
Ayana masih bersitegang dengan Basima di ruang bawah tanah tanpa seorang pun di antara mereka.
Manik keduanya masih saling bertatapan memancarkan aura berbeda. Aura dominan memancar dalam diri wanita terpaut usia tersebut.
Bagaikan tengah berada di medan perang, pedang mereka menghunus satu sama lain.
Keteguhan pada diri Ayana semakin tegas kala menyaksikan kepanikan dalam diamnya sang nenek. Ia terus memperhatikan Basima yang seketika menyeringai.
"Jadi, menurutmu... kamu bisa mengancam ku dengan berkas-berkas ini?" Basima melemparnya ke atas meja menghasilkan bunyi nyaring di sana.
"Apa menurut Anda ini termasuk mengancam?" tanya balik Ayana.
"Kau!" Basima geram menunjuk tepat di wajah cantik cucu menantunya seraya sedikit beranjak dari duduk.
"Jadi Anda merasa takut hanya dengan berkas-berkas itu? Apa ini ancaman bagi Anda?" Ayana terus menyulut emosi wanita baya di hadapannya.
Jari jemari Basima saling mengepal erat menahan amarah. "Jangan harap setelah ini kamu bisa lolos dari pengawasanku, Ayana. Berkas-berkas ini tidak bisa menjadi bukti apa yang sudah terjadi dua puluh tahun lalu. Apa tujuanmu datang kemari dengan membawa setumpuk sampah ini?" sarkasnya nyalang.
Aura Ayana terus bertambah semakin kuat. Sorot matanya tajam bak elang tengah memangsa buruan, kedua tangannya pun ikut mengepal nan gemetar.
Giginya saling gemelatuk menandakan emosi kian membuncah. Darah di sekujur tubuh mendidih naik ke ubun-ubun membuat kulit putihnya merah padam.
Basima yang melihat perubahannya pun menautkan kedua alis. Ia tahu Ayana tengah menahan emosi yang kapan saja bisa meledak.
Sang tetua Ashraf pun teringat apa yang tadi dibisikkan oleh Ayana. Dia mengatakan, "Anda tidak akan lolos dari kejahatan masa lalu."
"Kenapa? Ledakan saja, bukankah kamu datang ke sini untuk memuntahkan amarahmu?" tantang Basima melipat tangan di depan dada.
Ayana menutup mata rapat seraya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Di rasa perasaannya sudah lebih baik ia membuka kelopaknya lagi memperlihatkan manik bening cokelat susunya.
Kedua celah bibir ranum itu pun melengkung membentuk kurva sempurna.
"Saya tidak akan meledakkannya di sini, tetapi Anda harus menghadiri sidang yang bisa menentukan nasib Anda ke depan. Kalau begitu saya permisi... Tetua Ashraf." Ayana kembali mengulas senyum lebar membuat Basima mendidih.
Wanita baya itu pun menggebrak meja kuat menghasilkan suara berdentum sangat keras.
Udara di sekitar terasa hening dan dingin, atmosfer di antara kedua wanita beda generasi tersebut pun semakin menegang.
__ADS_1
Ayana yang menyaksikan reaksi nenek tua di depannya seperti itu terus mengembangkan senyum, kali ini sampai memperlihatkan deretan gigi-gigi rapihnya.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Ayana berbalik hendak pergi dari sana. Namun, sebelum melangkahkan kaki ia menekan mesin perekam berukuran kecil yang sedari tadi disembunyikan di balik saku gamis.
"Bagaimanapun juga kalian harus bisa menghabisi orang yang mempunyai informasi itu. Saya tidak mau mereka terus berkeliaran dan menjadi ancaman. Lambat laun, mereka pasti akan membongkar jika perusahaan hampir gulung tikar."
"Apa yang harus kami lakukan, Nyonya?"
"Habisi mereka, kalau perlu jangan sampai orang tahu keberadaannya, sekalipun sudah menjadi mayat."
"Baik Nyonya akan kami selesaikan. Anda jangan khawatir semua pasti beres, kita akan menjalankan tugas ini dengan baik dan orang-orang menyangka mereka hanya mengalami kecelakaan."
"Bagus, saya suka mendengarnya. Kerjakan dan jangan sampai mengecewakan."
"Baik Nyonya Basima, kami akan segera menjalankannya."
Rekaman itu pun selesai berdengung di ruangan kedap suara. Seketika hening menyambut, tidak ada sepatah kata terdengar bagaikan tertelan alam.
Secara perlahan kepala berhijab hitam di depan Basima menoleh ke belakang. Seringaian yang begitu lebar membuatnya selangkah mundur ke belakang.
"Anda tahu siapa korban yang ada dalam percakapan barusan? Salah satu dari mereka adalah orang tua saya!" Mendengar perkataan terakhir Ayana, Basima lagi dan lagi terbelalak.
"Burung tidak bisa selamanya terbang bebas, suatu saat nanti ia akan terjebak. Entah itu berakhir dalam sangkar emas, atau di penjara menyakitkan," lanjut Ayana.
Degup jantung Basima bertalu kencang, aliran darahnya seketika memompa ke sekujur tubuh membuat kedua kakinya tidak bisa menopang berat badannya sendiri.
Sedetik kemudian pertahannya rubuh dan limbung kembali ke kursi kerja. Seraya mencengkram dada bagian kiri kuat, Basima memandang tidak percaya pada Ayana.
"Jadi, pastikan Anda untuk datang ke persidangan nanti. Selamat tinggal, sampai jumpa lagi." Senyum terakhir Ayana hari itu mengundang anak panah tak kasat mata menghujani ulu hati.
Basima sesak napas dan memanggil para pelayan menggunakan bel darurat untuk datang.
Di tengah perjalanan, Ayana bertemu dengan beberapa pelayan yang bersinggungan dengannya. Langkah kaki penuh percaya diri itu membuat hentakan sepatu boots nya bergema di sana.
"Kali ini bukan lagi permainan yang hadir di antara kita. Melainkan aku yang akan menjadi peran utama dalam kisah kalian. Nikmatilah kebebasan yang kalian miliki sekarang, saatnya aku membawa kebenaran untuk keadilan ayah dan ibu," monolognya dalam benak sembari memandang ke belakang di mana pintu kayu jati ruangan tertutup rapat.
...***...
__ADS_1
"Apa katamu nenek sakit? Baiklah, aku segera ke sana."
Zidan yang baru saja mendapatkan kabar dari salah satu maid di kediaman besar sang nenek pun terkejut.
Pasalnya selama ini Basima tidak pernah mengeluh sakit ataupun sampai di rawat. Hal itu tentu saja membuatnya sangat khawatir.
Ia bergegas pulang dan membatalkan rapat. Ia pun langsung membawa Raima dari pengasuh yang dirinya sewa sehari.
Di tengah jalan ia bertemu Kirana dan menjelaskan jika tetua Ashraf sedang jatuh sakit. Wanita itu pun mengulurkan tangan untuk membantu menggendong Raima.
Mau tidak mau Zidan menyetujui usul sang model membuat mereka berdua bertandang ke kediaman mansion keluarga utama Ashraf.
Sesampainya di sana Zidan, Kirana, beserta Raima disambut Mega. Wanita yang tengah berbadan dua itu menjelaskan bagaimana kondisi sang ibu.
"Nenekmu sedari tadi berbaring di tempat tidur, dia terus memanggil-manggil namamu," jelasnya di sepanjang menuju kamar Basima berada.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa nenek sampai jatuh sakit?" tanya Zidan penasaran.
"Aku dengar dari para maid, nenekmu tiba-tiba saja pingsan di ruang bawah tanah. Kamu tahu sendiri mamah suka bekerja dari sana, dan juga-" Ia menjeda ucapannya tepat di depan pintu kamar Basima.
"Aku dengar Ayana datang dan kejadian itu bersamaan dengan kepergian istrimu. Apa jangan-jangan Ayana menjadi faktor utamanya?" bisik Mega kemudian.
Zidan menautkan alis tidak mengerti, seingatnya tadi Ayana mengatakan ingin menyelesaikan lukisan dan tidak bilang hendak datang ke mansion.
Ia semakin bingung tanpa menjawab pertanyaan sang bibi.
"Ah, kalau begitu cepat segera temui nenekmu," lanjut Mega mendengar rintihan ibunya lagi.
Zidan pun mengangguk lalu menarik handle pintu dan membukanya lebar. Ia masuk ke dalam di susul oleh Kirana yang membuat Mega tersadar.
"Eh, kamu bersama dia?" tunjuknya menyadari keberadaan wanita itu.
"Ah, saya minta maaf Nyonya harus ikut datang. Karena Nona kecil Raima tidak ada yang memegang," jelasnya kemudian.
"Baguslah kalau begitu, ibunya memang selalu memikirkan diri sendiri."
Mega pun ikut bergabung bersama mereka menjenguk Basima yang masih berbaring di tempat tidur dengan infus menancap di pergelangan tangannya.
__ADS_1