
"Hmmmmm, fiuh! seger banget nggak, sih?" ucap Amartha sambil berjalan dibawah langit subuh.
"Segeran juga liat kamu, Yank..." kata Satya dengan satu tangan menggandeng Amartha.
"Gombal gambel gombel!"
"Dih! orang beneran kok dibilang gombal!" kata Satya.
"Masih jam 5 pagi udah keluar, kasihan si dedek..." kata Satya seraya menutup kepala istrinya dengan hoddie yang sudah melorot daritadi.
"Kasihan dedek atau kamu, Mas?" ledek Amartha.
"Ya kasihan dedek dan aku juga lah!" kata Satya.
Mereka berjalan perlahan menjauh dari rumah, sementara matahari sudah mulai menampakkan dirinya perlahan.
"Tuh, langitnya bagus!" Amartha menunjuk ke atas.
"Bagusan juga kamu, Yank!" jawab Satya, memasukkan satu tangan ke dalam saku.
"Ish, aku serius, Mas!" ucap Amartha.
"Aku duarius, aquarius, saturnus, uranus, merkurius!" ujar Satya ngasal.
"Mengcapek ngomong sama kamu, Mas!" kata Amartha.
"Mengcinta jalan sama kamu, Yank!" timpal Satya.
"Nggak nyambung!"
"Biarin..." Satya terkekeh saat istrinya manyun-manyun tidak jelas.
Satya melihat ponsel yang adabdi dalam sakunya, ia menyetel timer ketika mereka keluar dari rumah. Dia melakukan itu agar bisa mengerem istrinya agar tidak berjalan terlalu lama, dia takut istrinya kelelahan.
"Kamu nggak capek?" tanya Satya saat mereka sudah berjalan 10 menit.
"Kalau capek aku gendong!" lanjut Satya seraya mengantongi kembali ponsel miliknya.
"Mas!" Amartha menggoyangkan tautan tangan mereka.
"Kenapa?" tanya Satya memandang istrinya.
"Itu ada bocah..." ucap Amartha.
"Yang mana? ah, tuyul mungkin!" celetuk Satya yang belum melihatbke arah yang ditunjuk istrinya.
"Ishhh, kamu kalau ngomong sembarangan banget, Mas!" Amartha kesal dengan jawaban suaminya yang terkesan menakut-nakutinya. Sedangkan Satya berkata begitu agar Amartha tidak berjalan lebih jauh lagi.
"Itu dia disana, kita samperin yuk?" ucap Amartha.
"Nggak usah! balik lagi aja, barangkali tuyul nanti kamu kena sawan bahaya," ujar Satya.
__ADS_1
"Lagian mana ada anak keluyuran jam segini, yang ada masih pada molor di rumah," lanjut pria itu yang berjalan menggandeng istrinya.
"Tapi itu kayaknya bocah, Mas! aku penasaran..." kata Amartha tidak ada takut-takutnya.
"Lagian ini tuh udah pagi mana ada setan keluyuran jam segini," lanjut wanita yang tengah hamil besar itu.
"Jangan salah, setan mah nggak kenal pagi siang sore atau malam. Kamu lagi hamil, biasanya wanita hamil bisa melihat makhluk yang kayak gitu," kata Satya, secercah penasaran pun sebenarnya menghampiri pria itu. Terlihat seorang anak kecil sedang membawa karung berwarna putih, sedang duduk bersila di pinggir jalan.
"Ngomong aja kamu penakut, Mas!" ledek Amartha.
"Bukan penakut, tapi aku mikirin kamu sama anak kita," ucap Satya sementara langit semakin terang. Sehingga sosok anak itu terlihat semakin jelas.
"Itu beneran bocah, Mas!" kata Amartha semakin mempercepat jalannya, ia bahkan melepaskan tangan suaminya.
"Tunggu, Yank!" Satya mempercepat langkahnya dan meraih kembali tangan istrinya.
"Jalannya nggak usah cepet-cepet, inget ada anak kita di dalem sini," kata Satya seraya mengelus perut istrinya.
"Tapi kamu jalan lambat banget, Yank!"
"Namanya juga jalan santai, ngapain nesti buru-buru?" kata Satya.
Mereka semakin dekat dengan sosok bocah laki-laki itu. Dia duduk disamping karung yang entah berisi apa.
"Dek?" Amartha memanggil anak kecil bertopi lusuh yang sedang menunduk.
"Dek, kamu ngapain duduk disini sendirian? orangtua kamu mana?" lanjut Amartha.
"Eh, itu ... emh," bocah cilik itu bingung harus menjawab apa. Ia berdiri dati duduknya.
"Ibu sama bapak kamu dimana?" lanjut Satya.
"Ibu di rumah," ucap bocah cilik itu.
"Kalau bapak, kita tadi mencar ... aku disuruh nunggu disini," ujar si bocah.
"Nama kamu siapa?" tanya Amartha.
"Reski" jawab bocah cilik itu.
"Kamu keluar jam berapa tadi dari rumah? kenapa mulung sepagi ini?" Satya mencecar bocah itu dengan pertanyaan.
"Tadi lepas adzan subuh, Pak. Kata bapak kami harus cepat mulung, supaya bisa cepet dapet duit buat beli obat adek," jawab anak kecil bernama Reski.
"Emang adek kamu sakit apa?" tanya Amartha.
"Demam," kata Reski.
"Ambilah, dan berikan pada orangtuamu..." Satya memberikan 10 lembar uang berwarna merah, ia berjongkok untuk menyamai tinggi anak itu.
"Pulanglah, berikan itu pada orangtuamu..." lanjut Satya.
__ADS_1
"Maaf, Pak! saya nggak bisa," kata bocah itu menyodorkan uang yang baru saja diberikan Satya.
"Reski!" seru seorang pria tua.
"Bapak!" pekik bocah itu.
Seorang pria dengan membawa karung yang berisi botol bekas menghampiri mereka.
"Kamu sama siapa, Nak?" tanya pria itu sambil sambil melihat Amartha dan Satya secara bergantian. Satya menegakkan tubuhnya kembali, pria itu berdiri melihat orang yang baru saja datang.
"Duit siapa yang kamu pegang? kamu mencuri? " tanya pria itu pada anaknya, ia menurunkan karung yang tadi ia bawa di sebelah punggungnya.
"Tidak, Pak! anak bapak tidak mencuri, uang itu dari saya. Kata Reski adiknya demam, dan kalian butuh uang untuk membawanya berobat?" ucap Satya.
"Kembalikan! bapak tidak mengajarimu untuk minta-minta, Reski!" ucap pria disamping Reski.
"Maaf, Pak! dia tidak meminta itu, saya yang memberinya dengan ikhlas..." ucap Satya, Amartha tersenyum melihat ketulusan suaminya.
"Tapi ini terlalu banyak, kami tidak bisa menerima ini," ucap pria itu seraya mengambil uang yang ada di tangan anaknya dan ingin mengembalikannya pada Satya, namun Satya mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Tidak, Pak ... anggap saja ini rezeki yang diberikan Allah untuk keluarga Bapak. Sebaiknya Bapak dan Reski cepat pulang, dan bawa adik Reski untuk berobat," kata Satya.
"Maaf, nama Bapak siapa?" tanya Satya.
"Panggil saja Pak Ranto! rumah saya di ujung gang sana, itu di gang yang ada tiang listrik," kata Pak Ranto menunjukkan dimana rumahnya.
"Sebaiknya Bapak cepat pulang," kata Amartha.
"Terima kasih banyak, Mas ... Mbak! semoaga Allah yang membalas kebaikan kalian berlipat ganda," kata pak Ranto menitikkan air matanya.
"Aamin," ucap Satya.
"Kalau begitu, saya permisi ... sekali lagi tetima kasih banyak, Mas ... Mbak!" ucap Pak Ranto.
"Ayo, Res! kita pulang..." ajak pak Ranto pada Reski.
"Terima kasih, Pak..." ucap Reski pada Satya.
Pak Ranto dan Reski berjalan menjauh dengan membawa karung yang berisi barang rongsokan. Amartha melihat ke arah suaminya, ia menyunggingkan senyumnya.
"Kamu baik banget, Mas..." puji Amartha.
"Masa, sih?" kata Satya menaikkan satu alisnya menatap istrinya.
"Iya..." ucap Amartha lembut.
"Kenapa kamu langsung memberikan uang pada anak itu," tanya Amartha penasaran.
"Maksud kamu, kenapa aku yakin kalau dia berkata jujur?" ucap Satya.
"Hu,um!"
__ADS_1
"Aku melihat kejujuran dimatanya. Kalau dia bohong, dia tidak akan mengembalikan uang itu, Sayang!" ucap Satya seraya memutar tubuh istrinya, menghadap jalan yang telah mereka lewati.
"Kita pulang," ucap Satya, Amartha mengangguk dan menggenggam tangn suaminya dengan erat.