Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 83


__ADS_3

Awan kelabu kembali hadir selepas perginya sinar mentari yang hanya menampakkan diri beberapa detik saja.


Hari ini Ayana mulai menjalankan tugas sebagai istri sama seperti dulu. Ia memasak menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami.


Kejadian tadi malam benar-benar sudah ia lupakan, tetapi kelima pelaku yang membicarakannya nampak ragu untuk membantu.


Mereka terus terdiam beberapa meter di belakang Ayana yang tengah berhadapan dengan kompor.


"Apa kalian akan terus berada di sana? Bisa bantu aku?" pinta Ayana mengejutkan.


Ia masih sibuk berkutat dengan beberapa bahan makanan, kembali pada kompor, dan terus mengerjakan hal lain.


Dara, Clarisa, Luna, dan Meisya pun saling pandang lalu buru-buru membantu, sedangkan Helena sibuk memantau pergerakan sang nona.


Tanpa mengatakan sepatah kata ia melipir ke belakang dan mengambil benda pintar miliknya.


Setibanya di sana ia menghubungi seseorang dan berbicara lewat telepon.


"Dia sepertinya sedang berusaha mengembalikan keadaan seperti semula, dan juga sepertinya hubungan mereka berangsur-angsur baik. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kemudian.


Seseorang di seberang sana pun sedang berbicara, Helena mengangguk-anggukan kepala mengerti.


"Baiklah, akan aku lakukan," ucapnya lagi.


Setelah itu percakapan pun berakhir, Helena memandang lurus ke depan lalu bergegas menyusun rencana untuk segera meluncurkan misi.


Diam-diam Clarisa, Luna, Meisya, dan Dara memandangi Ayana. Sang pelukis masih sibuk dengan pekerjaannya mengoseng-ngoseng bahan makanan.


Ia menyadari jika sedari tadi keempat pelayan yang membantunya terus memperhatikan. Ia diam berusaha tidak mengindahkan mereka.


Namun, lama kelamaan ia juga risih jika harus di tatap seperti itu.


"Apa ada yang ingin kalian katakan padaku?" tanyanya langsung memandangi mereka.


Keempat wanita itu pun kembali saling pandang dan menyuruh orang lain untuk berbicara. Mereka saling tuduh membuat Dara maju ke depan berhadapan dengan Ayana.


"Ka-kami ingin meminta maaf pada Nona muda," jelasnya gugup.


"Kenapa kalian meminta maaf?" tanya balik Ayana.


"Ka-karena kami salah sudah lancang membicarakan Nona muda," balasnya lagi.


Ayana mengulas senyum lembut lalu mematikan kompor dan sepenuhnya menghadap mereka.

__ADS_1


"Jika seseorang mengakui kesalahan dan meminta maaf, kira-kira menurut kalian bagaimana?" tanya balik Ayana.


Dara mengangkat kepala singkat lalu menoleh ke belakang menyaksikan ketiga temannya menggeleng beberapa kali.


"Allah saja Maha Pemaaf, maka siapa aku yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain? Aku hanya sebatas hamba-Nya yang hina dan penuh dosa, oleh sebab itu tidak ada alasan bagiku untuk tidak memaafkan kalian, bukan?"


"Aku benar-benar sudah memaafkan kalian dan ... aku tidak peduli apa yang orang lain bicarakan. Karena selagi tidak merugikan, mereka berhak mengutarakan pendapatnya tentangku," balas Ayana membungkam mulut keempatnya rapat.


Dara kembali memandangi sepasang jelaga yang tengah menatapnya lekat. Sorot mata hangat serta teduhnya lengkungan bulan sabit di wajah ayu itu semakin membuat ia bersalah.


Ia sekali lagi meminta maaf dan tidak percaya pada jawaban Ayana. Mereka lega sekaligus terharu mendapatkan pengampunan dari sang nona.


Tidak jauh dari mereka, Helena menyaksikan semuanya. Ia masih menatap keempat rekan sekaligus majikannya dalam diam.


Perasaannya seketika campur aduk, ia tidak menyangka mendengar sendiri bagaimana sikap yang diambil Ayana.


"Apa dia pura-pura baik?" gumamnya membatin.


...***...


Saat ini Ayana tengah menikmati sarapan bersama sang suami. Zidan tidak henti-hentinya melebarkan senyum menyaksikan istrinya kembali melayani.


Semalam mereka tidak tidur bersama, tanpa sadar Ayana tertidur di studio lukis setelah membereskan ruangan tersebut.


"Sayang, kenapa semalam kamu tidur di studio? Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Zidan memulai percakapan.


"Hm? Tidak, kenapa?" tanya balik Ayana menyendokkan secentong nasi ke piring miliknya.


"Tidak, hanya saja-"


"Ruangan itu sangat kotor, dan semalam aku membersihkannya. Mungkin karena kecapean makannya aku tertidur di sana," lanjut Ayana memotong ucapan sang suami.


Ia duduk di kursi makan dan mulai menyantap makanan. Zidan terus memperhatikan, tidak ada kata bosan memandangi wajah cantik sang istri.


"Lain kali kamu bisa menyuruh asisten rumah tangga untuk membereskannya," kata Zidan lagi.


"Juga, kenapa Mas tidak membereskannya? Apa selama satu tahun lebih ruangan itu dibiarkan berantakan?" tanya Ayana penasaran.


Zidan mengangguk tanpa cela. "Aku membiarkannya, sebab ... aku tidak bisa masuk ke dalam sana. Saat mengetahui kamu pergi, aku takut melihat kenangan yang tertinggal di sana. Kata Haikal, aku harus menjauhi tempat-tempat yang disinggahi olehmu dalam kurun waktu lama. Dia takut halusinasi ku semakin bertambah parah."


"Sejak kamu kembali, aku memutuskan untuk membukanya dan melihat semua kekacauan di sana. Ayana-" Zidan menjeda ucapannya lalu menangkup punggung tangan sang istri hangat.


"Aku sudah melihat rekaman kamu waktu itu. Aku benar-benar minta maaf sudah memberikan luka teramat dalam padamu," lanjutnya.

__ADS_1


Manik kelamnya berkaca-kaca membuat Ayana mengulas senyum simpul. Ia menepuk punggung tangan sang suami pelan.


"Sudahlah, semua itu sudah berlalu. Em, hari ini aku harus membuka galeri, Mas tidak apa-apa di rumah sendirian?" tanya Ayana mengalihkan topik.


Zidan mengangguk sekilas. "Tentu, jangan khawatir, aku bisa menjaga diri."


"Baiklah, habiskan sarapannya," titah Ayana lagi.


"Em, masakanmu tidak pernah berubah masih sama seperti dulu, ini sangat enak," puji Zidan kemudian.


Ayana hanya bisa tersenyum singkat sebagai jawaban.


Seperti yang sudah dikatakannya pada sang suami, saat ini Ayana tengah melajukan kendaraan roda empat di jalanan ibu kota. Ia menuju sebuah tempat sebelum pergi ke galeri.


Kurang lebih tiga puluh lima menit kemudian, ia tiba di tempat tujuan. Kafe dandelion, sebutan tempat makan serta tongkrongan anak muda menjadi titik kedatangannya.


Ia pun memarkirkan mobil dan bergegas masuk. Beberapa pelayan yang sudah tahu siapa dirinya pun tersenyum menyambut kedatangannya.


"Selamat datang Nona Muda, beliau sudah menunggu Anda," kata salah satu pelayan wanita di sana.


"Baiklah, terima kasih," jawab Ayana lalu melenggang ke tempat yang dimaksudkan.


Tidak lama setelah itu Ayana menangkap siluet seorang wanita berhijab merah muda dengan gamisnya senada tengah menoleh ke samping.


Lengkungan bulan sabit hadir membuat Ayana kembali melangkahkan kaki menimbulkan suara heels bergema di sana.


Ia mendekat dan beberapa saat kemudian sudah berdiri tepat di depannya.


"Assalamu'alaikum, maaf menunggu lama," kata Ayana.


Wanita yang tengah duduk di hadapannya pun mengangkat kepala. Pandangan mereka saling beradu mengalirkan kurva melengkung sempurna di bibir kemerahan keduanya.


"Wa'alaikumsalam, tidak apa-apa," balasnya hangat.


Ayana memandangi koper serta tas selempang berdiri tegak di samping wanita itu. Ia lalu duduk berseberangan dengannya sembari melempar tatapan serius.


"Selamat datang di ibu kota, semoga betah tinggal di sini," ucap Ayana lagi.


"Em, aku pasti betah tinggal di sini, selain untuk melindungi mu ... di sini juga ada seseorang berharga. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini," balasnya kemudian.


Ayana mengangguk singkat dan tersenyum lebar.


Pemandangan dua wanita itu seketika menarik perhatian para pelayan. Mereka tahu apa yang akan disusun oleh sang pelukis untuk menyelesaikan permasalahan.

__ADS_1


__ADS_2