
Ayana keluar dari kafe, napasnya memburu dengan dada naik turun. Dahi lebarnya mengeluarkan keringat dingin.
Ia menoleh ke sembarang arah mencoba memfokuskan diri untuk tidak terjauh kepada kesakitan.
Dua kali, ia mengalami nasib kurang baik yang dilakukan oleh Presdir Han. Harga dirinya dijatuhkan begitu saja tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun.
Ayana berang, darahnya mendidih seketika mengalirkan rasa panas mengalir ke tubuh. Bayangan dua kejadian di waktu berbeda datang secara bersamaan.
Kehormatannya hampir direnggut paksa oleh tangan tak berperasaan. Hanya mengandalkan napsu semata yang didorong oleh obsesi hampir membuatnya mendapatkan kesialan begitu dalam.
Ayana masih mencoba untuk mengatur napas. Ia berjalan perlahan menuju galerinya berada mengabaikan tatapan dari orang-orang hilir mudik di sana.
Sebelum sampai di sana, Ayana dikejutkan dengan kedatangan seseorang lagi.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Suara dikenalnya menyapa, Ayana mendongak mendapati sang suami tengah memandang khawatir.
Ia menggeleng perlahan memberikan tanda tanya pada Zidan. Seketika itu juga ia langsung memeluk istrinya erat.
"Sudah, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir aku ada di sini," ucapnya lembut.
Ayana terpaku menangkap kata-kata menenangkan tercetus di balik bibir menawan sang suami. Ini pertama kali Zidan memperlakukannya dengan sangat hangat.
Belaian di punggungnya pun menyadarkan jika ia tidak lagi sendirian.
Kedua tangan ramping itu terangkat membalas pelukan sang suami. Ayana mencengkram erat kemeja Zidan sekuat mungkin.
Ia menangis menyalurkan rasa sakit tertanam dalam diri. Zidan membiarkannya seraya terus mengelus tubuh sang istri pelan.
Ia tahu saat ini Ayana tengah menahan segala bentuk emosi yang membuncah dalam diri. Melihat istrinya seperti itu membuat Zidan pun merasa sakit.
Semua orang yang hilir mudik menatap pada pasangan tersebut. Ada yang heran, ada pula yang tidak peduli.
"Jadi, seperti inikah rasanya di peluk oleh orang yang mencintaimu? Rasanya benar-benar hangat," benak Ayana menutup kedua mata.
...***...
Zidan meletakkan segelas teh hijau di depan Ayana, lalu duduk tepat di sebelahnya. Ia terus memperhatikan dalam diam apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Ia khawatir benar-benar takut sudah terjadi sesuatu pada sang istri. Ia tadi tidak sengaja melihat Ayana keluar dari kafe dalam keadaan kacau.
Niatnya untuk memberi kejutan malah ia sendiri yang terkejut. Ia tidak bisa jika melihat Ayana menangis seperti itu lagi.
"Sayang-"
"Apa aku salah ingin membela diri sendiri dengan cara melihat pelaku mendapatkan ganjarannya?" gumam Ayana lirih.
Air mata berjatuhan tanpa bisa dicegah. Ia pun menghapusnya kasar sembari terus menunduk dalam.
"Tentu saja tidak, Sayang. Siapa pun yang berbuat salah pasti mendapatkan ganjarannya. Allah juga Maha Pemaaf, kan? Namun, apa yang kita tanam pasti suatu saat pasti akan dituai juga. Memaafkan mungkin bisa, tapi butuh waktu seumur hidup untuk benar-benar melupakan. Aku ... mengerti bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang," ungkap Zidan hangat.
Ayana menyadari satu hal setelah mendengar ucapan suaminya barusan. Zidan mengetahui jika tidak mudah bagi seseorang untuk membuka hati lagi seperti semula selepas tergores luka teramat dalam.
Rasa perih selalu menghampiri, tidak bisa dilupakan begitu mudah. Ayana sadar, sesadar-sadarnya luka itu masih menetap di dasar hatinya.
"Aku ... minta maaf," ucapnya kemudian.
"Tidak usah minta maaf, Sayang. Aku senang hanya dengan diberikan kesempatan kedua ini. Itu artinya ... kamu masih mau menerimaku kembali."
"Terima kasih, Sayang." Zidan menarik kedua tangan Ayana pelan dan menciumnya lembut.
"Aku-"
"Wah, senang sekali melihat kalian terus bersama seperti ini." Perkataan orang lain yang datang ke sana secara tiba-tiba pun menghentikan ucapan Ayana.
Pasangan suami istri itu pun mendongak mendapati dokter tampan tengah melayangkan senyum menawan.
Ia menatap keduanya lekat sembari menyembunyikan kedua tangan di saku jaket. Ia lalu berjalan dan duduk tepat di hadapan mereka.
"Mas Danieal? Kenapa datang tidak bilang-bilang?" tanya Ayana terkejut.
"Eh? Memangnya aku harus laporan dulu saat ingin mengunjungi adikku sendiri? Hei, aku bebas datang ke sini kapan pun. Kalau aku, bilang mana mungkin bisa melihat adegan mesra tadi," cerocosnya diakhiri dengan tawa menggelegar begitu saja.
Ayana hendak melayangkan pukulan tetapi berhenti di udara dengan tangan kanan mengepal. Melihat itu Danieal semakin tergelak seraya memegang perut sixpack nya.
Ayana hanya berdecih lalu menopang dagu di atas meja dan meneguk teh hijaunya singkat.
Setelah acara tawanya berakhir, Danieal mengusap kedua sudut mata yang sedikit berair. Ia kembali memandangi mereka satu persatu.
__ADS_1
Sampai atensinya pun fokus pada Ayana semata. Ia mencondongkan badan sedikit ke depan mengamati manik sang adik memerah.
"Hei, apa kamu habis menangis?" tanyanya langsung.
Seketika Danieal menoleh pada Zidan yang tengah melihat ke arahnya.
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa pada Ayana," ucapnya membela diri.
"Lalu kenapa dia menangis? Sudah aku bilang kan, jika sampai aku melihatnya menangis lagi ... aku tidak-"
"Bukan Mas, aku menangis ... karena apa yang sudah tua bangka itu lakukan," potong Ayana cepat.
"Hah?" Danieal sadar depresi Ayana bisa tumbuh kapan saja tanpa disadari.
"Ah, aku mengerti. Apa sekarang kamu baik-baik saja?" tanyanya mengalihkan topik.
Ayana mengangguk cepat meyakinkan sang kakak. "Aku sudah jauh lebih baik."
Zidan melengkungkan kedua sudut bibir menyaksikan interaksi kakak dan adik tak sedarah tersebut. Ia senang Ayana bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Danieal.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Danieal lagi kala mendapati air muka cerah di wajah sang pianis.
"Tidak, hanya saja aku senang Ayana bisa menemukan keluarga yang benar-benar menyayanginya sepenuh hati. Terima kasih sudah menjadikan Ayana sebagai adikmu," ucap Zidan tulus menatap lembut pada Danieal.
Dokter itu pun terkejut dibuatnya, ia tidak menyangka pria arogan yang sudah membuat Ayana depresi hingga trauma mampu bersikap baik.
Ia percaya jika mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati seorang hamba. Seiring berjalannya waktu seseorang bisa saja berubah sebagaimana hati menginginkannya jauh lebih baik.
Zidan saat ini jauh dari bayangan Danieal kala pertama kali mendengar sosoknya dari Ayana. Pada waktu itu ia terbawa emosi dan ingin menghajarnya.
Bagaimana kelakuan Zidan yang sudah menyakiti Ayana hingga bayi kandung mereka harus meninggal.
"Em, aku mengangkatnya sebagai adik ... sebab dia wanita yang istimewa. Hanya pria bodoh yang pernah menyakiti dan menyianyiakannya," ucap Danieal sedikit menyindir Zidan.
Tanpa mengelak sang pianis mengulas senyum malu dan mengangguk perlahan.
"Benar, akulah pria bodoh itu dan sekarang ... aku benar-benar menyesal, tapi sekarang ... aku sangat mencintainya," ungkap Zidan kembali.
Ayana dan Danieal saling pandang lalu mengulas senyum bersamaan. Mereka mengangguk singkat mengetahui ketulusan serta kejujuran seorang Zidan.
__ADS_1
Ayana bersyukur Allah memberikan kesempatan kedua padanya untuk tetap bertahan di dunia. Jika saja saat itu ia benar-benar kehilangan hidupnya, ia tidak mungkin bisa merasakan dicintai dan disayangi begitu besar oleh orang-orang berharga.