
"Kan aku udah bilang tehnya masih panas," ucap Vira khawatir, ia takut air itu membasahi perban yang ada di perut Ricko. Vira langsung mengambil tissue dan mengelap tumpahan air di kaos biru yang dikenakan Ricko.
"Iya, maaf..."
"Untung nggak kena perut Kakak yang habis dioperasi," Vira terus saja mengomel. Ricko merasa diperhatikan.
"Aku memang ceroboh, ya sudah aku mau ganti baju, kamu temui aja temanmu dulu," ucap Ricko yang mengibaskan kaosnya.
"Ayo, aku bantu," Vira membantu Ricko untuk berdiri, karena beberapa kali menyetir perut Ricko terasa lebih nyeri dari sebelumnya. Dokter menyarankan untuk sementara ini Ricko membatasi aktivitas gerak yang berat terlebih dahulu, sampai lukanya benar-benar sembuh.
Ricko berjalan menuju kamarnya, sedangkan Vira segera melangkah ke arah pintu dan membukanya. Terlihat seorang pria yang sangat familiar sedang berdiri membelakanginya.
"Ay?" ucap Vira, sontak Firlan langsung memutar tubuhnya.
"Kok cepet?" tanya Vira heran.
"Ehm," Firlan hanya bisa berdehem.
"Jangan-jangan sebenernya kamu udah tau tempat ini?" ucap Vira dengan tatapan penuh selidik.
"Hehehehe, peace!" ucap Firlan nyengir.
"Sudah kuduga sebelumnya, ya udah mau masuk apa mau di luar aja?" tanya Vira.
"Masuklah! oh, ya ini buat papa kamu," ucap Firlan yang membawa keranjang buah yang besar. Vira langsung menerimanya dan membawanya masuk ke dalam.
Firlan segera mengikuti Vira dari belakang. Sejujurnya hati pria itu sudah deg-degan tidak karuan.
"Duduk dulu, Ay ... aku buatin minum," ucap Vira mempersilakan Firlan untuk duduk. Vira menaruh parcel buah diatas meja.
"Jangan lama-lama!" kata Firlan.
"Iyaaaa..." jawab Vira.
Firlan tersenyum manis yang otomatis bikin Vira malu-malu ngeong. Vira berjalan masuk meninggalkan Firlan sendirian di ruang tamu, Vira yang kwsengaem dengan senyum manis Firlan tidak memperhatikan jalannya sehingga ia tidak sengaja menabrak Ricko yang keluar dari kamarnya.
Vira kepentok badan Ricko yang jelas lebih tinggi darinya.
"Awh!" pekik Ricko. Vira menyenggol sedikit luka di perutnya yang sudah tertutup itu
"Maaf, maaf, Kak! sakit, ya?" Vira cemas,.
"Sini coba lihat jahitannya," Vira mencoba menyibak kaos yang dikenakan Ricko, namun pria itu segera mencegahnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa hanya kaget tiba-tiba kamu nongol aja di depan pintu, lain kali hati-hati..." ucap Ricko mengusap kepala Vira.
"Temenmu udah dateng?" tanya Ricko, rasanya lumayan nyeri tapi ia coba tahan.
"Udah, lagi nunggu di ruang tamu," jawab Vira.
"Ya udah aku temui dulu," Ricko meggerakkan kepalanya.
"Kakak beneran nggak apa-apa?" tanya Vira khawatir, Ricko menggeleng dan tersenyum.
Ricko melangkah menuju ruang tamu, Firlan yang melihat seorang pria yang usianya tidak terpaut jauh darinya pun langsung berdiri.
"Saya Ricko," ucap Ricko yang menjabat tangan Firlan.
"Saya Firlan, pacarnya Vira," jawab Firlan.
"Silakan duduk, Firlan..." Ricko mempersilakan Firlan untuk kembali duduk.
"Bagaimana keadaanmu apakah semuanya baik? saya sudah mendengar jika anda yang mendonorkan ginjal untuk pak Raharjo, hati anda sangat mulia," ucap Firlan.
"Siapapun bisa melakukannya, alhamdulillah tinggal masa pemulihan aja. Vira wanita yang sangat baik, kamu sangat beruntung memilikinya," kata Ricko, dia tersenyum pada lawan bicaranya.
"Tentu," sahut Firlan.
Tak lama, Vira datang membawa dua cangkir teh yang panasnya pas. Wanita itu meletakkannya dihadapan kedua pria itu.
"Ayok, silakan Firlan..." ucap Ricko ketika minuman sudah tersaji dihadapannya.
"Sebentar, aku bantu. Jangan terlalu menunduk, hati-hati..." ucap Vira yang membantu mengambilkan cangkir untuk Ricko. Firlan jelas cemburu, bukan hanya cangkirnya yang panas tapi hati Firlan juga sudah panas tembus sampai ke ubun-ubun malah. Ricko hanya tersenyum geli, melihat kecemburuan pria yang ada di hadapannya itu.
"Terima kasih, Vira..." ucap Ricko setelah selesai minum. Vira meletakkan kembali cangkir bekas Ricko.
"Kalau begitu aku tinggal, ya? aku mau istirahat," ucap Ricko, Firlan hanya mengangguk. Vira membantu Ricko untuk berdiri, karena dia melihat pria itu menahan sakit di perutnya. Bisa jadi karena tak sengaja tersenggol oleh Vira tadi. Ricko melangkah pergi dari ruangan itu, ia memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Diminum, Ay..." ucap Vira.
"Cih, tadi aja nggak nawarin," kata Firlan ketus.
"Lah tadi kan Kak Ricko udah nawarin," Vira tak mau kalah.
"Udah kenalan, kan?" tanya wanita itu.
"Udah," jawab Firlan ngambek.
__ADS_1
"Kok gitu?" Vira mengetnyit heran, kenapa Firlan malah ngambek.
"Apanya?" tanya Firlan.
"Mukanya, lah! jadi nggak mau nengokin papa?" tanya Vira gantian ngegas.
"Jadi," sahut Firlan irit.
"Ya udah ayok, tapi muka tolong dikondisikan, nggak boleh cemberut gitu," Vira menunjuk muka Firlan yang udah kaya baju lecek yang udah lama nggak kenal setrikaan.
"Iya, nih senyuuuuumm," Firlan melengkungkan sebuah senyuman.
"Manisnya..." Vira menoel pipi pacarnya itu, wanita itu terkekeh sendiri.
"Ya udah, yuk?" ajak Vira, ia menggenggam tangan kekasihnya. Vira mengajak Firlan untuk mengikutinya sampai di depan sebuah kamar.
"Kamu tunggu disini dulu ya, Ay? aku ngomong dulu sama papa, kalau kamu pengen ketemu," ucap Vira yang mengambil satu masker medis di atas meja disamping pintu. Ia memakai alas kaki yang ada di rak sebelum masuk. Wanita itu mengetuk pintu dan kemudian masuk ke dalam.
"Pa? Ma? ada seseorang yang ingin bertemu," ucap Vira gugup, bagaimanapun ini oertama kalinya Vira akan mengenalkan seorang pria pada orangtuanya.
"Siapa, Vira?" tanya Raharjo.
"Ehm," Vira hanya bisa garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
"Pacar," lirih Vira yabg jelaa terdengar oleh Dewi, putrinya langsung kabur tak kuasa menahan malu. Sementara Dewi langsung mengkode suaminya, bahwa yang akan menemui merupakan kekasih dari putri semata wayangnya.
"Maaf, Ay ... pakai ini dulu, dan pakai sendal ini," Amartha memberikan sebuah masker dan alas kaki. Pria itu mencoba mengatur nafasnya sebelum melangkah masuk. Terlihat seorang pria paruh baya sedang terbaring diatas ranjang, dan seorang wanita berjilbab berada disampingnya.
"Selamat malam Om, Tante ... perkenalkan saya Firlan, saya kekasih Vira..." ucap Firlan.
"Malam, Nak Firlan!" ucap Raharjo.
"Maaf ya, kita bertemu dalam kondisi seperti ini," lanjut pria tua itu.
"Silakan duduk, Nak Firlan...'" ucap Dewi.
Firlan duduk agak jauh dari Raharjo, bukan apa-apa. Itu semua dilakukan agar Raharjo tidak terpapar Virus dari luar, ruangan yang ditempati Raharjo pun harus dalam kondisi steril, siapapun yang masuk harus menggunakan masker dan alas kaki yang sudah disediakan. Mereka berbincang, dan setelah dirasa cukup Firlan pun undur diri.
"Sepertinya sudah sangat malam, maaf sudah menganggu waktu istirahat Om dan Tante," ucap Firlan.
"Sebelum pulang, Om ingin melihat wajahmu sebentar, kan tidak lucu kalau bertemu tapi tidak saling mengenali wajah," ucap Raharjo.
Firlan melihat ke arah Vira, wanita itu mengangguk mengiyakan permintaan ayahnya. Kemudian Firlan melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya untuk beberapa saat dan pria itu segera mengenakan kembali maskernya. Raharjo dan Dewi tersenyum saat melihat wajah pria tampan yang mungkin akan menjadi calon menantunya.
__ADS_1
...----------------...