
Hidup memang tidak pernah luput dari musibah, ujian, dan cobaan. Satu detik yang dilewati mengandung kenangan berarti.
Sakit hanya sebatas kata menggambarkan perasaan. Luka tak kasat mata lebih perih dari luka fisik, bekasnya akan selalu tetap ada sampai kapanpun.
Tidak ada yang luput dari masa lalu, semua orang pasti memilikinya. Karena dari masa lalu bisa belajar apa artinya kesabaran hingga mendewasakan, atau sebaliknya.
Allah penulis skenario terhebat yang tidak pernah terpikirkan kedatangannya. Takdir Sang Pencipta sungguh luar biasa yang kadang kala hadir di laur nalar.
Namun, begitulah tangan Allah bekerja, apa pun yang terjadi sudah menjadi rencana-Nya.
"Jadi, hari ini Tuan membawa Raima ke kantor?" tanya Kirana yang sedari tadi tengah menikmati sarapan bersama atasannya, lagi.
Zidan yang tengah memangku bayi berusia lima bulan mengangguk singkat.
"Benar, aku ingin mengajak putri kami ini melihat-lihat perusahaan," timpalnya hangat.
Kirana mengembangkan senyum menyaksikan kebahagiaan terpancar di wajah tampan Zidan.
"Tuan pasti bahagia sekali, kenapa Ayana tidak datang? Harusnya bayi ini bersama ibunya juga, kan?" tanya Kirana lagi.
"Istriku sedang sibuk, pagi-pagi sekali dia pergi katanya ada lukisan yang harus diselesaikan," jawab Zidan kembali.
Kirana mengangguk-angguk paham. "Istri Tuan memang pelukis luar biasa. Saya sudah melihat review dari beberapa peminat seni jika bakat yang dimiliki Ayana tidak main-main."
"Bahkan namanya saja sudah terdengar keluar negeri. Anda pasti sangat bangga padanya, kan? Namun, sehebat apa pun seorang wanita jika sudah menikah bukankah harus mementingkan keluarganya dulu?" cerocos Kirana tanpa jeda.
Zidan menghentikan gerakan tangannya sesaat memandangi lawan bicara. Kirana mengembangkan senyum lebar masih dengan menikmati sarapannya pagi ini.
"Apa saya salah bicara?" tanyanya menyadarkan.
"Ah, tidak. Itu memang benar, seorang wanita yang sudah menikah memang harus mementingkan keluarganya. Namun, bagiku keinginan Ayana jauh lebih penting. Karena bagaimanapun kebahagiaannya jauh lebih penting," balas Zidan tulus.
Mendengar balasan yang tak terduga tersebut, kini giliran Kirana terdiam. Bak bongkahan es, ia tidak bereaksi sedikitpun.
Hingga beberapa detik kemudian ia tersadar dari lamunan dengan terkekeh pelan.
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan memang suami yang baik. Saya iri pada Ayana, bahkan dia mempunyai orang tua angkat yang sangat baik." Kirana pun menghela napas berat menarik simpati sang pengusaha.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Kirana terkesiap membuat Zidan menautkan kedua alis, heran.
"Kirana? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya kedua kali.
"Ah, saya minta maaf Tuan. Saya... saya terkejut."
"Eh? Kenapa?"
Lengkungan bulan sabit hadir menutupi kesedihan dalam dada dan Zidan tahu saat ini Kirana memaksakan senyum.
Ia sedikit peka terhadap perasaan kurang menyenangkan yang mengendap di relung hati. Itulah kenapa ia bisa terpikat pada Bella.
Karena ia simpati pada kehidupan Bella yang tidak memiliki bakat musik dari kedua orang tuanya. Namun, semua hanya tinggal masa lalu Zidan tidak akan melakukan tindakan yang sama lagi.
Ia sudah menyesal menyianyiakan wanita sebaik Ayana. Kini kehidupannya jauh lebih baik dan menjalankan pernikahan bersama sang istri untuk menebus kesalahan.
Zidan terpaku, refleks mengambil selembar tissue di sebelah dan menjulurkan nya pada Kirana. Sang model mengambil seraya mengucapkan terima kasih.
"Aku tahu kelemahan Mas Zidan adalah tidak tahan melihat seorang wanita menangis. Aku sudah mencari tahu bagaimana seorang Zidan bisa terpikat pada sosok Bella. Ternyata tenggang rasanya sangat besar, tetapi sangat disayangkan, dulu Ayana tidak mendapatkan itu. Kenapa? Apa pria ini membencinya?" racau Kirana bermonolog dalam benak.
"Apa kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Zidan lagi dan lagi.
Kirana menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Ia memandang lagi pada pria di seberangnya sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih, aku sudah jauh lebih baik. Sebenarnya, aku anak yatim piatu. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibu, bagaimana rupa mereka, siapa mereka, apa mereka tampan? Cantik? Baik?" Kirana mendengus pelan. "Aku sama sekali tidak tahu."
"Yang aku tahu mereka adalah orang tua yang kejam. Karena sudah membuangku di panti asuhan."
"Bertahun-tahun aku hidup sebatang kara sampai pada akhirnya bertemu dengan mendiang Eliza. Wanita itu memberikan warna baru pada hidupku."
"Eliza anak yang ceria, hangat, baik hati, banyak orang menyukainya. Aku pun bahkan sampai iri pada kehidupannya yang terbilang mulus. Ada orang tua yang lengkap serta kakak laki-laki begitu menyayanginya, membuatku ingin seperti dia."
__ADS_1
"Namun, aku sadar... aku dan Eliza bagaikan bumi dan langit. Derajat kami berbeda tidak bisa disama ratakan, tetapi berkat Eliza aku juga bisa merasakan bagaimana manisnya dunia ini."
"Sampai suatu hari Eliza mendapatkan kondisi terburuk pada kehidupannya, dia mengatakan... aku harus menggantikan posisinya di keluarga."
"Waktu itu aku tidak bisa menyanggupi permintaan tersebut. Karena kehilangannya saja sudah membuatku sangat terpukul, dan berpikir... aku tidak pantas menggantikan posisinya."
"Kata teman yang selalu ia cetuskan padaku membuatku sangat senang. Teman, satu kata itu mengandung sebuah hubungan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku sangat beruntung bisa bertemu Eliza."
"Tahun berganti tahun, hingga delapan tahun lamanya aku berada di negara orang. Setelah mempunyai posisi yang cukup untuk bisa berada di keluarga Arsyad aku pulang kembali ke sini. Namun, aku sangat terkejut saat mendapati mereka sudah mengangkat Ayana sebagai anak."
Kirana terus berceloteh menceritakan sepenggal kisah yang pernah dialaminya selama ini.
Seraya mengaduk minumannya ia terus memikirkan kenangan yang sudah dilewatinya bertahun-tahun ke belakang.
Ia tidak pernah menyesal bisa berteman dengan Eliza. Justru dirinya bangga bisa berteman sangat lama dengan salah satu anggota keluarga dokter ternama di negaranya.
Namun, tidak ada yang tahu jika ke irian itu sempat membuat Kirana gelap mata. Ia mengkhianati kepercayaan Eliza dengan merebut kekasihnya.
Pada saat itu Eliza masih memaafkan kesalahan Kirana dan mengatakan jika temannya hanya khilaf.
Menurut Eliza semua orang bisa melakukan kesalahan dan berhak mendapatkan pengampunan.
Mereka pun menjadi sahabat biasa lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
Hingga sampai sekarang kesalahan demi kesalahan Kirana pada Eliza hanya dirinya dan Celia saja yang tahu.
Setelah mendengar penuturan panjang seorang Kirana, Zidan diam mencerna baik-baik kisah yang pernah dilewatinya.
Ia tidak menyangka di balik keceriaan yang selalu Kirana tampilkan mengundang masa lalu menyedihkan.
Ia berpikir jika Kirana hanyalah teman baik mendiang putri kedua mertuanya yang sama-sama lahir dari keluarga baik-baik.
Faktanya ada kebenaran yang tidak pernah ia sangka. Seketika rasa kasihan meremas dalam dada, Zidan menyaksikan wajah cantik itu terbalut senyum, meskipun ada luka yang harus disembunyikan.
Tidak mudah memperlihatkan diri baik-baik saja, tetapi Zidan kagum pada ketegaran Kirana yang sampai saat ini masih terlihat ceria seolah tidak pernah ada masa lalu menyakitkan.
__ADS_1