
Awan kelabu di dalam dada yang tertutup kabut pekat perlahan memudar. Asing, menjadi satu kata yang melekat pada jiwa.
Sakit, perih, pedih, nan kecewa, menjadi satu membentuk kilatan sendu yang tak berujung.
Marah, benci, dan emosi mengalirkan amarah tak bertepi. Semua kejadian demi kejadian yang terlewati memberikan kenangan tak bisa dilupakan begitu saja.
Rasa perih yang kian menyebar dari kejadian masa lalu kembali lewat peristiwa tak terduga.
Ada kala manisnya mengecap kebahagiaan dan akan ada pula pahitnya menerima kenyataan.
Ayana masih diam membisu menyaksikan amukan Bella yang tidak bisa dirundung.
Jari jemari yang terlilit kasa pun memperlihatkan warna merah pekat dari cairan kental di dalamnya.
Jarum infus yang menancap di pergelangan tangan sebelah kanannya pun tercabut paksa mengakibatkan darah berceceran ke mana-mana.
Keadaannya yang benar-benar tidak stabil membuat Danieal kewalahan. Ia meminta bantuan Zidan untuk menghubungi beberapa tenaga medis yang lain.
Selang tiga menit kemudian tiga perawat pun datang membantu sang dokter untuk memberikan obat penenang pada Bella.
Suntikan berisi cairan itu pun disuntikan langsung yang perlahan-lahan merenggut kesadaran sang pianis.
Setelah kekacauan tersebut berakhir, Danieal menghampiri adiknya dengan napas tersengal-sengal. Ia jadi teringat pada kejadian yang menimpa Ayana, sama persis seperti Bella saat ini.
"Wanita itu ... benar-benar ... kuat," ucapnya terbata-bata.
Bola mata cokelat bening Ayana pun bergulir memandangi sang kakak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berbicara lewat pandangan.
Danieal menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Ia mengangguk beberapa kali lalu fokus pada adik sambungnya.
Ia memberikan tatapan teduh, bulan sabit pun terpendar di wajah tampannya. Kehangatan terpancar seiring tatapan kedua kaka beradik itu saling beradu.
"Mas tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Istighfar, semua itu bisa membuatmu tenang," ucap Danieal begitu saja.
__ADS_1
Ayana pun mengikuti ucapannya dan beristighfar berkali-kali sambil mengepalkan tangan erat.
"Kejadian tadi mengingatkanmu di hari berduka, kan? Seperti inilah kamu di waktu itu?" tanya Danieal tiba-tiba.
Tanpa diduga Ayana mengangguk begitu saja. Zidan yang sedari tadi hanya menjadi penonton menyadari sesuatu, jika sang istri teringat pada saat kehilangan jabang bayi mereka.
Waktu itu setelah Ayana dinyatakan keguguran, Zidan menyalahkannya dan Bella mengungkapkan semua rencana mereka.
Ayana yang tidak bisa menahan rasa sakit mengamuk seketika. Ia sangat terpukul akan kejadian yang tidak ada siapa pun mengerti keadaannya.
Zidan merangkul hangat bahu sempit sang istri dan mengusapnya lembut. Ayana menoleh singkat mengerti apa yang tengah dipikirkan sang suami.
Kata maaf yang ingin dilayangkan lagi seketika ditelan kembali. Zidan tidak mau semakin membuka rasa sakit istrinya.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Setelah melaksanakan kewajibannya, Ayana kembali ke ruang rawat Bella.
Sebelum tangannya terulur untuk menggeser pintu, pemandangan di dalam seketika membekukan diri.
"Seperti de javu apa yang terjadi di ruangan ini ... sama persis seperti yang sudah aku alami tahun itu. Penderitaan, kesakitan, kekecewaan, marah, benci, semua perasaan bercampur menjadi satu. Tidak ada yang mengerti selain ... diri sendiri," gumam Ayana memindai lekat sosok wanita yang berada di ruang inap di depannya.
Kedua tangan mengepal kuat, Ayana teringat lagi seperti apa hancurnya kejadian yang sudah dialami pada waktu itu.
Kehilangan seorang anak ditambah sang suami menyalahkannya semakin menambah penderitaan. Lengkap sudah, Ayana memikul beban berat sendirian.
Setelah berkutat dengan diri sendiri beberapa saat, tangan lentik itu pada akhirnya terulur. Ia menggeser pintu membuat sang penghuni menoleh ke samping.
Lengkungan bulan sabit muncul di wajah cantik Ayana kala pandangan mereka saling bertemu. Sontak Bella langsung memalingkan muka ke arah tadi.
"Sedang apa kamu datang ke sini lagi? Apa kamu mau menertawakan ku? Atau mau mengucapkan selamat atas kecelakaan ini? Silakan saja," tanyanya sarkas.
Kepala berhijab Ayana menggeleng perlahan lalu berjalan mendekat ke samping ranjang pianis tersebut.
__ADS_1
"Iya, aku mau mengucapkan selamat atas ujian yang sedang menimpamu," balas Ayana begitu saja.
Seketika Bella terkesiap dengan mulut sedikit terbuka, tidak lama setelah itu sebelah sudut bibirnya melengkung sempurna.
"Aku pikir kamu wanita-"
"Itu artinya Allah masih menyayangimu untuk berubah, Bella." Ayana menyambar ucapannya cepat.
Bella kembali tercengang mendengar penuturan wanita yang sudah disakitinya berkali-kali. Ia diam beberapa saat kemudian menoleh ke samping kanan.
Ia melihat sorot mata hangat serta senyum tulus hadir untuknya. Bella meremas jari jemari tertutup kain kasa itu kuat menahan segala gejolak emosi yang ada.
Bella terpaku memandang ke dalam iris cokelat kelam sang mantan madu. Ia mengerti begitu banyak pikiran berkecamuk di dalam kepala bersurai hitam legamnya.
"Mungkin saat ini kamu sedang terpuruk dan menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi. Namun, tahukah kamu apa yang ada di dalamnya?"
"Allah sedang menegurmu untuk kembali pada-Nya. Karena ujian itu datang sebab Allah sayang dan Dia ingin setiap hamba hanya pasrah serta memasrahkan semuanya pada Allah semata."
"Kenapa aku berbicara seperti ini? Karena aku mengalaminya sendiri. Satu setengah tahun lalu, aku sempat mengalami depresi atas semua yang terjadi. Aku menyalahkan pada keadaan, menyalahkan diri sendiri, dan juga ... aku hampir membunuh hidupku sendiri."
Ayana melebarkan senyum melihat manik bulan Bella membola begitu sempurna. Sang pianis tidak menyangka mendengar penuturan yang lawan bicaranya utarakan.
Ia tidak mengira Ayana akan melakukan perbuatan keji seperti itu. Bella berpikir jika hanya dirinyalah yang paling buruk sudah membunuh janin tidak bersalah.
"Aku ... tidak berbeda jauh denganmu, Bella. Aku bukan wanita baik-baik ... aku manusia yang penuh dengan kekurangan dan dosa. Kamu lihat ini-" Ayana menarik sedikit gamis bagian lengan sebelah kiri memperlihatkan bekas goresan cukup dalam di pergelangannya.
"Ini adalah bukti seperti apa aku hampir kehilangan hidupku sendiri. Aku membunuh jiwa yang benar-benar tidak bersalah," lanjut Ayana yang kembali membuat Bella tidak percaya setengah mati.
Tiba-tiba saja semua kata-kata yang ingin dilontarkan tercekat di tenggorokan. Iris jelaganya semakin membola lebar dan memerah.
Ia melihat begitu banyak bekas goresan di lengan kiri Ayana. Ia tidak tahu apa yang sudah dilakukan teman sekelasnya di tahun itu.
Namun, yang jelas Bella menangkap jika goresan demi goresan tersebut mempunyai cerita menyakitkan di baliknya.
__ADS_1
"Dan termasuk aku di dalamnya. Aku sudah menjadi bagian terkelam yang pernah Ayana alami di hidupnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin wanita ini melakukan perbuatan dibenci Allah? Tunggu! Bukankah aku sama saja? Astaghfirullahaladzim." Bella terus meracau dalam benak, tanpa sadar air mata menitik begitu saja.
Kini giliran Ayana terpaku menyaksikan objek di depannya mengalirkan liquid bening. Senyum pun semakin mengembang di wajah cantiknya.