
Kisah akan terus terajut sebagaimana kehidupan berjalan. Mimpi akan berjalan jika masih ada harapan untuk menggapainya.
Jangan pernah berhenti di tempat atau semua akan sia-sia. Tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil. Terkadang kegagalan hanya dibentuk dari kata menyerah.
Selagi menggantungkan harapan, disertai doa dan ikhtiar kepada Allah tidak mungkin tidak ada balasan dari Sang Pemilik Kehidupan.
Siapa saja yang berjuang di jalan Allah pasti mendapatkan jawaban luar biasa. Allah memberikan cobaan, ujian, guncangan dalam hidup, air mata berderai itu tandanya Allah sayang dan ingin meningkatkan derajat seorang hamba.
Teruslah bertahan dan bersabar dengan berpegang teguh pada tali paling kokoh agar suatu saat Allah memberikan balasan terbaik dari sebuah perjalanan.
Meskipun membutuhkan banyak waktu untuk melaluinya, bersabarlah semua akan berlalu.
Ayana Ghazella, wanita yang tidak pernah beruntung dalam hal apa pun kini sudah menerima jawaban atas kegelisahannya.
Ia menjadi seorang pelukis terkenal dengan karyanya berada di mana-mana. Bahkan ia juga mendapatkan perubahan sang suami yang begitu signifikan.
Ia bersyukur Zidan Ashraf seorang pianis keturunan keluarga Ashraf dengan kekayaannya melimpah ruah berubah dan menyesali segala perbuatannya.
Pria itu mencintai Ayana sepenuh hati dan mulai menata semuanya dari awal. Namun, ujian tidak berhenti begitu saja.
Presdir Han yang sudah mengincarnya dari awal memberikan kekuatan lebih pada Ayana untuk melawannya.
Sampai fakta mencengangkan lainnya berdatangan di saat rumah tangga mereka akhirnya sudah baik-baik saja. Orang tuanya meninggal akibat keserakahan sang tetua yang selama bertahun-tahun pelaku hidup dalam kemewahan.
Ayana sangat marah dan berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan keadilan.
Jika bukan Allah yang membimbingnya bisa saja ia sudah kembali menyerah. Namun, selama ia mendapatkan permasalahan itu Allah menghadirkan orang-orang hebat yang membantunya bertahan.
"Akhirnya... selesai juga," kata Ayana mengusap peluh di pelipisnya.
Kandungan yang sudah memasuki minggu ke dua puluh enam minggu memberikan beban pada sang ibu terus bertambah. Ayana harus bekerja ekstra kuat dalam melakukan segala hal.
Niat awal ingin vakum lebih dulu dari dunia melukis nyatanya tidak bisa diterima oleh Ayana begitu saja. Setelah berkonsultasi dengan dokter pribadinya, ia pun kembali menciptakan karya baru.
Itu dimulai dari satu minggu yang lalu, di mana Ayana merasa jenuh harus terus berada di rumah tanpa melakukan apa pun. Sementara suaminya sibuk bekerja dan terkadang pulang malam yang membuatnya bosan.
Akhirnya ia berbicara dengan Zidan untuk kembali melukis di galeri. Ia tidak bisa membiarkan Seruni terus menerus meng-handle toko seninya begitu saja.
__ADS_1
Harus ada karya baru, pikirnya.
Zidan yang awalnya tidak menyetujui permintaan sang istri memberikan izin setelah berbicara dengan dokter kandungan Ayana.
Pada akhirnya sang pelukis bisa berada di dunianya sendiri dan menghilangkan kebosanan dengan melukis.
"Mbak-Mbak-Mbak."
Dari arah luar suara nyaring Seruni terdengar hingga wanita itu membuka pintu kasar. Ayana yang tengah berhadapan dengan kanvas menoleh mendapatinya berlarian mendekat.
"Ada apa? Kenapa kamu heboh sekali?" tanya Ayana penasaran seraya mengusap cipratan cat di kedua tangan ke sapu tangan.
"Ini-ini-ini lihat... lihat undangan ini!" titah Seruni menjulurkan undangan berwarna emas berkilauan padanya.
Ayana menerima dan membuka undangan itu datang dari orang berpengaruh nomor satu di negaranya.
"MasyaAllah, benarkah Tuan Bagas mengundangku ke istana putih?" tanyanya tidak percaya menoleh pada Seruni.
"Itu benar, Mbak. Undangan ini di antar sendiri oleh ajudan beliau. Ajudan itu mengatakan jika Mbak harus datang ke pesta teh miliknya."
"Hm, apa ini terdengar seperti di dunia dongeng? Pesta teh dan istana putih... bukankah sangat mencengangkan?" Seruni begitu antusias mendengar pesta undangan tersebut.
"Apa Mbak tidak tahu? Selama ini kita sudah mengirim beberapa lukisan Mbak ke istana putih miliknya. Beliau adalah penikmat seni nomor satu di negara ini."
"Ah, orang nomor satu dan penikmat seni nomor satu... wah aku tidak bisa membayangkan seberapa kaya orang itu," celoteh wanita berhijab putih itu lagi.
"Apa? Kenapa selama ini-"
"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat bersemangat sekali?" Jasmine datang menghentikan ucapan Ayana.
Keduanya menoleh ke arah yang sama dan Seruni pun kembali menceritakan jika Ayana mendapatkan undangan dari Tuan Bagas. Pria paling berpengaruh di negaranya dan sudah menjabat sebagai pimpinan selama tiga tahun berturut-turut itu bermaksud mengadakan pesta teh dan mengundang banyak orang.
"Apa? Benarkah? Sesibuk apa pun orang itu pasti mempunyai waktu luang. Namun, apa sempat mengadakan pesta teh hanya untuk bersantai?" tanya Jasmine ikut memikirkan sesuatu.
"Kan? Pasti ada sesuatu di sini," kata Ayana lagi.
Seruni memandangi keduanya bergantian yang sama-sama tengah memikirkan undangan tadi.
__ADS_1
"Sudahlah, Mbak Ayana dan Mbak Jasmine jangan terlalu memikirkan hal itu. Ajudan tadi juga bilang kalau orang yang mendapatkan undangan bisa mengajak siapa pun. Apa Mbak mau mengajakku datang ke sana?"
Kedua manik Seruni berbinar senang seraya menautkan jari jemari di depan dada dan mencondongkan badan ke arah Ayana. Ia berharap sang pelukis bisa membawanya ke pesta teh yang akan di adakan satu minggu lagi.
"Benarkah? Benarkah aku bisa membawa siapa saja?" tanya Ayana balik.
Seruni hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata.
"Baiklah... kalau aku mau menghadirinya nanti dikabari. Sekarang kembali bekerja sana." Dengan pelan Ayana menepuk puncak kepala Seruni menggunakan undangan tersebut.
Wanita itu mengangguk semangat dan berjalan keluar membiarkan mereka bekerja di ruangan.
Ayana kembali duduk di kursi kayu dan diikuti oleh Jasmine. Manik keabuan nya terus memandangi sang pelukis.
"Aku tidak tahu siapa itu Tuan Bagas. Aku hanya tahu jika beliau adalah pemimpin di negeri ini. Aku juga tidak pernah tahu jika selama ini lukisanku banyak dibeli oleh beliau," racau nya memandang ke karya barunya.
Jasmine mengikuti arah pandangnya. Ia melipat tangan di depan dada ikut memikirkan undangan yang tiba-tiba saja datang.
"Apa tidak sebaiknya kamu mencari tahu? Masalahnya, bukankah sudah lama kamu tidak menerima undangan seperti ini? Maksudku untuk memastikan saja, jika ini semua murni hanya undangan semata," jelas Jasmine membuat Ayana menatap padanya.
"Em, kamu benar. Kalau begitu aku harus menghubungi mbak Bening."
Ayana pun bangkit dari kursi mulai menghubungi Bening yang masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai pencari informasi dan sudah bekerja sama dengan beberapa pemilik perusahaan.
Ia membantu orang-orang guna mencari tahu kebusukan mereka, hingga ekonomi di ibu kota perlahan mulai stabil. Namun, selama Bening bekerja dengan para pengusaha itu dirinya tidak ingin keberadaannya diekspos oleh siapa pun.
"Assalamu'alaikum, iya Ayana ada apa?" jawab Bening di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam mbak, kita ada pekerjaan baru. Apa mbak mau datang ke galeri ku?" tanya Ayana yang langsung mendapatkan jawaban iya dari kakaknya.
Setelah panggilan berakhir, Ayana kembali berjalan mendekati Jasmine yang tengah melakukan pekerjaannya membuat ukiran di batu kristal.
Ayana membawa lagi undangan tadi dan memandanginya dalam diam. Ia terus melihat dan memindai nya mencoba mencari tahu sesuatu.
Sampai manik jelaganya terhenti di satu objek yang sangat menarik perhatian. Ayana terus memperhatikannya lekat berusaha mengetahui sesuatu apa yang sudah dirinya dapatkan.
"Ah~ jadi seperti itu. Aku mengerti sekarang kenapa Tuan Bagas memberiku undangan. Bukankah aneh orang penting mengadakan pesta teh di istana putih? Aku harus mendiskusikannya dulu dengan mbak Bening," monolognya dalam diam.
__ADS_1
Jasmine yang sedari tadi memperhatikannya pun mengerutkan kening. Ia tahu Ayana pasti mendapatkan sesuatu, pikirnya.