
Ayana diam mematung saat mendapati Hana tiba di kediaman orang tuanya. Ia berdiri tepat di belakang tangga dengan Zidan, Jasmine, serta Danieal berada di sisi kanan dan kiri.
Ia tidak menduga jika keinginannya untuk bisa bertemu Hana kembali terealisasikan. Sang kakak, Bening bisa meyakinkan wanita itu pergi menemuinya di sana.
Ketika pandangan mereka saling bertemu, Ayana mengembangkan senyum seraya menyambutnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga."
Satu kalimat yang Ayana berikan menghentikan langkah Hana. Wanita itu membeku di tempat masih dengan menatap sang pelukis.
Seakan insiden kemarin baru saja terjadi, Hana merasa gugup dan sangat bersalah.
Ia sebenarnya tidak mau melakukan itu. Namun, ia harus berpura-pura agar sang ayah tidak memarahinya lagi.
Bayangan demi bayangan beberapa tahun terakhir hinggap dalam ingatan. Tiba-tiba saja liquid bening meluncur tak tertahankan.
Kenangannya saat bersama Ayana di Desa X merupakan memori berharga yang pernah Hana dapatkan dan semua itu menghilang menjadi masa lalu semata.
Melihat air mata mengalir di pipinya membuat Ayana dan juga keempat orang lain di sana terperangah. Mereka tidak tahu alasan kenapa Hana bisa menangis begitu saja.
"Maaf," katanya sambil sibuk mengusap air mata, kasar.
Ayana berjalan mendekat dan sedetik kemudian memeluknya erat. Perut menonjol pelukis itu pun menempel tepat pada Hana.
Sang empunya tercengang dan menghentikan tangisan.
"A-yana?" Panggilnya lirih.
"Tidak apa-apa... tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Menangis lah jika itu bisa membuat perasaan mu lega," kata Ayana sama persis seperti yang diucapkan Bening beberapa saat lalu.
Kurang lebih dua menit kemudian, Ayana melepaskan pelukan dan membawa Hana ke ruang keluarga.
Di sana mereka berkumpul bersama, Ayana dan Hana duduk berdampingan serta ditemani dengan berbagai macam cemilan ringan maupun minuman hangat.
"Aku datang ke sini... ingin meminta maaf padamu Ayana."
"Maaf, jika perbuatan ku kemarin hampir mencelakai mu," akunya jujur.
"Bahkan karena ayahku kamu masuk rumah sakit. Aku sangat takut sesuatu terjadi padamu dan calon anak kalian." Jujur Hana tulus.
Ayana mengembangkan senyum sambil menggenggam tangan Hana lembut.
Kehangatan yang terpancar darinya pun seketika sampai ke relung terdalam. Hana yang tidak pernah mendapatkan hal itu sebelumnya kembali terharu.
__ADS_1
Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain menyadari jika Ayana memang sudah maafkan nya.
Namun, jawaban yang diberikan sang pelukis lebih jauh dari itu.
"Kamu tahu Hana? Aku tidak pernah menyimpan dendam apa pun padamu. Karena aku tahu jika apa yang kamu lakukan di luar kendali mu, kan? Semua sudah berlalu, aku dan buah hati kami baik-baik saja," balasnya.
Hana hanya mengangguk singkat dan melihat pagutan tangan Ayana yang menggenggam erat jari jemarinya.
Kelembutan serta ketulusan yang terpancar darinya benar-benar membuat perasaan Hana sangat nyaman.
Ini pertama kali ada seseorang yang menggenggam tangannya seperti itu. Ia tidak bisa membendung keharuan dan kembali meneteskan kristal bening lalu mengangguk membalas ucapan Ayana beberapa saat lalu.
Melihat diamnya Hana, Jasmine selaku orang yang pernah berada di posisinya beranjak dari duduk lalu beralih ke sisi lain wanita itu.
Menyadari adanya orang lain, Hana mengangkat pandangan lalu menoleh ke samping kiri.
Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik Jasmine. Wanita yang kini berprofesi sebagai desainer perhiasan serta membuat berbagai macam ukiran dari batu kristal pun memberikan senyum ramah.
"Saya memang tidak ada hubungan apa pun dengan Anda, Hana, tetapi... saya tahu dan mengerti apa yang sudah Anda alami selama ini. Saya-"
"Bicara dengan santai saja, aku tidak apa-apa," pinta Hana memotong ucapannya cepat.
Jasmine mengangguk mengiyakan dan mulai beralih ke sikap santai.
"Baiklah, sebenarnya aku kakak ipar Ayana. Aku juga melihat apa yang terjadi pada kalian hari itu. Apa kamu ingat aku?" tanya Jasmine kemudian.
"Aku... pernah diposisi mu beberapa bulan lalu. Selama berada di kediaman ku... aku dikurung oleh paman sendiri."
"Bertahun-tahun aku menghadapi semuanya sendirian. Namun, seiring berjalannya waktu Tuhan merubah segalanya."
"Aku bertemu dengan Ayana dan keadaan pun menjadi lebih baik. Jadi, untuk itu... aku mengerti kesepian, rasa sakit, ketakutan, serta kehilangan teramat dalam yang kamu rasakan, Hana" tutur Jasmine lagi.
Hana diam membiarkan kata-kata Jasmine mengalun ke dalam indera pendengaran.
Ia pun teringat sesuatu saat menyadari bola mata sang lawan bicara.
"Kamu... Jasmine Magnolia Mahesa? Putri keturunan Mahesa yang?"
"Itu benar, aku adalah satu-satunya korban selamat dari ganasnya pembantaian yang dilakukan pamanku sendiri juga... ayahmu," jelas Jasmine lagi.
Hana melebarkan pandangan dengan jantung berdegup kencang. Telapak tangannya berkeringat dan dirasakan Ayana.
Ia tahu kekhawatiran yang tengah dirasakan olehnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Hana. Jasmine... sudah baik-baik saja, dia wanita yang sangat kuat," jelasnya lagi.
"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Pertanyaan Bening seketika mengalihkan atensi Hana yang tengah menatap ke bawah. Ia mendongak melihat ke arah tembok dengan sorot mata sendu.
Ia membungkam mulut beberapa saat menggali ingatan yang sempat pudar.
"Sebenarnya, aku ada di tempat kejadian di saat pembantaian keluarga Mahesa itu terjadi." Hana membuka suara lagi menceritakan masa lalu.
"Pada saat itu aku berumur lima tahun. Aku diajak oleh ayah ke suatu tempat yang ternyata sebuah rumah besar ditinggali banyak orang."
"Waktu itu aku mendengar apa yang dikatakan ayah juga pemimpin mereka tidak lain tidak bukan Tuan Alexa Mahesa sendiri."
"Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan hari itu, tetapi... aku masih ingat mereka membicarakan tentang pembunuhan serta pembagian harta."
"Aku tidak menyangka jika malam itu adalah malam terakhir... aku bisa melihat senyum tulus ayahku."
"Tanpa diduga setelah pembantaian itu terjadi beberapa tahun, ayah membawa paman Bagas ke kediaman itu dan... ayah melakukan hal yang sama," jelas Hana.
Sontak semua orang yang mendengar ceritanya terkejut bukan main. Terutama Jasmine, tidak menyangka jika ada anak perempuan lain yang menjadi saksi bagaimana kejamnya kejadian malam itu.
Hana Tsubaki, wanita yang selama ini tidak terendus keberadaannya muncul ke permukaan membawa fakta mencengangkan.
"Kenapa kamu harus ikut pada Tuan Bagus?" tanya Bening lagi.
"Karena ibuku, tidak pernah menganggap ku seperti anaknya sendiri."
Hana kembali menjatuhkan pandangan ke bawah mengingat lagi apa yang sudah ibunya lakukan.
Wanita yang telah melahirkannya memberikan ia begitu saja pada sang ayah. Dari kecil ia memang sudah tidak diurus oleh ibunya.
Karena itulah Bagus selalu membawa Hana ke manapun ia pergi. Sampai puncaknya ia mendapati sang istri selingkuh di belakangnya dan hal tersebut membuat ia murka.
Bagus yang terlahir dari keluarga berantakan semakin tidak karuan. Ia bertemu dengan istrinya pada saat mengabdi pada Alexa di tempat terpencil.
Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Tidak lama keduanya dianugerahi seorang bayi perempuan di beri nama Hana Prakasa.
Namun, nama itu dirubah saat Hana senang melukis dan memberikan tanda sayap di setiap sudut kanvas.
Dari sana sang ayah mengubah namanya menjadi Hana Tsubaki.
"Hana, namamu sekarang adalah Hana Tsubaki artinya sayap bunga. Jangan berharap bunga bisa terbang, sebab sayapnya sudah patah bersama kelopak bunga yang layu."
__ADS_1
Kata-kata menyakitkan dari sang ayah itu hingga sekarang membekas dalam benak Hana.
Semua kehidupannya dikendalikan oleh Bagus, tanpa memberikan akses kebebasan sedikitpun pada sang buah hati.