
Sanubari berbisik lirih jika apa yang kita lewati pasti akan kembali. Masa lalu yang tidak usah dikenang lagi nyatanya masih memberikan memori.
Pernikahan yang diwarnai bunga air mata masih memberikan penghalang bagi keduanya untuk bersama. Di saat Zidan sudah mencintainya, Ayana memilih mundur.
Ia tidak mau keadaan bertambah runyam. Sudah cukup selama enam tahun ia merasakan pahit nan perih kehidupan berumah tangga. Ia tidak bisa jika harus merasakan hal yang sama lagi.
"I love you. Tidak ada yang lain selain dirimu," ucap Zidan lagi.
Ia pun menggenggam hangat jari jemari Ayana dan memberikan kecupan di punggung tangannya. Sang empunya terperangah baru kali ini diperhatikan sehangat itu oleh pria yang dulu sangat dicintainya.
"Kenapa Mas rela mengorbankan diri sendiri untuk melindungi ku? Kenapa Mas harus mencintaiku? Jika ini dari rasa bersalahmu, lebih baik hentikan. Aku-"
"Aku tidak bisa menghentikannya. Karena aku mencintaimu. Harus berapa kali lagi aku katakan? Jika aku benar-benar mencintaimu, Ayana. Harus dengan cara apa lagi aku membuktikannya? Aku memang bersalah ... sangat bersalah."
"Aku sudah membunuh anak kita. Aku sudah menyakiti hatimu. Akulah sumber dari kesakitan yang kamu rasakan selama ini. Sampai-" Zidan tidak kuasa menahan kesedihan teringat cerita Ayana yang Danieal ungkapkan satu setengah tahun lalu.
Di mana Ayana hampir dilecehkan oleh pria tua tidak dikenal sehari setelah kepergiannya dari rumah Zidan.
Namun, ia dengan sombongnya dan tanpa perasaan mengumbar kemesraan bersama Bella. Buah atas apa yang dilakukannya pun sudah berhasil dituai.
Zidan merasakan sakit yang Ayana rasakan. Perasaan tulus mencintai Bella dikhianati oleh wanita itu. Ia terpuruk sampai depresi serta halusinasi.
Ayana memandanginya dalam diam. Ia menyaksikan bagaimana penyesalan serta ketulusan akan cinta tercetus di sana.
"Aku-"
"Mas Zidan." Panggilan seseorang menghentikan percakapan.
Zidan dan Ayana kompak menoleh ke belakang mendapati wanita bersurai sepunggung tengah berjalan mendekat.
Aura elegan serta anggun begitu mencolok membuat Ayana bangkit dari duduk. Mereka saling berhadapan, bibir ranum itu menyeringai membuat sang pelukis tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Bella? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Zidan hanya membalikan tubuhnya kala ngilu di kedua kaki terasa lagi.
__ADS_1
Itu efek dari tadi ia memaksakan berjalan untuk mendekati Ayana. Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Haikal membantunya duduk di sana.
Sekarang pria itu sedang menunggu sang tuan di dalam mobil terletak di parkiran tidak jauh dari galeri Ayana.
"Mamah yang sengaja mengajak Bella untuk menjemputmu dari sini. Mamah tahu dari Haikal kamu pergi menemui Ayana," timpal Lina yang berjalan mendekati mereka.
Bella yang seolah sudah menang pun melipat tangan di depan dada menyaksikan keheranan tercetus di wajah ayu Ayana.
Wanita berhijab itu menyadari jika pengakuannya tempo hari benar-benar sudah membuat ibu mertuanya meradang.
Kepercayaan mereka pada Ayana pun hancur kala mendengar sendiri wanita itu memiliki niat buruk pada Zidan.
Sebagai seorang ibu, Lina tidak akan membiarkan putranya terjerumus ke jalan yang salah lagi. Ia pun sudah termakan bujuk rayu seorang Bella.
Wanita pianis itu memang pandai bersilat lidah dan memanipulatif siapa pun. Orang-orang yang menjadi sasarannya bisa termakan omongan.
"Kenapa Mamah bersama Bella?" tanya Zidan heran.
"Bella bisa panggil Haikal untuk membantu Zidan?" pintanya pada Bella, sang pianis mengiyakan dan melangkahkan kaki dari sana.
Kini hanya ada mereka bertiga, Ayana sedari tadi terus diam tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia pun menghindari tatapan dengan ibu mertuanya kala sorot mata tak bersahabat itu tercetus di sana.
"Kenapa Mamah bisa bersama Bella? Bukannya Mamah tidak menyukai dia?" tanya Zidan untuk kedua kali.
Lina menghela napas dan berjala melewati Ayana untuk mendekat pada Zidan.
"Dia lebih baik daripada seseorang yang berusaha menghilangkan nyawamu. Kita pergi." Lina menarik lengan sang putra kala menyaksikan Haikal datang sembari membawa kursi roda.
Di balik punggungnya Ayana menyeringai lebar. Ia tahu sudah ada kebencian di dada seorang ibu yang tidak ingin melihat anaknya berurusan dengan orang bermasalah sepertinya.
"Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini!" Zidan memberontak pada saat Haikal membantunya duduk di kursi roda.
Tanpa mengindahkan ucapannya, Lina menyuruh Haikal untuk membawa Zidan pergi. Mereka pun berhasil mendudukkannya di kursi rodan dan mendorongnya keluar.
__ADS_1
Ayana kembali dilewati seolah keberadaannya tidak ada di sana. Dalam diam ia memperhatikan keempat orang itu pergi.
Ia mendengus pelan seraya mengangkat sebelah sudut bibir. "Seperti inilah akhirnya," ucap Ayana lirih.
"Apa kamu tidak apa-apa?"
Sang kakak masuk melihat sendiri apa yang sudah terjadi di toko itu, Ayana mengangguk pelan dan mengulas senyum simpul.
...***...
Makan malam di mansion Arsyad dilakukan bersama-sama lagi. Sejak kejadian yang menimpa Ayana, Celia dan Adnan semakin memperhatikannya.
Kedua orang tua itu tidak mau jika kejadian Eliza harus menimpanya juga. Mereka cukup bisa menghela napas lega pada saat Ayana masih mampu bertahan di balik guncangan hebat menimpanya bertubi-tubi beberapa bulan ke belakang.
"Apa? Mertuamu mengabaikan mu?" Suara Celia bergema di sana.
"Shut, Mamah tidak usah berteriak seperti itu. Mas Danieal hanya melebih-lebihkan," balas Ayana yang tengah menikmati santap malamnya.
"Mas tidak melebih-lebihkan, bahkan tidak hanya ibu mertuanya saja semua keluarga Ashraf membencinya sekarang," lanjut Danieal yang sedari tadi terus membuka percakapan. "Padahal belum tentu Ayana melakukan tindakan keji seperti itu. Mas tidak percaya," katanya lalu memasukan sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulut.
"Benar-benar mereka itu. Maunya apa? Apa ada bukti Ayana hendak melakukan pembunuhan pada suaminya sendiri? Lina dan Arshan, bukankah kedua orang itu awalnya sangat menyukai putri kita?" Adnan memandangi ketiga anggota keluarganya di sana.
"Itu benar, kedua orang tua itu tidak tahu terima kasih. Untung putri kita tidak menuntut atas kejadian masa lalu," balas Lina.
"Benar, mereka terlalu polos bisa-bisanya termakan omongan orang lain yang awalnya mereka benci? Cih, sungguh menggelikan," timpal Danieal lagi.
Ayana hanya diam menatap satu persatu, kedua orang tua dan juga kakak sambungnya ini. Ia tahu mereka kesal dan emosi atas apa yang menimpanya sekarang.
Namun, Ayana tidak bisa mengungkapkan alasan kenapa ia melakukan semua itu. Ia tidak ingin Bening, ibu Erina mengetahui keburukannya.
Ia tidak mau membuat wanita itu kecewa dan menganggapnya sebagai wanita licik. Namun, mau sepintar apa pun ia menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga.
"Aku harus segera bertindak. Aku yakin lambat laun Bella pasti akan membongkar semuanya pada ibu Bening. Aku tahu wanita itu tidak pernah puas, sebelum kejadian tidak diinginkan itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu," benaknya kemudian.
__ADS_1