Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 14


__ADS_3

Hari demi hari kembali berlalu begitu cepat, setelah pertemuannya dengan Mega di rumah sakit, Ayana semakin diteror oleh keluarga besar Zidan.


Setiap hari, setiap saat, bahkan setiap waktu, ia terus menerus ditanyai kapan bisa mengandung lagi. Kegugurannya waktu itu ternyata sudah menyebar dan kabar kembalinya Ayana dan Zidan pun sampai kepada mereka.


Ayana sadar telah banyak waktu terlewati, pasti dua berita tersebut menyebar kepada keluarga besar.


Seperti siang ini, Ayana mendapatkan lagi chat masuk dari bibinya. Mega rutin memberinya pesan singkat yang masih membahas hal sama.


"Jadi, kapan kamu berencana akan punya anak? Apa kamu tidak kasihan pada Zidan? Teman-temannya saja menggendong anak, ada yang sudah tiga malahan. Tante, tidak mau tahu kamu tahun ini harus segera hamil. Apa kata tetua Ashraf nanti? Kamu tidak akan memalukan keluarga, kan? Atau itu memang tujuanmu, untuk balas dendam?"


Itulah isi pesan yang selalu dikirimkan Mega.


Ayana yang saat ini tengah mencoba membuat karya baru pun melemparkan kuat benda pintar tak bersalah itu.


Suara berdentum bergema kala ponselnya bertubrukan langsung dengan tembok.


Kuas yang tergeletak di dudukan kanvas pun dilemparkannya begitu saja. Ayana mendorong lukisan setengah jadi menimbulkan suara demi suara keras lagi.


Disusul teriakan memilukan membuat Seruni yang berada di depan pun mendatangi ruangan.


"Astaghfirullah, ada apa ini? Mbak ... Mbak tidak apa-apa?" tanyanya khawatir mendapati Ayana tengah menangkupkan wajah di kedua telapak tangan.


Ayana pun melepaskannya lalu menoleh pada Seruni. Wanita itu sedikit bergidik ngeri melihat sang owner seperti ini.


"Bisakah kamu membawakan tasku?" pintanya lirih. Dengan cepat Seruni pun mengangguk lalu keluar ruangan.


Tidak lama berselang ia kembali sembari membawa tas pundak Ayana dan memberikannya.


Seketika itu juga ia langsung menyambarnya lalu mengeluarkan semua isinya.


Barang-barang pribadinya pun berceceran di lantai, sang pelukis bersimpuh, mengacak-acaknya mencari satu barang yang diinginkan.


Beberapa detik kemudian, Ayana berhasil menemukan sebuah botol kecil dan membuka penutupnya cepat lalu mengeluarkan beberapa pil di dalamnya.


Tanpa ampun ia menegaknya membuat Seruni kelimpungan. Kekhawatiran pun semakin menjadi membuatnya kembali keluar untuk menghubungi seseorang.


Di ruangan itu tinggallah Ayana seorang, napasnya naik turun dengan keringat dingin membanjiri pelipis.


Perlahan ia mengepalkan kedua tangan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Bola matanya bergerak tak karuan dengan rasa sesak terus menerus memukul hatinya.


...***...

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan tadi benar? Di mana Ayana berada sekarang?" Danieal datang dengan napas memburu mendekati Seruni yang tengah berdiri di depan galeri.


Tidak lama setelah ia menghubungi sang dokter, Danieal bergegas ke sana untuk melihat keadaan adiknya.


Ia terkejut kala mendapatkan kabar Ayana mengamuk di galeri. Buru-buru ia meninggalkan rumah sakit mengoperkan pasiennya ke dokter lain.


"Saya sudah mencoba menghubungi tuan Zidan, tetapi tidak ada jawaban. Saya minta maaf jika sudah mengganggu Anda, Tuan Danieal," kata Seruni cemas.


"Tidak apa-apa, kamu sudah melakukan tugas dengan baik. Di mana Ayana sekarang?" tanyanya tidak mendapati sang adik di mana pun.


"Mbak Ayana sedang berada di ruangan," balas Seruni, Danieal pun langsung menuju Ayana berada.


Baru saja pintu terbuka, pemandangan di depan tepat menusuk ke dalam matanya. Danieal shock melihat adik sambungnya sudah terkapar tidak sadarkan diri.


"AYANA!" teriaknya mendekati wanita itu.


Di tempat berbeda, Zidan tengah melakukan ladang amal di salah satu panti asuhan. Ia bersama rombongan perusahaan mendatangi tempat itu memenuhi undangan ibu panti.


Di sana tengah mengadakan pengajian syukuran sekaligus mengucapkan rasa terima kasih pada sang pengusaha yang telah berdedikasi membangun panti menjadi lebih baik.


Setelah pengajian selesai waktu bebas pun tiba. Semua orang menikmati santapan bersama dengan bercengkrama satu sama lain.


Selesai makan bersama mereka menggunakan kesempatan yang ada untuk lebih dekat dengan penghuni panti.


Mereka hanya mengandalkan satu sama lain untuk menjalani kehidupan yang keras ini.


Hingga tidak lama kemudian, Kirana yang juga ikut, mendatanginya seraya menggendong bayi berusia lima bulan.


Bayi berjenis kelamin perempuan itu sangat cantik saat dipakaikan hijab instan membuat pipinya yang bulat semakin menonjol.


"Lihat, bukankah dia sangat menggemaskan?" ucap Kirana duduk di samping Zidan yang tengah berada di taman panti.


Pianis sekaligus pengusaha itu pun menoleh mendapati rekan kerjanya bersama bayi mungil tersebut.


"MasyaAllah, cantik sekali. Boleh aku menggendongnya?" pinta Zidan sambil merentangkan kedua tangan.


"Tentu, kata ibu panti biarkan Mas Zidan menggendong Raima," ujar Kirana seraya memberikan bayi bernama Raima itu pada sang rekan kerja.


"Oh jadi namanya Raima?" cetus Zidan yang kini sudah memeluk bayi bertubuh lumayan gempal tersebut.


"Em, kata ibu panti artinya kebahagiaan, bukankah dia memang membawa kebahagiaan?" tutur Kirana terus menerus.

__ADS_1


Zidan mengangguk setuju tanpa melihat ke arahnya sedikit pun. Diam-diam Kirana memperhatikan sang atasan yang tengah mengembangkan senyum senang seraya berceloteh mengajak Raima main.


"Apa Mas sudah punya anak?"


Pertanyaan tersebut membuat Zidan bungkam. Irisnya memandang lurus ke depan menghindari siapa pun.


"Seharusnya sudah, tetapi waktu itu istriku keguguran," ungkapnya sendu.


"Ah, jadi berita itu benar," benak Kirana teringat kembali ke beberapa hari lalu di mana dirinya mencari tahu sedalam-dalamnya tentang seorang Zidan Ashraf.


"Aku turut prihatin ... lalu kenapa kalian masih belum punya anak lagi?" tanyanya kembali.


Zidan mendengus pelan dan tidak langsung menjawabnya.


"Ah, maaf aku terlalu banyak bicara. Mas tidak usah menjawabnya jika itu sulit dilakukan, aku benar-benar minta ma-"


"Kami sedang mengusahakannya," potong Zidan cepat menoleh padanya sambil melemparkan senyum.


Kirana terpaku dan menyadari sesuatu, "Mas Zidan memang sudah menginginkan seorang anak," lanjut benaknya lagi.


...***...


Rumah sakit menjadi tujuan utamanya lagi dan lagi. Untuk kesekian kali Ayana harus mendapatkan penanganan di sana.


Setelah kurang lebih tiga jam tidak sadarkan diri, ia membuka kelopak matanya. Hal pertama yang tertangkap pandangan adalah langit-langit berwarna putih bersih sudah tak asing lagi.


Ia memandang lurus ke depan merasakan denyutan di lengan sebelah kanan. Tanpa melihat Ayana tahu apa yang tertancap di tubuhnya.


"Kamu sudah sadar?"


Suara seseorang mengejutkan, tanpa menoleh ia tahu siapa itu.


"Em, apa Mas yang membawaku ke sini?" tanya Ayana masih menatap ke depan.


Danieal duduk di kursi samping ranjang, manik cokelat keruhnya terus memindai wajah pucat sang adik.


"Kenapa kamu meminum banyak sekali obat penenang? Bukankah kamu sudah tidak meminumnya? Apa yang terjadi? Kamu tahu sendiri bagaimana resikonya jika menggunakannya secara berlebihan. Apa kamu ma-"


"Mas bisa menyuntikan obat penenang itu di tanganku sekarang? Aku benar-benar ingin tidur dalam ketenangan."


Kelopak mata itu menutup secara perlahan mengabaikan keterkejutan sang kakak. Danieal tidak menyangka mendapati Ayana kembali seperti ini.

__ADS_1


"Aku yakin ... seyakin-yakinnya jika sudah terjadi sesuatu, tapi apa? Kenapa kamu tidak langsung membicarakannya padaku, Ayana?" racaunya membatin, ia lalu menghela napas kasar. "Tapi, memang seperti inilah dia, tidak bisa langsung mengatakan apa yang sedang mengganggunya," lanjut benak Danieal lagi.


Tanpa sadar, air mata mengalir di balik kelopak yang tertutup. Ayana menangis dalam diam seraya meremas kuat selimut rumah sakit.


__ADS_2