
"Maaf Nyonya di luar ada nona muda datang berkunjung," ucap salah seorang pelayan di kediaman utama keluarga Ashraf.
Basimah yang tengah berada di ruang kerja sedang mengecek pengeluaran perusahaan pun menghentikan pergerakan.
Kepala bersanggul itu terangkat menyaksikan sang pelayan tengah bersidekap sembari menundukkan pandangan.
"Noda muda? Siapa yang kamu maksud?" tanyanya, heran.
"Nona muda Ayana, Nyonya," jelas pelayan tadi.
Mendengar nama salah satu cucu menantunya disebut, sebelah sudut bibir wanita baya berusia hampir tujuh puluh itu terangkat.
Jari jemari keriputnya saling bertautan di atas meja. Sorot matanya berubah serius mendapatkan kabar Ayana datang berkunjung.
"Suruh dia masuk," titahnya kemudian.
Pelayan itu mengangguk dan undur diri dari hadapannya, sampai tidak lama berselang sosok wanita berhijab hitam senada dengan gamisnya pun hadir tepat di depan mata.
Basima menyeringai pelan menyaksikan ketegasan sekaligus keyakinan dalam manik bulan cucu menantunya.
"Tidak aku sangka setelah tiga hari syukuran anak angkat kalian, kamu mendatangiku? Sepertinya ini masalah serius mengingat tidak ada keraguan sedikitpun dalam matamu," ujar Basima membuat Ayana mengembangkan senyum.
"Anda memang selalu teliti, Nyonya. Tidak heran banyak orang yang sangat menghormati Anda, tetapi... sayangnya tidak ada kata selamanya di dunia ini," ucap Ayana tanpa gentar.
Alis terukir rapih itu saling bertautan, Basima waspada apa yang hendak di sampaikan sang pelukis setelah mendengar ungkapannya barusan.
Kilatan api di masing-masing iris saling memercik satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah dan keukeuh pada pendirian.
Ingatan Ayana pun berputar pada tiga hari lalu tepat setelah syukuran Raima. Ia mendatangi apartemen Bening bermaksud untuk mengantarnya pulang sembari melanjutkan pembahasan.
Zidan pun mengizinkan sebab di kediaman mereka masih banyak sanak keluarga yang harus diperhatikan.
Setibanya di apartemen, mereka langsung masuk ke ruangan tempat Bening bekerja. Di sana sudah tersebar banyak sekali file-file yang berhasil dikumpulkan.
Sejak Ayana dan Zidan pergi liburan, saat itu pula Bening dan rekan-rekan lain mengupas tuntas mengenai dua nama yang telah sang pelukis berikan.
Ayana duduk di kursi kerja memandangi satu persatu informasi dari Bening. Kedua manik kelamnya tidak henti-hentinya melebar memindai satu demi satu fakta tepat di depannya.
__ADS_1
Ia terkejut saat mendapati kabar yang tidak pernah diketahuinya selama ini.
"Ja-jadi perusahaan Floella parfume sempat melakukan kecurangan hingga tidak ada keuntungan sama sekali?" Ayana mendongak menatap langsung lawan bicaranya.
Bening mengangguk seraya melipat tangan di depan dada.
"Pada tahun seribu sembilan ratusan, di saat tetua Ashraf ketiga sekaligus pendiri perusahaan Floella parfume meninggal, semua kekayaan diambil alih oleh istrinya yaitu Basima. Beliau yang merupakan anak satu-satunya mempercayakan semua harta kepada pasangan hidupnya."
"Tahun berganti tahun, kekuasaan yang didapatkan Basima dari mendiang sang suami semakin membutakan. Beliau gemar menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan pribadi, berpesta pora, dan hanya sibuk dengan gemerlapnya dunia."
"Tanpa tahu jika penghasilan perusahaan sempat mengalami kemerosotan dan hal itu disebabkan olehnya. Sejak saat itulah Basima menjadi wanita karier, pekerja keras. Awalnya semua baik-baik saja, usahanya tidak mengkhianati hasil dan bisa menstabilkan kembali pemasukan pada perusahaan."
"Namun, sekali lagi berkat gaya hidupnya yang serba mewah, Basima kembali gelap mata. Alhasil jalan buruk pun dilalui, kamu bisa lihat sendiri di dalam file itu dan ada rekaman juga," jelas Bening mengungkapkan penemuannya seminggu ini.
"Tetapi, kamu harus tahu di balik kesuksesan yang bisa diraih Basima ada peristiwa menyayat perasaan," lanjut Bening sekali lagi.
Ayana diam terpaku mendengarkan semua penjelasan Bening bersamaan dengan penemuannya di dalam selembar kertas dalam genggaman.
Kedua tangannya gemetar tidak percaya atas apa yang dilihatnya sekarang. Tepat di depan mata kepalanya sendiri, kata-kata beserta bukti foto, surat kematian, tertangkap pandangan.
Ditegaskan lagi dengan beberapa video yang berhasil Bening dapatkan semakin memperkuat bukti, jika sebenarnya Basima merupakan dalang di balik kejadian dua puluh tahun lalu.
Kenyataan menampar keras seorang Ayana jika selama dua puluh tahun orang tuanya pergi kini fakta mencengangkan pun terungkap.
Ternyata ayah dan ibunya meninggal bukan disebabkan oleh kecelakaan pesawat, melainkan sudah direncanakan seseorang.
Dua puluh tahun yang lalu, orang tua Ayana, Aliyah dan Anwar adalah orang kepercayaan Arshan. Mereka berdua pemegang kunci keberhasilan perusahaan parfum milik keluarga Ashraf.
Kabar burung mengatakan jika separuh kekayaan yang dimiliki keluarga mereka akan turun ke tangan Anwar berkat kerja kerasnya.
Hal tersebut menjadi cikal bakal emosi seseorang memuncak. Ia melakukan banyak cara agar harta itu tidak sampai ke tangan Anwar.
Sampai ia merencanakan hal buruk hingga perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Rahasia itu pun diketahui oleh Anwar dan Aliyah, hingga membuat keduanya mengalami nasib malang.
Sejak dulu terutama Anwar sudah bekerja di bawah naungan tetua Ashraf ketiga.
Di saat usianya masih remaja Anwar telah mengabdikan diri kepada keluarga tersebut. Tidak heran jika Arshan pun sangat percaya kepada pria itu.
__ADS_1
Dibalik usia mereka yang setara, keduanya pun memiliki kecocokan satu sama lain yaitu senang meracik parfum alami.
Bermodalkan bukti-bukti yang ada, pada keesokan harinya Ayana langsung bertandang ke kediaman utama keluarga Ashraf dan sekarang ia sudah berhadapan dengan istri mendiang tetua sesungguhnya.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan Ayana? Apa kamu datang ke sini untuk meminta pengampunan karena sudah mempermalukan keluarga ini?" ucap Basima pongah.
Ayana mendengus sebal mendengar kata demi kata tertuang dari mulut merah wanita baya tersebut.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ayana meletakan amplop cokelat berukuran A4 tepat di atas meja Basima.
Wanita itu melirik sekilas ke arah sang cucu menantu lalu menggenggam benda di hadapannya.
"Apa ini? Apa kamu sedang bermain-main?" tanyanya lagi.
"Saya ingin Anda meminta pengampunan atas apa yang terjadi," kata Ayana tegas tanpa keraguan.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Basima tergelak. Suara tawanya bergema di ruangan kedap suara yang terletak di bawah tanah.
Ruangan itu mirip seperti perpustakaan kecil di mana di sekeliling temboknya terdapat rak-rak menempel yang memperlihatkan banyak sekali buku-buku.
Aroma cendana kian menyebar di pojok ruangan, udara cukup dingin menyapu keberadaan dua wanita berbeda generasi.
Ayana mengepalkan kedua tangan melihat sorot mata cemooh dari nenek sang suami.
"Apa kamu bercanda? Apa pikiranmu sudah tidak waras, Ayana? Pengampunan? Siapa yang harus meminta dan memberikan pengampunan? Kamu sudah tidak waras," ucapnya mengulangi perkataan yang sama.
"Silakan Anda buka berkas itu," titah Ayana masih memandang lurus ke arah Basima tanpa gentar dan tanpa mengindahkan ucapannya barusan.
Wanita baya itu berdehem kasar lalu merobek penutupnya pelan mengeluarkan beberapa kertas di dalamnya.
Beberapa detik kemudian kedua manik sayu itu melebar sempurna. Tangan keriputnya gemetaran memindai setiap kata maupun foto tertuang di sana.
Melihat reaksi yang diberikan sang nenek mertua, Ayana mengembangkan senyum. Ia melangkah ke depan dan mencondongkan tubuh tepat di hadapan kedua mata Basima.
"Dua puluh tahun lalu dengan kekuasaan yang Anda punya, dua nyawa... tidak sepuluh nyawa melayang tanpa sebab. Apa Anda ingat kejadian kebakaran tekstil di Perusahaan Nakazima?"
Setelahnya Ayana berbisik lirih tepat di samping telinga kanan Basima. Sontak perkataan selanjutnya itu pun mengundang ketidakpercayaan sang nenek.
__ADS_1
Ia menoleh hingga tatapan mereka saling bertubrukan satu sama lain. Ada kilatan api lagi yang semakin ganas dalam sorot mata Ayana.
Ia kembali menyeringai tidak melunturkan semangat untuk mengutarakan kebenaran.