
Bulan berganti bulan, setiap hari hanya ada cerita menyejukkan jiwa. Catatan baru yang dibuka mengisahkan tentang ribuan warna pelangi membersamai setiap langkah.
Karya demi karya baru terbit menjadi saksi bisu akan kebersamaan dua insan terbalut luka masa lalu. Namun, meskipun mereka bersama lagi, kejadian di hari-hari lalu tidak akan pernah dikenang kembali.
Bohong, jika sudah tidak ada bekasnya, layaknya kaca, walaupun kembali disusun serapih mungkin, tetap tidak akan utuh seperti sebelumnya.
Pasti akan ada goresan demi goresan pecahan yang menghadirkan kisah di dalamnya, serta di balik itu semua terdapat kenangan untuk saling mendewasakan.
Malam menjelang, langit bertabur bintang dengan cahaya bulan menemani kebersamaan. Balkon lantai dua mansion disulap menjadi tempat dinner romantis bagi pasangan pianis dan pelukis ini.
Meja berukuran sedang dengan dua kursi saling berseberangan berdiri tegak di tengah-tengah. Hamparan bunga magnolia dan anyelir pun memberikan aroma tersendiri membuka catatan baru bagi keduanya.
Ayana yang baru pulang dari galeri dituntun oleh sang suami menuju lantai dua. Sepasang manik jelaganya tertutup kain hitam menghalau pandangan.
Kekehan demi kekehan ringan tercetus sepanjang jalan, menandakan betapa bahagianya suami istri tersebut. Sambil menggenggam lengan kekar suaminya, Ayana terus mengikuti ke mana dirinya di bawa pergi.
"Hati-hati Sayang, sebentar lagi kita sampai," ungkap Zidan memberitahu sang istri di depan ada satu anak tangga.
"Sebenarnya, Mas mau membawaku ke mana?" tanya Ayana penasaran.
"Tenang saja, nanti kamu juga tahu," balas Zidan lagi, membuat pujaan hatinya hanya mengangguk mengiyakan.
Tidak lama berselang, keduanya pun tiba di balkon. Ayana bisa merasakan hawa dingin seketika menyapa kedatangannya.
Aroma kedua bunga yang saling bertemu satu sama lain membuatnya terperangah. Ia bisa merasakan betapa banyaknya bunga di sana.
Sedetik kemudian Zidan melepaskan ikatan kain di kedua matanya, lalu berkata, "Selamat hari jadi pernikahan kita yang ke-delapan tahun, Sayang dan ... selamat ulang tahun."
Ayana terkesima akan dekorasi yang diberikan suami kepadanya. Secepat kilat ia menangkup mulut menganga dengan kedua tangan, erat.
Manik jelaganya melebar sempurna, bulir-bulir kristal bening merembes di balik kelopaknya dan seketika meluncur bebas di pipi.
Zidan berjalan ke depan lalu bersimpuh tepat di depan sang terkasih. ia menjulurkan buket bunga magnolia dan anyelir besar ke hadapan Ayana.
"Aku mencintaimu, Sayang," ungkapnya hangat.
Ayana mengambil buket itu dan langsung melemparkan diri ke pelukan hangat sang suami. Zidan sedikit terhentak ke belakang, beruntung ia bisa menyeimbangkan hingga tidak terjatuh.
Ia membalas pelukan Ayana tak kalah erat. Kedua tangan kekarnya memberikan elusan pelan di punggung ramping pemilik hatinya.
__ADS_1
Beberapa saat berselang, keduanya sudah duduk berseberangan menikmati makan malam di temani view malam yang begitu indah.
Suara sendok dan garpu saling bersahutan mengembara menemani kedua insan tengah dimabuk asmara.
Di tengah menikmati makanan, Zidan merogoh saku jas mengeluarkan sebuah kotak kecil berhiaskan pita merah jambu.
Ia membukanya tepat di depan mata kepala sang istri.
"Apa kamu mau hidup selamanya bersamaku? Hingga mencapai jannah-Nya?" Kata-kata lembut serta perlakuan hangat mengalihkan atensi Ayana.
Iris cokelatnya melebar bergantian menatap sang suami dan benda yang tengah diulurkan.
"A-apa ini?" tanya Ayana gugup.
Zidan memiringkan kepala sekilas sebagai gesture agar Ayana melihat barang yang tengah digenggam.
Ia pun mengikutinya dan menatap lebin intens apa yang ada di dalam kotak. Seketika itu juga Ayana terkejut melihat sebuah kalung dengan liontin berlian.
"Apa kamu suka? Sekali lagi, apa kamu mau hidup bersamaku selamanya hingga mencapai jannah-Nya?" tanya Zidan kedua kalinya.
Tanpa menolak Ayana menganggukkan kepala yakin. Senyum lega pun mengembang di wajah tampan Zidan.
Zidan beranjak dari duduk lalu berjalan ke belakang sang istri dan memakaikan kalung itu di leher terhalang hijabnya.
Setelah itu ia bersimpuh di sebelah Ayana, mendongak mencari iris paling dirindukannya. Sang empunya pun mengubah duduk menjadi menghadap Zidan.
"Kalung ini aku pesan khusus hanya untukmu, jadi, hanya ada satu di dunia. Karena kamu satu-satunya wanita paling berharga untukku. I love you ... aku mencintaimu sekarang, besok, sampai nanti."
Bagaikan pujangga kalimat yang meluncur dari bibir menawan pasangan halalnya membuat Ayana tidak bisa berkata-kata.
Tidak pernah sekalipun hari seperti ini akan datang dalam bayangan. Kedua mata pelukis itu pun berkaca-kata menahan betapa bahagianya ia hari ini.
Apa yang disampaikan Zidan barusan sampai ke hati terdalam. Ia sangat bersyukur Allah memberikan kesempatan pada mereka untuk melanjutkan perjalanan rumah tangga.
Pernikahan Ayana dan Zidan pun berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Enam tahun yang pernah mereka habiskan pada saat itu menjadi sebuah kisah klasik di mana hanya ada kebohongan, dusta nestapa, serta kesakitan melingkupi.
Sandiwara cinta yang pernah ia lakukan dulu, kini sudah berakhir.
__ADS_1
Sekarang kebahagiaan tengah menari di atas bayang. Memori berkasih akan selalu hadir menemani setiap langkah perjalanan pernikahan keduanya.
Cinta mengiringi momen berharga yang Ayana maupun Zidan lalui bersama.
Ayana pun langsung memeluk erat tubuh kekar suaminya. Ia menangis lagi dan lagi, sangat bahagia, lega mendapatkan sosok yang dari dulu dikaguminya membalas perasaan.
"Em, terima kasih. Aku sangat bahagia," ungkapnya.
Masih belum ada kata cinta tercetus dari bibir ranum Ayana. Namun, Zidan mengerti dan memahami seperti apa perasaan terdalam istrinya.
"Meskipun masih belum bisa dilontarkan, aku yakin kamu masih mencintaiku, Ayana. Terima kasih sudah menerimaku lagi menjadi suamimu. Aku tahu ... kelakuanku dulu tidak bisa dimaafkan begitu mudah, tetapi ... kamu memberikan kesempatan ini. Aku tidak akan menyianyiakannya, aku sangat mencintaimu, Ayana," lanjut benak Zidan dalam diam.
Ayana menutup matanya erat menikmati hembusan angin yang membelai mereka. Pelukan itu semakin kuat menyalurkan perasaan satu sama lain.
...***...
Di tengah keheningan malam, hanya ada deru napas pasangan suami istri di kamar pribadi mereka. Keringat bercucuran sebagai tanda aktivitas yang tengah dilakukan.
Ayana terus menahan gejolak dalam diri yang mana membuat seluruh tubuhnya bergetar. Melakukan hal itu sama saja mengorek kembali kejadian masa lalu.
Rasa sakit yang berusaha ditampik mencuat lagi. Zidan seketika menghentikan permainannya dan langsung memeluk sang istri lembut.
"Maaf, aku melakukannya lagi," kata Ayana merasa bersalah.
Di balik punggungnya Zidan menggeleng singkat. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak usah memaksakan diri, Mas tahu apa yang sedang kamu rasakan. Pelan-pelan saja jangan dipaksakan, Mas akan menunggu."
Ayana terpaku kembali mendengar kata-kata pengertian dari suaminya. Ia pun berbalik menghadap Zidan dan secepatnya memeluk tubuh hangat itu.
"Terima kasih ... maaf." Kalimat tersebut menjadi penentu bagaimana permainan mereka yang harus diselesaikan sebelum akhir.
Zidan mengangguk pelan dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala sang istri.
"Trauma itu seperti kaca pecah, meskipun dikembalikan akan ada goresan seumur hidup."
"Maaf, aku sudah memberikannya padamu, Ayana. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap. Karena aku yang paling bertanggungjawab atas kejadian yang menimpamu," monolog Zidan lagi dalam benak seraya mengusap surai panjang sang istri.
Ayana membuka mata merasakan degup jantung sang suami. Bola matanya menoleh ke atas melihat wajah damai itu.
"Trauma ini membuatku ketakutan. Ya Allah, berikanlah kesabaran pada suami hamba," batin Ayana kemudian.
__ADS_1