
Di sebuah taman ibu kota, Kirana yang tengah menggendong buah hatinya duduk di salah satu bangku kayu.
Sedari tadi ia terus memandangi Raima yang terlelap dalam pangkuan. Sesekali bibir ranumnya tersenyum, senang bisa bersama buah hatinya lagi.
Ia tidak menyangka di balik kejadian menimpa keluarga Zidan, sang anak bisa kembali ke pelukannya.
Sejak kemarin ia terus mengawasi Raima meminta pada Zidan untuk tidak khawatir dengan anak angkatnya.
Setelah menetap di luar negeri bersama pria tercintanya, mereka pun menjalin hubungan kelewat batas.
Sampai Kirana hamil dan membuat hubungan mereka kandas begitu saja.
Sang ayah tidak bisa menerima kehadiran bayi mungil itu, sebab tidak ingin membuat nama baik keluarganya hancur. Karena mendapatkan anak di luar nikah.
Bersamaan dengan kandasnya hubungan mereka, Kirana mencari tahu mengenai keluarga mantan kekasihnya yaitu Danieal.
Sebelum kembali bersama Ihsan, ia berhubungan dengan kakak sahabatnya sendiri guna meminimalisir kecurigaan jika dirinya sudah tidak mencintai Ihsan lagi.
Namun, setelah Eliza meninggal Kirana dan Ihsan kembali bersama dan meninggalkan tanah air.
Tanpa ada kata terucap Kirana memutuskan hubungan dengan Danieal begitu saja.
Setelah melahirkan, ia mendapatkan kabar jika keluarga sang sahabat mengangkat seorang anak.
Dari sana ia kembali mencari tahu asal usul wanita itu. Ia langsung menyusun rencana guna menghancurkan kehidupannya. Karena ia masih meyakini jika keluarga sang sahabat seharusnya menjadi miliknya.
Keegoisan itu semakin memuncak, Kirana gelap mata dan menitipkan Raima ke panti asuhan guna melancarkan aksinya.
Namun, saat ini ia sadar jika tidak ada satupun dari rencananya yang berhasil.
Ia kehilangan seorang anak dan juga kebebasannya.
"Jadi, dia putriku?" tanya seorang pria duduk di sampingnya seraya menjulurkan sekaleng minuman hangat.
Kirana mengangguk dan menerimanya.
"Itu benar, ini anak yang tidak kamu inginkan, Mas," balas Kirana tanpa sedikitpun memandangnya.
"Aku minta maaf... aku-"
"Bagaimana bisa Mas Ihsan mengenal Ayana?" potong Kirana cepat, rasa penasaran itu sudah tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
Ihsan terkesiap dan diam beberapa saat tidak langsung menjawab.
Sampai beberapa detik berlalu, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Wanita itu.... Ayana, memang luar biasa. Saat pertama kali bertemu, aku sudah terjebak dalam permainannya."
"Aku tidak bisa melangkah dengan bebas, layaknya terjerat dalam seutas tali. Hidupku ada dalam genggaman serta kendalinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain... membantunya. Pada saat sidang hari itu-"
Ihsan pun teringat pada saat dirinya menjadi saksi di persidangan Basima.
Setelah melakukan tugasnya ia keluar ruangan lalu dihadang oleh Ayana untuk berbicara empat mata.
Keduanya pun menepi di belakang gedung, jauh dari jangkauan orang lain.
"Terima kasih atas kesediaan Anda menjadi saksi," kata Ayana memulai.
"Mau bagaimana lagi saat ini kamu sedang menggenggam kartu as-ku. Inilah yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan diriku sendiri dan juga... keluargaku," balas Ihsan kemudian.
Ayana mendengus kasar mengundang atensi dari lawan bicaranya di sebelah.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu... benar-benar egois," ucap Ayana beralih menghilangkan sikap formal.
Ihsan menautkan alis dalam tidak mengerti.
"Bukankah tadi kamu melihat Kirana? Dia sedang menggendong buah hati kalian. Apakah tidak ada sedikit saja hati untuk bertemu mereka? Asal kamu tahu, Mas Ihsan... anak adalah anugerah tak ternilai yang sudah Allah titipkan pada kita."
"Jika kalian belum sanggup dam siap menjadi orang tua, kenapa melakukan perbuatan itu sampai menghadirkan Raima? Anak itu tidak bersalah, andai saja ia tahu jika keadaannya seperti ini, mungkin... Raima meminta untuk tidak dilahirkan," ujar Ayana berusaha menyadarkannya.
"Jadi namanya Raima?" lirihnya.
Ihsan termenung, tatapannya jatuh ke bawah memikirkan setiap kata yang Ayana lontarkan.
Ayana sadar jika saat ini sang wali kota tengah memikirkan sesuatu.
"Renungkan lah, bukankah pernikahan mu dengan wanita itu sudah berjalan bertahun-tahun, tetapi belum juga dikasih anak? Mungkin Mas Ihsan harus menceritakan mengenai Raima pada istrimu. Karena bagaimanapun juga dia berhak tahu, sesakit apa pun itu," lanjut Ayana lagi.
"Aku juga merasa kasihan pada Kirana harus menanggung semuanya sendirian. Bagaimana sakitnya melewati persalinan tanpa orang tercinta di sampingnya, merawat seorang bayi di negara asing, pasti sangat sulit bagi Kirana."
"Aku takjub dengan pilihan yang diambilnya, yaitu melahirkan putri cantik kalian dan tidak menggugurkannya."
"Aku pernah berada di posisi Kirana di mana semuanya hanya ada aku yang menanggungnya sendiri. Rasa sakit itu tidak ada orang yang tahu, dan berusaha kuat sendirian. Aku harap Mas bisa memahami Kirana. Aku tidak membela siapa pun-"
__ADS_1
"A-apa kamu akan mengatakannya pada istriku?" tanya Ihsan takut-takut memotong ucapan Ayana.
"Tidak, aku ingin kamu sendiri yang mengatakannya. Pikirkan saja Raima, masalah Kirana biar kalian berdua saja diskusikan," jawabnya.
"Aku hanya menyampaikan dari sudut pandang seorang ibu yang kehilangan buah hatinya. Jangan sia-siakan keberadaan Raima, hanya itu saja." Final Ayana yang semakin membuat Ihsan bungkam.
Mendengar ucapan terakhirnya ia terkejut bukan main. Sosok kuat seperti itu terlihat rapuh saat membicarakan seorang anak.
...***...
"Pada saat itu aku sadar jika... aku harus menerima Raima. Karena bagaimanapun juga dia putri kandungku."
"Saat mendengarkan perkataan Ayana, aku sadar jika anak adalah sebuah anugerah yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya," racau Ihsan menceritakan pertemuannya dengan Ayana.
Kirana diam menatap ke bawah memikirkan bagaimana sosok Ayana selama ini.
Ia benar-benar sudah salah menilai sang pelukis dan berpikir untuk menghancurkan rumah tangganya.
Namun, nyatanya ia memikirkan sang buah hati sampai sejauh itu dan berhasil menyadarkan ayahnya.
Kini Ihsan mulai membuka hati untuk menerima Raima.
"Apa Ayana yang menyuruhmu untuk menerima keberadaan Raima?" tanya Kirana setelah sekian lama bungkam.
"Tidak, Ayana sama sekali tidak menyuruhku untuk melakukan ini atau mengancam ku menerima Raima, tetapi ini murni keinginanku sendiri," balas Ihsan.
"Ayana mengatakan untuk mendiskusikan semuanya denganmu. Karena wanita itu pernah berada di posisimu. Ayana kehilangan bayinya atas perbuatan suaminya sendiri. Aku sadar setelah mendengar semua ceritanya. Karena bagi pasangan menikah keberadaan seorang anak itulah yang diharapkan."
"Kirana... aku ingin kamu bertemu dengan istriku dan membicarakan masalah ini," lanjut Ihsan memandang Kirana.
Seketika itu juga kedua manik sang model melebar. Ia menoleh ke samping di mana Ihsan tengah memberikan sorot mata yakin.
Ia tidak percaya mendapatkan hari seperti ini.
Di saat ia masih berada di luar negeri, Kirana pun mendapatkan kabar jika Ihsan sudah menikah.
Pada saat itu hatinya benar-benar kacau tak karuan. Ia ingin menghancurkan semua kebahagiaan mereka satu persatu.
Namun, tanpa diduga orang yang menjadi sasarannya malah memberikan harapan baru.
Kirana jadi teringat pada sosok Ayana. Betapa tidak pedulinya ia pada sang pelukis yang kini telah menyuguhkan mimpi lain.
__ADS_1
Ia juga teringat pernah membaca sebuah artikel mengenai kandungan Ayana. Namun, sekarang wanita itu memikirkan kebaikan Raima dan dirinya.
"Ayana, apa yang kamu ingin aku lakukan? Kenapa kamu masih berbuat baik padaku? Aku sudah jahat dan berniat buruk padamu," racaunya dalam benak menahan tangis.