Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 44


__ADS_3

Rasa sakit tidak usah dibalas dengan luka yang sama. Cukup perlihatkan saja pada mereka jika diri sudah jauh lebih baik.


Karena balas dendam terbaik adalah dengan membuat pribadi menjadi lebih baik lagi. Untuk membalas perbuatan mereka biarkan tangan Allah yang bekerja. Karena Allah tidak tidur dan melihat semuanya dari atas sana.


Itulah yang Ayana yakini selama ini, ia terus berusaha menata pribadinya agar menjadi baik lagi dan lagi. Namun, ia juga mengikuti setiap alur cerita yang sudah takdir gariskan. Senyum manis pun semakin mengembang saat mendapatkan informasi luar biasa.


"Apa? Jadi, wanita itu sudah mencari informasi tentangmu? Dan sudah sejauh itu? Wah! Dia benar-benar tidak bisa dianggap remeh." Danieal menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka mendengar semua perkataan Ayana.


"Yah, wanita itu memang selalu penasaran. Jika dia menginginkan sesuatu maka ... dia akan mendapatkannya dengan berbagai cara. Bella, wanita mantan maduku itu sungguh luar biasa," puji Ayana.


Danieal tertawa seketika, "Apa yang kamu katakan? Kamu memuji mantan madumu? Sungguh tidak masuk akal."


Ayana mendengus kasar lalu menyesap minumannya singkat. Ia meletakan perekam dalam genggaman ke atas meja.


Kepala berhijabnya menoleh ke samping menyaksikan banyak orang-orang hilir mudik, entah itu mengunjungi kafe atau hanya sekedar melewatinya saja.


"Sungguh sangat berguna kita mendapatkan dua tempat ini. Terima kasih atas ide Mas yang brilian menjadikan bangunan itu sebagai kafe untuk menampung orang-orang. Meskipun kebanyakan bukan pengunjung yang habis dari sini, tetapi masih sangat berguna," kata Ayana mengembangkan senyum.


"Em, tidak masalah. Aku senang mendengarnya, jadi ... apa yang akan kamu lakukan? Cepat atau lambat, Bella atau siapa pun itu bisa membongkar topengmu," balas Danieal.


Ayana mengangguk singkat. "Aku sudah tahu dan ... aku sudah merencanakan sesuatu."


"Apa itu?" tanya langsung Danieal.


Ayana menatap lekat manik penuh harap di depannya. Bibir ranum itu mengucapkan beberapa patah kata yang membuat sang dokter terbelalak.


"Kamu benar-benar wanita yang penuh rencana. Apa pun yang akan kamu lakukan, Mas akan mendukungmu penuh. Tenang saja tidak akan ada yang terjadi," ungkapnya meyakinkan.


"Em, terima kasih banyak, Mas."

__ADS_1


"Wanita jika sudah disakiti berkali-kali, dikhianati terus menerus, maka hatinya akan berubah menjadi kuat. Tidak ... bukan hatinya saja, tetapi semua yang ada dalam dirinya. Wanita itu bisa menjadi orang lain yang bahkan lebih kuat dari sebelumnya."


"Ayana yang kutemui dalam keadaan terpuruk, tidak memiliki semangat hidup lagi, seiring berjalannya waktu, ia berubah drastis. Sosok lemah yang pernah aku lihat saat satu tahun lalu kini hilang begitu saja, dan sekarang ... dia menjadi wanita tangguh yang tidak gentar oleh apa pun," benak Danieal mengagumi Ayana yang sudah dianggapnya seperti adik kandung.


...***...


Berbagai macam persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin. Beberapa minggu kemudian pergelaran seni lukis Ayana dan Arfan di gelar.


Banyak penikmat seni berdatangan, tidak hanya itu para pengusaha sampai selebriti terkenal ikut memeriahkan.


Tidak lupa Ayana maupun Arfan juga mengundang Zidan dan Bella. Semua itu tidak lepas dari rencana yang sudah dibuat sang pelukis.


Bangunan berlantai tiga disulap menjadi berlangsungnya acara tersebut. Berbagai lukisan dari pelukis terkenal pun terpajang di sana.


Ayana begitu cantik dalam balutan gamis biru muda dengan cardigan senda dibalut mengenakan hijab sewarna pun semakin mempertambah keanggunannya.


Bibir ranum itu terus berceloteh memperkenalkan lukisan demi lukisan karyanya. Wajah putihnya semakin berseri atas pengakuan yang diterima.


"Saya berharap hanya dengan melihatnya saja kita bisa merasakan deburan ombak, putihnya pasir, dan juga sejuknya angin pantai. Juga, tidak luput rasa syukur atas alam yang sudah Allah berikan pada kita," tutur Ayana tepat di depan salah satu lukisannya.


Kelima orang yang sedari tadi terus mengikuti serta mendengarkan penjelasannya terus menerus terkesima. Mereka yang terdiri dari dua orang pria dan tiga wanita itu pun terkagum-kagum atas karya Ayana.


Mereka bergiliran menanyai apa yang menginspirasinya untuk menjadi pelukis. Ayana dengan lugas mengatakan, "Dulu saya tidak pernah mempunyai teman untuk berbicara mengenai permasalahan hati. Dari sana saya mulai mencoba untuk melukis dan lama kelamaan menjadi sebuah hobi serta kebiasaan. Sampai menjadi sebuah profesi seperti sekarang."


"Nona Ghazella, apa Anda sudah pernah menikah?" tanya salah satu pria di sana.


Ayana memandangi pria berjas abu itu dengan tersenyum manis. "Eh, apa maksud Anda?"


"Tidak hanya saja, semua lukisan yang Anda buat sepertinya memiliki perasaan terdalam. Terutama untuk seseorang," jelasnya.

__ADS_1


"Ah, nanti saya jelaskan di acara puncak," kata Ayana semakin menambah penasaran mereka.


"Kalau begitu bisa kita lanjutkan?" ujar Ayana lagi membuat kelima orang itu pun mengangguk mengiyakan.


Tidak jauh dari keberadaannya dua pasang mata memperhatikan dalam diam. Para pianis itu menatap lekat Ayana yang begitu cekatan dalam melakukan tugasnya.


Zidan maupun Bella terkesima atas pencapaian yang sudah didapatkan Ayana. Namun, bagaimanapun juga ada satu hal yang membuat keduanya tidak puas.


"Keputusan dia mengundangku ke sini adalah sebuah kesalahan besar," ujar Bella seraya melipat tangan di depan dada.


"Apa maksudmu? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu? Dengar yah Bella, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakitinya," geram Zidan menahan kekesalan.


Bella menoleh mendapati tatapan tajam dari mantan suaminya. "Kamu tenang saja, Mas. Aku akan memberikan kejutan untukmu juga. Aku akan membuat wanita itu mengaku jika dirinya adalah Ayana."


Zidan menggelengkan kepala singkat, jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia juga berharap Ghazella bisa mengakui dirinya.


"Bagaimana kegiatanmu hari ini?" Arfan mendatangi Ayana yang tengah duduk dekat jendela menepi dari keramaian.


Ayana mendongak memfokuskan diri pada lawan bicaranya. "Sangat luar biasa, terima kasih Mas Arfan sudah mengajakku untuk bekerja sama."


Arfan terkekeh pelan lalu menyodorkan minuman dingin padanya. "Terima kasih kembali, sebab mau bekerja sama denganku." Ayana melengkungkan bulan sabit dan menerima minuman itu.


Di tengah kebersamaan, dua orang yang tidak diundang pun datang. Mereka berdiri tepat di sebelah Ayana dan Arfan. Para pelukis itu pun mendongak menyaksikan lawan bicaranya.


"Bisa kita duduk di sini?" tanyanya kemudian.


"Oh Nona Bella? Tuan Zidan? Silakan ... silakan," ujar Ayana mempersilakan.


Tanpa menunggu kedua kalinya Bella duduk di sebelah Ayana, sedangkan Zidan di samping Arfan. Kecanggungan serta keheningan menyambut mereka berempat.

__ADS_1


"Tidak pernah aku bayangkan suatu hari nanti bisa duduk bersama mereka semua seperti ini. Mas Zidan mantan suamiku, Bella mantan maduku, dan Mas Arfan mantan kekasih Bella. Ada apa dengan kombinasi ini? Ya Allah, bolehkah hamba tertawa saat ini juga? Benar-benar keadaan yang tidak terduga, sungguh sangat konyol," benak Ayana memandangi mereka bertiga seraya menahan tawa.


__ADS_2