Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 48


__ADS_3

Isak tangis masih mengalun di keheningan lorong lantai enam rumah sakit.


Ayana masih menatap lekat Jasmine yang masih terisak sendu.


Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Jasmine. Namun, yang jelas sudah terjadi padanya.


Ayana pun paham dari gelagat yang dilayangkannya pasti ada sesuatu yang tengah disembunyikan wanita idaman sang kakak.


Ia mencengkram kedua bahu Jasmine sedikit kencang dan mengguncangnya pelan.


Ayana berharap Jasmine mau menatap matanya.


"Jasmine... hei Jasmine. Lihat aku!" pintanya sangat.


Mendapati permintaan sahabat yang sudah lama membantunya selama ini, Jasmine mengangkat kepala yang langsung membuat pandangan mereka saling bertubrukan.


Ia terkesiap menyaksikan keseriusan dari sorot mata Ayana.


Sang pelukis melihat jejak penyesalan dalam mata Jasmine. Kedua tangan itu terulur menghapus jejak kristal bening di pipi.


Keyakinan semakin menjadi-jadi saat menatap air muka Jasmine.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba saja minta maaf dan berkata menyesal? Kamu... tidak bisa membohongiku, Jasmine." Ayana terus mendesak agar sahabatnya ini bisa berterus terang.


"Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" tanyanya sekali lagi.


Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ayana meminta Jasmine untuk duduk di sebelahnya.


Zidan pun langsung beranjak dari duduk mempersilakan keturunan Mahesa di sana.


Jasmine pun menurutinya masih dengan menunduk dalam.


"Dia siapa, Ayana? Kenapa tiba-tiba saja minta maaf dan menyesal? Apa kejadian tadi itu... karena dia?" tunjuk Kirana pada Jasmine yang sedari tadi menyaksikan interaksi keduanya.


Ayana langsung berpaling pada Kirana seraya menggeleng singkat.


"Bukan, Jasmine ini-"


Ayana pun menjelaskan siapa Jasmine itu sebenarnya. Ia menutupi segala permasalahan yang menimpanya tidak baik jika harus membuka aib orang lain.


Kirana hanya manggut-manggut mengerti dan memahami jika setiap orang mempunyai permasalahan masing-masing.


"Aku mengerti, kalau begitu sepertinya ada sesuatu yang harus kalian diskusikan berdua saja. Aku pergi dulu, kabari jika mas Danieal sudah dipindahkan ke ruang inap." Kirana beranjak dari duduk memberikan kesempatan bagi kedua wanita itu bersama.


"Baiklah, terima kasih Kirana," balas Ayana membuat ibu kandung dari anak sambungnya mengangguk.


Selepas kepergian Kirana, Zidan juga berinisiatif sama. Ia tahu Jasmine lebih leluasa membicarakan hal baru yang menimpanya berdua saja dengan Ayana.


Ia pergi ke tempat berbeda dengan Kirana dan di sana hanya menyisakan Ayana serta Jasmine semata.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan? Apa ini ada hubungannya-"


"Darius."


Satu kata membuat Ayana menautkan alisnya dalam. Ia tidak tahu siapa pemilik di balik nama yang disebutkan Jasmine.

__ADS_1


"Dia... siapa?" tanya Ayana langsung.


"Dia sepupuku, Ayana. Pria itu adalah anak dari pria tua yang sudah membesarkan ku selama ini."


Penjelasan Jasmine sontak membuat manik jelaga Ayana melebar. Bibir ranumnya terbuka perlahan dengan degup jantung berdebar kencang.


"Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan hal ini denganmu. Aku-"


"Jasmine." Ayana menekan nama sang sahabat dan menggenggam sebelah lengannya.


"Jangan berkata seperti itu, semua yang terjadi kita sudah tahu satu sama lain."


"Kita juga bukan orang asing lagi. Jadi, jika ada sesuatu yang mengganggu mu, kita bisa menyelesaikannya bersama-sama. Tidak usah sungkan. Karena-"


"Aku takut Ayana. Aku takut... masalah yang akan terjadi lagi mengganggu kandungan mu. Aku tidak bisa melihatmu sedih dan terluka."


"Mendapati mu menahan tangis akibat kejadian beberapa saat lalu pun benar-benar membuatku ikut terluka. Aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Kandungan mu-" Jasmine mengusap perut Ayana yang sedikit membuncit.


"Aku tidak ingin dia terluka," lanjutnya.


Ayana tidak bisa menahan keharuan. Kristal bening meluncur cepat membasahi punggung tangan Jasmine yang masih bertengger di atas perutnya.


Ia kembali mendongak dan terkejut melihat Ayana menangis.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Jasmine merasa bersalah.


Ayana menggeleng cepat. "Sama sekali tidak. Terima kasih sudah memikirkan anak ini. Kamu tahu... dia sangat kuat."


Jasmine terkesiap dan kembali mengusap perut Ayana.


"Apa kamu merasakannya juga? Anak ini... mengenali sentuhan tantenya. Bahkan mas Zidan juga belum pernah merasakannya," jelas pelukis cantik itu.


"Benarkah, MasyaAllah. Tendangannya kuat juga," balas Jasmine mengembangkan senyum senang sekaligus haru.


Ayana hanya mengiyakan tanpa bersuara.


Setelahnya mereka diam membiarkan keheningan mengambil alih.


Ayana memberikan kesempatan pada Jasmine untuk memikirkannya lebih dulu.


Mereka pun sama-sama terpukul atas kejadian menimpa Danieal, terutama Jasmine yang sangat merasa bersalah.


Mereka tidak pernah menduga akan ada orang lain yang mengusik ketenangan.


"Jadi, maksud dari sepupumu menampakan dirinya adalah?" Ayana kembali bersuara masih belum mendapat jawaban dari rasa penasaran.


"Dia ingin membalas dendam, sebab... aku sudah membuat ayahnya meninggal."


"Apa? Apa dia tidak tahu kalau ayahnya?"


"Dia tahu Ayana, sangat tahu, tetapi... yang namanya anak seburuk apa pun kelakuan orang tua, tetap saja masih ada pembelaan. Dia datang ke sini untuk membalas semua perbuatan ku pada ayahnya," jelas Jasmine lagi.


"Jadi, maksudnya anak panah tadi dimaksudkan untukmu dan bukan untuk mas Danieal? Semua hanya salah sasaran?" Ayana tercengang dibuatnya.


Jasmine mengangguk singkat dan menjatuhkan pandangan ke bawah.

__ADS_1


"Aku juga punya firasat kalau dia... mengincar mu juga, jadi aku takut terjadi sesuatu," ucap Jasmine lesu.


"Jangan takut, ada Allah. Apa pun yang terjadi Allah senantiasa melindungi. Kita pasrahkan saja semuanya pada Allah," kata Ayana mencoba menenangkan.


Jasmine hanya mengangguk singkat, tetapi masih ada rasa takut dalam diri.


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah lindungilah kami," benaknya.


...***...


Operasi masih berlangsung, Celia dan Adnan bekerjasama dalam menangani sang buah hati.


Dibantu beberapa rekan dokter lain, mereka berusaha mengeluarkan busur yang menancap di dada sebelah kiri Danieal.


Di tengah proses tersebut, detak jantung Danieal sempat terhenti. Semua tenaga medis berusaha untuk menyelamatkannya dan mencoba meredam kepanikan sekaligus ketakutan.


Hingga beberapa jam kemudian, di tengah kesulitan yang mereka jalani akhirnya operasi dokter muda itu selesai dilaksanakan.


Celia serta Adnan sedikit bernapas lega, perjuangan menyelamatkan putra pertama berhasil.


Meraka langsung memindahkannya ke ruang inap dan membiarkan orang-orang yang menunggu jalannya operasi berdatangan.


Jasmine dan Ayana yang sedari tadi harap-harap cemas mendapatkan titik temu.


"Operasinya berjalan lancar. Busur itu sedikit lagi mengenai jantungnya dan hampir merenggut nyawa Danieal."


"Mamah tidak tahu jika anak panah tadi sampai mengenai jantungnya... apakah... apakah Danieal-" Celia tidak sanggup menyelesaikan ucapannya sendiri.


Ia menangis ketakutan melihat putra kandungnya terhunus anak panah.


Sebagai seorang ibu ia begitu terluka dan tak berdaya bagaimana darah mengalir dari luka di dadanya.


Menyaksikan air mata yang mengalir deras di wajah seorang ibu Jasmine melangkahkan kaki mendekat.


Celia yang tengah berada dalam pelukan Ayana pun tidak sadar akan kedatangan Jasmine.


Ia pun kembali bersimpuh yang kini di berikan pada Celia membuat dokter senior itu terkejut seketika.


Ia menghentikan tangisannya dan memandangi Ayana serta Jasmine bergantian.


Ia meminta penjelasan dari putri sambungnya, tetapi Ayana hanya tersenyum singkat.


Celia pun sepenuhnya menatap pada Jasmine yang masih mempertahankan posisinya.


"Saya benar-benar minta maaf. Karena saya... putra Anda jadi celaka seperti ini. Saya-"


"APA?" Suara Celia menggelegar di sana.


Jasmine menutup mata rapat siap dengan segala resiko diberikan ibu dari dokter yang sempat menanganinya.


Ia tidak akan goyah sedikitpun dan menunggu apa yang hendak diberikan Celia.


Ia yakin akan ada balasan dari setiap perbuatan.


"Saya menerima apa pun yang akan Anda layangkan," ucap Jasmine tanpa gentar.

__ADS_1


Ia tahu tamparan, makian, apa pun itu pasti dilayangkan. Karena sebagai seorang ibu tidak terima anaknya terluka oleh orang lain.


__ADS_2