Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 73


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membanggakan selain bisa memberikan pertunjukan terbaik di hadapan orang penting di negaranya.


Zidan Ashraf senang sekaligus gembira bisa menyelesaikan tugasnya di istana putih. Ia berjalan menikmati pesta yang masih berlangsung meriah.


Ia juga bertemu dengan Bagas Prakasa yang langsung menyambutnya hangat. Mereka berbincang-bincang, membicarakan banyak hal.


"Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Bagas, terima kasih sudah mengundang saya," kata Zidan menyambut kedatangan sang tuan rumah, antusias.


Bagas tertawa sekilas lalu menepuk lengannya singkat.


"Seharusnya saya yang berterima kasih. Karena pianis ternama negara kita bisa menyempatkan waktunya tampil di istana ini," balasnya ramah.


"Ah~ tidak Tuan. Justru, saya sudah lama ingin tampil di sini dan di hadapan Anda. Saya dengar Anda senang musik klasik sejak kecil?"


Pertanyaan yang Zidan cetuskan tadi seketika mengubah ekspresi Bagas. Air mukanya berubah menjadi dingin memudarkan senyum yang sedari tadi bertengger di wajah tuanya.


Hal tersebut tentu saja memberikan tanda tanya besar pada Zidan. Ia takut sudah salah bicara.


"Tuan... apa Anda tidak apa-apa?" tanya Zidan lagi mengejutkan.


"A... iya tentu saja, saya tidak apa-apa. Saya hanya terkejut dari mana kamu mendengar semua itu?" tanyanya balik seraya kembali memberikan kekehan.


Zidan bernapas lega mendengarnya. "Owh, saya mendengarnya secara kebetulan," balasnya lalu ikut terkekeh semakin menambah keakraban.


Mereka pun terus berbincang-bincang hangat seputar karier Zidan. Diam-diam pria tua itu melihat ke lantai dua masih tidak ada pergerakan apa pun.


Ia penasaran, sangat penasaran sampai-sampai tidak bisa menahannya.


"Apa tidak ada yang terjadi? Aku harus segera ke sana," benaknya dalam diam.


Di lantai dua, Ayana sudah tiba di sana sekitar sepuluh menit lalu. Ia terus berjalan di lorong yang panjangnya hampir mengelilingi area itu.


Bola cokelat susunya mengitari kedua tembok menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri melihat banyak sekali lukisan tersusun rapih.


Kedua kaki rampingnya terus melangkah merasakan sepi yang menusuk saat terus mencapai pertengahan jalan.


Ia gugup, benar-benar gugup kala tidak ada terdengar suara apa pun di sana. Sampai panggilan seseorang mengejutkannya.


"Hei! Ayana kamu di mana?" Bening berteriak di balik earphone seketika membuatnya tercengang.


Ayana berhenti dan bersandar pada tembok, mencoba menenangkan diri. Ia lalu kembali melihat sekeliling sebelum menjawab pertanyaan Bening.


"Aku ada di lantai dua, mbak. Di sini tidak terlihat satu orang pun, juga... banyak sekali lukisan terpajang... ya Allah-"

__ADS_1


"Ada apa Ayana? Apa yang terjadi?" tanya Bening lagi.


"Banyak lukisanku juga di sini," jelasnya.


"Kamu tunggu di sana, Jasmine akan segera datang. Aku sedang melihat tempatmu sekarang, kamu masih menggunakan pin itu kan?"


Pertanyaan Bening barusan mengingatkannya, Ayana menunduk ke bawah dan melihat pin berbentuk bintang tersemat di hijabnya.


"Iya aku masih mengenakannya. Mbak lihat kan? Lorong ini sangat panjang?" Tangan rampingnya terulur memberikan kode agar Bening bisa tahu.


"Iya aku melihatnya dengan jelas, lukisan yang kamu katakan tadi juga... terlihat jelas sekali. Hati-hati, Jasmine akan segera tiba," jawab Bening melihat keberadaan Ayana lewat tablet yang terhubung langsung dengan pin yang dikenakan sang pelukis.


Pin itu tersemat kamera kecil untuk mendapatkan informasi akurat secara diam-diam.


"Baiklah, aku mengerti. Aku-"


Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja tembok yang sedang ia sandari berbalik membawanya masuk.


Sedetik kemudian tembok itu kembali seperti semula dan hanya memperlihatkan lukisan yang tersemat di sana bergoyang ke sana kemari.


Jasmine yang kebetulan sampai di sana melihat itu dan bergegas memeriksa.


"Ayana?" gumamnya meraba-raba area sekitar.


"Tenang, jangan gegabah, tenanglah. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Bismillah, ada Allah Ayana. Jangan takut, jangan berpikiran macam-macam. Kamu-"


"Oh lihat siapa ini?"


Suara seseorang mengejutkan Ayana yang tengah bermonolog dalam diam seraya menutup mata rapat. Ia sangat terkejut kala tembok tadi berbalik secepat kilat seolah menyedotnya ke dunia lain.


Perlahan kelopak mata yang semula menutup terbuka menampilkan kembali sepasang iris cokelat beningnya.


Remang-remang Ayana bisa menangkap siluet seseorang di hadapannya. Seketika itu juga degup jantungnya bertalu tak karuan kala dengan jelas siapa orang yang tengah ada di sana.


Ia bisa merasakan sekujur tubuhnya mati rasa seolah tidak bisa menggerakkan barang satu jari pun. Lidahnya langsung kelu melihat siapa orang berdiri tidak jauh dari hadapannya.


"Benar katamu seminggu lalu, jika tuan Bagas Prakasa adalah dalang dari semuanya!" kata Bening di balik earphone lagi.


Ayana hanya diam tidak memberikan respon apa pun. Bening yang berada di tempat lain pun mengerti dan sama-sama terkejut saat melihat pria tua itu berada di hadapan sang pelukis.


"Tu-Tuan Bagas?"


"Tidak! Tuan Bagus Prakasa?" Panggilnya melebarkan pandangan pria nomor satu tersebut.

__ADS_1


Sedetik kemudian suara tawanya menggelegar di ruangan. Diam-diam Ayana melihat-lihat tempat apa yang tengah didiaminya saat ini.


Ia melihat ada tempat tidur besar dengan lima boneka di atasnya, ada juga beberapa lukisan terpajang di tembok batu bata merah, jauh dari kesan modern.


Di hadapan tempat tidur itu terdapat tungku perapian, di atasnya terpajang kepala rusa dengan tanduk begitu besar.


"Ternyata kamu sudah mencari tahu siapa aku? Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk saling berkenalan, bukan?" kata pria tua itu yang memiliki nama asli Bagus Prakasa mengejutkan Ayana.


Sang pelukis kembali menatap padanya yang tengah mengembangkan senyum penuh makna. Hanya melihat sekilas saja Ayana tahu jika Bagus tengah memikirkan sesuatu.


"Apa yang sedang Anda mainkan? Apa-"


"Oh sungguh wanita yang sangat pandai. Tidak heran kamu mendapatkan banyak penghargaan, sebagai pelukis pendatang terbaru, seniman wanita berbakat, dan lain sebagainya."


"Oh, bagaimana aku harus mengingatkannya yah?"


Bagus berjalan beberapa langkah ke depan hingga jarak mereka begitu dekat.


Bening yang melihatnya di layar tablet merasa was-was tak karuan. Entah kenapa pikiran negatif terus berkeliaran dalam diam saat melihat senyum pria tua itu.


"Ayana," benaknya khawatir.


Sampai firasat buruk pun benar-benar datang. Layar tabletnya tiba-tiba berubah kusut seperti ada yang mematikan kamera di ujung sana.


Bening terbelalak lebar dan berdiri dari tempatnya berada. Sedari tadi ia terus mengawasi Ayana maupun Jasmine di taman bunga dengan beberapa rumput menjulang tinggi yang dipangkas rapih menyembunyikan keberadaannya.


Ia berdiri dari sana hendak menyusul mereka, tetapi di tengah jalan Bening di hadang oleh beberapa pria berpakaian jas hitam.


"Mati aku," bisik nya.


"Seharusnya aku setuju dengan Jasmine dan Ayana untuk membawa pistol. Kenapa mereka tidak mengingatkanku dengan situasi buruk ini? Ish!" celotehnya menundukkan kepala.


Dengan gerakan pelan-pelan Bening menarik kaki ke belakang dan seketika lari tunggang langgang dari mereka.


Para pria itu pun tentu tidak membiarkan Bening begitu saja. Mereka mengejar ke mana Bening melarikan diri.


Di tempat berbeda, Ayana terkejut sangat tidak menduga jika Bagus menarik pin yang tersemat di hijabnya. Manik jelaga itu melebar sempurna kala pria tua tersebut memamerkan benda kecil tadi di hadapan sang pelukis.


"Apa kamu tidak tahu jika di ruangan ini terpasang inframerah untuk mendeteksi siapa saja orang lancang yang membawa benda semacam ini?"


Bagus melemparkan pin ke lantai dan langsung menginjaknya menjadi remuk redam. Ayana diam membisu tidak bisa berbuat apa-apa saat pria tua itu mengetahui letak kameranya.


"Ya Allah, bagaimana ini?" benaknya gamang sekaligus was-was.

__ADS_1


__ADS_2