Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 58


__ADS_3

Ayana yang berada di balik pintu terpaku mendengar pengakuan dua insan di dalam sana. Air mata memberondong tumpah ruah merasakan kelegaan datang menerpa.


Tanpa ia duga perasaan Jasmine bertubuh seiring peristiwa terjadi. Ia benar-benar membuktikan padanya, jika kejadian itu memberikan pengakuan berarti.


Akhirnya, setelah sekian banyak waktu yang mereka lalui, kini takdir hampir mempersatukan.


Ayana benar-benar lega, sekaligus terhanyut pada perasaan keduanya.


Setelah menenangkan diri dan mengusap jejak air mata di kedua pipi, Ayana menghela napas pelan dan mengembangkan senyum.


"Baiklah."


Tidak lama kemudian ia menggeser pintu ruang inap Jasmine mengejutkan dua orang di dalamnya. Mereka sama-sama melihat ke arah Ayana seraya membulatkan pandangan.


"Oh, ternyata Mas ada di sini. Aku cari-cari tidak ada, ternyata pergi ke sini?" dustanya.


"Kenapa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa aku mengganggu waktu berharga kalian?" tanya Ayana pura-pura tidak tahu.


Sekejap mata Danieal beranjak dari duduk, mulut menawannya sedikit terbuka menyaksikan kedatangan adik tercantik nya.


Ayana mendelik pelan seraya mengerucutkan bibir saat beradu pandang dengan sang kakak.


"Apa yang Mas lakukan di sini? Bukankah aku, mamah, dan ayah belum memberimu izin? Hei Mas-"


"Dari semalam Mas Danieal sudah datang dan pagi-pagi sekali dia kemari lagi," jelas Jasmine membuat kedua mata Ayana membola.


Ia tidak tahu jika Danieal sudah beraksi diam-diam tanpa mereka ketahui.


Mendengar penuturan Jasmine, seketika Danieal gugup memandangi dua wanita itu bergantian. Ayana yang masih berdiri membelakangi pintu pun melipat tangan di depan dada.


Sorot matanya nyalang memandangi sang kakak tidak percaya dan menuntut penjelasan atas apa yang dikatakan Jasmine.


"Apa Mas mau aku melaporkan hal ini pada ayah dan mamah? Agar Mas dipulangkan saja dan tidak mengganggu Jasmine lagi?" ancamnya membuat Danieal ketar-ketir.


Ia langsung melangkah mendekati Ayana dan mencengkram bahunya pelan.


"Mas mohon, Ayana jangan lakukan itu. Mas mohon, yah? Mas janji, setelah keluar dari sini... Mas akan membelikan apa pun yang kamu mau, tapi... jangan beritahu ayah dan mamah," pinta Danieal sangat, berharap adiknya ini bisa mengabulkan.


Dalam diam Ayana memperlihatkan ekspresi dingin seolah permintaan sang kakak tidak mempengaruhinya. Hal tersebut membuat Danieal harap-harap cemas, takut sesuatu tidak diinginkan terjadi.


Sedetik kemudian bola mata karamel Ayana bergulir ke belakang punggung Danieal, mendapati Jasmine yang juga sedang terbelalak.

__ADS_1


Lalu beralih lagi pada Danieal yang masih memasang puppy eyes agar sang adik luluh dengan permintaannya tadi.


"Mas mohon, Ayana. Kamu adik Mas yang sangat cantik dan baik hati, jadi sekali ini saja, jangan laporkan apa pun-"


Seketika ucapan Danieal terputus saat Ayana tertawa terbahak-bahak tidak kuat melihat air muka memelas pria di hadapannya.


Mendapati hal itu Danieal memudarkan pegangan di bahu Ayana seraya mengerutkan dahi dalam.


"A-apa yang kamu pikirkan? Hei! Apa yang sedang kamu tertawakan?" tanyanya bingung.


Kurang lebih beberapa detik berselang, Ayana bisa mengontrol dirinya sendiri dan menghentikan gelak. Ia mengusap sudut matanya yang berair dan menghadap sepenuhnya lagi pada sang kakak.


"Oh perutku," katanya mengusap perut sedikit menonjol itu.


Danieal pun langsung memapah Ayana ke kursi tunggal samping ranjang Jasmine, lalu mendudukkannya di sana dan memberikan tatapan dalam seraya melipat tangan.


"Jadi?"


Satu kata mewakili berbagai macam pertanyaan dalam pikiran.


Ayana mengembangkan senyum lebar memandangi keduanya bergantian.


"Aku tidak akan melaporkan hal ini pada mamah atau ayah, tetapi... aku akan melaporkan hal lain," jelas Ayana penuh makna.


"Berisik Mas Danieal, aku hanya akan melaporkan jika sebentar lagi keluarga kita bertambah, serta ayah dan mamah akan mempunyai menantu baru. Itu benarkan Jasmine?" Ayana beralih padanya yang seketika membuat Jasmine gugup.


"Eh? A-apa yang kamu bicarakan Ayana?" tanyanya balik.


Ayana kembali melengkungkan kedua sudut bibir penuh arti dan menatap mereka lagi bergantian.


"Tidak usah disembunyikan, dari tadi aku mendengar percakapan kalian. Akhirnya... kamu mau mengakui perasaan pada Mas Danieal," jelas Ayana sangat mengejutkan Jasmine maupun Danieal.


Mereka tidak menyangka jika di luar ruangan ada seseorang yang menguping pembicaraannya.


Merasakan ketegangan dua orang di sekitarnya, Ayana menghela napas kasar dan kembali berujar.


"Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian, hanya saja... suara kalian terdengar sampai keluar. Aku yang tadinya ingin melihat Mas Danieal lebih dulu jadi mengurungkan niat," kata Ayana membela diri sendiri.


Namun, masih belum ada pergerakan apa pun, baik dari sang kakak atau dari sahabatnya. Lagi dan lagi helaan napas pun terdengar berat berhembus begitu saja.


"Baiklah-baiklah, aku memang menguping pembicaraan kalian. Karena tidak sengaja mendengar pembicaraan yang mengundang penasaran."

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika-"


"Terima kasih."


"Eh?"


Ayana terkejut saat Jasmine langsung memotong ucapannya dengan berterima kasih. Manik cokelat susu itu memandang dalam pada wanita di hadapannya dengan sebuah tanda tanya besar.


Jasmine pun membalas tatapan Ayana hangat nan teduh.


"Terima kasih... karena sudah menolongku dan juga... memberikan dukungan untukku bisa mengatakannya," jelas Jasmine lagi.


Ayana terharu dan langsung menggenggam kedua tangannya erat.


"Jasmine, dengar! Kamu... berhak bahagia. Tidak peduli seperti apa masa lalu mu, bagaimana luka yang pernah kamu lewati, serta kelamnya kehidupan sebelumnya, yang jelas... masih ada masa depan yang berhak digapai."


"Kamu bebas sekarang, kejadian kemarin memberikan pelajaran agar senantiasa bersabar dalam segala hal. Sekarang giliran masa depan mengambil alih dan memberikan kehidupan baru, aku yakin... bersama Mas Danieal kamu bisa mendapatkan hal itu," tutur Ayana sesekali melirik pada sang kakak yang berdiri tepat di sebelahnya.


Jasmine mengangguk-anggukan kepala, terenyuh atas kata-kata yang selalu Ayana berikan. Ia pun menunduk dalam dan meremas kedua tangan sang sahabat.


"Terima kasih, berkatmu aku bisa bertemu dengan tante Rusli dan memperbaiki hubunganku dengan Darius. Sekarang semuanya sudah lebih baik," jelas Jasmine lagi.


Mendengar itu Ayana ikut senang. Ia beranjak lalu duduk di tepi ranjang dan membawa Jasmine ke dalam pelukan hangat.


Sebelah tangannya mengusap punggung ramping itu berkali-kali.


"Kamu sudah berkorban banyak untuk kami, sekarang kamu berhak mendapatkan kebahagiaan itu. Berbahagialah, aku ingin melihat senyum lebar darimu."


Suara lembut Ayana sampai ke dalam hati. Jasmine hanya bisa mengangguk dan bergumam em sebagai jawaban seraya membalas pelukan itu tak kalah erat.


Danieal yang melihat adegan adik serta wanita tercintanya ikut mengembangkan senyum. Ia juga penasaran siapa yang dimaksud Jasmine tadi.


"Tante Rusli? Darius? Siapa mereka? Apa jangan-jangan pria yang kemarin aku lihat itu dia?" monolognya menerka-nerka.


Untuk saat ini ia membiarkan mereka menikmati waktunya sendiri. Ia ikut senang pada akhirnya permasalahan yang menimpa Jasmine selesai.


Hanya ada satu yang tertinggal, luka di leher Jasmine. Danieal masih tidak tahu apa dan bagaimana itu bisa terjadi.


Selama ini baik, Ayana, Zidan, maupun Jasmine sendiri masih enggan menceritakannya. Ia penasaran awal permasalahan itu sampai-sampai membuat wanita terkasihnya berada di rumah sakit.


Namun, ia lega bisa mendapatkan pengakuan dari Jasmine. Kata cinta yang keluar dari celah bibirnya memberikan keyakinan pada diri untuk melangkah ke arah lebih serius lagi.

__ADS_1


Danieal sangat ingin mempersunting Jasmine sebagai pasangan hidup, istri, dan juga calon ibu dari anak-anaknya kelak. Satu langkah baru berhasil diraih dan tinggal langkah selanjutnya untuk mewujudkan niat baik tersebut.


__ADS_2