
Napas sang pianis terus memburu. Setiap ruangan yang ia datangi tidak ada Ayana di manapun. Ia tidak bisa menyerah begitu saja sebelum menemukan sang istri, takut jika sesuatu terjadi padanya.
Tanpa rasa lelah, ia pun terus menelusuri tempat-tempat yang tersisa di sana.
Sampai ia tiba di lorong terakhir yang berada paling belakang.
Ia melihat ada jalan bercabang di sana, kepalanya menoleh ke kanan ke kiri seraya memutuskan ke mana kakinya hendak melangkah.
Sedetik kemudian tiba-tiba saja ia merasakan sebuah firasat jika dirinya harus mengambil jalan ke sebelah kiri.
Kedua kaki jenjangnya terus melangkah dan melangkah sampai ia melihat jika ada sebuah tangga kayu untuk ke atas.
Tanpa ba bi bu lagi, Zidan langsung berjalan ke sana dan mendapati empat pria berpakaian serba hitam berada di kedua sisi pintu kayu jati.
Langkah Zidan terhenti kala kedua mata mereka saling pandang.
Melihat jika ada orang lain di sana, keempat orang itu bergegas menghadang Zidan.
Merasakan sesuatu tidak mengenakan terjadi padanya, Zidan pun langsung memasang kuda-kuda.
Perkelahian seketika terjadi tak terelakan. Zidan menghadapi keempat pria itu dengan tangan kosong.
Beruntung lima tahun lamanya ia mengikuti beladiri sebagai pertahanan diri jika terjadi sesuatu padanya. Karena sebagai seorang pianis terkadang ada saja orang yang hendak melakukan tindakan tidak baik datang tanpa bisa dicegah.
Kurang lebih lima belas menit berlalu, Zidan bisa menumbangkan keempat pria tadi.
Mereka tumbang dengan wajah lebam serta bibir robek mengeluarkan darah.
Belum sempat menanyakan tempat apa di belakang pintu, Zidan mendengar suara rintihan teredam seseorang di dalamnya.
Intuisinya pun semakin bekerja jika di balik pintu ada sesuatu yang terjadi.
Tanpa aba-aba Zidan langsung mendobraknya dan seketika itu juga kedua matanya terbelalak sempurna.
Di atas tempat tidur ia melihat Ayana tengah terbaring dengan kedua tangan dan kaki terikat. Hijab yang tadi dikenakannya terbuka sebagian dengan pakaian bagian atas tersingkap.
Ia pun menyaksikan pria tua itu tengah menjamah wajah sang istri yang sudah berurai air mata.
Ia melihat sorot mata terluka tercetus hingga membuat hati Zidan pun teriris. Darahnya pun mendidih seketika, maniknya melebar lalu mendelik semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Zidan langsung tersulut emosi dan menerjang siapa pun yang mendatanginya.
"Berani-beraninya kamu mengganggu waktu privasi saya," kata Presdir Han setelah Zidan berhasil menumbangkan beberapa orang di ruangan tersebut.
Dengan napas memburu Zidan menatap marah pada sang pemilik rumah.
"Mohon maaf Presdir Han yang terhormat, kelakuan Anda ini sudah melenceng sangat jauh ... yang pertama Anda melakukan ini secara berencana, yang kedua Anda membawa istri saya ke sini dan melecehkannya." Tanpa jeda Zidan terus me-racau membuat pria tua itu menyeringai lebar.
Presdir Han bangkit dari tempat tidur lalu menyalakan cerutu. Pria besar itu berjalan sembari menyemburkan asap di balik bibir mengerut nya dan mendekati Zidan yang masih dikuasai napsu.
Namun, sebelum mengucapkan sepatah kata, Zidan melayangkan pukulan telak di wajah tua itu.
Sudut bibir Presdir Han robek dan mengeluarkan darah. Ia mengusapnya kasar memandangi anak buahnya yang masih ada di sana memasang badan.
"Lakukan apa pun yang bisa kalian lakukan. Jangan sampai dia bisa lolos dari sini," katanya yang masih bisa didengar oleh Ayana maupun Zidan.
Ayana yang tidak menyangka jika akan ditemukan oleh sang suami terdiam kaku.
Ia terkejut saat melihat Zidan melayangkan tinjuan ke beberapa orang di sana. Ia tidak menyangka pria yang dulu pernah menyakitinya bisa bertindak seperti itu.
Ia kembali terkejut dan tercengang kala ada salah satu anak buah Presdir Han melayangkan pisau lipat yang disembunyikan ke arah Zidan.
Dalam diam Ayana menatap kejadian tepat di depan matanya.
Layaknya menonton film aksi, ia menahan napas kala orang-orang Presdir Han memukuli Zidan.
Ayana tidak bisa melihatnya lagi dan berbaring dengan keadaan hancur lebur.
...***...
Hening melanda, malam semakin larut tanpa adanya suara apa pun yang terdengar.
Keramaian yang tadi tercipta hilang begitu saja bak termakan waktu.
Beberapa saat berlalu, Ayana yang masih gemetaran serta ketakutan mendengar deru napas seseorang mendekat.
Ayana mencoba membuka mata lagi yang tadi sempat kehilangan kesadaran.
Aroma yang dikenal merambat indera penciumannya lagi. Samar-samar ia juga mencium bau amis darah semakin menguat tajam.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu ia merasakan seseorang melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
Dengan kesadaran yang masih setengah, Ayana mencoba memfokuskan diri pada sosok tersebut
Sampai keberadaannya pun tepat di sebelah. Ayana menggulirkan bola mata melihatnya membuka jas dan menutupi sebagian pakaian yang tersingkap.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Zidan mengangkat Ayana dan menggendongnya keluar.
Sekilas ia melihat banyak sekali anak buah Presdir Han sudah tumbang di lantai.
Entah ke mana sang pemilik mansion, Ayana tidak peduli dan menyamankan kepalanya di dada bidang sang pianis.
Ia bisa mendengar degup jantung Zidan berdetak kencang. Ia juga merasakan cengkraman di lengan sebelah kiri begitu kuat.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Suara berat nan teredam itu tertangkap indera pendengaran.
Ayana kembali menutup mata tidak peduli ke mana Zidan membawanya.
Tidak lama setelah itu Zidan berhasil keluar dari mansion Presdir Han. Di tempat parkir ia bertemu dengan Danieal yang berlari mendekat.
Ia terkejut saat mendapati sang adik sudah tidak sadarkan diri. Ia juga heran melihat wajah Zidan tak karuan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata mereka berdua bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Selang tiga jam kemudian, Danieal sudah mengobati Ayana. Ia turun dari lantai dua bangunan mewah itu berjalan mencari keberadaan sang pemilik.
Ia pun melihatnya berada di lantai satu. Ia membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dan balkon.
"Aku sudah mendengar semuanya dari orang-orang ku. Kamu, benar-benar sudah berurusan dengan Presdir Han. Juga, terima kasih sudah menyelamatkan adikku. Dia-"
"Tidak perlu berterima kasih. Karena sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi Ayana. Dia ... masih istriku dan ... aku sangat mencintainya," aku Zidan tanpa gentar.
Danieal mengulas senyum simpul dan menatap lurus ke depan. Ia jadi teringat bagaimana satu tahun Ayana berjuang untuk terbebas dari masa lalu yang membangkitkan depresi serta trauma.
Ia menoleh pada Zidan lalu menyaksikan kedua tangannya meremas besi pembatas.
Ia tahu hanya dengan melihat keadaannya jika Zidan tengah menahan luka dalam diam.
"Dia benar-benar sudah menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia juga sudah berjuang keras untuk menyelamatkan Ayana, sampai-sampai tidak peduli akan bahaya yang bisa saja mengintainya." Danieal membatin dan mendongak menyaksikan langit malam. "Jika Ayana tahu apa yang sudah dilakukannya saat ini, apa dia bisa memaafkannya? Aku hanya takut depresinya kembali bangkit setelah kejadian sama terulang lagi," lanjut benaknya.
__ADS_1