Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 15


__ADS_3

Celia dan Adnan sedang bertugas di rumah sakit. Di mansion besar itu hanya diisi beberapa pelayan yang tengah melakukan tugasnya seperti biasa, sedangkan keempat tuan dan nona mudanya tengah berkumpul bersama di ruang belajar terletak di ujung bangunan.


Di sana Ayana, Zidan, Danieal, dan Jasmine duduk saling berhadapan dengan pasangan masing-masing. Atmosfer ketegangan begitu terasa melingkupi mereka.


Aroma cendana begitu kuat menyapa indera penciuman bercampur dengan raksi buku-buku tua menjadi satu. Hamparan tanaman hijau terhampar di jendela besar mengelilingi ruangan.


Ada satu pohon besar dekat jendela menambah kesejukan. Sesekali angin berbisik menyapa dedaunan yang saling bergesekan, memberikan melodi menambah ketenangan.


Suara alam menemani kebersamaan mereka yang hendak membahas satu permasalahan melanda. Kejadian menyakitkan datang menyapa keharmonisan yang sedang dirasakan.


Fakta menyakitkan membuat mereka ikut sedih dan terluka. Sang empunya penyakit hanya bisa menunduk lemah, tidak sanggup harus bertatapan dengan anggota keluarga.


Ia seperti aib dan noda dalam keluarga, kekurangannya benar-benar telah membuat Jasmine tidak tahu harus berbuat apa.


Pasangan hidupnya pun langsung menggenggam tangan Jasmine erat menyalurkan kekuatan. Sang empunya menoleh singkat dan tersenyum lemah.


Ayana dan Zidan yang menyaksikan adegan drama suami istri tepat di depan matanya hanya bisa mengulas senyum sendu. Mereka bisa merasakan kekalutan yang tengah keduanya rasakan, pasti tidak mudah serta sulit menerima kenyataan.


Semalam Ayana mengatakan pada Zidan jika Jasmine mengidap kista. Sang pianis pun seketika lemah, tidak menyangka mendengar berita mengejutkan kakak iparnya.


Ia pikir hubungan Jasmine dan Danieal begitu harmonis, penuh cinta kasih, dan saling menyayangi, tetapi nyatanya ada fakta menyedikan di dalamnya.


Semua orang tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi kedatangannya sudah pasti terjadi. Baik dan buruk telah menjadi ketentuan di atas. Terima dan jalani, lalu setelahnya kembali pasrahkan semua kepada Allah semata.


"Jadi... bagaimana semuanya bermula?" tanya Zidan angkat suara memulai pembicaraan.


Jasmine serta Danieal seketika menoleh ke depan lagi menyaksikan sorot mata pilu keduanya.


"Iya... kapan semua itu datang?" lanjut Ayana yang sedari tadi hanya menyaksikan drama pilu kakak serta kakak iparnya.


Ia ingin semuanya berakhir dengan baik, tanpa harus menyakiti siapa pun.


Jasmine mengepal tangan kanannya kuat, sedangkan jari jemari sebelah kiri menggenggam tangan sang suami erat.


"Jika kamu tidak sanggup tidak usah mengatakannya," bisik Danieal.

__ADS_1


Jasmine menggeleng singkat sembari melirik sekilas.


"Semua ini bermula... satu setengah bulan lalu. Aku mengalami muntah-muntah, pusing, dan lemas."


"Aku pikir... aku pikir-" Jasmine tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Ia membungkam mulutnya kuat, menahan isakkan yang berusaha keluar. Melihat itu Danieal menariknya pelan dan memeluk sang pujaan ke dalam pelukan.


Ayana serta Zidan ikut men-celos menyaksikan kesakitan kesekian kali yang tengah ditanggung Jasmine.


Selama satu setengah bulan ini ia berusaha tegar menghadapi rasa sakit yang tengah dideritanya, seorang diri. Tanpa dukungan serta semangat dari keluarga tercinta membuat pertahanannya runtuh, tetapi itu lebih baik daripada mendatangkan kekecewaan pada mereka.


Namun, keinginan itu hanya sebatas semu semata. Fakta mengatakan kenyataan itu harus mencuat ke permukaan.


Tidak Jasmine sadari sang adik ipar lah lebih dulu mengetahui penyakit rahasianya itu. Ia berpikir jika lebih baik menyembunyikan selamanya agar keluarga, terutama sang suami tidak begitu kecewa dan tentu saja bisa sangat menyakitinya.


"Aku tidak bisa hamil... aku tidak bisa memberikan keturunan padamu dalam waktu dekat. Aku sudah mengecewakan kalian, maaf," celoteh Jasmine di dada bidang Danieal.


Dokter tampan itu pun mengelus punggung ramping sang istri berkali-kali. Ia mencoba menyalurkan kekuatan serta perlindungan bagi kekasih hatinya.


"Shut, jangan berkata seperti itu. Semua ini di luar kehendak kita, jadi... jangan mengatakan maaf dan takut mengecewakan kita," balas Danieal kemudian.


Suara dari depan mengejutkannya lagi, pasangan suami istri itu pun menoleh kembali ke arah sama di mana Ayana beranjak dari duduk dan berjalan perlahan mendekat.


Tidak lama setelah itu, sang pelukis beralih ke samping Jasmine dan menggenggam tangan kakak iparnya yang telah melepaskan pelukan.


"Jangan meminta maaf dan menyalahkan diri sendiri. Justru, kamilah yang harus minta maaf padamu. Karena... tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Kenapa kamu rahasiakan?" tanya Ayana, penasaran.


Jasmine menunduk, menyembunyikan wajah bersalahnya.


"Karena aku sudah membuat kalian semua kecewa, terutama Mas Danieal... aku didiagnosis akan lama punya anak bahkan... kemungkinan besar tidak bisa hamil," tutur Jasmine, lirih.


Ayana terperangah, merasakan tangan wanita di hadapannya gemetaran. Ia langsung menggenggamnya kuat dan memberikan elusan pelan.

__ADS_1


"Itu atas diagnosis manusia, Jasmine. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang Allah rencanakan, bisa saja... Allah ingin memberikan waktu luang pada kalian untuk menikmatinya bersama-sama dulu. Jadi, apa pun yang terjadi terima dan serahkan semuanya lagi pada yang di atas. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk kita," tutur Ayana.


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud menasehati mu atau apa... aku hanya-"


Belum sempat Ayana menyelesaikan kalimatnya, Jasmine seketika langsung menerjang tubuh berisi sang adik ipar erat.


Ia kembali menangis di balik punggung Ayana, merasa sesak sekaligus lega di waktu bersamaan.


"Em, tidak apa. Aku minta maaf sudah mengatakan hal tidak baik padamu kemarin. Aku benar-benar minta maaf... aku tidak bermaksud seperti itu," ungkap Jasmine, menyesal.


Mendengar pengakuannya, Ayana melebarkan senyum lega. Ia pun membalas pelukan Jasmine tak kalah erat dan mengusap punggung rapuh sang kakak ipar berkali-kali.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku juga minta maaf sudah mengganggumu," katanya lagi.


"Tidak Ayana, jangan berkata seperti itu. Justru, sebaliknya... aku senang saat kamu memberikan nasehat-nasehat baik, terima kasih." Jasmine melepaskan pelukan dan mereka kembali saling tatap.


Ayana hanya bisa mengulas senyum lembut sembari mengangguk singkat.


"Maka dari itu kita harus menghadapi masalah ini bersama-sama. Aku akan mendampingi mu sampai kapan pun, Sayang."


Tanpa malu Danieal memeluk istrinya dari belakang. Sontak perlakuannya tersebut membuat Ayana maupun Zidan terkesiap.


Sama seperti mereka, Jasmine pun terkejut bukan main. Ia menatap kedua adik iparnya gamang, tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa sangat malu atas perlakuan hangat yang diberikan suaminya di hadapan orang lain.


"Te-terima kasih."


"Mas Danieal, licik! Lihat-lihat tempat kalau mau bermesraan." Ayana mencak-mencak, bangkit dari duduknya lagi lalu menyeret Zidan keluar dari sana.


Ia merasa malu sendiri atas tindakan manis dilayangkan kakak sambungnya. Meskipun Ayana sendiri sudah bersuami, ia tetap merasa tidak enak jika melihat kemesraan orang lain tepat di depan mata kepalanya, sedangkan sang pelaku hanya diam, bersikap acuh tak acuh.


Sepeninggalan Ayana dan Zidan, Danieal menjatuhkan dahi di punggung sempit Jasmine. Ia mendusel-duselnya beberapa kali seraya mengeratkan pelukan.


"Terima kasih sudah berkata jujur, Sayang. Seperti kataku tadi... aku akan tetap bersamamu, mendampingi mu, baik dalam suka maupun duka. Karena aku sudah berjanji di hadapan Allah, apa pun kondisinya, aku akan selalu mencintaimu," aku Danieal lembut.


Ia mengangkat kepala dan sebelah tangannya menarik dagu Jasmine membuatnya menoleh ke samping. Hingga tidak lama setelah itu, penyatuan pun kembali datang.

__ADS_1


Jasmine yang menerimanya dibuat terkejut lagi. Setelah mengetahui ia mengendap PCOS, Danieal lebih sering menyentuhnya bahkan semakin intens.


Meskipun begitu Jasmine sama sekali tidak keberatan dan malah senang dibuatnya. Ia berpikir Danieal memang benar-benar mencintainya apa adanya dan ia sangat bersyukur untuk itu.


__ADS_2