Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 4


__ADS_3

Ayana dan Zidan selesai memandikan buah hati mereka. Saat ini pasangan itu tengah duduk di balkon tepat di samping ruang keluarga yang terhubung ke ruang makan.


Gelak tawa terdengar renyah nan syahdu kala tengah menjemur Ghazali dan Ghaitsa. Pasangan suami istri yang baru menjadi orang tua itu pun benar-benar hanyut dalam dunianya.


Beberapa asisten rumah tangga yang tidak sengaja melihat dan mendengar kebersamaan keduanya ikut tersenyum.


Mereka senang nyonya mudanya begitu antusias dalam mengurus sang buah hati bersama sang suami.


Begitu pula dengan Jasmine yang sedari tadi sibuk menata makanan di atas meja. Ia mendengar apa yang diucapkan adik ipar bersama suaminya di sana.


Ia membisu memperhatikan keduanya dalam diam, dan tanpa sadar kedua sudut mulutnya terangkat.


Ia senang melihat Ayana kembali sadar dan bisa berkumpul bersama suami serta kedua anaknya. Ia ikut merasakan kebahagiaan mereka yang membuatnya terharu.


"Apa yang sedang kamu lihat, hm?"


Suara dari belakang mengejutkan, Jasmine terpekik dan menoleh ke samping melihat wajah lelah suaminya.


"Mas sudah pulang? Bagaimana semalam? Apa banyak pasien yang harus Mas rawat?" tanyanya sembari mengusap lengan kekar yang memeluk perut ratanya dari belakang.


"Em, banyak. Sampai aku ingin pulang ke rumah dan menghabiskan waktu bersamamu saja, Sayang," ungkap Danieal manja, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher sang istri seperti kucing.


Jasmine mendengus pelan dan mengembangkan senyum lalu menyikut perut berotot suaminya singkat.


"Apa yang Mas katakan? Jangan berbicara seperti itu, tugas merawat orang sakit adalah tugas mulia," kata Jasmine lagi.


"Em-em-em... aku tidak bisa berbuat apa-apa saat istri cantikku ini mengomel," kata Danieal menutup mata sembari menyamankan kepala bersurai hitam itu di bahu sempit sang istri.


Jasmine terkekeh pelan dan membiarkan pasangan hidupnya beristirahat sebentar di sana.


"Kalau Mas lelah, mandi, sarapan dan setelah itu tidur," lanjut Jasmine kemudian.


Danieal hanya bergumam "em" tanpa mengatakan apa pun lagi.


Jasmine tersenyum senang dan menepuk pelan lengan kekasih hatinya berusaha melepaskan penat pasangan hidup.


Sampai tidak lama kemudian, di tengah kebersamaan keduanya suara yang tidak asing lagi menyapa mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Bermesraan di pagi hari? Eyy, apa kalian ingin membuat semua pekerja di rumah ini iri?"


Jasmine dan Danieal menoleh ke samping di mana Ayana tengah berjalan mendekat sambil menggendong putrinya.


Langkah sang adik begitu pelan, masih merasa ngilu pasca melahirkan.


"Iya, apa kalian mau membuat penghuni rumah ini menjadi penonton gratis? Karena ada drama harmonis di depan mata kepalanya?" lanjut Zidan merangkul sang istri sambil menggendong jagoan.

__ADS_1


Tanpa malu, Danieal malah semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Jasmine sudah memerah bak kepiting rebus.


Ia berusaha melepaskan pelukan sang suami, tetapi Danieal sama sekali tidak mengindahkan perkataan mereka. Dokter tampan itu memberikan tatapan acuh tak acuh.


"Biar saja, biarkan mereka semua iri melihat betapa romantisnya kami. Apa kalian pikir... kalian saja yang bisa romantis?" katanya masih menyandarkan kepala di bahu Jasmine.


"A-apa? Jadi Mas menganggap ini sebagai kompetisi? Benar-benar." Ayana menggelengkan kepala dan duduk di salah satu kursi menghadap meja makan.


"Sudah-sudah kalian ini senang sekali adu mulut. Danieal cepat lepaskan istrimu... apa kamu tidak lihat dia sudah merah menahan malu?" Adnan datang melerai pertengkaran kecil kakak beradik itu dan menyelamatkan menantu perempuannya.


Danieal menghela napas kasar dan mau tidak mau melepaskan pelukan dari sang istri. Ayana terkekeh pelan dan menjulurkan lidah pada sang kakak.


Danieal pun mencebikan bibir singkat dan duduk begitu saja tepat di depan Ayana.


"Jagoan dan putri Kakek sudah dijemur?" tanya Adnan pada kedua cucunya.


Ayana dan Zidan pun meletakkan kedua bayi mereka di stroller seraya mengangguk singkat.


"Sudah Kakek, lihat aku tampan dan cantik, kan?" jawab Ayana mewakili anak kembarnya.


Adnan memandangi mereka satu persatu dengan tersenyum lebar.


"Syukurlah," ucapnya lagi.


Tidak lama setelah itu Celia pun datang dan mereka sarapan bersama. Di temani obrolan-obrolan ringan keluarga besar tersebut begitu harmonis.


Bahkan keberadaannya sangat dihargai dan begitu dicintai serta disayangi, satu hal yang tidak pernah ia terima lagi sejak dirinya berusia lima tahun.


"Melihat Ayana yang saat ini mempunyai anak, kebahagiaan keluarga kami bertambah. Namun... apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa cemas dan takut seperi ini?" benaknya memandang lurus ke bawah.


"Sayang!" Panggil Danieal seraya menggenggam tangan Jasmine kuat.


Sang empunya menoleh dan melihat tatapan khawatir pasangan hidupnya. Ia sudah kecolongan membuat Danieal khawatir.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya pelan di tengah keriuhan orang tua serta kedua adiknya yang masih sibuk menanggapi bayi-bayi mungil di sana.


Jasmine melirik sekilas ke arah mereka dan kembali pada suaminya.


"Tidak ada. Aku tidak memikirkan apa-apa." Dusta nya disertai senyum palsu.


"Benarkah?" tanya Danieal lagi.


"Em, itu benar. Mas tidak usah khawatir, jika ada yang mengganggu, aku pasti akan langsung memberitahumu," balasnya kemudian.


Hal itu membuat Danieal bernapas lega.

__ADS_1


"Baiklah, jangan terlalu lelah. Maaf aku tidak menemanimu tidur semalam," katanya.


Kepala berhijab Jasmine menggeleng singkat dan menepuk punggung tangannya pelan. "Jangan meminta maaf, sudah aku katakan merawat orang sakit adalah pekerjaan mulia."


"Em, terima kasih, Sayang."


Jasmine mengangguk sekilas dan mereka pun kembali menikmati sarapan dengan obrolan-obrolan ringan.


Namun, tanpa wanita itu sadari, diam-diam Ayana memperhatikannya. Di samping ia menanggapi ucapan kedua orang tua dan juga sang suami, ia terus melihat ke arah Jasmine.


"Ada apa ini? Apa Jasmine menyembunyikan sesuatu?" benaknya dan kembali pada mereka.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, Jasmine memandangi wajah damai suaminya yang terlelap.


Ia sudah siap hendak pergi ke suatu tempat, dengan tekad kuat ingin mencari tahu apa yang terjadi.


Tidak lama berselang ia pun keluar kamar dan meminta izin pada ibu mertuanya keluar sebentar. Celia pun mengizinkan dan meminta supir mengantarnya.


Tidak ingin mendapatkan kecurigaan, ia pun menerimanya dan pergi dari rumah. Ia pun tiba di salah satu kafe terdekat dan meminta sang supir untuk kembali.


Pria pertengahan empat puluhan itu pun mengangguk dan mengatakan jika Jasmine butuh dijemput hubungi dia lagi. Wanita itu hanya mengangguk singkat dan melihat kepergiannya.


Setelah itu ia menghentikan taksi dan mengatakan tujuan sebenarnya.


Beberapa saat kemudian ia tiba di rumah sakit lain. Ia langsung daftar dan menunggu gilirannya di panggil.


Tunggu punya tunggu, akhirnya Jasmine mendapatkan giliran. Ia pun diperiksa oleh dokter kandungan bernama Halimah.


Wanita berusia tiga puluh sembilan itu memeriksanya dengan seksama. Sampai pada saatnya Jasmine harus menerima hasil.


"Apa yang salah dengan saya, Dok? Saya terus muntah-muntah dan tidak enak badan," ungkapnya penasaran.


Dokter berlandang di pipi kanan itu pun membuka surat hasil pemeriksaan Jasmine Magnolia Mahesa.


Ia menghela napas pelan membuat Jasmine tidak karuan.


"Saya harus menyampaikan berita ini," ujarnya memandang lekat sang pasien.


Degup jantung Jasmine berdetak tak karuan sesaat melihat raut masam sang dokter. "Apa itu Dok?" tanyanya takut-takut.


"Anda mengalami PCOS."


"A-apa itu?" tanya Jasmine lagi tidak mengerti.

__ADS_1


"Sindrom ovarium polikistik, ada kista-kista kecil di dalam ovarium Anda."


Bagaikan terkena petir di siang bolong, pernyataan Dokter Halimah seketika meruntuhkan pertahan. Jasmine terbelalak, terkejut bukan main dan mengepalkan kedua tangan di pangkuannya kuat.


__ADS_2