengah berada dalam perang dingin.


Semua orang yang melihat itu pun mengernyit, heran. Mereka terkejut jika sosok Ayana benar-benar sudah berubah.


Sang pelukis bukan wanita lemah yang dulu sering mereka suruh-suruh. Bahkan dulu hampir sebagian besar masakan yang tersaji di meja adalah masakan Ayana.

__ADS_1


Waktu itu Ayana tidak lebih berbeda dari asisten keluarga Ashraf. Keberadaannya tidak pernah dianggap dan hanya dijadikan alat sebagai pelampiasan.


Bukan luka fisik yang didapatkannya, melainkan luka batin sampai saat ini masih menetap di dasar relung hati terdalam.


__ADS_2