
"Astaga, kamu ngagetin tau, nggak!" ucap Amartha pada suaminya.
"Maaf. Gimana? barangnya sesuai? hem?" tanya Satya.
"Hu'um ... semuanya sesuai, aku suka. Tapi..." kata Amartha menggantung.
"Tapi apa, Sayang? suami kamu yang tampan nggak ada lawan ini akan penuhi semua permintaan kamu," kata Satya yang semakin membenamkan wajahnya ke ceruk istrinya.
"Ya ampun pedenya nggak ada obat," celetuk Amartha.
"Tapi apa yang tadi? jangan bikin penasaran, dong…" kata Satya sambil mengusap perut istrinya, sesekali ia mendapat sebuah tendangan dari calon anaknya.
"Yank…" panggil Satya pada istrinya yang tak kunjung menjawab.
"Tapi, aku tuh pengennya ada suasana lain yang lebih ke anak-anak gitu, Mas…" ucap Amartha.
"Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Satya.
"Aku pengen tembok yang sebelah situ digambar pohon dan beberapa binatang-binatang yang lucu di atas hamparan rumput yang hijau, terus ada langit biru sama awan dan mataharinya juga," ujar Amartha.
"As your wish, Madam!" jawab Satya.
"Aku akan menyuruh orang untuk mendekor ruangan ini," kata Satya yang tak mau melepaskan pelukannya.
"Aku nggak mau orang lain, Mas! aku maunya Vira…" ucap Amartha, membuat Satya melonggarkan pelukannya.
"Vira temen kamu itu? yang pacaran sama Firlan?" tanya Satya memperjelas, barangkali ada Vira yang lain yang dimaksud oleh Amartha.
"Ya iya, Vira yang itu. Emangnya ada Vira yang lain lagi?" Amartha memutar bola matanya malas. Satya memutar tubuh istrinya agar bisa melihat wajah Amartha dengan jelas.
"Emang dia bisa? nanti yang ada corat coret tembok doang," cibir Satya.
"Dia suka gambar," kata Amartha.
"Suka kan belum berarti bisa, Yank…" Satya menimpali ucapan istrinya.
__ADS_1
"Maksudku, dia bisa melukis … aku pernah liat tuh, dia asal nyoret di buku aja bisa jadi bagus," ucap Amartha tak mau kalah.
"Tapi kan," ucap Satya, belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya Amartha sudah memotong ucapan suaminya.
"Pokoknya aku maunya Vira yang ngelukis temboknya, Mas. Lagian ini permintaan langsung dari si dedek bayi," ucap Amartha sambil mengelus perutnya.
"Iyain aja, deh! daripada ngambek lagi kan berabe. Nggak dapat pintu kamar yang ada," ucap Satya dalam batinnya.
"Ya udah, karena ini permintaan dari dedek bayi yang namanya masih disamarkan, apa boleh buat. Hubungin makhluk itu, suruh dia ngegambar nih tembok! bilangin harus bagus," kata Satya seraya membawa Amartha ke dalam pelukannya.
"Makasih ya, Mas!" ucap Amartha yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Eh, tunggu dulu!" tiba-tiba Amartha menjarak tubuh keduanya.
"Ada apa lagi, Yank?"
"Kok kamu pulang jam segini, Mas? ini kan jam nanggung, udah lewat jam makan siang dan udah deket jam pulang," tanya Amartha heran.
"Yassalam! ngobrol daritadi, baru ditanyain. Kamu ini ada-ada aja, Yank!" Satya terkekeh dengan pertanyaan istrinya.
"Jangan kebanyakan berdiri, nanti kaki kamu pegel lagi. Kita istirahat di kamar," ucap Satya seraya menarik pinggang istrinya, berjalan menuju pintu keluar.
Satya membawa istrinya ke kamar mereka yang terkoneksi dengan ruangan bayinya itu. Sebenarnya, Amartha tak ada niat untuk tidur terpisah dari sang bayi. Kamar itu dibuat hanya untuk tempat mandi dan berganti pakaian anaknya yang merangkap tempat bermain juga.
"Segini udah nyaman?" ucap Satya yang mengatur bantal untuk menyangga punggung sang istri. Amartha kemudian mengangguk sebagai jawabannya.
"Makasih, Mas…" ucap Amartha.
"Aku ganti baju dulu," kata Satya yang melepas jas dan dasinya. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi setelah melepas kemejanya terlebih dahulu. Satya selalu membersihkan dirinya setelah pulang dari kantor, katanya biar tidak ada setan yang nempel. Entahlah benar atau tidaknya. Yang jelas dia butuh kesegaran saat ini.
Dengan khusyu nya Satya berendam air hangat dengan busa yang melimpah ditambah lagi wangi dari essential oil yang membuat otot-otot yang tegang menjadi rileks kembali.
Sebisa mungkin ketika di dalam rumah, ia menyingkirkan urusan kantor dari otaknya. Karena saat di rumah, Amartha membutuhkan perhatiannya sebagai suami, dia butuh teman bicara. Meskipun obrolan mereka sering nyeleneh.
Setelah dirasa cukup, pria itu pun segera mengakhiri acara berendamnya. Satya segera membilas tubuhnya dan segera memakai handuk kimono setelah mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Satya berjalan mendekati istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas. Pria tampan itu membelai lembut wajah Amartha.
"Aku tiba-tiba ingat pertemuan pertama kita di dalam kereta, melihatmu tidur sambil mangap, lucu banget! ck, sayangnya tuh foto udah dihapus waktu itu sama kamu," ucap Satya. Pria itu lantas segera beranjak dan berjalan ke ruang ganti.
Beberapa saat kemudian, pria itu datang kembali dan perlahan memperbaiki posisi tidur istrinya yang saat ini masih setengah duduk. Amartha yang sejak hamil jadi ngantukan dan emosian pun tak terganggu sama sekali dengan yang dilakukan Satya.
Pria itu mengambil tablet untuknya bekerja, sambil sesekali mengawasi pergerakan istrinya. Firlan sebenarnya tak pernah menyampaikan kalau pihak Ivanka ingin melanjutkan kerjasama dengan perusahaan milik bosnya itu, kerjasama yang sempat terputus. Firlan tahu persis dengan jika Abiseka ataupun Satya, lebih mementingkan keutuhan rumah tangga daripada keuntungan perusahaan.
Tak lama ada sebuah panggilan masuk ke ponsel Satya.
"Halo! ada apa, Lan?" tanya Satya saat panggilan tersambung.
"Begini, Tuan…" ucap Firlan. Pria itu pun menceritakan jika Ivanka ingin menyambung project yang pernah mereka yang sempat terputus. Dan Firlan menyampaikan permintaan maaf dari Ivanka karena sempat membuat gejolak dalam perusahaan.
"Jawaban saya tetap sama, Firlan … saya tidak akan melanjutkan project itu, dan sebenarnya kamu sudah paham itu, kan?" ujar Satya, ia mengatur suaranya agar tidak terlalu keras.
"Iya, saya sudah tau itu, Tuan…" ujar Firlan.
"Lalu, mengapa kamu masih menyampaikan ini padaku?" tanya Satya dengan setengah berbisik, mengingat nama Ivanka saja sudah membuat dia sangat murka.
"Ada hal lain lagi, Lan?" tanya Satya lagi, pasalnya Firlan tak juga mengatakan apa-apa lagi, sedangkan panggilan mereka masih terhubung. Firlan bingung harus mengatakan ini pada Satya atau tidak.
"Lan? kamu masih disana?" ucapan Satya menyadarkan Firlan dari lamunannya sesaat.
"Astaga, apa yang ingin kamu bicarakan lagi, Firlan? tingkahmu ini sungguh mencurigakan," kata Satya yang menangkap sesuatu yang aneh dari pria itu.
"Sebenarnya ada hal lain, Tuan…" ujar Firlan ragu-ragu.
"Katakan! tidak biasanya kamu bicara bertele-tele seperti ini," ucap Satya.
"Kamu itu seperti anak remaja yang labil, Firlan! cepat katakan apa yang tertahan di tenggorokanmu itu," sambung Satya.
Firlan sungguh dilema. Ia tahu jika menyampaikan ini pada Satya, si bos laknat itu pasti akan langsung memuntahkan lahar kemarahannya.
"Ya, sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Saya hanya diminta untuk menyampaikan kalau…" ucapan Firlan terhenti sejenak.
__ADS_1
...----------------...