
"Apakah Kakak tau apa resikonya hidup dengan satu ginjal?" tanya Vira.
"Ya..." jawab Ricko santai, dia melihat mata sembab Vira, sepertinya wanuta itu terlalu banyak mengeluarkan air matanya.
"Lalu mengapa masih mau melakukannya?" tanya Vira, sedangkan Ricko sudah menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Apakah semua harus ada alasannya?" Ricko balik bertanya, Vira yang ditatap hanya bisa mematung. Pikirannya melayang entah kemana, rasa penyesalan bergelayut dalam batinnya.
"Apakah itu sangat dibutuhkan sekarang?" Ricko malah mencecar Vira dengan pertanyaan, Vira menatap pria itu dengan sendu. Seseorang akan membantu ayahnya dan mengapa ia malah bertanya hal yang bisa saja membuat pria itu ragu dengan keputusannya.
"Aku rasa aku tidak membutuhkan sebuah alasan untuk memberikan sesuatu yang bukan sepenuhnya milikku," lanjut pria itu.
"Maksudnya?" Amartha mengernyitkan dahinya.
"Bukankah tubuh kita ini milik tuhan? kita hanya sebentar hidup di dunia ini," pria itu membuat Vira tertegun dengan jawabannya.
"Lagi pula aku masih bisa hidup dengan memiliki salah satunya, aku malah bahagia karena bisa memberikannya untuk orang sebaik pak Jojo," Ricko tersenyum, namun hati Vira seperti ditusuk-tusuk dengan belati mendengar jawaban seorang pria yang begitu baik. Dia rela memberikan salah satu organ tubuhnya untuk seseorang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Rasa malu menghampiri batinnya sebagai seorang anak.
"Aku selalu percaya dengan karma baik," ucap Ricko tiba-tiba. Vira masih terdiam
"Jadi tidak usah merasa tidak enak, atau semacamnya, karena aku melakukan ini tanpa paksaan," ucap Ricko yang melihat jari jemari Vira yang saling meremas satu sama lain.
"Bahkan aku putrinya tidak bisa membantunya, dan malah kamu yang..." Vira menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Ricko ingin sekali meraih tubuh wanita itu, mendekapnya dan mengelus punggungnya, namun semua itu tak bisa ia lakukan. Pria itu hanya bisa melihat Vira kembali menangis untuk kesekian kalinya.
"Pak Jojo tidak akan mungkin mau melihat putrinya berkorban untuk dirinya, percayalah!" ucap pria itu.
"Dia sangat mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, jadi tidak perlu melabeli dirimu sebagai anak yang tidak berguna," lanjutnya.
"Kamu tau salah satu alasan dia mau menerima ginjal ini?" kali ini Ricko bertanya, Vira hanya menggeleng sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Karena dia ingin menebus waktu kebersamaan kalian yang telah hilang, dia ingin melihatmu menikah, melihatmu bahagia, setidaknya itu yang pak Jojo katakan padaku," ucap Ricko mengingat pertemuannya dengan ayah Vira.
"Tapi tetap saja," Vira terisak.
"Sudahlah, ini sudah takdir dari yang maha kuasa, kita hanya perlu menjalani setiap bab dalam hidup ini, anggap saja kita ini sedang membaca sebuah buku, kita nikmati saja apa yang tertulis disana..." ucap Ricko dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih," Vira tersenyum. Takdir mempertemukan mereka kembali. Pria itu membalas senyuman gadis kecilnya yang sudah menjelma sebagai wanita yang cantik.
Kemudian Vira permisi untuk melanjutkan pekerjaannya lagi, dia sudah mencuri banyak waktu untuk mengorek informasi dari pria yang tengah tersenyum melihat kepergian suster cantik dengan rambut lurus sebahu itu.
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, gadis kecil..." Ricko tersenyum.
"Dia bahkan terlihat sangat cantik," Ricko lalu memukul kepalanya dengan tangannya sendiri
"Bodoh! bisa-bisanya aku berkata seperti itu? dia saja tidak ingat padaku," Ricko menertawakan kebodohannya sendiri karena sudah mengagumi kecantikan Vira.
Sementara di tempat lain, hujan sudah berhenti. Dan para pekerja sudah mulai dengan beranjak dari duduknya, mereka kembali melakykan pekerjaan yang tertunda karena serangan hujan. Tak sengaja mata Firlan melihat seseorang membawa satu sak semen untuk di bawa ke sebuah mobil. Mata Firlan menelisik, dia bergerak kemana orang itu pergi. Pria bertubuh tinggi itu menemui pak Mandor yang berada di ruang khusus untuknya beristirahat.
"Pantas saja, banyak bahan yang hilang ternyata mereka pencurinya," Firlan segera bersembunyi saat mendengar suara pak Mandor dan orang tersebut semakin dekat.
"Kerja yang bagus! hahahahhaha," pak Mandor tertawa puas, entah apa yang sedang mereka bahas. Tapi sang Mandor begitu sangat senang terbukti dari tawanya yang kriuk.
"Nanti malam kita angkut lebih banyak lagi, kebetulan ada yang lagi butuh, dan mereka senang karena harga yabg kita tawarkan lebih murah dari toko," ucap pria bertubuh tinggi.
Firlan mengepalkan tangannya ingin sekali dia menghajar orang tersebut satu persatu hingga membuat mereka sulit untuk berjalan.
Tak lama ponsel pria bertambun itu berdering, ia merogoh saku celananya. Ia memberinkode pada pria yang ada di hadapannya untuk tidak bersuara.
"Ya? sesuai data yang kemarin, kan? bos besar itu tidak akan tau jika kau menuliskan berapapun. Ya? orang-orang itu sudah aku bayar. Beres!" ucap pak Mandor di seberang telepon. Pria bertubuh tinggi hanya menyimak pembicaraan si Mandor
__ADS_1
"Apa yang dia bicarakan? apa dia memanipulasi data pekerja? dasar orang-orang serakah!" Firlan geram dengan mereka yang gila akan lembaran-lembaran yang membuat orang lupa daratan. Sekilas si Mandor melihat ada seseorang yang sedang mengawasinya.
"Sudah ya, sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita," ucap pak Mandor yang segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa?" tanya pria bertubuh tinggi yang mendengar bahwa ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan si Mandor denfmgan sang penelepon.
"Sepertinya aku melihat seseorang disana," tunjuk pak Mandor pada orang yang akan menbawa mobil pick up.
"Ah, pasti kau salah lihat!" orang bertubuh itu mencoba melihat ke arah yang ditunjuk pak Mandor.
"Uang bensin?" pria itu menengadahkan tangannya meminta uang pada si Mandor. Pak Mandor berdecak kesal, perasaan di dalam dia sudah memberi pria itu lembaran-lembaran uang berwarna merah hasil dari penjualan bahan bangunan yang mereka curi.
"Uang bensinnya mana?" tanya orang itu lagi yang disambut decakan kesal dari pria bertubuh tambun yang kini sedang memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Astagaaa, tadi sudah kuberi uang masih minta lagi!" seru pak Mandor berkacak pinggang, kemudian ia menyalakan sebuah benda yang bisa menghasilkan asap putih ketika dinyalakan dengan korek api.
"Tadi kan memang jatahku, kalau ini kan jatah bensin mobil, ya jelas beda lah!" ucap pria itu yang tak mau kalah.
"Dasar mata duitan!" umpat si Mandor yang akhirnya membuka dompetnya dan memberi orang itu dua lembar kertas berwarna merah.
"Sudah sana cepat pergi!" usir pak Mandor.
"Siaaaap!" jawab orang itu.
Firlan segera masuk ke dalam bagian belakang mobil pick up berdesakan dengan semen-semen. Pria bertubuh tinggi masuk ke dalam mobilnya, namun tiba-tiba merasakan hidungnya terasa geli.
"Huaaaatchih," Firlan akhirnya bersin, ia menutup mulutnya.
"Hey! siapa disana?" seru orang itu yang dengan segera turun dari mobilnya.
__ADS_1
...----------------...