
Tiga hari kemudian Ayana kembali ke mansion sang suami. Ia harus melakukan tugas sebagai ibu dan istri terbaik bagi keluarga kecilnya. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi mereka dengan melakukan dua peran sekaligus.
Itulah yang diharapkannya sejak dulu dan baru tersampaikan setelah beberapa tahun berlalu. Perlu perjalanan panjang nan berliku yang harus dilewati untuk sampai ke titik sekarang.
Hatinya benar-benar sedang menari di atas awan. Bagaikan berjalan di atas kelopak bunga tersebar di sepanjang langkah, Ayana merasakan kelegaan luar biasa.
Ia bahagia sungguh senang bisa mendapatkan posisinya saat ini.
Tidak pernah terpikirkan dalam bayang, jika dirinya bisa kembali lagi pada Zidan dan diberikan putra-putri menggemaskan. Ia sangat bahagia dan bangga pada diri sendiri.
Namun, di balik kelimpahan suka cita yang tengah menderanya, Ayana selalu menyesali perbuatan yang telah dilakukan di masa lalu. Di mana ia sempat menentang takdir Allah dengan menyayat pergelangan tangan kiri untuk mengakhiri kehidupannya.
Pada saat itu ia hanya memikirkan agar rasa sakit yang mengendap diri bisa hilang begitu saja.
Tanpa ia sadari jika Allah memberikan ujian serta cobaan seperti itu, sebab Dia percaya bahwa Ayana mampu. Namun, sangking terbawa emosi dan terus menerus terpikirkan, sang pelukis tersulut emosi.
Ia dikuasi luka demi luka yang terus datang merundung diri, secepat kilat menyambar.
Ia digelapkan oleh rasa sakit dan dikalahkan keadaan yang terus menerus memberikan luka di hati. Air mata hanya sebatas cerita seperti apa kisah memilukan itu hadir.
Kembali bersama Zidan dan menjalani pernikahannya lagi membuat Ayana diberi kejutan demi kejutan tak terduga. Setiap episode yang dilalui menyuguhkan misteri tiada akhir.
Ia sangat bersyukur jika pada akhirnya Allah memberikan kesempatan kedua agar Ayana memperbaiki hidupnya. Kejadian mengerikan itu masih terekam jelas dalam ingatan, terlebih saat di pergelangan tangan kiri terdapat guratan berwarna kehitaman berbekas di sana yang kembali mengingatkannya pada hari itu.
Bola mata karamel Ayana pun bergulir ke arah satu titik. Ia tersenyum sendu di mana tindakan bodoh itu hampir saja merenggut nyawanya.
"Terima kasih ya Allah. Karena Engkau masih memberikan kesempatan kedua pada hamba. Hamba... benar-benar menyesal pernah menentang ketentuan-Mu. Karena sekarang berkah dari segala ujian yang telah di lewati berbuah manis."
"Engkau membuat mas Zidan semakin berubah baik, juga... memberikan anak kembar pada kami. Maa syaa Allah, Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah," gumam Ayana di ruang televisi terus bersyukur.
Selesai sarapan ia berada di sana dengan kedua buah hatinya. Sambil bermain dengan Ghazali dan Ghaitsa, Ayana melupakan sejenak hal yang pernah dilewati.
Di tengah kebersamaan mereka, Ayana dikejutkan dengan pelukan dari belakang. Parfum yang sudah tidak asing lagi menyapa indera penciuman, memunculkan lengkungan bulan sabit di wajah cantiknya.
"Apa yang sedang sayang-sayang nya Ayah lakukan?" tanya suara baritone mengecup pelan pipi sang istri.
__ADS_1
Zidan kemudian beralih pada putra-putrinya yang tengah duduk di sofa bayi seraya menikmati buah-buahan segar.
"Anak-anaknya Ayah. Kesayangan-kesayangan nya Ayah." Zidan melayangkan ciuman bertubi-tubi di pipi gembil dua buah hatinya.
Seketika Ghazali dan Ghaitsa tergelak senang. Mereka melupakan cemilan siangnya dan tertawa riang mendapatkan gempuran kecupan dari sang ayah.
Setelah puas melayangkan ciuman di seluruh wajah putra-putrinya, Zidan kembali menarik diri dan duduk di tengah-tengah mereka.
Ia melirik Ayana sekilas lalu kembali lagi pada bayi kembarnya.
"Apa siang ini Mas harus pergi latihan lagi?" tanya Ayana kemudian.
Zidan mengangguk singkat, "em, itu rencananya. Karena konser akan diadakan satu minggu lagi."
"Baiklah," balas Ayana singkat.
Seketika Zidan langsung beralih padanya. Ia menggenggam erat jari jemari hangat sang pujaan.
"Jangan khawatir, konser ini akan cepat berakhir. Sebenarnya aku tidak sanggup meninggalkan kalian bertiga selama ini, sudah tiga hari... aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan kalian," keluhnya bagaikan anak kecil.
"Aku akan melakukan segala cara untuk membahagiakan kalian." Zidan menarik tangan kanan Ayana dan memberikan kecupan lain di telapak tangannya.
Ayana terperangah dan sedetik kemudian mengembangkan senyum bangga. Ia sangat bahagia sekarang sang suami benar-benar berjuang untuk membahagiakan dirinya dan juga anak-anak mereka.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku titip anak-anak padamu," lanjut Zidan dijawab anggukan oleh Ayana.
Ia lalu kembali memberikan ciuman di dahi sang istri juga kedua buah hati kembarnya. Setelah itu Zidan langsung pergi untuk melanjutkan latihan di studio.
Karena konser kali ini ia kembali bekerjasama dengan musisi lain dan harus latihan di sebuah studio.
Ayana menggendong kedua buah hatinya, Ghazali berada di belakang punggung, sedangkan Ghaitsa ada di depan.
Mereka bertiga menyaksikan kepergian Zidan di pekarangan, lalu tidak lama kemudian Ayana kembali masuk dan tiba-tiba Ghazali serta Ghaitsa menangis, sendu.
"Uh~ Sayang, sedih yah di tinggal ayah?" Ayana menimang-nimang mereka berusaha menenangkannya.
__ADS_1
Melihat nona mudanya kesusahan, beberapa asisten rumah tangga menghampiri Ayana dan mengambil alih Ghazali.
"Mbak, bisa bantu aku menyiapkan air hangat? Aku ingin memandikan mereka. Siang ini panas sekali, aku rasa Ghazali dan Ghaitsa kegerahan," kata Ayana.
Wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya itu pun langsung mengangguk dan menyiapkan apa yang tadi disuruh Ayana. Pelukis itu pun berjalan menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya berada diikuti salah satu pengasuh tengah menggendong Ghazali.
Sesampainya di kamar, Ayana mendudukkan Ghaitsa di surpet berbulu di depan ranjang. Ia lalu berjalan menuju lemari pakaian sang anak kembar dan mengeluarkan dua pasang baju.
Beberapa saat kemudian, mbak pelayan keluar dari kamar mandi dan mengatakan jika air hangat untuk tuan serta nona kecilnya sudah siap.
Ayana kembali membawa Ghaitsa ke dalam kamar mandi diikuti pengasuh tadi menggendong Ghazali.
Mereka pun memasukan kedua bayi mungil tadi ke dalam bathtub kecil. Ghazali serta Ghaitsa sama-sama tergelak senang di masing-masing tempat mandi.
"Mbak bisa melanjutkan pekerjaan, biar aku sendiri yang memandikan mereka," kata Ayana ke pengasuhnya tadi.
"Baik, kalau butuh sesuatu panggil saja," katanya.
Ayana hanya mengangguk mengiyakan dan selepas peninggalan sang pengasuh ia langsung memandikan mereka.
Momen mendebarkan itu kembali membuat Ayana senang. Memandikan Ghaitsa dan Ghazali memberikan kesan tersendiri baginya sebagai seorang ibu.
Gelak tawa bergema di kamar mandi, Ayana dan kedua buah hatinya begitu gembira bermain air. Ibu dari anak-anak kembar itu pun ikut basah terkena cipratan mainan air Ghazali dan Ghaitsa.
Beberapa saat kemudian, momen mandi mereka berakhir. Ayana menggendong satu persatu mereka ke kamar utama dimulai dari Ghazali dan mendudukkan di surpet lagi.
Ia lalu kembali ke kamar mandi dan mengambil Ghaitsa.
Ketiganya bersama kembali dan Ayana bersiap untuk memakaikan pakaian dan hal itu menjadi tantangan sendiri baginya.
Ia harus berusaha ekstra keras guna memakaikan baju pada Ghazali maupun Ghaitsa, terlebih saat ini mereka sudah bisa merangkak dan suka bergerak ke sana sini.
"Sayang! Ghaitsa jangan mainkan minyak telon itu, Sayang!" teriak Ayana yang tengah menangani Ghazali.
Ia buru-buru mendekati sang putri dan meninggalkan putranya agar Ghaitsa tidak meminum minyak hangat tersebut. Tentu saja hal itu memberikan kesempatan pada Ghazali untuk bergerak bebas.
__ADS_1
Ayana terus bolak-balik antara putra maupun putrinya. Ia lelah sendiri, tetapi senang dengan momen yang tidak bisa ia dapatkan lagi ketika buah hatinya besar nanti.