Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 6


__ADS_3

Ayana baru saja mengakhiri panggilan dengan sang kakak ipar. Ia berbalik memandangi ketiga malaikatnya tengah berkumpul bersama.


Senyum mengembang menambah kecantikan sang pelukis. Keadaan tersebut sudah sangat lama sekali ia idam-idamkan, bahkan sempat menghilang dalam bayangan.


Ia bahkan tidak terpikirkan untuk bisa kembali bersama suaminya lagi. Mimpi membangun keluarga kecil harmonis bersama Zidan kandas pasca kecelakaan merenggutnya.


Namun, tidak ada yang tahu seperti apa masa depan. Allah terlalu luar biasa dalam mendatangkan kejutan yang tak terduga.


Ayana masih tidak menyangka jika sekarang kembali lagi pada pria yang membuat kehidupannya amat sangat berantakan.


Kesakitan masa lalu memudar seiring berjalannya waktu dan juga perlakuan hangat yang diberikan Zidan mampu membangkitkan kepercayaannya lagi.


Masa lalu memang tidak bisa diubah ataupun dilupakan begitu saja, tetapi bisa dihindarkan dengan sama-sama merubah masa depan.


Bayangan akan hari itu berkeliaran membuat Ayana mengucap syukur atas apa yang terjadi sekarang.


Tidak mudah memang untuk bisa di titik sekarang, butuh perjuangan yang tidak sebentar dan banyak sekali mengeluarkan air mata.


Namun, balasannya pun sebanding dengan apa yang ia lewati.


"Terima kasih ya Allah, berkat kebaikan-Mu sekarang hamba mempunyai keluarga utuh," benaknya kemudian, mengucap syukur lagi.


"Sayang? Apa yang kamu lakukan di sana?" Zidan menyadarkannya dari lamunan.


Ayana tersentak, bergegas mendekati mereka yang berada di atas tempat tidur.


Ia duduk tepat di samping bayi kembarnya yang tengah terlelap. Wajah keduanya begitu damai perpaduan antara pelukis dan sang pianis.


Tidak lama setelah itu, salah satu bayinya menangis. Ayana langsung menggendong sang putra dan menimang-nimangnya sekilas, tetapi tangisannya tidak kunjung reda.


Ia pun memberinya asi dan membuat Ghazali menghentikan rengekannya. Sedari tadi asa sepasang mata yang terus memperhatikan pergerakan mereka.


Zidan bertumpu ke kepala ranjang terus melihat sang istri yang tengah memberikan jagoannya asi.


"Sayang... apa tidak sakit?"


Pertanyaan membingungkan itu membuat Ayana menoleh. Alisnya menukik tajam, memandangi penuh tanya sang suami.


"Apa maksudmu, Mas?" tanyanya balik.


"Iya itu, memberi asi untuk bayi-bayi kita. Apa tidak sakit? Dan juga-" Zidan menjeda kalimatnya, langsung bangkit dari setengah berbaring sambil menunjuk putranya.


"Hei-hei-hei, apa-apaan dia ini, kenapa mengisapnya begitu kuat. Gha-Ghazali, Sayang." Zidan terus mendekatkan diri pada mereka tidak sekalipun mengalihkan pandangan.


Ini pertama kalinya Zidan melihat seseorang memberi asi untuk bayi, terlebih dilakukan oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


Ia sangat terkejut kala mendapati putra pertama mengisap makanannya begitu kuat, seolah tidak ingin membaginya pada siapa pun.


Ayana yang sedari tadi memperhatikan suaminya pun, terheran-heran. Ia menggeleng singkat melihat aksi konyol sang pasangan hidup.


"Tidak sesakit yang kamu lakukan."


Jawaban Ayana sontak membuat Zidan terpaku. Dengan gerakan perlahan bola matanya bergulir memandangi kekasih hatinya menunduk, melihat pada sang malaikat kecil.


Senyum nakal pun terbit di wajah tampan sang pianis. Ia bergeser dan duduk tepat di sisi lain Ayana, penuh minat.


"Tapi kamu ketagihan kan, Sayang? Jujurlah, tidak usah malu," katanya, menggoda.


Ayana terperangah, menyikut kuat ulu hati suaminya. Sang empunya seketika mengaduh kesakitan dan setelah itu mereka tertawa bersama-sama.


Candaan serta godaan tersebut membangkitkan hubungan keduanya lebih hangat dan harmonis. Ayana maupun Zidan senang bisa berada di situasi membahagiakan tersebut.


Tidak lama setelah itu Ghazali kembali terlelap, dan bergantian dengan Ghaitsa yang tiba-tiba saja merengek.


Ayana pun memberi asi untuk putri keduanya. Ia senang melakukan itu dan merasa sempurna sebagai seorang wanita, melakukan tugas yang hanya bisa wanita saja lakukan.


Di tengah memberikan makanan untuk buah hati, Zidan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepala bersurai hitam lembut itu di bahu sempit separuh napasnya.


Ayana yang tidak keberatan pun hanya membiarkannya saja, menerima kehangatan pria tercinta.


Ketenangan serta kesyahduan yang menghinggapi mereka membuat ia dilingkupi suka cita.


Dengan jarak sedekat itu tentu saja pendamping hidupnya mendengar jelas. Zidan membuka mata lalu menolehkan melihat air muka Ayana.


"Ada apa? Kenapa kamu menghela napas seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Zidan beruntun, khawatir.


Ayana melirik sekilas dan kembali ke depan.


"Aku hanya kepikiran tentang Jasmine," ungkapnya.


"Jasmine? Memangnya dia kenapa?" tanya Zidan lagi, penasaran.


Ayana tidak langsung menjawab, memikirkan lagi dan lagi apa yang tengah terjadi pada kakak iparnya tersebut.


Sebagai sesama wanita dan juga pernah merasakan kesakitan masa lalu, Ayana merasakan firasat jika Jasmine sedang menyembunyikan sesuatu.


Namun, Ayana tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja sebelum mendapatkan kebenaran. Ia tidak ingin menuduh yang bukan-bukan sebelum mendengarnya sendiri.


Bisa saja itu hanya sebuah firasat selintas.


"Ah, tidak. Mungkin aku sedang lelah, jadi terlalu banyak yang dipikirkan," ungkap Ayana tidak melanjutkan pembahasannya.

__ADS_1


"Em, kalau begitu kamu ikut tidur dengan bayi kita, nanti aku bangunkan kalau makan malam sudah tiba," ucap Zidan memberi usul.


Ayana hanya mengangguk singkat, dirinya bisa beristirahat di waktu nifasnya.


...***...


Jasmine kembali saat langit sudah berubah gelap. Para pelayan di mansion tengah bersiap-siap hendak menyiapkan makan malam.


Jasmine yang biasanya membantu pun kali ini melewatinya begitu saja. Ia langsung bergegas ke kamar dan berharap sang suami belum bangun dari tidur.


Sayang, harapan hanyalah tinggal harapan. Baru saja ia membuka pintu, tatapan pasangan hidupnya menyambut kepulangan.


Jasmine terkejut dan sedikit mundur ke belakang, lalu setelah itu menutup pintu, kemudian berjalan mendekat.


"Ah, Mas sudah bangun? Assalamu'alaikum, aku pulang," kata Jasmine mengembangkan senyum lalu menyalami tangannya singkat.


Danieal masih memperhatikan sang istri dan memang tidak ada yang aneh, pikirnya.


"Dari mana saja kamu? Mamah bilang kamu pergi sebentar keluar, dan kamu lihat ini jam berapa?" tanya Danieal menggebu-gebu.


Jasmine melirik sekilas pada jam dinding tepat di atas kepala sang suami.


"Jam setengah enam... maaf Mas aku membeli barang-barang ini tadi. Maaf... aku terlalu senang sampai-sampai tidak sadar jika hari sudah beranjak malam. Maaf juga tidak izin padamu langsung," jelas Jasmine memperlihatkan beberapa paper bag dalam genggaman.


Danieal melihat ke arah barang-barang bawaannya lalu menghela napas pelan. Ia lalu membawa belanjaan Jasmine dan meletakkannya di bawah.


Secepat kilat Danieal memeluk pendamping hidupnya erat dan kembali menghela napas.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku? Kita bisa pergi bersama-sama membeli keperluan mu," katanya kemudian.


"Maaf, Mas terlihat lelah... jadi, aku tidak bisa membangunkan mu. Aku minta maaf," balas Jasmine terus mengulangi kata maaf.


Danieal pun mengangguk pelan. "Lain kali ajak aku. Aku juga ingin membantumu berbelanja."


"Em, lain kali aku pasti mengajakmu."


Sang dokter kembali mengangguk dan memberikan kecupan mendalam di puncak kepala berhijab istrinya.


Jasmine terkesiap, manik jelaganya melebar sempurna dengan jantung berdegup kencang.


"Kenapa jantungmu berdetak keras sekali, Sayang? Apa kamu gugup? Ini bukan pertama kalinya kita bersentuhan," ucap Danieal lagi terkekeh pelan.


Jasmine hanya merenggut dan membalas pelukan suaminya tak kalah erat.


"Aku bukannya malu... hanya saja aku tidak bisa berkata jujur padamu, Mas. Maaf... aku menyembunyikan keadaan ini. Karena... karena aku tidak ingin membuatmu kecewa."

__ADS_1


"Kalau kamu tahu... reaksi seperti apa yang akan kamu berikan? Pasti kamu sangat kecewa kan, menikahi wanita tidak berguna sepertiku?" racau Jasmine dalam benak.


Ia meremas kuat kaos bagian belakang sang suami. Danieal terbelalak merasakan perubahan signifikan sang istri yang tiba-tiba saja berbeda.


__ADS_2