Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 5


__ADS_3

Zidan yang baru saja tiba terkejut saat mendapatkan kabar jika Ayana akan menginap di galeri.


Ia pun langsung menghubungi sang istri dan terkesiap saat mendengar alasan jika dirinya menemani seseorang yang baru saja mendapatkan kemalangan.


Mau tidak mau Zidan pun mengizinkan, meskipun harus sedikit berdebat. Karena ia bermaksud untuk menyusul Ayana dan menemani mereka di sana.


Namun, dengan cepat istrinya mencegah guna meminimalisir ketakutan pada korban. Setelah berhasil meyakinkan suaminya, Ayana pun diperbolehkan menginap.


"Aku pagi-pagi sekali akan datang ke galeri, tunggu aku!" kata Zidan di balik ponsel.


"Baiklah, Mas jangan khawatir semuanya terpantau. Mas juga bisa melihatnya," jelas Ayana kemudian.


Zidan di seberang sana pun mengiyakan lalu setelah itu panggilan berakhir.


Ayana menoleh ke belakang mendapati Jasmine tengah memandanginya penuh minat. Sang pelukis mengembangkan senyum seraya berjalan mendekat.


"Aku baru saja menghubungi suamiku, takut dia khawatir," jelas Ayana duduk di sebelahnya lagi.


"Aku pasti sudah mengacaukan kalian, maaf Ayana," sesal Jasmine menyembunyikan wajah bersalah.


"Tidak Jasmine, kamu tidak usah minta maaf. Suamiku... dia orang yang pengertian. Dia pasti memahami keadaan kita," ungkapnya kembali.


Jasmine hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata. Di dalam kepalanya begitu riuh dengan berbagai permasalahan menimpa.


Ia tidak menduga bisa kabur dari sangkar kelam milik seorang pria kejam. Ia juga tidak pernah mempunyai mimpi bisa keluar dari sana.


Karena selama ini ia terus dikurung dan tidak diperbolehkan pergi jika tidak didampingi seseorang.


Bagaikan mimpi, keberadaannya di sana layaknya harapan yang sudah terkubur begitu dalam. Jasmine, kini bisa sedikit bernapas lega.


"Kenapa kamu baik sekali sudah mengizinkanku tinggal di sini? Apa kamu tidak takut? Bisa saja aku adalah orang jahat yang berkomplot," lirih Jasmine membuat Ayana mendengus pelan.


Ia memeluk kedua lututnya erat seraya menengadah ke atas melihat langit-langit ruangan.


"Sudah terlalu banyak kejadian menimpaku beberapa tahun ini. Asam, pahit, manis, sudah aku kecap. Kenapa aku mengizinkanmu tinggal di sini? Itu karena... aku merasakan hal sama."


"Sebagai sesama korban pelecehan, aku tidak bisa membiarkanmu terus terpuruk. bagaimana aku bisa memikirkan kamu berkomplot dengan orang lain? Sedangkan penampilanmu saja seperti ini, kamu sangat lucu, Jasmine," kata Ayana mencairkan suasana, Jasmine pun terkekeh pelan dibuatnya.


"Kurang lebih dua tahun lalu aku pergi dari ibu kota menghindari rasa sakit, tetapi tanpa diduga... aku mendapatkan kejadian tidak mengenakan."


"Ada pria paruh baya yang berpura-pura meminta bantuan, tetapi niat bagiku disalah gunakan. Dia... hampir saja melecehkan ku. Namun, pada saat itu Allah memberikan bantuan lewat seorang pria tampan yang sekarang menjadi kakakku," celoteh Ayana mengingat kembali masa-masa kelam yang sebenarnya sudah tidak ingin diingat lagi.

__ADS_1


Namun, entah kenapa melihat sosok Jasmine semuanya keluar. Bagaikan melihat keadaannya pada masa itu, Ayana hanya ingin membagikan pengalamannya guna keluar dari zona mengerikan.


Karena ia tahu bagaimana terpukulnya setelah peristiwa mengerikan itu terjadi. Bahkan ia tidak sanggup menjalani kehidupannya lagi.


"Kejadian demi kejadian itu membuatku depresi dan trauma. Bahkan-" Ayana terkekeh sendu kala ingatan paling membuatnya malu dan berpikir bodoh hadir.


"Bahkan aku sempat ingin menghabisi nyawaku sendiri. Bukankah itu perbuatan yang bodoh?" Ayana menoleh bersamaan dengan itu air mata berlinang cepat.


Ia menghapusnya pelan dan terkekeh lagi. Rasanya begitu memilukan, sarat akan luka yang masih basah dalam ingatan.


Jasmine melebarkan pandangan, tidak percaya jika sosok menawan seperti Ayana mempunyai masa lalu kelam.


Begitu gelap, layaknya tidak ada penerangan sedikitpun, tetapi wanita yang kini duduk tepat di sebelahnya masih bisa menyunggingkan senyum, walaupun ada air mata menemani.


"Kenapa? Kenapa kamu menceritakannya semuanya padaku? Bukankah kejadian itu seharusnya tidak diungkit lagi?" tanya Jasmine penasaran.


"Tidak ada yang salah dengan ingatanku. Seberapa kuat aku mencoba untuk melupakannya bahkan menguburnya, kejadian itu bisa teringat kapan saja. Jadi, kamu harus tetap bangkit dan melawan segala keganasan yang menimpa."


"Aku yakin kamu bisa, Jasmine. Meskipun membutuhkan proses yang tidak mudah, tapi aku yakin kamu mampu melaluinya."


"Kamu bisa melewati proses itu, walaupun nanti di tengah jalan ada ujian datang, maka yakinlah Allah tidak membebani setiap hamba di luar batas kemampuannya," tutur Ayana lagi penuh dengan keyakinan.


Sorot mata hangat nan lembut itu pun menyapa kuat. Jasmine kembali terkesiap dan menarik diri dengan menundukkan kepala dalam.


Mendengar semua pengalaman yang telah Ayana lalui membuat Jasmine sedikit terinspirasi.


Selama ini ia mengetahui sosok Ayana hanya lewat layar televisi maupun media masa. Banyak orang-orang, terutama penikmat seni mengagumi karya-karyanya yang luar biasa.


Ayana tidak hanya menuangkan imajinasi lewat lukisan, tetapi ia mampu memberikan kisah mendalam di setiap karyanya.


Bagaikan berbicara dalam senyap, setiap mata yang memandang lukisan itu pasti bisa merasakan serta meresapi.


Jasmine yang pada saat itu penasaran pada sosoknya pun mulai mencari tahu. Satu nama yaitu Ghazella, terus berputar dalam ingatan membuatnya semakin kagum.


Keberadaan Ayana yang semula tidak pernah terendus dalam layar kaca pun, kini namanya ada di mana-mana.


"Jasmine Magnolia Mahesa-"


"Eh?" Ayana terkejut mendengar tiga suku kata tercetus begitu saja di balik bibir pucat wanita itu.


Jasmine mengangkat kepalanya dan menoleh lagi pada lawan bicaranya.

__ADS_1


"Itu nama lengkapku. Jasmine Magnolia Mahesa, salam kenal Ayana," kata Jasmine lagi mengembangkan senyum.


"Magnolia? Sama seperti nama galeriku, bukankah kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu? MasyaAllah." Ayana terpekik senang.


Jasmine pun mengembangkan senyum, setuju.


Melihat senyumannya Ayana terkesiap lalu menganggukkan kepala pelan. Dia sudah mulai terbuka, pikirnya.


"Kalau begitu kita tidur? Sudah malam," ajak Ayana mendapat persetujuan dari Mahesa.


Kedua wanita itu pun lalu berbaring di futon masing-masing mengistirahatkan tubuh letih nya.


...***...


Pagi-pagi sekali, Zidan menepati janjinya untuk datang ke galeri. Ia membawa serta Raima bertandang ke sana seraya menjinjing kotak bekal berukuran sedang.


Ia masuk begitu saja menggunakan kunci cadangan mengejutkan sang istri dan juga wanita asing yang tengah menikmati teh hijau di samping jendela.


"Mas Zidan?" Panggil Ayana bangkit dari duduk dan menghampiri mereka lalu mengambil alih Raima.


Zidan hanya bergumam em dan terus memandangi wanita yang dari semalam terus bersama sang istri.


Ia memantau keberadaan mereka lewat rekaman CCTV yang tembus langsung ke dalam ponselnya. Ia terkejut saat mendengar nama wanita itu disebutkan.


Jasmine Magnolia Mahesa, terus terngiang dalam pendengaran seperti sudah tidak asing lagi.


"Mas... Mas Zidan?" Panggil Ayana lagi mengejutkan.


Zidan sadar dari lamunan lalu beralih pada sang istri.


"Iya Sayang?" tanyanya kikuk.


"Apa yang sedang Mas pikirkan? Ayo kita sarapan bersama, aku yakin Mas juga belum makan," ajak Ayana membawa Raima mendekati Jasmine.


Zidan mengangguk kaku dan mengikuti ke mana istri serta anaknya pergi.


Di meja berbentuk segiempat itu pun, Ayana, Raima, Zidan, serta Jasmine duduk bersama.


Ayana juga memperkenalkan suami dan putri kecilnya pada Jasmine membuat wanita itu tersenyum senang.


Di temani obrolan-obrolan ringan menambah keakraban, mereka begitu menikmati sarapan yang dibawakan Zidan.

__ADS_1


Dalam diam Jasmine memandangi keluarga harmonis di depannya dengan perasaan sendu yang disembunyikan lewat senyuman.


"Kapan aku bisa mempunyai keluarga harmonis seperti mereka?" benaknya. Itulah harapan terbesar seorang Jasmine selama ini.


__ADS_2