
"Astaghfirullah!" Ayana berteriak heboh mengejutkan Danieal yang tengah mengingat masa-masa keduanya di Desa X.
Dokter tampan itu pun sampai terlonjak kaget mendengar perkataan sang adik.
"Ya! Kamu membuat Mas terkejut, ada apa?" tanyanya memberikan tepukan di bahu kanan Ayana.
"Aku lupa, Mas," jawabnya dengan mata membulat.
"Lupa? Apa yang kamu lupakan?" tanya Danieal penasaran.
"Aku lupa untuk mengurus makan Erina. Astaghfirullahaladzim." Masih dengan kepanikan melanda, Ayana bergegas pergi dari hadapan Danieal.
Mengingat jika hari sudah petang, dokter itu pun menyusul adiknya. Ia berjalan cepat menghalangi langkah Ayana.
Seketika itu juga sang pelukis berhenti berjalan dan memandangi kakaknya lekat.
"Apa yang Mas lakukan?" tanyanya heran.
"Apa kamu mau melakukannya sekarang? Hei, lihat ini jam berapa? Kita lakukan besok saja, Mas juga akan membantu," ucap Danieal sekilas menoleh ke samping.
Ayana pun mengikuti pergerakannya dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia menepuk dahi kuat menyadari keteledorannya sendiri dan menghela napas kuat.
"Baiklah kalau begitu aku harus siap-siap tutup galeri dan menyiapkan untuk besok," lanjutnya kemudian.
Danieal mengangguk setuju dan membantu Ayana membereskan barang-barang di sana lalu bersiap pulang.
...***...
Seperti yang dijanjikan kemarin sore, hari ini Ayana dan Danieal sudah berada di apartemen Bening. Ketiganya duduk saling berseberangan ditemani teh hangat.
Pagi-pagi sekali kakak beradik itu mengejutkan Bening yang baru selesai sarapan. Ia tidak percaya melihat dua orang tersebut mendatangi kediamannya lagi.
Ia berpikir jika Ayana dan Danieal ingin merencanakan sesuatu kembali, tetapi pikirannya melesat jauh.
"Jadi Mbak, aku ingin mengurus lagi makan Erina. Aku minta maaf baru mau melaksanakannya sekarang," kata Ayana menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ayana. Mbak mengerti bagaimana sibuknya kamu akhir-akhir ini. Mbak serahkan saja semuanya padamu," balas Bening mengulas senyum manis.
Ayana semakin merasa tidak enak, sudah memanfaatkan jenazah seorang gadis, sebagai dirinya. Namun, berkat almarhumah rencananya bisa dilakukan sebaik mungkin.
"Baiklah. Karena sudah mendapatkan izin dari Mbak aku dan Mas Danieal akan mengurusinya lagi," kata Ayana beranjak dari duduk dan hendak melangkah dari sana.
Namun, sebelum itu terjadi Bening menyelanya cepat.
"Tunggu! Izinkan Mbak ikut bersama kalian," ucapnya.
Ayana pun memandang pada Danieal yang dijawab anggukan oleh dokter tampan tersebut.
Setelah itu ketiganya pergi dari apartemen menuju makam keluarga Ashraf berada. Sepanjang jalan mereka terus bercakap-cakap membunuh waktu bersama.
Hingga kurang lebih satu setengah jam kemudian, mobil mewah yang dikendarai Danieal memasuki area makam.
Tanah luas dengan banyaknya batu nisan tertangkap pandangan. Setelah memarkirkan kendaraannya, Ayana, Danieal, dan Bening berjalan ke arah gerbang makam.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat peristirahatan Erina berada. Tidak lama berselang langkah kaki ketiganya pun berhenti begitu saja kala menangkap siluet orang lain di sana.
"Ma-Mas Zidan? Mamah, Ayah?" panggilnya satu persatu kepada ketiga orang itu.
Zidan, Lina, serta Arshan sedari tadi sudah berada di area pemakaman. Mereka datang saat mengetahui Ayana hendak mengurusi makam Erina.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Danieal kemudian.
"Aku dengar semalam dari Ayana jika kalian akan memindahkan almarhumah Erina? Kami datang ke makam bermaksud untuk membicarakan hal ini dengan kalian," jawab Zidan.
"Kami ingin almarhumah Erina tetap di makamkan di sini saja," lanjut Lina mengejutkan ketiganya.
Ayana terbelalak, menoleh ke belakang melihat kepada Danieal dan Bening bergantian. Keduanya pun melakukan hal sama dan kembali kepada keluarga Ashraf.
"Ke-kenapa? Erina bukan bagian dari keluarga kalian." Bening menyambar mendekati ketiganya.
"Em, tetapi almarhumah sudah membantu Ayana dan ... almarhumah telah menjadi bagian keluarga kami," timpal Zidan kembali.
__ADS_1
"Jadi untuk itu izinkan almarhumah tetap di makamkan di sini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya," kata Arshan kemudian.
Bening tidak kuasa membendung haru dan menangis begitu saja. Ayana langsung memeluknya erat ikut merasakan apa yang wanita sepuluh tahun lebih tua darinya ini rasakan.
"Syukurlah yah, Mbak," ucapnya lirih, Bening hanya bergumam "em" sebagai jawaban.
"Kita hanya perlu mengganti nama di nisannya saja," kata Zidan lagi.
Tidak lama berselang Zidan dan Danieal bekerja sama mencabut batu nisan sebelumnya dengan yang baru.
Nisan itu pun sudah disiapkan oleh keluarga Ashraf, Ayana tidak menyangka jika sang suami kembali melakukan hal mengejutkan lainnya lagi.
Dalam diam Ayana memandangi namanya di batu nisan sebelumnya. Iris cokelat bening itu pun tidak pernah berpaling dan terus mengikuti ke mana nisan atas nama Ayana pergi.
"Mungkin sosok diriku di masa lalu sudah benar-benar meninggal. Aku tidak mau kembali pada kejadian menyakitkan itu, tetapi ... setelah melihat kesungguhan Mas Zidan-" Bola mata bulannya bergulir memandangi sang suami yang masih berkutat dengan pekerjaan. "Aku yakin untuk memulainya dari awal lagi. Karena bagaimanapun juga kesempatan kedua patut diberikan pada dia yang berjuang sepenuh jiwa raga untukku."
"Ini pertama kali ada orang yang mau menaruhkan nyawa untuk melindungi ku. Aku ... benar-benar beruntung bisa menjadi Ayana Ghazella yang baru. Eh, tidak! Ghazella Arsyad, yah itu," benaknya terus meracau.
Beberapa saat kemudian nisan atas nama Erina Naufal lengkap dengan binti, tanggal lahir, serta tanggal wafatnya pun terpajang di sana.
Mereka lalu melakukan doa bersama untuk ketenangan sang almarhumah. Ayana tidak sadar menitikkan air mata saat teringat masa-masa bersama Erina.
Wanita itu sudah banyak berkorban untuknya, meskipun tidak secara lisan, tetapi ia menyadari ketulusan yang diberikan Erina.
"Ya Allah, berikanlah tempat terbaik untuk Erina. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi yah, Sayangku ... adikku tercinta, Erina Naufal. Terima kasih banyak sudah membantuku selama ini. Meskipun hanya bisa bertemu sesaat, tetapi kebersamaan kita sangat berharga untukku," benak Ayana mengusap pelan batu nisan di sebelahnya.
Ia pun menggenggam hangat tangan Bening yang masih mengeluarkan derai air mata. Ibu mana yang tidak terpukul menyadari putri semata wayangnya pergi untuk selama-lamanya.
Ayana menoleh dan merangkul bahu ramping wanita itu serta menangis bersama.
"Aku paham apa yang Mbak rasakan. Tidak mudah melepaskan orang yang kita sayangi pergi selamanya, aku pun pernah kehilangan seorang anak, kita sama-sama harus kuat yah Mbak," bisiknya lirih membuat Bening mengangguk perlahan.
Mereka pun saling menguatkan satu sama lain sebagai seorang ibu yang kehilangan buah hati. Makan Erina dan janin Ayana saling bersebelahan hingga membuat keduanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.
Melihat itu Zidan sangat terpukul atas kesalahan yang pernah dilakukan. Ia memandangi makam janinnya yang masih berupa gumpalan darah.
__ADS_1
"Ya Allah kesalahan yang sudah hamba perbuat memang tidak termaafkan, tetapi Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ya Rabb, maka maafkanlah hamba. Terima kasih sudah mengembalikan Ayana ke dalam kehidupan hamba. Sayang, Ayah benar-benar minta maaf," benaknya merasakan sakit teramat dalam hingga air mata pun menetes tak tertahankan.