
Awan kelabu datang memberikan tetesan demi tetesan air turun dari langit. Malam telah datang, keberadaannya mengalirkan kehampaan dan kesepian.
Jam menunjukan pukul delapan tepat, di ruangan luas berbentuk segiempat itu banyak sekali sanak saudara keluarga besar Ashraf berkumpul.
Mereka datang berbondong-bondong setelah diberi kabar jika tetua Ashraf jatuh sakit. Para anggota keluarga tidak menyangka sekaligus terkejut mendapatkan informasi itu.
"Nenek, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zidan sembari menggenggam tangan ringkihnya erat.
Basima menatapnya sayu dan membalas genggaman tangan sang cucu.
"Ta-tadi Ayana datang ke sini dia... dia membuat Nenek seperti ini, Nak," ungkapnya.
"APA?" Semua orang kompak mengatakan satu kata.
"Apa maksud Nenek? Membuat Nenek seperti ini, maksudnya bagaimana?" tanya balik Zidan.
"Dia melakukan sesuatu yang membuat Nenek terkejut. Kata dokter Nenek mengalami serangan jantung, bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana jika Nenek langsung meninggal saat itu juga? Siapa yang bisa disalahkan?"
"Ya Tuhan terima kasih sudah membuat hamba bertahan," racau Basima memandang lurus ke depan.
"Itu tidak mungkin, Mah. Ayana tidak mungkin melakukan sesuatu sekejam itu," lanjut Lina membela sang menantu.
"Mamah jangan asal bicara dulu sebelum adanya bukti," timpal Arshan.
"Tidak ada bukti? Pelayan!" teriak Basima membuat salah satu pelayan yang berdiri di belakang pintu bergegas masuk.
"Perlihatkan pada mereka jika wanita itu masuk ke mansion hari ini," titahnya.
Pelayan wanita berusia empat puluhan itu pun mengangguk lalu memperlihatkan rekaman CCTV pada saat Ayana memasuki mansion.
Kembali, semua orang yang melihat adegan tersebut terkejut bukan main. Termasuk Zidan, tidak menyangka sang istri datang ke kediaman neneknya tanpa memberitahu.
"Apa yang Ayana lakukan?" tanya Zidan kembali.
"Nenek tidak bisa membayangkannya lagi. Dia sangat kejam mengancam Nenek tanpa perasaan... bisa kamu bayangkan bagaimana terkejutnya Nenek tadi? Ya Tuhan jantung Nenek hampir copot," dustanya memutar balikan fakta.
"Benarkah itu, Mah? Wah jika benar seperti itu istrimu keterlaluan sekali, Zidan." Mega ikut andil menyulutkan api ke dalam permainan.
__ADS_1
Zidan memandangi keduanya, lalu beralih ke belakang di mana semua anggota keluarga tengah melihat tepat ke arahnya.
Mereka mengatakan hal yang sama yaitu terus menerus menyalahkan Ayana atas kejadian menimpa tetua Ashraf tanpa tahu kebenarannya.
Zidan, Lina, maupun Arshan mencoba membela Ayana. Ketiganya mengatakan jika tidak mungkin wanita itu melakukan tindakan keji kepada nenek mertuanya sendiri.
"Kita tidak pernah tahu bagaimana sikap dalamnya seseorang. Bisa saja di luar terlihat baik, tetapi di dalam busuk," kata Mega lagi.
"Tante jangan asal nuduh yah, aku tidak akan percaya jika tanpa adanya bukti. Ingat Tan, kamu sedang hamil," timpal Zidan berang. Seketika Mega kelimpungan menutupi perut buncitnya.
"Mau bukti apa lagi Zidan? Sekarang Nenek hampir sekarat dan rekaman CCTV itu sudah menjelaskan semuanya. Jika istrimu datang tadi pagi," keukeuh Basima.
Zidan menggeleng cepat seraya beranjak dari ranjang sang nenek. "Tidak. Aku tidak akan percaya pada apa yang kalian ucapkan. Apalagi tidak ada bukti apa pun mengenai percakapan Nenek dengan Ayana. Kalau begitu aku permisi... aku harus mencari tahu kebenarannya sendiri."
Zidan berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti saat beradu pandang dengan Kirana. Ia lalu berjalan mendekat dan berbisik tepat di samping daun telinganya.
"Aku titip Raima sebentar," ujarnya lalu benar-benar menghilang dari ruangan tersebut.
Pemandangan tadi membuat orang-orang yang ada di sana terkesiap. Mereka terkejut Zidan lebih mempercayakan anak angkatnya kepada orang asing.
Mereka pun baru menyadari jika di sana ada Kirana yang sedari tadi menyaksikan semuanya.
"Tidak apa-apa, bisa kamu mendekat?" pinta Basima kemudian.
Kirana mengangguk seraya menggendong Raima berjalan ke arah tetua Ashraf yang masih berbaring lemah tak berdaya.
"Tinggalkan kami berdua," lanjutnya lagi.
Semua orang pun bergegas meninggalkan kamar dan di sana tinggallah Kirana, Raima, dan Basima.
...***...
Tidak lama kemudian, Zidan pulang ke kediamannya. Sesampainya di mansion ia langsung mencari keberadaan sang istri.
Ayana tidak ada di kamar mereka, Zidan pun kembali keluar dan seketika itu juga manik cokelat kelamnya langsung beralih ke pintu di ujung lorong.
Firasatnya semakin kuat dan meyakini jika Ayana tengah berada di balik pintu itu. Ia pun bergegas pergi ke sana dan membukanya lebar.
__ADS_1
Ayana yang sedari tadi tengah melukis pun mendengar suara seseorang berada di belakang.
Tanpa mengindahkan sang suami ia terus menyebarkan cat minyak ke kanvas menggunakan kuas besar.
Kanvas yang lebih besar darinya itu memperlihatkan gradasi satu warna, yaitu hitam kelam. Gamis putih yang menjadi identik seorang Ayana ketika melukis pun terdapat cipratan cat di sana sini.
Ayana tidak mengindahkan hal tersebut, baginya cipratan itu seperti seni yang tercipta disebabkan ketidaksengajaan.
Suara sepatu pantofel pun bergema di ruangan dan semakin mendekat. Aroma maskulin menyapu indera penciuman, Ayana menyeringai mengetahui Zidan sudah berada tepat di belakang punggungnya.
"Sebelum kamu mencaci maki aku, sebaiknya kamu cari tahu kebenarannya," kata Ayana tanpa menghentikan pergerakan.
Ia lalu mengambil cat berwarna merah darah dan menuangkannya ke dalam ember tepat berada di bawah kaki.
Kedua manik bulannya memindai lekat pada cairan kental itu sembari terus menyeringai. Gelembung yang dihasilkan di permukaannya pun membuat Ayana terpaku.
Ia terdiam bak bongkahan es tanpa ada niatan bergerak sedikit pun.
"Dua puluh tahun lalu... genangan darah begitu nyata dalam pandangan. Kehilangan dua orang berharga menjadi pukulan telak, seperti menggenggam air, apa yang didapatkan? Tidak ada, hanya bekas basah yang menempel di telapak tangan."
"Luka itu akan tetap menganga bagaikan terjadi kemarin. Luka dalam itu tidak bisa dijahit maupun disembuhkan, selamanya akan tetap ada dan bertahan."
"Tahun berganti tahun, ternyata luka itu bertambah dengan adanya fakta mencengangkan." Ayana berjongkok, mencelupkan kuas ke dalam cat merah kuat menimbulkan suara khas serta cipratan yang cukup besar.
Cairan itu pun mengenai pipi dan setengah badannya. Gamis putihnya semakin tidak karuan dan semakin kontras memperlihatkan warna merah.
Ayana terus menyeringai lagi dan lagi seraya tangan yang menggenggam kuas itu gemetaran.
Ia menariknya kencang membuat cat merah bercucuran ke lantai, mengalir, hingga ke sepatu mengkilap Zidan.
Sedetik kemudian Ayana bangkit lalu berbalik perlahan dan seketika beradu pandang dengan suaminya.
Zidan bergidik ngeri menyaksikan sorot mata nyalang dengan warna merah darah di sekujur tubuh istrinya membuat ia terpaku.
Zidan yang sedari tadi memperhatikan Ayana terkejut bukan main. Ia tidak percaya wanita berhijab tepat di depannya ini sudah berubah.
Pemandangan itu juga membuat Zidan menyimpulkan jika memang benar sudah terjadi sesuatu. Ayana tidak mungkin bertindak tanpa adanya bukti konkrit.
__ADS_1
"Apa ini ada hubungannya dengan nenek? Ya Allah, apa lagi kali ini?" benaknya gamang.