
Kisah akan terus berlanjut sebagaimana mestinya. Setiap waktu memberikan cerita berbeda yang layak untuk dijadikan sebagai pembelajaran. Karena di baliknya terdapat suatu hal yang sudah Allah berikan.
Tidak ada yang abadi, semua mempunyai bagiannya masing-masing. Asam, manis, pahit layaknya empedu hadir menemani setiap episode yang datang.
Awan kelabu masih melingkupi manik jelaga Ayana. Ia terus diam di sebuah ruangan di tokonya seraya duduk di kursi kayu samping jendela.
Ia meletakkan tangan kanannya di kusen sembari terus menatap keluar.
Tanpa mengindahkan seseorang yang berjalan mendekat, Ayana semakin tenggelam pada lamunan. Sampai tidak lama berselang tangan halus itu menyadarkannya.
Ayana terpaku saat sang dokter tengah membalut lukanya. Ia tidak menyadari jika jari telunjuknya terluka dengan darah yang sudah mengering.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri. Jika ingin menangis ... menangislah, jangan memendamnya," kata Danieal masih sibuk mengobati luka bekas kuku itu.
Mendengar serta merasakan kebaikan Danieal, Ayana tidak bisa membendung air mata. Kristal bening jatuh tak tertahankan. Ia menangis dalam diam, dadanya terasa sesak dengan napas naik turun.
Ayana mencengkram sekuat tenaga gamis dalam pangkuan. Tidak lama berselang isakan menyayat hati mengalun mengenyahkan keheningan.
Ia sangat tidak berdaya setelah pertemuan dengan kedua mertuanya. Bagaikan mengorek luka lama, rasa sakit itu mencuat ke permukaan.
Berkali-kali Ayana memukul-mukul dada sebelah kiri. Danieal yang melihat itu hanya membiarkannya saja.
Ia tahu jika rasa sakit yang Ayana tanggung harus dikeluarkan lewat tangisan. Keadaan tersebut mengingatkannya pada masa-masa sulit sang adik.
Saat pertama kali mereka bertemu, Danieal tahu jika ada yang salah dalam dirinya. Ayana sudah mengalami depresi dan ditambah dengan kejadian tidak diharapkan yang hampir dilecehkan oleh kakek tua semakin memperparah.
Bersama sang ayah dan ibu, Danieal bekerja sama untuk menyembuhkan Ayana. Karena mereka tidak ingin kejadian serupa Eliza menimpanya.
Seiring berjalannya waktu keadaan Ayana pun berangsur-angsur membaik.
__ADS_1
Ayana berjuang sekuat tenaga untuk bisa lepas dari keterpurukan. Ia juga tidak ingin terus terjebak dalam lingkaran masa lalu yang malah memperburuk keadaan.
"Menangislah, jangan biarkan rasa sakit itu mengendap di dadamu. Lepaskan, dan biarkan ia pergi dengan air mata," kata Danieal lagi setelah mengobati lukanya.
Ia ikut tersayat menyaksikan kepedihan adik sambungnya ini. Ia adalah saksi bagaimana masa itu mempengaruhi mental Ayana.
Netra beningnya bergulir dan menetap pada plaster di jari telunjuk yang baru saja diberikan. Ia menyelami sayatan itu dalam diam, hingga bola matanya kembali bergerak ke pergelangan tangan kiri.
Di sana banyak sekali bekas luka yang sudah Ayana buat. Self harm, suatu kondisi yang pada saat itu ia idap.
Self harm yang diidap Ayana waktu itu, adalah sebuah tindakan menyakiti diri sendiri untuk menghilangkan frustasi, stress, dan berbagai macam emosi.
Bahkan kondisi Ayana semakin parah setiap waktu. Ia sering mencoba menghilangkan nyawanya sendiri, dan ada satu waktu niatan itu bertambah kuat.
Saat Danieal melakukan tugas di rumah sakit lain, Ayana menyayat pergelangan tangan kirinya. Namun, tindakan itu berhasil dicegah hingga ia tidak kehabisan banyak darah dan nyawanya bisa diselamatkan.
Berhari-hari kain kasa melilit di pergelangan tangan kirinya. Bagaikan raga tanpa nyawa, layaknya jiwa tanpa emosi, Ayana hanya bernapas tanpa ada niatan untuk melakukan apa pun.
Kondisinya yang semakin memprihatinkan membuat Danieal tergerak untuk selalu memberikan dukungan dan menyembuhkan. Ia berbicara dengan kedua orang tuanya dan memperkenalkan mereka kepada Ayana.
Saat pertama kali bertemu dengan wanita itu, Celia dan Adnan seolah melihat sosok Eliza dalam dirinya. seketika itu juga mereka siap membantu Ayana dan bahkan sampai mengangkatnya sebagai anak.
Berhari-hari mereka mulai menyembuhkan Ayana. Perjuangan, kesabaran, serta keyakinan membuahkan hasil signifikan.
Sang pelukis itu berangsur-angsur membaik hingga dirinya bisa kembali beraktivitas secara normal. Ia sudah bisa mengontrol dirinya sendiri dan tidak terus menerus terjebak pada rasa sakit.
Mengingat kembali keadaan itu membuat Danieal tersenyum masam. Lalu ia menarik kepalanya lagi memandangi Ayana yang masih terisak.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apa kamu akan tetap menjadi Ghazella? Mereka sepertinya tahu siapa kamu sebenarnya," kata Danieal mengingatkan.
__ADS_1
Ayana terdiam beberapa saat, air mata terus berjatuhan membahasi pipi. Ia mengusapnya kasar kemudian membalas tatapan sang kakak.
"Aku tidak akan pernah kembali menjadi Ayana. Meskipun mereka tahu aku sebenarnya, tetapi ... lebih baik seperti ini. Dari pada harus mengaku dan benar-benar mengembalikan ingatan masa lalu. Aku sudah tidak sanggup lagi."
"Walaupun nyonya dan tuan Ashraf begitu baik padaku, tetapi ... aku tidak bisa membuka kedok ini pada mereka. Aku tidak mau dipaksa untuk kembali kepada keluarganya." Ayana menggeleng-gelengkan kepala mengenyahkan pikiran tersebut.
"Bagaimana kalau mereka hanya ingin menganggap mu sebagai keluarga dan bukan menantu?" tanya balik Danieal.
Ayana lagi-lagi diam beberapa saat lalu menyeringai lebar. "Itu tidak mungkin. Karena tujuan awal mereka mengizinkanku menikah dengan dia, hanya untuk mendapatkan keturunan. Ada niat tersembunyi di balik kebaikannya."
"Jadi, maksudmu ... kamu dimanfaatkan?" Danieal terus bertanya.
"Iya, bisa dibilang memang seperti itu."
"Bukankah pernikahan selain tujuannya untuk menyempurnakan agama, tetapi juga mendapatkan keturunan?"
Alina menghela napas pelan dan menoleh ke samping melihat pemandangan luar. "Memang seperti itu, tetapi mereka tidak ingin mendapatkan keturunan dari wanita yang sembarangan. Padahal aku tidak sebaik yang mereka kira."
"Dari awal menikah aku sering mendapatkan hinaan, cacian, makian yang datang dari keluarga inti. Mereka juga menyalahkan orang tua dia. Karena sudah menikahkan anak pertamanya dengan wanita miskin sepertiku."
"Ketika tuan dan nyonya tidak ada di rumah, dia terus menerus memperlakukanku layaknya seorang pembantu. Sekarang ... aku memang merasa tidak enak sudah membohongi orang tuanya, sebab berpura-pura menjadi orang lain. Namun, aku tidak bisa mengakui jika ... aku adalah Ayana," tutur Ayana panjang menceritakan sepenggal kisah pernikahannya masa itu.
Danieal menatapnya sendu, embun merembes di kedua maniknya membuat pria berusia tiga puluh dua tahun itu menarik napas panjang.
Ia tidak tahu sudah berapa banyak luka yang tergores di hatinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Ayana tanggung selama ini.
"Baiklah, jika kamu masih tetap ingin menjadi Ghazella Arsyad maka lakukanlah dengan baik. Jangan sampai orang-orang itu menganggap mu Ayana lagi. Biarkan waktu membalas apa yang sudah mereka perbuat. Tugas kita hanya memperbaiki diri dan hubungan dengan Allah. Serahkan semuanya pada yang di atas. Karena jika tangan Allah sudah bekerja maka semuanya akan baik-baik saja," ungkap Danieal menasehati.
Ayana mengangguk singkat dan memandang lekat pria di hadapannya. "Terima kasih banyak. Mas, mamah, dan papah sudah banyak membantuku. Entah dengan cara apa aku harus membalas kebaikan kalian."
__ADS_1
"Dengan menjadi anak yang baik. Kamu harus menjadi pribadi yang kuat dan jangan lemah pada masa lalu," balas Danieal lagi. Ayana mengembangkan senyum dan mengangguk semangat.