
Kadang kala hidup tidak bisa ditebak, layaknya wahana permainan menyuguhkan ketegangan di setiap tantangan.
Setiap yang dilewati pasti memberikan kejutan tak terduga. Kadang kala berupa kesedihan, dan kadang pula kebahagiaan tiada tara.
Lantunan isak tangis melukis kengerian serta kesakitan terus datang menerjang. Janji hanyalah janji tidak bisa bertepi dan bermuara pada masa yang entah sampai kapan.
Semua itu hanya ucapan yang entah bisa dilaksanakan atau tidak, biarkan takdir membawanya ke mana.
Masa lalu terkadang memberikan bayangan menyakitkan terus terjadi. Tidak bisa ditampik ataupun dihapuskan begitu saja dan selamanya tetap abadi.
Luka, kepedihan, serta keperihan menjadi suatu perasaan yang melingkupi sanubari. Kenyataan tidak bisa dibantah dan harus dijalani sebagaimana ketentuan telah direncanakan.
Penulis takdir yang sesungguhnya lebih tahu seperti apa rumitnya kehidupan yang dijalani. Namun, Allah pulalah yang memberikan serta mengganti kesedihan itu dengan senyum kebahagiaan.
Bunga air mata telah layu, berganti bibit baru yang memberikan harapan lain untuk digapai. Sakit, memang sakit, tetapi harus percaya pada setiap ketentuan dari-Nya.
"Sudahlah jangan menangis terus Darius, seperti bukan pria saja," kata Jasmine dalam ponsel.
Darius yang membaca pesannya lagi itu pun mendongak memandangi sepasang mata boneka di hadapannya.
Sang sepupu kembali mengembangkan senyum hangat nan ramah.
"Jangan tersenyum bodoh seperti itu, menakutkan sekali," balas Darius mengusap air mata kasar.
Jasmine mendengus pelan seraya mengerucutkan bibir pelan.
Hening melanda, kedua sepupu di sana menikmati pikirannya masing-masing. Terlalu banyak cerita yang mereka lewati dengan jalan berbeda.
Bagaikan hitam dan putih, kehidupan yang dilalui Jasmine serta Darius jauh berbanding terbalik.
Darius menikmati kebebasan, sedangkan Jasmine terjebak dalam kegelapan. Memikirkan hal itu putra semata wayang dari Alexa pun sangat terpukul.
Ia sama sekali tidak menyangka mendengar cerita kejam dilayangkan oleh sang ayah pada sepupu kandungnya.
"Aku... minta maaf mewakili ayah, Jasmine. Jujur, aku tidak tahu kalau ayah memperlakukanmu sangat buruk dan kejam. Bahkan... dia sudah membunuh orang tuamu dan orang-orang terdekat kalian tanpa berperasaan."
"Bagaimana mungkin aku masih mengagumi orang seperti itu? Terlebih dia juga mengasingkan mamah ke tempat terpencil. Aku sama sekali tidak bisa memaafkannya."
__ADS_1
"Aku pikir... dengan dia mengirim ku keluar negeri, sebab ingin membantumu mengelola kekayaan ayah dan ibumu, tetapi nyatanya-" Darius menjeda kalimat dengan menghela napas kasar merasa pengap dalam dada.
"Aku tidak bisa membayangkan seperti apa hari-hari yang kamu lalui. Mamah bilang kamu juga di rantai?"
Pertanyaan terakhirnya membuat Jasmine mengangguk singkat. Ia menarik selimut bagian bawah dan memperlihatkan bekas rantai besi melilit di pergelangan kaki.
Bola mata keabuan Darius pun mengikuti arah pandangan Jasmine. Sekejap mata ia terkejut bukan main menyaksikan sendiri bekas rantai itu di sana.
"Ya Tuhan bagaimana bisa ini terjadi?"
Tangannya terulur dengan gemetar menyentuh pergelangan kaki Jasmine. Sang empunya kembali sibuk mengetikkan sesuatu di dalam ponsel dengan memburu.
Di tengah kegiatannya, secara diam-diam Jasmine melirik Darius yang masih mengamati kedua kakinya. Ia tersenyum pelan tahu apa yang tengah dipikirkan sang sepupu.
Beberapa saat kemudian, Jasmine menjulurkan lagi ponsel memperlihatkan sebuah catatan penting di dalamnya.
Darius pun mengambil kembali dan membacanya.
"Tidak apa-apa, jangan membenci ayahmu sendiri. Semua ini memang sudah menjadi takdirku... kamu beruntung bisa melihat indahnya dunia. Sekali lagi maafkanlah kesalahannya... karena bagaimanapun juga dia tetap ayah kandungmu, yang sudah bekerja keras untuk membahagiakanmu."
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Darius. Terima kasih sudah menyapaku, meskipun awalnya ada perseteruan di antara kita. Namun, aku lega, kamu mengetahui kebenarannya."
"Karena darinya juga sudah menyadarkan ku jika di balik kegelapan Allah masih memperlihatkan cahaya. Aku hanya sedang terjebak dan seseorang menarik ku, itu saja."
"Karena di balik kepelikkan yang aku terima... aku bisa mendapatkan hidayah. Apa pun yang terjadi, sesakit bagaimanapun luka yang tertoreh, telah menjadi bagian dari rencana-Nya."
"Jadi, Darius sekali lagi, aku mohon jangan membenci dia."
Itulah kata-kata yang Jasmine sampaikan lewat ketikan. Maknanya sampai ke relung terdalam seorang Darius.
Ia kembali menitikkan air mata yang tak tertahankan. Bagaikan aliran sungai, tetesan demi tetesan kristal bening terus berjatuhan.
"Aku tidak menyangka kamu-" Darius mencoba menahan isak tangis yang menggebu. "Kamu benar-benar wanita yang baik, Jasmine."
"Kamu berhak bahagia selepas kesedihan ini. Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang terjadi. Bahkan aku sempat berpikir untuk menghabisi mu, juga orang-orang terdekatmu itu, dan membela orang yang salah. Aku malu, Jasmine... aku malu."
"Aku minta maaf," oceh Darius terus mengatakan maaf berulang kali.
__ADS_1
Jasmine hanya mengangguk-anggukan kepala menimpali perkataannya. Ia tahu pasti tidak mudah juga bagi Darius menghadapi kenyataan ini.
Ia hanya tahu keluarganya baik-baik saja, tetapi setelah sekian berlalu kenyataan yang ada menamparnya kuat.
Rasa bersalah terus menggerogoti perasaan membuatnya malu untuk sekedar menatap sang sepupu. Karena bagaimanapun juga selama ini ia hidup dari jerih payah Jasmine.
Itu artinya ia juga menikmati kesengsaraan yang dilewati sepupu terdekatnya. Darius terus ditimpa rasa bersalah yang semakin membesar.
Jasmine memberikan tepukan pelan di puncak kepalanya menandakan semua sudah baik-baik saja.
...***...
Pada akhirnya, Ayana hanya bisa menghela napas kasar. Ia masih tidak percaya mendapati Jasmine terluka parah di bagian leher sampai-sampai tidak bisa membuatnya bicara.
Jaringan yang tersayat belati terputus dan membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula. Namun, itulah perjuangan yang dilakukan Jasmine untuk melindungi orang-orang berharganya.
Ayana sangat terharu dan tidak bisa menghentikan tangis mengingat hal tersebut.
"Sudah Sayang, jangan menangis lagi. Jasmine pasti baik-baik saja, pasti akan sembuh. Bukankah ibumu mengatakan sayatannya berhasil dijahit?" Zidan datang dan memeluknya dari belakang.
Ayana yang tengah berdiri di depan kaca besar di lantai dua hanya mengangguk singkat. Kedua tangannya sibuk mengusap air mata lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Ia melakukan itu berulang kali guna menenangkan diri sendiri. Setelahnya berbalik dan berhadapan langsung dengan sang suami.
"Aku takut, Mas... aku sangat khawatir saat mendapati Jasmine terluka. Dia sudah berjanji padaku untuk tidak terluka, tetapi-"
"Shut Sayang, kita tidak tahu apa yang dipikirkan Jasmine. Namun, aku pikir itu pasti yang terbaik, dia bahkan rela terluka untuk melindungi mu dan Danieal, bukan?" ucap Zidan menangkup kedua pipi pujaan hatinya dan menghapus jejak air mata menggunakan ibu jari.
Perlakuan hangat suaminya semakin menenangkan Ayana.
"Iya Mas benar. Kita tidak boleh menyianyiakan pengorbanan Jasmine yang sudah melindungi kita... tetapi yang jelas, dari awal orang itu memang menargetkan Jasmine," jelas Ayana kemudian.
"Memang, tapi siapa yang menyangka jika dia juga sudah menargetkan kalian? Hasrat seseorang tidak ada yang tahu. Emosi bisa membuat seseorang gelap mata," timpal Zidan lagi sembari menjawil hidung bangir sang pujaan pelan.
Ayana mengangguk singkat dan menggenggam kedua lengan yang masih bertengger di wajahnya.
"Benar, kita tidak boleh lengah." Ayana menghela napas lagi. "Aku lega, setidaknya permasalahan di antara sepupu itu sudah selesai."
__ADS_1
Zidan mengangguk singkat dan memeluk istrinya erat. Ia pun membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya hangat.
Ayana menyandarkan kepala di dada bidang sang suami mendengarkan detak jantung yang semakin menenangkan.