
Kisah yang baru saja dilambungkan oleh saksi hidup seorang Ayana bergema di ruangan.
Kejadian telah lalu tersebut menjadi pengalaman paling seram yang pernah Danieal alami. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi Ayana pada saat itu.
Setelah mendapatkan laporan dari petugas keamanan rumah sakit, Danieal dan beberapa perawat lain langsung datang ke ruang inap seratus sebelas.
Di sana mereka melihat Ayana sudah tergeletak tidak sadarkan diri seraya darah terus menetes di pergelangan tangan kiri.
Melihat hal tersebut Danieal tidak sanggup bertahan dan jatuh terduduk begitu saja. Kedua kakinya benar-benar lemas menyaksikan wanita yang beberapa bulan dalam tanggungjawabnya dalam kondisi mengenaskan.
Dibantu perawat lain Danieal pun bangun lalu beranjak dari sana menghampiri Ayana. Tidak lama setelah itu dokter senior di sana pun ikut membantu dan langsung menangani sang pasien.
Keadaan pelik yang terjadi pada saat itu bagaikan mimpi buruk dialami Danieal. Ia seperti melihat kondisi Eliza yang terbunuh secara perlahan oleh depresinya.
Ia tidak ingin melihat Ayana melalui hal sama, tetapi kenyataannya lebih parah. Wanita itu bahkan nekad mengakhiri hidupnya sendiri.
"Aku... benar-benar terpukul melihat Ayana seperti itu. Dia... sangat terluka. Namun, aku bersyukur sekarang Ayana bisa bangkit lagi menghadapi semuanya."
"Kamu tahu, setelah kejadian itu Ayana benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ia berubah menjadi wanita kuat dan mampu menghadapi setiap permasalahan apa pun."
"Berkat hidayah yang telah Allah berikan, Ayana mendapatkan pembelajaran berharga. Ia bertaubat dan menyesali perbuatannya pada hari itu."
"Kamu bisa lihat sendiri bagaimana Ayana sekarang. Dia berhasil meraih mimpinya menjadi pelukis serta dicintai oleh suami yang telah mengkhianatinya."
"Kisah hidup Ayana tidak hanya menginspirasi mu saja, Jasmine, tetapi... aku juga." Danieal berkata jujur.
Kedua maniknya berkaca-kaca merasakan kembali kepanikan serta ketakutan pada saat itu. Namun, sekarang ia bisa bernapas lega, sebab Ayana telah berubah menjadi wanita kuat.
"Aku... tidak menyangka kalau Ayana sempat mendapatkan cobaan begitu berat bahkan... hampir menghabisi nyawanya sendiri?" tutur Jasmine mengulangi perkataan Danieal.
Sang dokter mengangguk, mengiyakan. "Itu benar. Ayana bisa bangkit dan merubah keadaannya menjadi lebih baik."
"Aku yakin kamu juga bisa bangkit, Jasmine. Jangan melihat apa yang sedang terjadi, tetapi lihatlah apa yang akan terjadi setelahnya. Karena Ayana menjadi bukti, semua kepelikkan dalam hidup bisa dilalui. Karena Allah Maha Baik, Maha Penolong yang bisa membolak-balikkan keadaan setiap hamba," kata Danieal lagi.
__ADS_1
Jasmine termenung memikirkan semua perkataan yang baru saja didengar. Dadanya bergemuruh membayangkan sepelik apa kejadian nyata yang dialami Ayana.
Tentunya lebih parah, tetapi ia tidak lebih baik juga.
"Aku... memang tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, tetapi aku sempat minta pada Tuhan agar menyelesaikan urusanku di sini. Aku... tidak sanggup harus menjalani hari-hari kelam ini," ungkap Jasmine.
Dalam diam Danieal mengulas senyum, di hari kedelapan ini Jasmine mau membuka diri. Ia antuasias untuk lebih mendengarkan apa yang dialami sang pasien.
"Lalu, apa yang sudah kamu lewati selama ini sampai-sampai meminta hal itu?" tanya Danieal kemudian.
Jasmine diam sejenak, kembali menjatuhkan pandangan ke bawah. Jari jemari lentiknya saling bertautan dan meremasnya kuat.
"Sejak berumur lima tahun... aku melihat pembantaian keluargaku. Ayah dan ibu dihabisi begitu kejam oleh adik kandung ayahku sendiri. Beliaulah yang selama ini membesarkan ku selama dua puluh enam tahun."
"Beliau jugalah yang sudah memaksaku untuk membuat patung-patung. Padahal aku sama sekali tidak ingin melakukannya. Namun, setiap kali aku menolak beliau selalu mengecutku dengan pecutan terbuat dari tali tambang," ungkap Jasmine.
Danieal melebarkan kedua mata tidak percaya. Ia pikir luka-luka itu hanya ada di tangan dan kakinya saja, tetapi ada juga di punggungnya.
Bertahun-tahun ia harus mengemban tugas yang tidak disukainya memberikan dampak berarti. Ditambah kejadian dua puluh enam tahun lalu, di kala usianya lima tahun harus melihat orang terdekatnya jatuh bergelimpangan darah.
Terlebih orang tua yang disayanginya juga ikut tewas di tangan sang paman dan ia menjadi saksi hidup di sana.
Alexa tidak pernah mengetahui jika keponakan cantiknya itu menjadi saksi atas kejadian mengerikan yang pernah diperbuatnya. Ia sangat percaya diri membesarkan Jasmine dan mempekerjakannya seenak jidat.
Setelah mengatakan semua kondisi yang dialaminya selama bertahun-tahun, Danieal pun mulai memberikan terapi.
Ia berharap bantuan yang diberikan mampu merubah Jasmine menjadi lebih baik, seperti Ayana.
Ia juga menginginkan siapa pun orang yang sedang mengalami depresi ataupun trauma bisa bangkit dari luka masa lalu.
Karena bagaimanapun juga kehilangan orang tersayang akibat hal tersebut memberikan luka menganga di dasar hati seorang Danieal.
Meskipun tidak dikatakan, luka itu ada dan nyata dalam diamnya sang dokter.
__ADS_1
...***...
Ayana mengembangkan senyum lega saat mendapatkan kabar menggembirakan dari kakak angkatnya.
Danieal memberitakan jika Jasmine sudah mulai terbuka dan mau menerima terapi. Sebagai wanita yang mengalami nasib sama, Ayana benar-benar bersyukur.
Ia tidak salah membuat keputusan, meminta sang kakak sebagai dokter penanggungjawab Jasmine. Karena selama ia menanganinya di rumah sakit di Desa X, kemampuan Danieal tidak diragukan lagi.
Di kala ia bangun dari kejadian mengerikan pada saat itu, Danieal terus mendampinginya. Ia memberikan petuah demi petuah untuk menyadarkan Ayana agar tidak melakukan hal sama kedua kalinya.
Ia terus diberondong kata-kata dengan sedikit nada marah tercetus di sana. Ayana hanya diam memandang lurus ke depan dan tanpa sadar air mata bercucuran.
Ia bersyukur masih ada orang yang peduli terhadapnya serta mau mengingatkan jika perbuatan itu tidaklah baik.
Bola matanya pun melirik pergelangan tangan kiri di mana, di sana bekas luka atas kejadian kurang lebih tiga tahun lalu masih terlihat.
Satu garis panjang tepat di atas urat nadi menjadi saksi bisu seperti apa isak tangis yang telah dirinya lewati.
"Mas Danieal memang kakakku yang terbaik," gumamnya lalu membalas pesan singkat dokter tampan itu.
Seberkas cahaya harapan yang dulu sempat redup, nyatanya menghadirkan kebahagiaan berarti.
Allah menghadirkan seseorang untuk merubah kehidupannya yang kelam.
Danieal satu orang yang berhasil meraih tangannya dari kegelapan. Sosok seorang kakak yang tidak pernah ada, datang membawa secercah mimpi.
"Terima kasih mas Danieal sudah membawaku kepada kebahagiaan. Semoga mas bisa mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakan. Aku sebagai adik sambung mu mengharapkan yang terbaik untukmu. Semoga Allah memberikan yang terbaik." Pesan singkat pun terkirim membuat Danieal diseberang sana mengulas senyum lembut.
Ayana kembali memandangi pergelangan tangan sebelah kiri yang tersingkap.
Ia mengusapnya pelan dengan lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantiknya.
Bekas luka itu menandakan seberapa parah kejadian tidak menyenangkan pernah di alami seorang Ayana Ghazella.
__ADS_1