Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 56


__ADS_3

Satu minggu berjalan begitu alot dan penuh tantangan. Setiap waktu bergulir terasa lama dan membosankan.


Bagaikan berjalan di tempat, tidak ada perubahan apa pun yang dirasakan. Bosan, sepi, hening, dan gelisah menjadi satu kesatuan membuat ia gamang.


Hari yang dilewati tidak mudah dengan menghadirkan harap-harap cemas tidak bertepi. Itulah yang dirasakan oleh Danieal Arsyad, selama tujuh hari berada di rumah sakit dirinya dirundung kegelisahan.


Setelah mengetahui keberadaan dan keadaan Jasmine di sana, ia sama sekali tidak diperbolehkan melihat wanita itu.


Menurut Celia, Adnan, serta Ayana lebih baik Daniela tidak usah bertemu atau melihat Jasmine dulu, agar tidak menimbulkan suatu hal tidak diinginkan.


Terlebih saat ini mereka tahu seperti apa perasaan tulus seorang Danieal. Ketiganya takut sang dokter tidak bisa menahannya, terutama jika mengetahui apa yang telah terjadi pada Jasmine.


Emosi yang tidak bisa dikontrol Danieal, mengkhawatirkan orang-orang disekitar, takut jika sang dokter bisa melakukan hal nekad.


Itulah alasan ketiganya tidak memberikan akses lagi pada Danieal untuk mendekati Jasmine.


Namun, hal tersebut malah semakin membuat dokter tampan itu semakin tidak karuan. Setiap hari ia mencoba keluar dan menemui Jasmine.


"Aku harus menemui Jasmine." Itulah yang selalu dikatakan Danieal ketika membuka matanya lagi.


Namun, baru saja ia menggeser pintu ruangan niat itu diurungkan. Ia kembali ke dalam dan menunggu kapan mereka memberikan izin.


Siapa sangka di hari ke delapan keluar dari ruangan, Danieal mendapati siluet seseorang meninggalkan kamar inap Jasmine.


Dahi tegasnya mengerut dalam tidak tahu siapa pria yang baru saja pergi.


"Siapa pria itu? Kenapa dia bisa keluar dari ruangan Jasmine? Apa dia saudaranya? Tidak mungkin... bukankah Jasmine tidak punya siapa-siapa lagi? racaunya terus mengikuti ke mana sosok tadi melangkah sampai bayangannya menghilang di balik tembok.


"Aku harus memastikannya sendiri." Final Danieal keluar sepenuhnya dari ruang inap.


Ia sama sekali tidak mempedulikan apa kata orang tua serta adik sambungnya. Ia terus berjalan perlahan mendekat ke ruang sebelah.


Sampai tidak lama kemudian, ia tiba di sana dan melihat sang penghuni tengah melakukan hal sama, yaitu menoleh ke samping jendela.


Wajah cantiknya tersembunyi semakin menambah rasa penasaran.


Danieal menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia berkali-kali meyakinkan diri untuk menggeser pintu tepat di depannya.


Hingga sedetik kemudian tangan tegap itu terulur lalu membuka pintu yang seketika mengejutkan penghuni di dalam.


Jasmine menoleh, pandangan mereka pun saling bertubrukan. Waktu seakan berhenti detik itu juga membekukan keduanya.


Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik Jasmine, membuat Danieal terbelalak sadar dari lamunan.

__ADS_1


Ia berdehem pelan dan melangkahkan kaki ke dalam memasuki ruangan.


"A-assalamu'alaikum, bagaimana kabarmu?" tanyanya gugup.


Jasmine mengangguk pelan masih mempertahankan senyum manis.


"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah, sangat amat baik."


Mendengar suara serak nan lirih itu sontak mengejutkan Danieal. Ia diam beberapa saat merespon apa yang terjadi.


Bibirnya gemetar berusaha mengucapkan sepatah kata yang sulit untuk dicetuskan.


"Ka-kamu... kamu sudah bisa bicara lagi?" gugupnya seraya berjalan perlahan mendekat.


Jasmine kembali menganggukkan kepala berhijabnya dan mengamati gerak-gerik sang dokter. Sampai tidak lama kemudian Danieal tiba di sofa tunggal tepat di samping ranjang.


Ia duduk dengan gerakan lambat bak video slow motion yang membuat Jasmine tidak kuasa terkekeh pelan.


Mendapatinya tertawa seperti itu lagi-lagi mengejutkan Danieal. Ia mendongak memandangi wajah berseri sang pujaan.


Di balik peristiwa yang melanda, serta kejadian tidak diinginkan terlewati, mereka kembali disatukan dalam satu waktu.


Kecanggungan serta kebimbangan dalam dada terus menerus menyapa. Ingatan tentang hari-hari itu kembali menyambut keheningan.


Danieal dan Jasmine, bersyukur keadaan diri masing-masing sudah jauh lebih baik.


"Apa kabar Mas Danieal?"


Akhirnya Jasmine memecah keheningan di antara mereka. Danieal yang semula menjatuhkan pandangan ke bawah mengangkat wajahnya lagi.


"A-ah, Alhamdulillah, aku sudah baik-baik saja." Setelahnya Danieal menghela napas berat mengundang atensi sepenuhnya dari Jasmine.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanyanya lagi.


Danieal menggeleng beberapa kali lalu menjawab. "Aku lega bisa melihatmu lagi, terima kasih. Karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Aku- eh?" Sang dokter terkesiap saat air mata jatuh berlinang begitu saja.


Ia sendiri pun terkejut kenapa bisa menangis saat mengatakan hal itu. Jasmine juga ikut terbelalak, tidak percaya menyaksikan pria di sebelahnya mengeluarkan kristal bening.


"Kenapa-"


"Aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf. Tidak... sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku-aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."


Danieal terus meracau tidak jelas yang lagi-lagi memunculkan bulan sabit di wajah cantik Jasmine. Ia tahu apa yang sedang dirasakan sang dokter.

__ADS_1


"Tenanglah, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja, terima kasih Mas Danieal sudah menolongku waktu itu. Jika bukan karena perlindunganmu, mungkin sekarang... aku sudah tidak ada di dunia ini," kata Jasmine mengejutkan.


Secepat kilat Danieal berpaling padanya lagi. "Jangan berkata seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu disakiti oleh siapa pun. Aku akan melindungi mu sejauh apa pun itu, meskipun harus mengorbankan nyawa sekalipun!" tegasnya.


Sepasang kelereng keabuan Jasmine melebar sempurna. Ia melihat keyakinan serta keseriusan di balik sorot mata lawan bicara.


Ia tahu Danieal tidak main-main atas apa yang diucapkannya barusan. Hal tersebut juga membuat degup jantungnya berdebar tak karuan.


Bayangan di kala senja hari itu datang secepat kilat menyambar. Jasmine menyadari satu hal saat ini, jika dari awal perasaan aneh tersebut sudah tumbuh di relung terdalam.


"I love you."


"EH?" racauan Danieal berhenti saat mendengar tiga kata meluncur cepat dari celah bibir kemerahan wanita di hadapannya.


Jasmine mengangkat kepala lagi lalu menoleh ke samping kanan. Pandangan mereka saling bertubrukan kembali memperlihatkan keindahan masing-masing.


Seketika itu juga Danieal merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak menyangka melihat sorot mata tulus nan dalam dari wanita yang dicintainya.


"EHHHHHH?"


Ia berteriak kencang mengenyahkan keheningan malam. Ia tidak percaya dan menduga mendapatkan kata-kata itu tepat keluar dari bibir Jasmine.


Ia diam kaku, bak bongkahan es tidak bisa melakukan apa pun. Danieal membeku di tempat masih dengan memandang ke arah yang sama.


Mendapatinya seperti itu Jasmine pun ikut terkejut. Ia tidak menduga reaksi Danieal luar biasa jauh dari bayangan.


"Apa Mas tidak percaya?" tanyanya sekali lagi.


Dengan gerakan perlahan Danieal menggeleng dan berusaha menguasai diri dari ketegangan. Ia langsung menyambar pertanyannya dengan satu kata.


"TIDAK!"


Mendapati jawaban tersebut dahi tegas Jasmine mengerut dalam. Kata tidak tadi mengandung makna berbeda, ia tidak tahu apa yang dimaksud Danieal saat ini.


Sang dokter pun kembali terdiam kaku, lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata. Seolah ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya.


Keringat dingin pun bermunculan, ia menelan saliva pelan menyaksikan rasa penasaran Jasmine. Kedua tangan yang berada di atas pangkuan pun mengepal kuat.


Danieal kembali membangun kepercayaan dirinya lagi. Sorot mata itu pun berubah tegas nan hangat, ia bisa mendengar sendiri bagaimana riuhnya degup jantung di dalam sana.


Kedua matanya mengatup perlahan dan sedetik kemudian terbuka. Ia memandang Jasmine serius tanpa gentar sedikitpun.


Kini giliran Jasmine yang membulatkan kedua mata, tidak percaya. Hal yang mereka rasakan bermuara indah ke angkasa lepas sebelum terendus ke permukaan.

__ADS_1


__ADS_2