Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kotak dari Mertua


__ADS_3

"Jaring ikan?" kening Satya berkerut mendengar jawaban istrinya sembari menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


"Hahahaha, bukan apa-apa kok, Mas ... nggak usah dipikirin, aku cuma becanda, hehehe iya becanda" ucap Amartha.


"Yank, kamu siap-siap, kita pergi sekarang, udah sore juga, biar nggak terlalu malam nyampenya," kata Satya sambil memegang kedua bahu Amartha.


"Ya udah, aku ganti baju dulu," ucap Amartha yang membuka lemarinya dan mengambil satu dress dan membawanya ke kamar mandi.


Kemudian pria itu duduk diatas ranjang lalu tak sengaja kakinya menyentuh sebuah benda. Satya membungkuk dan menyingkap sprei yang menjuntai.


"Kotak?" gumam Satya saat melihat sebuah kotak didalam kolong, pria itu lantas mengambil kotak itu.


"Kalau dilihat dari bentuk kotaknya sih kotak hadiah, tapi kok ada disitu?" Satya menduga mungkin hadiah pernikahan mereka dari seseorang, akhirnya karena penasaran Satya pun membuka kotak itu, dan ia menahan mulutnya untuk tidak tertawa saat melihat isi didalamnya.


"Oh, ternyata ini jaring ikannya,"


Pria itu tersenyum penuh arti, melihat seonggok kain yang sangat memalukan itu, ia tak menyangka sang mami akan memberi menantunya barang seperti itu.


Amartha keluar dengan dress selutut berwarna kuning dengan corak bunga-bunga kecil, membuatnya nampak cantik.


"Kamu kenapa cengar-cengir, Mas?" Amarta melihat ke arah Satya.


"Emang ada yang lucu?" wanita itu kemudian melihat pantulan dirinya di cermin, ingin memastikan apa ada yang aneh dengan wajahnya.


"Nggak, Yank ... nggak kok," Satya menghampiri Amartha yang kini sedang duduk di depan meja riasnya.


"Ehem, kamu habis potong rambut, Yank?" tanya Satya yang baru ngeh kalau rambut Amartha yang panjangnya sepinggang kini menjadi sepunggung.


"Iya, Mas ... aku potong seminggu yang lalu, kenapa?" Amartha menjawab Satya sambil menyapukan bedak ke pipinya, dan mengulas sedikit liptint di bibirnya.


"Nggak apa-apa ... kamu tambah cantik," ucap Satya sambil menempelkan memeluk istrinya dari belakang.


"Gombal,"


"Dih, kok gombal, sih? beneran, Sayang..." Satya mencubit gemas pipi Amartha, membuat Amartha balik mencubit pipi suaminya.


Setelah berpamitan pada orangtua Amartha, Malam itu Satya dan Amartha berngkat untuk kembali ke kota J dan menginap disalah satu hotel bintang 5, karena resepsinya akan dilaksanakan di ballrom hotel itu. Sedangkan Rudy dan Rosa akan menyusul mereka besok pagi.

__ADS_1


Amartha terlelap sepanjang perjalanan, mungkin karena terlalu lelah membuat wanita itu kesulitan membuka matanya. Satya menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya, pria itu jadi teringat ketika Amartha pingsan dan membawanya dengan taksi, dengan posisi yang sama seperti saat ini, supir taksi mengira mereka suami istri, dan sekarang ucapan itu menjadi kenyataan. Satya terkekeh saat mengingat kejadian itu.


Setelah melakukan perjalanan selama berjam-jam, akhirnya mereka sampai di hotel. Amartha tak kunjung membuka matanya, bahkan berulang kali, pria itu mencoba membangunkan istrinya, namun wanita itu tak juga bangun.


"Yank ... banguuun ... Yank, udah sampe loh," ucap Satya seraya mengusap-usap punggung Amartha.


"Emhhhh, kenapa Mas?" sahut Amartha yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Turun, yuk? udah sampe," kata Satya sembari menyelipkan rambut di telinga istrinya.


"Nanti di lanjut lagi tidurnya," lanjut pria itu.


Satya berjalan sambil merangkul istrinya menuju sebuah suit room di hotel tersebut.


Namun, setelah sampai di kamar Amartha malah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Udah nggak ngantuk, hem?" tanya Satya sambil mengusap lembut kepala istrinya, wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng.


"Ya udah aku ganti baju dulu ya," ucap Satya.


"Iya, Mas..."


"Terima kasih Sayang, udah mau menerima pria yang super ganteng ini," kata Satya yang duduk bersila sembari mendekap istrinya. Berada dalam dekapan Satya, membuat dirinya bisa mendengar irama detak jantung pria itu dan sepertinya membuat jantungnya memompa lebih cepat.


"Baru kali ini ada orang yang suka banget muji diri sendiri, aku yang harusnya makasih, karena kamu udah nerima aku yang berstatus jan-" kata Amartha yang membuat Satya menjarak tubuh keduanya, dan menaruh jari telunjuknya di bibir wanita yang masih memakai mukena itu.


"Sssst ... aku nggak mau denger itu, jangan pernah ucapkan kata-kata itu, masa lalu cukup jadi pelajaran, yang penting sekarang masa kini dan masa depan," ucap Satya menangkup wajah Amartha dengan kedua tangannya, dan mencium kening istrinya kemudian membawa wanita itu ke dalam dekapannya.


"Mas, kenapa kamu memberikan mahar sebanyak itu?" tanya Amartha pada Satya.


"Kenapa, ya? aku dapet wangsitnya kayak gutu, Yank..." celetuk Satya yang membuat Amartha mencebikkan bibirnya.


"Ish ... nggak lucu,"


"Dih, ngambek ... bahkan menurutku itu belum sepadan dengan dirimu, Sayang ... kamu lebih berharga dari itu semua," ucap Satya sambil mencubit hidung mancung istrinya.


"Tapi dengan uang 5 Milyar aku udah bisa beli rumah dan sawah berpetak-petak, Mas ... belum lagi satu set berlian itu, aku nggak pantes menerima semua itu, Mas..." ucap Amartha sambil mengusap-usap hidungnya.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi hak kamu, Sayang ... dan kamu pantas mendapatkan itu semua," ucap Satya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satya sedang memakai piyamanya di dalam kamar mandi, sedangkan Amartha sedang membuka kopernya berniat mengambil piyama satin yang biasa digunakannya untuk tidur, tiba-tiba matanya membulat saat melihat sebuah kotak berwarna coklat yang diberikan oleh mertuanya.


"Ke-kenapa ada disini?" gumam Amartha, Satya yang sudah selesai berganti pakaian, dengan santainya berjalan mendekati istrinya yang masih terpaku didepan kopernya.


"Ada apa, Yank?" tanya Satya yang membuat Amartha terlonjak kaget.


"Nggak, Mas ... nggak kenapa-napa," ucap Amartha gugup.


"Ini apa, Yank? kado?" Satya berniat meraih sebuah kotak yang menyita perhatiannya, lalu dengan secepat kilat Amartha menepis tangan pria itu.


"Sini, coba aku liat," Satya kembali ingin meraih kotak itu.


"J-jangan, Mas ... ini bukan sesuatu yang pantas buat diliat," sergah Amartha.


"Terus pantasnya buat dipakai?" ucap Satya sambil menaik turunkan alisnya seraya tersenyum jahil.


"Jangan-jangan kamu Mas yang masukin ini ke koperku?" ucap Amartha penuh selidik


"Ish ... bener kan, nggak mungkin nih kotak bisa pindah sendiri, masuk ke dalam koper," kata Amartha menatap Satya yang semakin getol menggoda istrinya.


"Itu dari Mami, kan? dipakai kamu pasti bagus, Yank..." ucap Satya.


"Ini bukan baju layak pakai, Mas..." kata Amartha memandang kotak yang masih tertutup itu.


"Cobain," ucap Satya yang menunjuk benda berbentuk persegi itu dengan dagunya.


"Nggak," Amartha menolak dengan tegas.


"Dosa loh, nolak permintaan suami..." ucap Satya santai.


...----------------...


...nggak terasa ya udah 100 eps, aku kira nulis novel ini bakal cepet tamatnya, ternyta masih panjang ya...wkwkwkwk......

__ADS_1


...semangat jgn lupa like dan vote nya ya...maacih...


__ADS_2