Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 29


__ADS_3

Kejutan demi kejutan pasti akan mendatangi siapa pun sesuai takdir yang telah diberikan.


Apa pun yang terjadi, memang seperti itulah guratan kisah telah ditetapkan.


Tepat setelah satu minggu berlalu, pasangan pianis dan pelukis itu pun kembali ke tanah air.


Suka cita mengiringi setiap langkah, memberikan kisah baru. Kejadian kemarin bak tertinggal di belakang tidak usah diungkit maupun dikenang lagi.


Orang tua dan saudara menyambut kedatangannya, mereka saling berpelukan mengikis rasa rindu yang kian melanda.


Setelah melepas suka cita, mereka pun bergegas menuju rumah. Banyak sekali cerita yang Ayana dan Zidan bagi kepada Celia, Lina, Arshan, Adnan, Danieal, serta Gibran.


Mereka ikut senang mengetahui pasangan suami istri tersebut sudah kembali baik-baik saja.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, rombongan keluarga itu pun tiba di kediaman Zidan.


Saat ini mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga membongkar barang bawaan kedua insan tersebut.


Berbagai macam souvenir tersebar di atas karpet bulu, mulai dari pernak-pernik hingga pakaian tersaji di sana.


"Kenapa kamu membeli banyak sekali, Sayang?" tanya ibu mertuanya, Lina.


Ayana menoleh, tersenyum lebar dengan aura hangat menyapa keluarganya.


"Aku hanya sedang ingin saja, Mah. Lagipula ini pertama kalinya aku bisa pergi keluar negeri, jadi sayang jika tidak beli banyak oleh-oleh," balasnya senang.


Lina hanya mengangguk mengerti lalu mengusap punggungnya beberapa kali.


"Jadi." Satu kata yang keluar dari mulut Zidan seketika mengalihkan atensi.


Semua pasang mata mengarah padanya, membuat ia menatap mereka satu persatu dan berlabuh pada istri tercinta.


Ayana mengangguk singkat tahu apa yang hendak disampaikan sang suami.


"Aku dan Ayana sudah sepakat untuk mengadopsi anak."


Penjelasan tersebut langsung menghentikan pergerakan mereka. Bak bongkahan es, semua anggota keluarga terdiam mendengar pengakuan Zidan.


"A-apa kalian yakin?" tanya Celia gugup.


"Kami yakin, Mah," balas Ayana tegas sembari menggenggam tangan ibunya hangat.


"Karena bagaimanapun juga, kami ingin berusaha memancing agar Ayana bisa cepat hamil. Dengan mengadopsi anak, kami berharap bisa menghadirkan buah hati, tentu saja, aku dan Ayana akan menganggap anak angkat kami nanti layaknya anak sendiri," lanjut Zidan lagi.

__ADS_1


"Mamah juga seperti itu kan pada Ayana? Aku harap Mamah bisa mengerti," bisik Ayana masih dengan menggenggam tangan Celia erat.


Sang ibu sambung mengangguk mengerti dengan manik berkaca-kaca. Celia tahu pasti sulit bagi Ayana untuk menghadapi semua ini.


Namun, bagaimanapun juga kita hanya manusia biasa yang harus berikhtiar disertai doa serta memasrahkan nya pada yang di atas.


Celia pun langsung memeluk putri sambungnya sembari mengusap punggung Ayana pelan.


"Apa pun yang akan kalian lakukan, Mamah maupun Ayah pasti akan mendukung dan mendoakan yang terbaik, tetapi jika semua itu menyakitimu maka lepaskanlah. Mamah tidak ingin melihatmu menangis lagi, Ayana," kata Celia.


Siapa pun yang mendengar penuturannya ikut terbawa suasana. Baik Celia maupun orang tua yang lain berharap anak-anak mereka bisa bahagia di dalam pernikahannya.


"Terus, siapa yang akan kalian adopsi?"


Pertanyaan lain meluncur dari dokter muda tampan di sana selepas Ayana dan Celia memudarkan pelukan.


"Rencananya kami mau mengadopsi seorang anak dari panti asuhan yang selalu Mas Zidan beri sumbangan," jawab Ayana menatap pada kakak sambungnya.


"Itu benar, anak ini yang aku dan Ayana maksud," lanjut Zidan seraya memperlihatkan seorang bayi di dalam ponsel.


Danieal menoleh ke belakang mendapati bayi perempuan di sana. Seketika itu juga netranya melebar sempurna dengan jantung berdegup kencang.


"Bayi ini bernama Raima. Dia anak yang sangat menggemaskan, kalian juga pasti nanti akan sangat menyukainya," ucap Zidan lagi tersenyum lebar memperlihatkan bayi bernama Raima tersebut.


Ayana yang sedari tadi memperhatikan reaksi sang kakak pun menautkan kedua alis. Radarnya melebar seolah menyadari sesuatu.


"Mas Danieal." Suara nyalang Ayana mengejutkan sang empunya.


Dokter tampan itu pun tersadar dan langsung menatap pada adik perempuannya. Maniknya melebar sempurna kala menyadari tatapan Ayana.


"Mas pasti suka ini, kan?" Ayana mengangkat kaos berwarna putih bersih bertuliskan, let's get married besar di bagian dada.


"Hei Ayana, kamu mau mati yah!" Danieal menunjuk tepat di depan wajah Ayana.


Wanita itu berteriak kala sang kakak berdiri dari duduk dan hendak menerjangnya. Ayana kabur hingga terjadilah aksi kejar-kejaran yang begitu menarik perhatian.


Gelak tawa pun seketika mengiringi menambah keakraban. Zidan senang sang istri sudah kembali bersemangat lepas dari permasalahan.


...***...


Besoknya, Ayana dan Zidan pun langsung bertandang ke panti asuhan kasih sayang keluarga.


Sepanjang jalan, mereka tidak pernah melunturkan senyum manis di wajah menawan.

__ADS_1


Seperti yang sudah direncanakan tepat hari ini pasangan menikah itu hendak mengadopsi seorang anak. Bayi mungil bernama Raima akan masuk ke dalam keluarga besar mereka.


Tidak lama berselang keduanya tiba di panti. Ayana dan Zidan disambut hangat oleh ibu panti yang sedari menunggu kedatangan mereja.


Beberapa menit setelah sampai, Raima di datangkan membuat Ayana beranjak dari duduk. Manik jelaga itu berkaca-kaca melihat pancaran hangat dalam sorot mata bayi mungil tersebut.


Dengan cepat ia menggendong bayi cantik itu membuat Raima tergelak. Aroma dari minyak kayu putih menelisik indera penciuman, Ayana terharu bisa memangku seorang bayi.


Meskipun bukan dari darah dagingnya sendiri, ia benar-benar sudah menyayangi Raima.


"Kita harus menganggapnya seperti anak sendiri," kata Ayana lirih pada Zidan yang tengah merangkulnya hangat.


"Em, aku setuju," balasnya.


Ibu panti dan beberapa pengasuh lainnya pun ikut mengembangkan senyum. Mereka bahagia pada akhirnya ada pasangan baik hati yang mau mengadopsi Raima.


Setelah pertemuan singkat itu terjadi, Ayana dan Zidan bergegas melakukan serangkaian prosedur guna membawa Raima dari panti.


Sepanjang aktivitas berjalan, ketiganya berbicara mengenai asal usul bayi berusia lima bulan tersebut.


Di tempat berbeda, tepatnya di rumah sakit besar di ibu kota, Danieal tengah menatap nyalang pada rekan kerjanya. Ia tidak menyangka mendapatkan surat tugas kerja secara mendadak.


"Apa kamu bilang? Aku ditransfer ke Negara K? Apa kamu tidak salah mengirimkan ku seperti ini?" tanya Danieal sembari menggebrak meja.


"Itu benar, tugas ini datang langsung dari pimpinan. Beliau menginginkan Anda pergi ke Negara K untuk membantu para korban bencana di sana," jelas pria di hadapannya.


"Haikal, apa kamu tidak sedang bercanda? Kenapa? Kenapa harus aku?" Danieal masih tidak percaya mengenai surat yang datang padanya.


Haikal menggelengkan kepala singkat. "Saya tidak tahu. Semua ini sudah menjadi keputusan dari atasan."


Danieal menghela napas berat seraya membanting surat tersebut ke atas meja. Irisnya memandang lekat pada selembar kertas itu mengingat sesuatu.


"Apa Zidan sudah pergi ke panti asuhan?" tanyanya setelah sekian lama bungkam.


Haikal, dokter sekaligus orang kepercayaan Zidan pun mengangguk singkat.


"Saya diberitahu tadi pagi jika mereka sudah pergi ke sana dan saat ini sedang menyelesaikan prosedur yang berlaku," balas Haikal lagi.


"Jadi mereka benar-benar-"


"Itu benar, tuan muda Zidan dan nona muda Ayana mengadopsi Raima sebagai anak."


Danieal terbelalak, degup jantung kembali bertalu kencang. Bola matanya bergerak tak karuan berusaha fokus pada apa yang didengernya.

__ADS_1


"Kenapa harus di waktu bersamaan?" gumamnya lalu mengusap wajah gusar.


__ADS_2