Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 89


__ADS_3

Akan ada masanya waktu kembali mempertemukan. Kehidupan terus berputar layaknya sebuah roda.


Tidak ada yang bisa menetap pada satu titik selagi jam masih berjalan memenuhi tugasnya sebagai pengingat waktu.


Apa pun bisa berubah, masa akan berganti, entah itu menjadi lebih baik atau sebaliknya.


Kejadian demi kejadian yang melanda memberikan pelajaran berharga. Setiap manusia pasti diuji dengan kesanggupannya masing-masing.


Allah tidak mungkin menurunkan suatu cobaan pada seorang hamba yang terlampau berat. Karena Allah tahu kapasitas kita, sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.


Husnuzan pada Allah, agar semuanya bisa terlaksana dengan baik. Meskipun memang terkadang ada air mata pilu, tetapi yakinlah semua akan berbalas ke arah lebih baik.


Yakin dan percaya, serta sabar menjadi kunci balasan terbaik akan Allah hadirkan.


Di salah satu ruangan kosong di istana putih, mereka berkumpul bersama.


Ayana dan Haidan masih bertatapan dengan senyum menghias wajah masing-masing.


"Mau sampai kapan kamu menatap istriku seperti itu?" Sindir Zidan langsung seraya melipat tangan di depan dada dengan bola mata ke samping, garang.


Haidan terperangah dan menggaruk belakang kepala beberapa kali. Ia tertawa kikuk seraya meletakkan sebelah tangan di pinggang.


"Apa sekarang kamu juga sedang mengatasi masalah ini?" tanya Haidan kemudian mengalihkan obrolan ke arah lain.


Ayana menggeleng singkat sambil menjawab, "tidak. Keadaanku sekarang tidak memungkinkan untuk mengangkat senjata bukan?" tanyanya melirik ke arah perutnya sendiri.


Haidan pun mengikuti arah pandangnya dan kembali tertawa singkat.


"Benar juga sekarang kamu sedang hamil. Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya penasaran saat mendapati Ayana serta anak dari tuan sang ayah ada di aula istana putih.


"Aku hanya menemani seorang teman. Ah, bukan... dia keluarga yang sudah lama tidak bertemu," tuturnya menoleh pada Hana yang tengah berdiri tidak jauh dari keberadaannya.


Ia pun memandangi Ayana dan mendengar pembicaraan mereka.


Sontak perkataan pelukis barusan sampai ke relung hati terdalam. Hana terharu dan buru-buru berjalan ke arah Ayana dan memeluknya erat.


"Kamu sudah bekerja keras, Hana. Kamu berhasil... kamu benar-benar berhasil," kata Ayana mengusap punggungnya lembut, seraya membalas pelukannya.


Di belakang punggungnya, Hana menangis sesenggukan. Ia tidak tahu jika menghadapi banyak orang bisa melelahkan seperti itu.

__ADS_1


Selama ini ia hanya terkurung tanpa bertemu siapa pun.


Saat di podium tadi, ia mencoba bersikap tenang, tetapi di dalam hati begitu berkecamuk perasaan tak menentu.


Ia ingin segera berakhir, tetapi siapa sangka kejadian tak diinginkan harus datang begitu saja.


Rambut panjangnya terkena telur busuk yang langsung menyengat ke indera penciuman Ayana.


Ia pun melepaskan pelukannya pelan dan mengusap pelipis Hana yang sedikit terkena cipratan kuning telur.


"Lebih baik sekarang kamu bersihkan diri dulu dan setelah itu kita bicara," kata Ayana dijawab anggukan oleh Hana.


Jasmine pun membawa wanita itu ke kamar mandi untuk mencuci rambutnya.


Di sana tinggallah Ayana, Zidan, Danieal, Haikal, Haidan, Bening, dan dua orang anggota polisi yang berjaga di pintu masuk.


Keenam orang itu duduk melingkar melakukan pertemuan darurat untuk membicarakan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.


"Aku pikir, Hana harus berterus terang. Saat ini keberadaannya bisa terancam, masyarakat banyak yang berspekulasi jika dia menjadi kaki tangan ayahnya sendiri," kata Haidan memulai.


"Em, aku setuju. Bahkan orang-orang di daerahku pun berkata demikian. Hana yang selama ini tidak ada tiba-tiba mencuat menimbulkan banyak statement. Mereka mengatakan jika kemunculan wanita itu untuk menarik simpati warga dan memutar balikan fakta," lanjut Haikal setuju.


"Iya aku setuju dengan Mas Danieal. Kita harus memikirkan juga perasaan Hana. Sebagai seorang anak yang kebebasannya direnggut secara paksa oleh sang ayah dan sekarang harus menyelesaikan permasalahan yang ayahnya buat... pasti tidak mudah dilakukan oleh Hana," timpal Ayana memandangi mereka satu persatu.


"Benar, kita jangan gegabah dan kesannya memojokkan Hana. Kita harus mencari cara lain agar masalah ini selesai," lanjut Bening.


"Bagaimana kalau kita melakukan streaming di media sosial. Itu satu-satunya cara agar Hana bisa mengontrol emosinya, sebab hanya ada kita di depannya tidak banyak orang seperti tadi. Atau kalau mau dia bisa melakukannya sendirian dengan hanya satu kamera saja?" usul Zidan.


Semua orang menatap padanya langsung lalu saling pandang satu sama lain.


"Ide bagus, kita bisa menyiarkannya secara online. Kita harus membicarakan masalah ini dengan Hana dulu," balas Hana memandangi sang suami, bangga.


"Aku juga setuju. Terkadang, kamu bisa memikirkan ide cemerlang juga yah," kata Danieal menganggukkan kepala beberapa kali.


"Aku kira dia hanya bagus bermain piano saja," ucap Haidan lagi.


"Em, setidaknya Tuan kita bisa berpikir cemerlang," ujar Haikal berpandangan dengan kakak kembarnya dan mereka mengangguk bersamaan.


Bening tertawa begitu saja melihat respon mereka terhadap ide Zidan. Sang empunya hanya mendengus kasar dan berdecak sebal.

__ADS_1


Ia melipat tangan di depan dada sambil memutar bola mata jengah. Ayana yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan agar sang suami tidak pundung.


Hal itu menjadi tontonan serta hiburan tersendiri bagi mereka.


Di kamar mandi Jasmine membantu Hana mencuci rambut. Sedari kedatangannya ke sana wanita itu bungkam seribu bahasa.


Jasmine yang mengerti akan perasaannya pun hanya membiarkannya saja.


Sampai beberapa saat kemudian Hana membuka suara.


"Apa aku melakukan hal yang benar?" tanyanya mengangkat kepala dan beradu tatap dengan Jasmine dalam pantulan cermin.


Wanita berlensa keabuan itu pun melengkungkan bulan sabit sempurna. Ia menyisir rambut panjang Hana siap menjawab pertanyaannya.


"Tentu... aku juga sempat berpikir... apa keputusanku dalam memenjarakan paman adalah benar? Bahkan aku sempat menembak kaki sebelah kirinya, saat dia hendak mencelakai Ayana."


"Aku tidak ingin siapa pun menjadi korbannya lagi. Karena itulah aku melakukan hal nekad. Apa itu tindakan yang dibenarkan?"


"Kita tidak pernah tahu apa jawabannya sebelum melakukan sesuatu. Iya, aku sudah tahu jawaban dari segala kegelisahan."


"Pamanku di penjara dan mendapatkan hukuman atas apa yang telah dilakukannya. Bukankah hukum alam itu berlaku? Karma bisa menimpa siapa saja. Karena... apa yang kita tanam suatu saat nanti kita bisa menuai nya."


"Apa pun yang dia lakukan ganjarannya pasti datang. Lakukan apa yang menurut mu terbaik, Hana," tutur Jasmine membuat Hana kembali diam.


Ia mencerna setiap kata keluar dari celah bibir ranum lawan bicaranya. Ia kembali memandangi Jasmine dalam diam melihat wajah seputih porselen ini memancarkan aura positif.


Apa seperti itu wajah orang yang pernah menembak pamannya sendiri? Pikir Hana gamang.


"Apa perasaan mu saat melakukan itu pada paman sendiri?"


Pertanyaan Hana membuat gerakan di rambutnya terhenti.


Jasmine kembali mengulas senyum simpul dan melanjutkan menyisir surai panjang Hana.


"Perasaanku tidak baik-baik saja. Karena seberapa keras aku mencoba menembaknya tidak akan pernah mengembalikan orang tua, keluarga, serta hidupku yang pernah dia hancurkan."


Hana menjatuhkan pandangan ke bawah, paham apa yang dirasakan Jasmine.


"Tapi, aku lega... setidaknya aku bisa melindungi keluargaku yang lain, yaitu Ayana," lanjutnya mencengangkan Hana, tidak percaya mendengar perkataan tadi.

__ADS_1


__ADS_2