
Ayana menyeringai lebar menyaksikan Presdir Han terus mendekat. Sedari tadi ia mencoba membuka ikatan di kedua tangan dan usahanya tidak mengkhianati hasil.
Selepas kejadian di mansion Presdir Han, di mana Ayana terjebak oleh permainannya dan diikat di sebuah ruangan, ia pun belajar untuk melepaskan ikatan tali yang melilit tangannya.
Ia belajar hal tersebut untuk berjaga-jaga jika situasi yang sama kembali terulang. Karena firasatnya mengatakan jika pria tua itu tidak akan membiarkannya.
Apa yang dipikirkannya pun terjadi, ia kembali dijebak dengan situasi berbeda.
Manik jelaga Ayana menyorot tajam pada sang lawan bicara. Dengan kemenangan serta kebahagiaan tercetak di wajah tuanya, pengusaha ternama itu semakin menjadi-jadi.
Lidah merah pekatnya menyapu permukaan bibir berkali-kali. Ayana berusaha menahan untuk tidak muntah detik itu juga.
"Ayo mendekat lah," benak Ayana, sorot matanya nyalang penuh makna.
"Sayang, mari kita habiskan hari ini untuk bersenang-senang. Tenang saja jika kamu hidup bersama saya ... saya akan menjamin semua kebutuhanmu. Kamu mau apa? Saya akan memenuhinya," kata Presdir Han seraya mengulas senyum penuh makna.
Ayana mengangguk-anggukan kepala menyaksikan napsu berkeliaran di sana. "Sungguh sangat menjijikan," benaknya.
"Sayang." Presdir Han terus mendekat, mendekat, dan mendekat.
Ia menutup kedua mata hendak menyambut keinginan yang sudah menguasai. Seringaian di wajah ayu Ayana pun semakin melebar.
Hingga sedetik kemudian pukulan telak mendarat di pipi tirus Presdir Han. Sang empunya terbelalak terkejut, begitu pula orang-orang di sekitarnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" ucap salah satu bodyguard Presdir Han membantu sang tuan yang limbung jatuh ke lantai.
Ayana bangkit dari duduk dan menyapukan pandangan pada semua orang yang ada di sana satu persatu, sampai perhatiannya hanya pada Bella semata.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun berlaku seenaknya," geram Ayana mengepalkan kedua tangan kuat lalu melepaskan ikatan di kedua kaki dan mendekati sang pianis.
Bella terbelalak dan berjalan mundur menghindari Ayana. Gelagatnya tersebut membuat wanita berhijab itu semakin mengangkat sudut bibir lebar.
Ia pun menghempaskan kamera hingga membuat benda itu jatuh. Di tengah aksinya, Ayana membawa memori card tersebut lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bella nyalang.
"Tentu saja mengambil bukti," balas Ayana mengacungkan memori card tadi.
"Tidak akan kubiarkan." Bella maju hendak melayangkan tamparan pada Ayana.
Namun, wanita itu bisa membaca pergerakannya dan mencengkram pergelangan tangan Bella hingga sang empunya terhempas.
Presdir Han pun mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek lalu memandangi Ayana sembari mengembangkan senyum arogan.
"Wah, sungguh kejutan tak terduga. Saya semakin mengagumimu, Ayana," ucapnya.
__ADS_1
Ayana terbelalak, menyaksikan napsu tua bangka itu semakin menjadi-jadi. Ia pun berusaha untuk kabur, tetapi pergerakannya diketahui oleh orang-orang Presdir Han.
Kini kedua anak buah sang pengusaha itu memegang masing-masing tangannya. Ayana terjebak dengan napas tersengal-sengal.
"Lepaskan! Kalian tidak bisa menyentuhku!" Ayana berontak mencoba melepaskan terkaman tangan mereka.
Namun, kedua pria itu semakin memperkuat cengkeramannya membuat Ayana tersentak seketika.
Presdir Han tertawa murka melihat Ayana yang tengah menatapnya nyalang. Ia kembali berjalan mendekat lalu menggenggam dagu lancipnya kuat.
"Siapa yang membiarkanmu pergi, HAH? Siapa?" Nada suaranya meninggi.
Bella yang berada di samping pun melipir untuk melihat wajah seperti apa yang Ayana tampilkan.
"Bisa-bisanya dia masih bersikap angkuh seperti itu?" benaknya.
"Sudahlah Ayana lebih baik kamu menyerah saja dan tunduk pada Presdir Han. Beliau akan membahagiakan mu, jauh lebih baik dari pada Zidan," ungkapnya.
"Itu benar, apa yang dikatakan Bella benar. Jika kamu tetap bersama pria itu ... kamu hanya akan sengsara. Bukankah dia juga sudah membunuh anak kandungnya sendiri?" Presdir Han mencengkram kedua pipi Ayana menggunakan satu tangan.
Sang empunya mendongak mengawasi kebengisan di wajah tuanya.
"Ah, jadi wanita itu sudah menceritakan semua tentangku? Sungguh masuk akal jika Bella masih ingin bersama mas Zidan. Dia ... benar-benar luar biasa," ucapnya membatin.
Bola mata cokelat kelam sang pengusaha turun memperhatikan perut rata Ayana. Melihat itu ia pun mengikutinya.
"Sudah jelas sekali kan, Sayang? Kalau saya sangat menginginkanmu?" Presdir Han semakin menguatkan cengkraman di pipinya.
Ayana berusaha untuk tidak melenguh kesakitan. Ia tidak harus memperlihatkan kelemahan agar mereka tidak semena-mena padanya.
"Saya tidak akan pernah mewujudkan keinginan Anda," balas Ayana menahan emosi.
Presdir Han tertawa lepas, cengkeramannya pun ikut memudar. Ayana yang masih dipegang kedua pria itu terus memindai pria tua di sana.
"Kamu berani melawan saya? Apa kamu tidak takut-"
"Jika kebenaran itu ditegakkan untuk apa saya takut? Anda harus segera bertaubat dan jangan pernah melakukan ini lagi. Apa Anda tidak ingat istri, anak, dan cucu? Bagaimana jika mereka tahu-"
Perkataan Ayana terhenti saat tamparan keras mendarat di pipinya. Seketika ia langsung menoleh ke samping kiri.
Rasa nyeri dan panas merambat hingga ke telinga. Ia diam beberapa detik hingga menegakkan kepala lagi.
"Oh, kenapa kamu berhenti berbicara? Apa kamu masih mau tamparan lagi, iya?" Tanpa perasaan Presdir Han kembali menampar Ayana untuk kedua kalinya di tempat yang sama.
Seketika sebelah sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Saya kembalikan apa yang tadi kamu lakukan," ucapnya garang. "Wah, kamu semakin cantik, Sayang," lanjut Presdir Han membelai pipi Ayana pelan.
"Cih! Ternyata Anda sangat menjijikan, awalnya saya sangat mengagumi Anda, tetapi setelah kejadian ini-" Ayana menggeleng beberapa kali. "Saya sangat benci," lanjutnya. Manik jelaga itu memerah menahan amarah.
Mendengar kata-kata tercetus dari mulut menawan Ayana membuat Bella pun terbelalak. Ia tidak percaya jika wanita polos sepertinya bisa bertindak terlalu jauh.
"Dia benar-benar berada dalam bahaya. Apa dia tidak tahu bagaimana bengisnya Presdir Han?" benak Bella mengingat kekejian pria tua itu.
Beberapa tahun belakang saja Presdir Han sudah meluluh lantahkan hampir lima belas persen perusahaan baik di dalam maupun luar negeri.
Pengaruhnya di tanah air begitu besar, siapa pun segan padanya. Presdir berusia tujuh puluh tahun itu layaknya seorang penguasa.
Apa pun yang diinginkannya harus terlaksana, termasuk mendapatkan Ayana.
Ia sudah terobsesi pada pelukis itu sejak mencetuskan karya pertama di desa X. Pada saat itu Presdir Han tengah mengunjungi salah satu tempat di sana dan tidak sengaja melihat lukisan menarik perhatian terpajang di toko seni.
Ia pun membelinya dan mulai mencari tahu siapa pelukis di balik itu. Tidak butuh waktu lama, dengan kemampuan serta koneksi di mana-mana, Presdir Han mengetahui jika Ayana lah si pelukis dengan inisial G di ujung karyanya.
Sejak saat itu ia semakin menyanjung, mengagumi sosok Ayana. Sampai pada masanya sang pelukis menampakkan diri di ibu kota.
Presdir Han menggilainya hingga obsesi. Namun, kini ekspetasi tidak sesuai kenyataan, wanita yang diinginkannya malah menyerang balik.
Ia geram, tersulut emosi, dan marah di waktu bersamaan. Kedua tangan yang sudah mengerut itu mengepal kuat.
Ia pun hendak melayangkan pukul lagi, tetapi pergerakannya terbaca oleh Ayana.
Sang pelukis menendang tepat di dada sang pengusaha hingga membuatnya jatuh tersungkur. Beberapa bodyguard yang berjaga pun bergegas mendekat membantu tuannya untuk berdiri.
Di tengah kepelikkan Ayana menyikut kuat tulang rusuk kedua pria yang berdiri belakangnya. Pergerakan secepat kilat itu membuat mereka terkejut sekaligus merasakan nyeri.
Kedua pria tadi pun melepaskan Ayana hingga membuatnya terbebas. Tidak menyianyiakan waktu ia langsung berlari hendak mencapai pintu.
Namun, lagi-lagi pergerakannya harus terhenti kala seseorang mencengkram belakang kepalanya. Hijab yang tengah dikenakannya pun sedikit tertarik.
"Kamu tidak bisa pergi ke manapun, Ayana," gumamnya tepat di sebelah telinga.
Ayana menoleh mendapati seringain sang mantan madu. "Lepaskan!" katanya jelas.
"Tidak akan!" balas Bella tidak mau mengalah.
Ayana memberontak dengan menangkis tangan itu sekuat tenaga dan seketika cengkraman Bella terlepas. Ia menarik tangan kanan sang pianis ke belakang membuat sang empunya mengaduh kesakitan.
Di tengah aksinya, ia melihat beberapa orang kembali mendatangi, Ayana memperhatikan mereka dan setelah mendekat menghempaskan Bella lalu memasang kuda-kuda memberi tameng untuk dirinya.
Di tengah sisa tenaga, Ayana kembali melawan mereka. Perkelahian pun tidak bisa dihindarkan, di ruangan luas berbentuk kotak itu sang pelukis adu jotos membuat Bella dan Presdir Han tidak percaya.
__ADS_1
"Sejak kapan Ayana bisa bertarung? Apa selama satu tahun lebih itu ia belajar bela diri?" batin Bella dengan iris melebar sempurna.