Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Buntelin Ajah


__ADS_3

Hari ini Amartha berdandan cantik, ia memakai dress tanpa lengan berwarna kuning yang panjangnya di bawah lutut. Ia nampak sangat menarik dengan perut yang semakin membulat. Ia memilih salah satu dari beberapa tas yang harganya bikin kejang-kejang itu untuk dipakainya ke kantor suaminya.


"Sa? bekal yang tadi aku siapkan mana?" seru Amartha saat dia sudah menuruni anak tangga yang terakhir.


"Ini, Nyonya..." ucap Sasa sopan


"Buah potongnya udah di dalem juga, kan?" tanya Amartha memastikan, ia menunjuk sebuah tempat makanan yang tersusun rapi itu.


"Sudah, Nyonya..." kata Sasa.


"Saya bantu bawakan ke mobil," lanjut wanita yang memakai sembarangan itu


"Terima kasih ya, Sa ... oh ya, ini ada uang pesan saja makanan untuk Bik Surti dan yang lainnya," ucap Amartha seraya mengeluarkan beberapa lembaran uang seratus ribuan.


"Ini terlaku banyak, Nyonya..." kata lepas


"Belilah sesuatu yang enak, mungkin saya pulang malam jadi nggak usah masak," kata Amartha yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Terima kasih, Nyonya..." kata Sasa pada majikannya.


Amartha masuk ke dalam mobil dengan disupiri Damian. Jemari tangannya menari-nari di layar ponselnya, ia mengetik sesuatu untuk sahabatnya, Vira. Amartha memberi tahu kalau ada baju yang ia belikan untuk Vira kenakan saat acara nujuh bulan. Tidak tanggung-tanggung, Amartha membelikannbaju sekaligus satu set dengan sepatu dan tasnya. Tak sengaja ia melihat sebuah kartu saat membuka dompetnya, ia ambil kartu pemberian mantan suaminya dan sesaat pikirannya melayang pada Kenan.


"Bagaimana kabar mas Kenan?" lirih Amartha.


Amartha memasukkan kembali kartu ajaib itu, dia belum pernah menggunakannya sekalipun. Tanpa Amartha ketahui, Kenan selalu menambahkan jumlahnya setiap bulan.


Jalanan tidak begitu macet, hingga tanpa disadarinya mobil yabg ditumpanginya sudah sampai ditujuan. Wanita itu turun, memasuki gedung perkantoran milik suaminya dengan membawa bekal makanan. Para karyawan menunduk hormat, termasuk kedua karyawan receptionist yang dulu sempat menahannya di lobby.


Amartha langsung berjalan ke arah lift yang langsung membawanya ke lantai yang ia tuju, setelah pintu lift terbuka, wanita itu segera keluar dan melangkah menuju ruangan suaminya. Ketika ia memegang handle pintu, Maura langsung berdiri seakan ingin mencegah istri dari pimpinan perusahaan itu untuk masuk.


"Kenapa Maura?" tanya Amartha pada Maura, tapi wanita itu tak kunjung mengatakan apa yang tertahan di bibirnya.


"Saya masuk dulu," kata Amartha.


Ketika ia melangkah masuk, Amartha melihat suaminya berada di satu ruangan yang sama dengan Ivanka. Amartha langsung mengalihkan pandangannya dari wanita yang membuat ia sangat kesal itu. Satya yang melihat istrinya sudah datang pun langsung bangkit dari duduknya.


"Kamu udah dateng, sini masuk, Sayang..." kata Satya seraya menarik pinggang Amartha, pria itu mengajak wanitanya untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Duduk disini dulu," Satya berbicara pada Amartha yang tak melepaskan pandangannya dari wanita yang mirip boneka santet itu, yang saat ini juga menatapnya dengan tajam.


"Aku selesein bentar, yah?" ucap Satya lembut, Amartha memutuskan tatapan lasernya pada Ivanka.


"Nggak lama, kan?" tanya Amartha memastikan bahwa ucapannya di dengar Ivanka. Amartha malah berpindah dan duduk di pangkuan suaminya, Satya hanya terkekeh dalam hati karena istrinya saat ini sedang berusaha mempertahankan daerah kekuasaannya.


"Maaf, Nona Ivanka ... istri saya selama hamil pengennya dipangku terus, maklum bawaan bayi," ucap Satya yang menfalihkan pandangannya dari sebuah map yang sedang dipegangnya. Pria itu capek menghadapi Ivanka yang terus berusaha mendekatinya, makanya ia suruh istrinya datang ke kantornya saat Ivanka ada disana.


"Iya..." jawab Ivanka dengan wajah yang masam.


"Asisten saya secepatnya akan mengabari jika isi perjanjian ini sudah selesai saya pelajari," ucap Satya mengusir secara halus.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi," kata Ivanka, menjawab ucapan Satya namun tatapannya mengarah pada istri dari pria yang sedang menjadi incarannya.


"Silakan," kata Amartha cuek.


"Oh, ya ... silakan Nona hati-hati," kata Satya seraya menaruh map diatas meja.


Ivanka segera meninggalkan ruangan itu. Ia sangat kesal dengan kehadiran Amartha. Apalagi mereka sempat memamerkan kemesraan dihadapannya.


"Awas saja kamu, Satya!" gumam wanita itu sambil menghentakkan kakinya berjalan menuju pintu besi.


"Mau kemana?" ucap Satya menahan pinggang istrinya.


"Mau pindah,"


"Ngapain pindah?" tanya Satya pada istrinya.


"Pegel," jawab Amartha.


"Masa sih?" tanya Satya penuh arti.


Tiba-tiba Firlan masuk bersama Maura, mereka berdua melihat adegan sosor-sosoran yang kalau tayang di tivi pasti udah kena sensor.


Firlan segera menutup mata Maura yang masih suci itu.


"Tuan..." cicit Firlan menghentikan adegan bibir the explorer antara Satya dan Amartha.

__ADS_1


Disisi lain seorang wanita sudah menunggu lama di bandara.


"Mana nih yang ditugasin jemput onti Isha? kok nggak nongol-nongol orangnya?" gumam Prisha berdiri dengan koper di sampingnya.


"Abang nggak ada akhlak emang! dia inget nggak sih adiknya pulang hari ini?" Prisha nyerocos terus sambil matanya mencari-cari sosok Satya.


Gadis itu pun merogoh sakunya, ia menelepon Satya. Namun panggilan itu tak kunjung dijawab.


"Kemana, sih? nasib ya nasib apa salah dan dosaku sampe disuruh nunggu begini, mana kaki udah pegel,"


"Dosa kamu banyak! mau abang bacain satu-satu, apa gimana?" seru Satya.


Prisha segera memutar tubuhnya, ia melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dan istrinya yang seperti menyimpan balon dalan dressnya.


"Mbaaaaaakkk!" seru Prisha heboh. Gadis itu segera memeluk kakak iparnya sedangkan orang yang sedarah dengannya disapanya pun tidak.


"Perutnya lucu, Mbak! hai dedek, onti Isha pulaaaang..." ucap Prisha seraya menempelkan telinganya pada perut besar kakak iparnya. Dia cekikikan sendiri kayak orang stress, seakan mereka sedang berbincang. Satya hanya menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan adiknya yang sama ajaibnya dengan dirinya dan Sandra.


"Woy! ini abang kandung nggak disapa?" celetuk Satya.


"Dek, ada makhluk halus lagi ngomong!" bisik Prisha pada perut bulat itu.


"Ngomong apa tadi? sembarangan!" ucap Satya seraya menjauhkan kepala adiknya dari perut istrinya.


"Mbak dia kerasukan apa sih? dateng-dateng merong-merong bae!" ucap Prisha menaikkan sebelah alisnya.


"Udah jangan banyak ngomong, tuh Damian udah nungguin di depan!" ucap Satya yang meraih koper adiknya.


"Loh kok, Damian? kan aku mau pulang sama mbak Amartha!" protes Prisha.


"Udah sih, Mas! jangan ribut, malu diliatin orang," Amartha menyenggol lengan suaminya.


"Tau nih, malu-maluin aja jadi orang!" timpal Prisha yang membuat Satya menarik nafasnya dalam.


"Karung mana karung!" seru Satya.


"Buat apaan?" tanya Prisha bego.

__ADS_1


"Buat buntelin kamu!" celetuk Satya.


...----------------...


__ADS_2