Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 41


__ADS_3

Awan kelabu sedari tadi tidak hilang di atas cakrawala. Sudah berhari-hari bintang maupun bulan enggan keluar dari persembunyian.


Udara pun semakin dingin dan angin berhembus perlahan. Keadaan tersebut membuat orang-orang lebih memilih berada di dalam rumah menikmati waktu bersama keluarga.


Tidak berbeda jauh dari yang lain, keluarga besar Ashraf pun kembali mengadakan pertemuan. Mereka duduk di meja makan berbentuk persegi panjang cukup untuk setiap anggota keluarga.


Hidangan demi hidangan tersaji di sana menggugah selera. Beberapa pelayan nampak sibuk mempersiapkan semuanya untuk para tuannya.


Seolah ada hari besar, mereka memasak makanan serba mewah dengan bahan-bahan terbaik. Aroma dari masakan itu pun semakin membuat perut keroncongan.


Namun, mereka masih mempertahankan tatakrama untuk tidak langsung makan begitu saja. Banyak aturan yang harus dilewati agar terlihat sopan.


Di saat tertua Ashraf mempersilakan mereka makan, barulah suara sendok dan garpu itu bergema di sana.


"Kenapa kamu membawa model mu lagi, ke mana istrimu?" tanya salah satu anggota keluarga menarik atensi.


Semuanya mengarah pada Zidan yang tengah menikmati daging asapnya. Ia mendongak memperhatikan satu persatu anggota keluarga.


Ia sadar tidak baik jika harus membiarkan Kirana pulang setelah membantunya. Ia pun mengajak serta Kirana untuk ikut makan malam bersama keluarganya.


Melihat kedatangannya Basima maupun Mega nampak senang, berbeda halnya pada Ayana dan Zidan cukup sadar akan hal itu.


"Ah, A-Ayana, dia-"


"Pasti wanita itu so sibuk lagi. Kenapa sih dia tidak pernah mementingkan keluarganya sendiri? Apa dia tidak tahu jika hari ini... hari peringatan kakekmu meninggal?" sambar Mega cepat.


"Wanita itu bisanya mempermalukan keluarga saja. Tanpa memikirkan perasaan suaminya, apa jangan-jangan dia memang tidak pernah tulus mencintaimu, Zidan. Sudahlah buat apa mempertahankan wanita seperti itu?" Basima pun ikut menimpali.


"Sudahlah Mah tidak usah memperkeruh keadaan. Mungkin Ayana tidak bisa datang... karena benar-benar sibuk, iyakan Zidan?" kata sang ayah membela.


Zidan hanya mengangguk berusaha menahan emosi. Ia sendiri pun tidak tahu ke mana istrinya pergi, sepanjang perjalanan tadi ia berusaha menghubungi Ayana, tetapi wanita itu tidak menjawab satu pun panggilannya.


Jika ia menjelaskan keadaannya seperi itu, maka situasi di sana akan semakin memanas.


Rasa khawatir, cemas, dan takut pun terus merundung diri. Zidan tidak tahu apa yang sedang dilakukan Ayana di luaran sana.

__ADS_1


Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi, mengingat Ayana sudah mengetahui siapa dalang di balik kematian orang tuanya.


Hatinya berbisik lirih, takut Ayana melakukan hal nekad yang di luar nalar. Namun, ia masih berusaha sadar jika tidak mungkin sang istri bertindak gegabah yang membahayakan diri sendiri. Zidan cukup tahu bagaimana pasangan hidupnya saat ini.


Di tengah ketegangan tersebut, pintu ruang makan digeser perlahan. Sontak suara itu menarik perhatian semua orang di sana.


Mereka terkejut mendapati Ayana Ghazella atau Ghazella Arsyad berdiri sembari mengembangkan senyum ke semua anggota keluarga.


Sembari meremas handle tas tangannya, Ayana membalas tatapan mereka hingga jatuh pada Kirana yang masih menggendong Raima.


"Assalamu'alaikum semuanya, maaf saya datang terlambat," ucapnya begitu saja.


Manik bulan itu masih memandangi Kirana yang tengah duduk tepat di samping suaminya. Bibir ranum itu melengkung sempurna memperlihatkan makna berbeda.


Ingatannya pun berputar ke beberapa saat lalu di mana pertemuannya di Kota V sangat menarik perhatian.


...***...


Ayana dan Bening bangkit dari kursi mendapati Ihsan benar-benar datang ke sana. Pria berusia tiga puluh dua itu pun memandangi mereka bergiliran.


"Iya saya, senang bertemu dengan Anda lagi, Tuan Ihsan," balas Ayana membuat Ihsan menautkan alis dalam.


"Siapa kalian sebenarnya? Mau apa kalian dariku? Kalian tidak ada hubungan apa pun dengan semua ini," cerocosnya berusaha memasang tameng melindungi diri.


Ayana dan Bening saling pandang lalu mendengus pelan. Sang pelukis pun melipat tangan di depan dada seraya berjalan beberapa langkah ke depan.


"Ihsan Rauf, putra pertama dari pasangan Intan Rauf dan Rayan Rauf merupakan wali kota baru Kota V. Lulus dari universitas bergengsi di luar negeri membuat namanya melambung tinggi. Namun, sayang satu cacat yang dilakukannya, yaitu memiliki seorang putri di luar nikah."


"Bahkan ia juga pernah berkhianat dengan sahabat mendiang tunangannya Eliza Arsyad." Ayana menyeringai melihat reaksi Ihsan yang terdiam bak bongkahan es.


"Si-siapa kalian sebenarnya? Mau apa kalian mendatangiku, hah? Apa kalian mencari tahu tentangku? Kenapa? Ada salah apa aku pada kalian?" Ihsan panik kartu AS-nya terbongkar orang lain yang tidak pernah ada hubungan apa pun dengannya.


"Anda memang tidak mempunyai salah apa pun, tetapi keadaan mengharuskan Anda berurusan dengan kami. Memang benar, kami sudah mencari tahu siapa Anda sebenarnya, Tuan Ihsan. Kami datang ke sini ingin meminta bantuan Anda," balas Bening yang ikut berjalan mendekat ke arahnya.


Sontak mendengar hal itu kedua alis tegas sang wali kota pun kembali saling bertautan. Ia kembali menatap Ayana dan Bening bergantian yang tidak ada sedikit keraguan dalam sorot matanya.

__ADS_1


"Bantuan? Bantuan seperti apa yang kalian inginkan?" tanyanya balik.


"Mudah, Anda hanya perlu menemui wanita ini dan mengambil alih putri kalian atau... Anda harus bersaksi atas kejahatan seseorang dua puluh tahun lalu," jawab Bening lagi seraya mengacungkan dua foto yang membuat iris Ihsan membulat lebar.


"A-apa?" gugupnya terkejut, kedua wanita itu tidak hanya memegang kartu AS-nya melainkan benar-benar menggenggam kehidupannya.


"Dia adalah Ayana Ghazella, Ghazella Arsyad. Apa nama belakangnya mengingatkan Anda pada seseorang? Ah, benar tadi Ayana sudah menyebutkan namanya," ucap Bening lagi.


Ihsan terdiam kembali membeku seraya memandangi Ayana lagi.


"Saya anak angkat keluarga Arsyad... pengganti sosok Eliza yang akan mengembalikan rasa sakit saudari saya kepada Anda. Bertahun-tahun kalian menyakiti Eliza yang begitu tulus mencintai dan menyayangi kalian."


"Tetapi, dua orang yang sangat dicintainya menusuknya dari belakang, sampai beliau meninggal pun kalian tetap berhubungan tanpa rasa bersalah." Ayana mendengus kasar memandang lekat sosok di hadapannya. "Dan yang lebih buruknya lagi kalian mempunyai anak bersama," jelas Ayana sekali lagi.


Sebelum menemui Ihsan di Kota V, ia dan Bening lebih dulu mendatangi Celia untuk mencari tahu lebih jauh mengenai pengkhianatan mereka.


Sambil menangis tersedu sedan, Celia menceritakan semua yang dirinya ketahui. Sampai ia pun mengatakan hal yang membuat Ayana tercengang.


Bertahun-tahun Celia menyimpan fakta itu sendirian. Ia mencari tahu siapa itu Ihsan Rauf dan mendapatkan bukti yang mengarah pada anak angkatnya.


Ia juga terkejut jika semuanya saling berhubungan.


Ayana pun tidak pernah menyangka semuanya bisa sinkron satu sama lain. Namun, itu sudah menjadi garis yang telah Allah persiapkan.


Hal tersebut pun semakin menguntungkannya untuk membongkar semua kebusukan orang kaya di negara mereka.


Ia tidak bisa terus membiarkan pelaku berkeliaran begitu saja. Ia yang menanggung rasa sakitnya, Ayana yang menyimpan beban berat sampai pada akhirnya harus hidup dalam bayang-bayang bunga air mata.


Seraya mengepal kedua tangan, Ayana mendongak kembali mencari sepasang manik kelam sang wali kota.


"Dua puluh tahun lalu, Anda berada di lokasi kejadian, kan? Perusahaan Nakazima, berada dalam naungan keluarga Rauf, bukan? Anda memang bukan pelaku, tetapi... Anda adalah saksi hidup yang disembunyikan tetua Ashraf untuk tidak terhendus oleh siapa pun."


"Apa maksud Anda?" tanya Ihsan masih tidak mengerti.


Mendengar itu Bening pun langsung menayangkan sebuah rekaman yang mencengangkan. Ihsan melihat ke arah proyektor memperlihatkan adegan yang seketika membuat ingatannya berputar pada hari itu.

__ADS_1


Ia menutup mulut menganganya kuat melihat hal tersebut yang sudah berlalu sangat lama.


__ADS_2