Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 21


__ADS_3

Mengalah bukan berarti kalah dan menyerah bukan berati dikalahkan oleh keadaan. Namun, semua itu sebagai bukti bahwa kita pernah berjuang.


Terus menapaki jalannya kehidupan hingga sampai ke titik terakhir. Lalui, syukuri, serta bersabarlah dalam melewati semua kejadian yang menimpa. Karena melalui itu semua terdapat hikmah yang bisa didapatkan.


Hasilnya serahkan saja pada sang penentu kehidupan. Allah telah menuliskan takdir masing-masing setiap hamba-Nya.


Apa pun yang terjadi itu pasti terbaik. Karena Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya begitu saja, terutama dalam keadaan terpuruk.


Allah memiliki sifat Al Adl, memberikan sesuatunya dengan sangat adil.


Akan ada masa di mana kondisi seseorang bisa berubah. Entah itu lebih baik atau sebaliknya, tergantung apa yang diperbuat dan ketobatan seseorang.


Kondisi yang dialami Jasmine saat ini membuat pasangan itu pun diam seribu bahasa. Mereka duduk di sofa, di ruang santai bersama keluarga besar.


Sejak kepulangan dari rumah sakit, Danieal, Jasmine, Ayana, maupun Zidan tidak ada yang mengatakan sepatah kata saja. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar pada orang tua.


Celia, Adnan, Ayana, dan Zidan duduk berdampingan di hadapan mereka, sedangkan Lina, Arshan, serta Gibran sudah pulang setelah menidurkan bayi kembar menggemaskan itu.


Sedari tadi Ayana maupun Zidan diam tidak membiarkan pasangan kakaknya saja yang mengungkapkan semuanya.


Rasa penasaran kian merebak kala ekspresi yang diperlihatkan pasangan tersebut sangat tidak mudah dibaca. Celia dan Andan saling pandang lalu mengangguk singkat, seolah mengatakan salah satu dari mereka harus angkat bicara.


"Apa ada sesuatu yang salah? Sejak dua puluh menit lalu, kalian terus saja menutup mulut," kata Adnan membuka suara, sebagai kepala keluarga tertua di sana.


Danieal langsung membalas tatapan sang ayah yang memberikan sorot mata penuh tanya. Ia lalu beralih pada ibunya yang juga memberikan ekspresi sama.


Dokter tampan itu menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Mau tidak mau ia memang harus mengatakan yang sebenarnya mengenai kondisi sang istri.


Ia melirik Jasmine sekilas dan beralih sepenuhnya pada orang tuanya lagi.


"Jasmine... saat ini sedang mengandung, tetapi Bintang mengatakan jika... kandungannya ini sangat rawan akan resiko, mengingat Jasmine mengidap PCOS. Ada kemungkinan bayi kami berat badannya besar, mengalami darah rendah, sampai resiko keguguran," jelas Danieal sendu.


Mendengar penjelasan putra pertamanya, Celia maupun Adnan melebarkan pandangan. Keduanya memandangi satu sama lain membaca sorot mata masing-masing.


Kedua dokter senior itu mengerti dan memahami akan kondisi yang diucapkan sang putra mengenai menantunya.


Tidak lama setelah itu Celia bangkit lalu berjalan menghampiri menantu wanitanya. Ia duduk di samping Jasmine dan menggenggam tangannya kuat.


"Sayang, apa keputusanmu?" tanya Celia begitu saja.

__ADS_1


Jasmine menunduk menyembunyikan wajah muramnya singkat dan kembali mengangkat pandangan, membalas tatapan lembut sang ibu mertua.


"Anak ini titipan dari Allah, maka dari itu aku akan tetap melahirkannya, apa pun kondisinya nanti. Karena bagaimanapun dia adalah darah daging ku juga Mas Danieal. Aku yakin anak ini menjadi sumber kebahagiaan kami," jelas Jasmine kemudian.


Keharuan seketika merebak di hati masing-masing mendengar ungkapan hati Jasmine. Wanita itu mengulas senyum lembut sembari air mata mengalir tak tertahankan.


Celia langsung memeluk menantunya erat seraya mengelus pundak ramping Jasmine berkali-kali.


"Em, Mamah setuju. Kamu tenang saja, kita semua pasti akan membantu mu, apa pun yang terjadi itu pasti terbaik," gumam Celia menenangkan.


Melihat pemandangan menyejukkan tepat di depan mata kepalanya sendiri, memberikan ketenangan berarti di hati Ayana.


Ia senang, kakak iparnya memiliki hubungan kuat dengan sang ibu. Meskipun saat ini masih dilanda ujian hebat, tetapi Ayana yakin jika di balik itu semua terdapat hikmahnya.


...***...


Ayana sudah berada di kamar yang biasa dirinya tempati saat menginap di rumah sang ibu. Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik itu, menyaksikan putra-putrinya tidur dengan lelap.


Napas tenang Ghaitsa dan Ghazali begitu menyejukkan pandangan. Ayana duduk di samping tempat tidur, senang melihat wajah tampan nan cantik keduanya.


Di tengah ketenangan, Ayana dikejutkan dengan seseorang membuka pintu kamar. Ia menoleh ke belakang dan melihat kakak iparnya berada di ambang pintu.


"Bisa aku bicara sebentar denganmu?" pinta Jasmine kemudian.


Ayana menoleh kembali ke tempat tidur menyaksikan kedua buah hati masih tertidur begitu lelap. Ia menarik diri lagi membalas iris cantik di hadapannya.


"Tentu, di mana kita akan bicara?" tanya balik Ayana.


"Ruang baca," balas Jasmine lalu melangkah kaki.


Ayana menutup pintu pelan dan mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menuruni tangga dan terus menelusuri lorong panjang untuk sampai ke ruangan yang terletak paling ujung.


Tidak lama setelah itu keduanya tiba di ruang baca. Seketika aroma manis tertangkap indera penciuman. Ayana mengerutkan dahi lebarnya sambil terus membawa diri masuk ke dalam.


Sesampainya di sana manik jelaga Ayana menangkap berbagai macam makanan pencuci mulut di atas meja. Mulai dari cake, cup cake, sampai cookies, tersaji rapih di sana.


Dilengkapi dua gelas susu hangat mendampingi makanan manis itu, uapnya meliuk ke sana kemari tertiup angin.


Ayana terkesima, bibir ranumnya terbuka sambil terus berjalan menghampiri meja di tengah ruangan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di sini? Siapa yang membuat semua ini?" tanyanya masih memandang makanan di meja.


Jasmine yang sedari tadi menyaksikan reaksi adik iparnya mengembangkan senyum, senang.


"Ini semua buatan ku," ungkapnya singkat, menarik atensi sang lawan bicara.


Ayana langsung berpaling pada kakak iparnya sembari melebarkan pandangan.


"A-apa? Buatan kamu? Kapan kamu membuat semua ini?" tanya Ayana beruntun.


Jasmine kembali melengkungkan kedua sudut bibir dan berjalan mendekati Ayana. Ia menggenggam lengannya pelan dan menariknya duduk di sofa.


"Saat kamu pindah dari sini aku belajar membuat semua ini. Untuk mengisi waktu luang dan supaya tidak terpikirkan penyakit ini, aku belajar membuat kue. Kemarin aku membuatnya lagi dan ingin menghadiahkannya padamu. Aku harap kamu suka," jelas Jasmine kemudian.


Ayana tidak bisa berkata-kata, senang tak terkira mendapatkan kejutan tak terduga seperti ini.


"Maa sya Allah, memang harus melakukan banyak kegiatan untuk melupakan rasa sakit. Terima kasih banyak, aku senang sekali. Terima kasih Jasmine," ucap Ayana.


Ia menyendok cheese cake kesukaannya lalu memasukan sepotong makanan manis tadi ke dalam mulut. Ia membeku, manik jelaganya melebar, dan perlahan menoleh ke samping kanan.


Jasmine tergelak seketika menyaksikan kelakuan Ayana.


"Apa rasanya tidak seenak itu?" ucapnya kemudian.


Ayana langsung menggelengkan kepala beberapa kali dan mencabut sendok yang masih berada di dalam mulut.


"Tidak-tidak-tidak... tidak seperti itu. Makanan ini... cheese cake buatan mu sangat enak sekali. Mengingatkan ku pada mendiang mamah. Karena dulu mamah selalu membuatkan ku makanan ini, terima kasih," ungkap Ayana senang dengan kedua mata berkaca-kaca.


Jasmine terkesiap, tidak percaya mendengar perkataan adik iparnya.


"Be-benarkah? Benarkah seperti itu? Aku senang kamu menyukainya, maaf aku mengingatkanmu pada almarhumah," sesal Jasmine.


"Tidak Jasmine, tentu saja tidak seperti itu. Aku senang... sungguh senang kamu mau menyiapkan semua ini untukku. Terima kasih banyak, Jasmine aku menyukainya. Aku jadi bisa mengungkapkan rasa rindu pada mamah dengan makanan ini, terima kasih," ucap Ayana jujur dan kembali mengungkapkan terima kasih.


Jasmine terharu dan menganggukkan kepala singkat.


"Em, syukurlah aku senang mendengarnya," balasnya kemudian.


Lalu setelah itu Ayana menikmati segala hidangan yang terjadi di depan mata. Ia hanyut dalam euforia dalam berbagai rasa di makanan manis tersebut.

__ADS_1


Sesekali ia menoleh pada Jasmine dan kembali mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Ia sangat bersyukur sang kakak ipar menyiapkan semua itu untuknya.


__ADS_2