
"Tidak boleh!"
Suara lantang masuk ke ruangan dan bergema sekejap mata langsung mengejutkan semua orang. Mereka menoleh ke ambang pintu menyaksikan seorang wanita paruh baya berparas cantik mengenakan jas putih tengah melipat tangan di depan dada.
Sorot mata tajam memandangi satu-satunya putra pertama di sana. Sebelah bibir merahnya melengkung dengan kepala berhijab instannya terangkat, angkuh.
Ketegangan yang tercipta di kamar inap tersebut semakin bertambah dengan kehadirannya. Lamaran yang sempat berdengung masih mengambang tanpa kepastian.
Di tambah teriakan wanita paruh baya itu semakin menambah kepelikkan. Danieal terpaku kala mendengar dua kata terus berdengung di indera pendengaran.
Lidahnya pun kelu tidak bisa mengatakan apa pun.
Jasmine menunduk dalam menyembunyikan berbagai ekspresi dalam diri. Ia tahu, dirinya tidak pantas mendapatkan pernyataan dari dokter tampan di sebelahnya.
Meskipun mereka saling menyukai, Jasmine sadar diri jika ia tidak pantas mendampingi seorang Danieal. Pikiran negatif terus menguasai kepalanya, ia berusaha tidak bertatapan dengan dokter yang menjadi salah satu pemilik gedung rumah sakit tersebut.
Ia benar-benar merasa tidak tahu diri sudah membuat putranya terluka dan kini mendapatkan pengakuan lain dari Danieal.
Jasmine dirundung kebimbangan dalam diam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar ucapan nyonya dokter barusan.
"Ma-Mamah?" Panggil Ayana mendapati Celia.
"Apa yang sedang Mamah lakukan?" lanjut Denial setelah berhasil menguasai diri.
Perlahan-lahan Celia masuk mendekat, bola mata kelamnya memandangi satu persatu orang-orang di sana. Sampai perhatiannya hanya tertuju pada Rusli dan juga Darius.
Kedua alis tajamnya saling bertautan tidak tahu siapa mereka. Seakan mengerti apa yang dipikirkan dokter senior tersebut, Rusli mengembangkan senyum seraya menghadap padanya.
"Ah, perkenalkan saya Rusli, Tante Jasmine," jelasnya, "dan ini anak saya, Darius, sepupu Jasmine," lanjut Rusli memperkenalkan sang buah hati.
Celia tercengang, terkejut mendengar penjelasan wanita itu. Ia juga tidak percaya menyaksikan sosok Darius bak kembaran Jasmine yang sudah lama terpisah.
Mereka memang keluarga, pikirnya.
"Kami minta maaf jika selama ini sudah merepotkan keluarga Anda. Saya tahu Jasmine banyak menyusahkan putra-putri Anda, sekali lagi... saya minta maaf," tegas Rusli menganggukkan kepala singkat dengan sorot mata penuh penyesalan.
Mendapati hal itu Celia tercengang. Ia sama sekali tidak tahu jika Jasmine masih mempunyai keluarga. Karena Ayana tidak mengatakan apa pun mengenai kedua sosok di hadapannya ini.
Celia lalu melirik Jasmine yang masih menunduk semakin dalam, kemudian beralih pada buah hatinya di belakang punggung.
__ADS_1
Danieal membalas tatapan sang ibu tak kalah serius.
"Aku benar-benar mencintainya, Mah. Izinkan aku bersama Jasmine... kami saling mencintai dan aku ingin melamarnya sebagai istriku. Mah-"
"DANIEAL!"
Teriakan kedua kalinya dari wanita elegan itu menarik atensi. Baik Ayana maupun Jasmine, mereka sama-sama terkejut mendengarnya.
Jasmine semakin tidak percaya diri dan takut untuk mengangkat kepalanya lagi. ia sadar selama ini sudah banyak menyusahkan kedua anak Celia Arsyad.
Karena kehadirannya, Celia hampir kehilangan sang putra dalam semalam. Ia benar-benar banyak menyusahkan Danieal maupun Ayana.
Bermimpi untuk masuk ke dalam keluarga mereka tidak pernah Jasmine bayangkan. Meskipun saat ini perasaannya terhadap dokter menawan itu telah diutarakan, rasa bersalah dan tidak enak hati lebih besar dan membuatnya terus menerus tidak percaya diri.
"Aku tahu... mana ada seorang ibu yang rela membiarkan anaknya bersama wanita... yang hampir merenggut nyawa putranya. Aku sadar... aku sangat sadar diri, Mas Danieal siapa dan... aku siapa. Biarkanlah perasaan ini hanya sebatas angan saja," benaknya pesimis.
"Mamah, aku mohon. Aku-"
Helaan napas kasar Celia semakin menambah kebimbangan Danieal. Ditambah dengan sorot mata tajam yang masih setia menempati manik indahnya terus menjelaskan sesuatu.
"Apa Mamah-"
"Setidaknya kamu mempersiapkan karangan bunga atau cincin, tapi ini? Astaghfirullah, apa Mamah dan ayah pernah mengajarimu tidak tahu malu seperti ini?" cerocos Celia yang kembali pada putranya.
Ayana, Danieal, Zidan, Darius, Rusli serta Jasmine terpaku. Mereka tidak mengerti dengan perubahan signifikan seorang Celia.
Wanita berprofesi sebagai dokter selama bertahun-tahun itu pun memandangi mereka lagi bergantian. Sampai atensinya hanya berfokus pada Jasmine.
Bibir merahnya kembali mengembang sempurna, tangannya terulur menangkup wajah yang terus menunduk.
Ia mengangkatnya pelan hingga pandangan mereka saling bertubrukan. Lengkungan kurva setulus kasih sayang seorang ibu hadir menyapa.
Jasmine terpaku, lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata. Celia yang menyaksikan air mukanya seperti itu pun mengangguk paham.
"Mamah minta maaf sudah mengejutkan kalian, terutama kamu Jasmine. Pasti kamu berpikir jika... Mamah tidak menyetujui lamaran yang dilakukan Danieal barusan, kan?" Kepalanya menggeleng singkat dan kembali memberikan tatapan hangat.
"Tentu tidak seperti itu, Sayang. Mamah... sangat setuju jika Danieal bisa menikah denganmu. Maukah kamu menjadi bagian dari keluarga kami?"
"Mamah juga dengar kamu mempunyai perasaan yang sama kan pada Danieal? Mamah harap kamu bisa menerimanya dan menjadi menantu dan keluarga kami seutuhnya."
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir, karena mu... Mamah hampir kehilangan Danieal. Itu sama sekali tidak benar, jangan sampai pikiran negatif itu menguasai mu. Kamu... berhak untuk bahagia, Jasmine."
"Ah, satu lagi... mulai sekarang kamu harus memanggilku Mamah, mengerti?"
Kata-kata lembut dengan perlakuan hangat serta harapan yang membumbung tinggi mengalirkan air mata haru.
Jasmine menangis bahagia mendengar semua ungkapan isi terdalam sang ibu. Rusli maupun Darius pun ikut senang mendengar apa yang disampaikan Celia barusan.
Mereka lega, setidaknya Jasmine bertemu dengan orang-orang baik yang mau menerimanya dengan tulus.
Mendengar untaian kata dari Celia, Darius pun sadar. Karena keberadaannya, ia hampir merenggut nyawa seseorang yang tidak bersalah.
Panah yang ia hunuskan mengenai Danieal, walaupun bukan targetnya, Darius tetap merasa bersalah.
Ia berjalan mendekati ibu dan anak itu membuat perhatian mereka langsung beralih padanya.
"Saya Darius. Saya yang sudah mencelakai putra Anda... saya benar-benar minta maaf. Saya harap kalian tidak membenci Jasmine, atas perbuatan yang saya lakukan." Darius menundukkan kepala sangat menyesali apa yang sudah dilakukan.
Menyaksikan hal itu Danieal mengembangkan kedua sudut bibir. Ia menepuk pelan pundak Darius membuat sang empunya seketika mendongak.
"Em, tidak masalah. Aku tahu... awalnya anak panah itu kamu maksudkan untuk Jasmine, kan? Aku senang kecelakaan itu tidak menimpa pada sepupumu."
"Lain kali jika ingin melakukan sesuatu pastikan dulu kebenarannya. Biarkan kejadian kemarin sebagai pelajaran untuk kita," balas Danieal mencengangkan yang lain.
Jasmine terpaku menyaksikan kesungguhan pria itu. Perasaannya kembali menghangat atas ketulusan yang diberikan Danieal untuk Darius.
"Benarkah? Benarkah kamu memaafkan ku?" tanya Darius sekali lagi melupakan ucapan formal.
Kepala bersurai hitam legamnya mengiyakan. "Allah saja Maha Pemaaf," balasnya.
Manik bulan Darius melebar sempurna dan langsung menerjang Danieal begitu saja. Ia memeluknya erat sambil mengatakan, "terima kasih banyak. Aku percaya kamu bisa membahagiakan, Jasmine. Aku titip dia padamu," bisiknya.
"Tentu saja, tidak masalah. Tanpa kamu pinta pun, aku akan membahagiakannya," balas Danieal yakin.
Perkataan mereka memberikan keharuan kepada Jasmine. Ia memandangi semua orang di sana dengan perasaan bahagia.
Tidak pernah ada dalam bayangan adegan tersebut akan datang kepada kehidupannya. Namun, ia sadar apa pun yang terjadi, seperti apa kisah menimpa, semua itu sudah ada yang mengatur.
Allah tidak pernah salah memberikan kebaikan pada setiap hamba-Nya.
__ADS_1