Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Diam atau Kau Akan Menyesal


__ADS_3

Selama pesta berlangsung tak ada senyum dari pengantin wanita. Bahkan ketika ia disuruh berganti gaun, dia malah sengaja merobek gaun pengantinnya sendiri.


"Jangan, Nona ... kami bisa dimarahi Tuan Carlo!" kata seorang perias. Dan beberapa wanita yang lmada disana mencoba merebut gunting dari tangan Ivanka.


"Aku tidak peduli dan aku tidak suka dengan gaun sialan ini!" kata Ivanka seraya menggunting bagian bahu gaun itu.


"Astaga, bagaimana ini?" seorang wanita menyenggol rekannya.


"Habislah kita," sahut wanita yang disenggol tadi, wajah mereka memucat saat melihat gaun yang berada di tangan Ivanka sudah compang camping.


Terdengar suara bel di depan kamar. Beberapa kali bel dipencet. Satu dari orang yang bertugas untuk membantu Ivanka berdandan dan berpakaian itu akhirnya membukakan pintu.


"Dimana Vanka? kenapa lama sekali hanya untuk berganti gaun?" tanya Carlo tidak sabaran.


"Tuan Carlo? emh, Nona..." ucap seorang perias yang sudah sangat ketakutan, ia memberi akses Carlo untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar. Rahang pria itu mengeras.


"Vanka? apa yang kamu lakukan dengan gaun itu, hah? " tanya Carlo yang menerobos masuk, karena Ivanka yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Pria itu melihat bagaimana Ivanka merusak gaunnya sendiri.


"Apa-apaan kamu, Vanka! semua tamu menunggu kita di luar, apa kamu ingin membuat ayahmu mati berdiri karena malu?" teriak Carlo menghentikan apa yang dilakukan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"Kau lihat ini Carlo? gaun jelek ini sudah rusak dan tidak berbentuk lagi, jadi aku tidak perlu menghadiri pesta pernikahan konyol itu, hahaha," Ivanka tertawa.


"Wanita ini benar-benar ingin menghancurkan pestaku rupanya," gumam Carlo. Namun pria itu tak hilang akal, ia sudah meminta perias untuk menyiapkan gaun cadangan.


"Masih ada gaun lain?" tanya Carlo pada salah satu perias yang berdiri tak jauh darinya.


"Ma-masih ada satu lagi, Tuan..." jawab wanita itu.


"Sekarang ambil dan berikan padaku!" perintah Carlo.


Sang perias pun segera menyerahkan sebuah gaun putih pendek bagian depan dan memiliki ekor yang panjang.


"Kalian semua keluar, biar saya sendiri yang menangani wanita ini," Carlo menggerakkan tangannya menyuruh mereka semua pergi.


Tinggalah Ivanka dan Carlo di kamar itu. Carlo melempar gaun itu ke atas ranjang.


"Kau mau pakai sendiri atau aku yang akan memakaikan untukmu?" tanya Carlo.


"Cih, aku tidak mau bersanding denganmu di pesta itu!"


"Vanka, sepertinya kau harus diberi pelajaran untuk menurunkan sedikit sifat aroganmu itu, ya?" ucap Carlo yang merebut gunting dari tangan Ivanka.

__ADS_1


"Kau mau apa, hah?" tanya Ivanka dengan tatapan nyalang.


"Aku akan mengganti pakaian yang kau kenakan saat ini," ucap Carlo.


Sementara di tempat lain.


"Kamu yakin?" tanya Satya.


"Aku cuma pengen kasih dia hadiah," kata Amartha.


"Ya sudah, tapi kamu harus di samping aku. Aku nggak mau dia berbuat jahat sama kamu," kata Satya.


Satya dan Amartha pergi ke suatu hotel untuk memenuhi undangan seseorang. Terkadang tamparan realita dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang dari obsesinya.


Tak lama sang pengantin pun datang memasuki ballroom. Satya melihat Carlo yang menampakkan wajah bahagianya, namun tidak dengan Ivanka. Wanita itu tampak menekuk wajahnya dan sesekali melempar senyum terpaksanya.


Satya memakai jas dengan warna yang sama dengan Carlo begitu juga dengan Amartha yang memakai dress yang menampilkan perutnya yang menonjol, ia bahkan terlihat cantik dengan tubuh yang lebih berisi. Amartha memegang sebuah buket bunga.


"Mas Satya?" pekik Ivanka yang berniat berhambur pada pria pujaannya.


"Jangan coba-coba untuk melemparkan kotoran ke wajahku! diam, dan bersikaplah seperti pengantin wanita yang bahagia bertemu pangerannya!" Carlo mencekal tangan Ivanka sambil sesekali memasang senyuman di wajahnya.


"Aku tidak mau!"


Mereka berjalan menuju pelaminan. Amartha hanya menaikkan satu sudut bibirnya saat matanya bertabrakan dengan tatapan benci Ivanka.


"Kita beri mereka selamat" kata Satya.


Satya dan Amartha berjalan dan naik ke atas pelaminan saat namanya disebut.


"Selamat, Tuan Carlo!" ucap Satya pada Carlo.


"Mas Satya! kenapa kamu tega sama aku, Mas? bukankah kamu yang berjanji akan menikahiku? ini pasti semua settingan kan? iya kan? atau orang tidak tahu malu ini pasti mencuri jas pengantin yang seharusnya Mas pakai hari ini," ucap Ivanka tidak tahu malu menunjuk Carlo, namun pria itu menangkap jari Ivanka yang mengarah padanya.


"Astaga, Ivanka kau benar-benar tidak menghargaiku sebagai seorang suami!" batin Carlo.


"Mungkin anda salah sangka, Nona...." kata Satya membuat Ivanka menggeleng.


"Tidak, kau tidak mungkin berkomplot dengan Carlo untuk melakukan semua ini, kan?" ujar Ivanka. Satya hanya mengendikkan bahunya.


"Anda mungkin terlalu lelah hingga bicara melantur," jawab Satya.

__ADS_1


"Kalian benar-benar!" Ivanka sangat geram ia kini sadar kalau ia telah dipermainkan oleh Satya dan Carlo.


"Terkadang kita harus melakukan cara yang tidak biasa untuk mempertahankan rumahbtangga kita, Nona. Selamat atas pernikahan anda," ucap Amartha seraya menyerahkan sebuah buket mawar merah.


Ivanka menatap tak suka pada wanita yang bicara padanya. Ia melempar buket mawar itu ke arah tamu undangan.


Dan...


Hap!


Ada seseorang pria yang mendapatkannya, lalu ia memberikan bunga itu pada kekasihnya. Dan semua orang yang menyaksikannya malah bertepuk tangan, mereka mengira kejadian merupakan acara lempar bunga.


Carlo tersenyum pada pasangan yang mendapat bunga, sebenarnya mereka bukan pasangan yang sebenarnya. Mereka orang suruhan Carlo yang memang menyamar sebagai tamu undangan.


"Baiklah, sekali lagi selamat. Kami permisi," ucap Satya seraya menganggukkan kepalanya.


"Usahamu mengacaukan pesta ini hanya akan dalam mimpimu, Ivanka!" bisik Carlo.


Amartha dan Satya tak mengikuti pesta sampai selesai. Dia langsung melepas jasnya di dalam mobil sebelum menyuruh Damian untuk menginjak pedal gasnya.


"Aih, konyol sekali kan permintaan Carlo? untung aku tak memakai jas pengantin, dia ingin membuatku seperti badut," gerutu Satya saat mobil sudah bergerah membelah jalan raya.


"Hahahaha, kamu dapet dimana temen kayak gitu, Mas?" tanya Amartha.


"Dia bukan temanku, Sayang!" kata Satya kesal.


"Hahahhaha, baiklah..." ucap Amartha.


.


.


Ivanka terpaksa mengikuti pesta yang membuatnya tersiksa. Setelah acara selesai, Carlo meminta izin pada Adam dan Elena begitu juga pada orangtuanya untuk pergi ke kamar mereka.


"Papa?" suara Ivanka melembut, mengiba pada ayahnya untuk tidak menyuruhnya pergi bersama Carlo. Namun, sang ayah sepertinya tak peduli dengan tatapan Ivanka. Elena pun hanya bisa melihat putrinya tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Carlo, jaga anakku. Mulai saat ini dia menjadi tanggung jawabmu," ucap Adam.


"Baik, Pah. Dengan seluruh jiwaku, aku akan menjaga putri Papa," kata Carlo.


Jika saja Carlo dan Satya tak menemui Adam waktu itu. Mungkin saja pria tua itu tak akan pernah tahu jika anaknya berusaha merusak rumah tangga orang lain. Sedari awal ia ingin menjadikan Carlo menantunya, sehingga ia pun mengiyakan rencana Carlo yang menjadikan Satya sebagai pengantin pura-pura untuk Ivanka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2