Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 51


__ADS_3

Di tengah senyapnya malam, Jasmine berjalan seorang diri menyusuri pepohonan bak hutan di taman belakang mansion.


Dengan bermodalkan niat serta tekad yang kuat ia meyakinkan diri untuk tetap melakukan tujuan utamanya.


Sebelum tiba di sana, beberapa hari lalu ia sudah berdiskusi dengan Ayana.


Ia mengatakan segalanya kepada sang pelukis untuk menyelesaikan semua keadaan kurang beruntung itu sendirian.


Ia tidak bisa terus menerus melibatkan Ayana dan juga keluarganya.


Sudah cukup perjuangan sang sahabat guna melepaskannya dari jeratan kehidupan kelam.


Ingatannya pun berputar ke beberapa hari lalu. Di mana Jasmine duduk bersama Ayana untuk membicarakan apa yang hendak dilakukannya.


"Apa kamu yakin Jasmine ingin melakukan ini sendirian?" Ayana bangkit dari duduk menghadap Jasmine sepenuhnya.


Ia terkejut mendengar keinginan yang begitu kuat dari Jasmine.


Ayana tercengang, sahabat sekaligus wanita yang sudah dianggap sebagai keluarganya bisa mempunyai pikiran seperti itu.


Wanita berhijab merah muda yang sedang duduk di sofa tunggal di ruang baca itu pun mendongak.


Sedetik kemudian ia mengangguk serta melepaskan kontak mata dengan Ayana.


"Sangat yakin, Ayana. Aku tidak bisa membiarkan Darius terus berkeliaran seperti ini. Bisa-bisa bukan hanya aku saja yang menjadi sasarannya melainkan kalian juga. Gara-gara aku mas Danieal jadi kecelakaan. Aku juga-"


"Jasmine." Panggil Ayana langsung menghentikan ucapannya dan kembali duduk di sebelahnya.


"Apa yang akan kamu lakukan? Semua yang terjadi pada kita, memang sudah takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri. Karena bagaimanapun juga kecelakaan maupun peristiwa apa pun itu pasti sudah mempunyai takdirnya sendiri," lanjut Ayana mencoba meyakinkan Jasmine.


"Tapi, tetap saja Ayana. Karena keberadaan ku semua jadi kacau seperti ini." Jasmine kembali menyalahkan diri sendiri.


"Jangan berpikiran sempit, Jasmine. Semua akan baik-baik saja, jangan terus menyalahkan diri sendiri yang seharusnya mendapatkan perhatian."


Sontak perkataan Ayana barusan menyadarkannya. Jasmine terlalu banyak terlibat dalam pikiran-pikiran negatif yang terus memberondongnya membuat pikiran dirundung sembilu.


Ia sempat berpikir untuk tidak bisa merasakan apa itu bahagia, sebab selama ini kehidupannya terus dilingkupi rasa sakit.


Melihat diamnya sang sahabat, Ayana kembali bersuara.

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu tadi berkata ingin mencegah orang itu untuk mencelakai kami?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan ke awal.


Jasmine diam beberapa saat menjatuhkan pandangan ke bawah.


"Tante Rusli."


Ayana mengerutkan dahi, dalam tidak tahu siapa nama yang disebutkan Jasmine.


"Tante Rusli? Siapa dia?"


"Dia orang yang selama ini sudah mengurusi ku sebelum pria tua itu memberikan neraka dunia kepadaku."


"Apa? Bagaimana bisa?" Ayana melebarkan pandangan tidak percaya.


"Kamu tahu Ayana? Sebelum mendapatkan kisah mengerikan, aku sempat diasuh oleh istri dari pria tua itu. Dia memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu pada anak. Aku bahkan hampir melupakan peristiwa pembantaian yang dilayangkan suaminya."


"Namun, ternyata segala keindahan yang pernah aku rasakan hanyalah sementara. Pria tua itu menyeret ku ke dalam siksaan tiada akhir," jelas Jasmine menceritakan masa lalu yang tidak pernah Ayana ketahui.


"Jadi, maksudmu... kamu ingin menggunakan ini untuk melawannya?"


"Hanya ini satu-satunya cara, dan kelemahan Darius, sepupuku untuk melawannya. Meskipun hukuman mati sudah dijadwalkan pada pria tua itu, tetapi masih belum ada keputusan eksekusi yang akan diberikan."


"Sayangnya, sepupuku itu menyangka sang ayah sudah meninggal. Dua cara ini bisa menjadi kelemahan yang bisa aku manfaatkan," jelas Jasmine kembali.


Jasmine mengangguk setuju. "Kamu benar. Karena itulah aku ingin menjelaskan pada Darius dan juga mencegahnya untuk tidak terlibat kesalahpahaman lagi. Ia juga dendam padaku, sebab sudah memenjarakannya."


Setelah itu Jasmine pun menceritakan masa lalunya bersama wanita bernama Rusli. Dia adalah istri dari Alexa yang sempat mengasuhnya.


Ia juga mengetahui bagaimana ngerinya peristiwa pembantaian yang dilakukan sang suami. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab mendapatkan ancaman.


Di balik kelamnya masa lalu yang pernah Jasmine terima terdapat secercah cahaya dirasakan. Namun, kegelapan begitu mendominasi hingga menutupi segala keindahan yang pernah dirinya rasakan selepas meninggalnya ayah dan ibu.


Alexa, Rusli, Darius, serta kedua orang tua Jasmine dan dirinya sempat tinggal bersama di mansion. Mereka selalu menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa layaknya sebuah keluarga harmonis.


Namun, semua kesenangan itu lenyap akibat balas dendam yang diam-diam Alexa rencanakan meledak cepat.


Seperti angin topan, kejadian mengerikan menewaskan orang tua Jasmine beserta orang-orang terdekatnya.


Alexa gelap mata dan ingin membalaskan rasa sakit kepada kakak pertama. Setelah hari itu, ia meminta Rusli untuk mengurusi Jasmine.

__ADS_1


Setelah usianya mencapai remaja serta bakat memahatnya terlihat, Alexa memisahkan Rusli, Darius, serta Jasmine.


Ia ingin menguasai kemampuan Jasmine untuk dirinya sendiri sekaligus melampiaskan dendam pada anak sang kakak.


Ia mengirimkan Darius ke luar negeri, serta mengasingkan Rusli ke sebuah perdesaan.


Sejak saat itu kehidupan kelam seorang Jasmine dimulai.


Mendengar kisah tersebut membuat Ayana langsung menggenggam tangan Jasmine hangat.


"Jadi, maksudmu... kamu ingin bertemu dengan tante Rusli untuk mendiskusikan hal ini?" tanyanya lagi.


"Bukan hanya mendiskusikan, tetapi aku juga ingin mempertemukan Darius dengan ibunya lagi. Karena aku tahu dia sangat menyayangi sang ibu dan... tante Rusli adalah kelemahan paling kuat seorang Darius."


"Karena sejak kecil dia lebih dekat pada ibunya. Apa pun yang ia inginkan selalu dituruti, Darius bagaikan permata bagi kedua orang tuanya," ungkap Jasmine lagi.


"Kami tumbuh bersama dan ingatan itu kembali saat dia menampakan dirinya lagi," lanjut wanita itu.


"Aku mengerti. Baiklah, aku setuju dengan keinginanmu ini, tapi Jasmine... bisakah aku bertanya satu hal?" tanya Ayana serius.


Jasmine menoleh padanya lagi lalu mengangguk singkat.


"Apa itu?"


"Apa kamu melakukan ini, karena... kamu mencintai mas Danieal?" tanya Ayana langsung.


Jasmine menarik diri lagi dengan menjatuhkan pandangan ke bawah. Ia diam beberapa saat merasakan degup jantung berdetak kencang.


"Aku ingin melindungi diriku sendiri, kamu, dan juga mas Danieal. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakiti kalian."


"Sudah cukup, pengorbanan kalian untuk membantuku dari kelamnya dunia. Inilah yang bisa aku lakukan untuk membalasnya. Cinta? Iya, aku mencintai mas Danieal." Kata-kata itu diucapkan bersamaan dengan ia kembali melihat pada Ayana.


Sang pelukis tersentak, termenung, dan lega melihat keyakinan dalam diri Jasmine. Ia lalu memeluknya erat dan menepuk punggungnya beberapa kali.


"Aku tahu... aku tahu kalau kamu memang mencintai mas Danieal. Kamu hanya tidak tahu mengekspresikannya kan? Jangan bilang kalau kamu juga tidak ingin memberikan luka padanya. Kamu salah, Jasmine. Justru dengan keberadaan mu mampu menyuguhkan kebahagiaan pada mas Danieal."


"Berjanjilah padaku untuk tidak terluka. Kamu tahu? Yang akan kamu lakukan adalah sesuatu tindakan membahayakan diri. Karena sepupumu tidak segan-segan melayangkan anak panah padamu," kata Ayana khawatir.


"Jangan menangis, aku janji... aku janji tidak akan terluka. Terima kasih, Ayana. Karena mau mendukungku selama ini. Aku sangat berterima kasih," balas Jasmine tulus.

__ADS_1


Ayana hanya mengangguk beberapa kali dan terus memeluknya erat. Kedua tangan Jasmine pun terangkat dan membalas pelukannya tak kalah kuat.


Mereka saling menguatkan satu sama lain dan menyemangati. Kata terima kasih pun terus berdengung mengikat tali persaudaraan mereka.


__ADS_2