Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pulkam


__ADS_3

"Siapa, Mah?" tanya Rudy dari arah dalam.


"Amartha sama Satya, Pah..." seru Rosa.


"Masuk, Sayang..." kata Rosa yang mengajak anaknya untuk masuk.


"Ayo, masuk masuk! jangan di depan pintu..." kata Rudy yang menghampiri istrinya, ia menyuruh anak dan menantunya untuk cepat masuk ke dalam.


Amartha yang masih betah loading pun membuat suaminya terkekeh. Dia tahu betul istrinya sekarang sedang menyimpan sejuta tanya dalam benaknya. Kenapa rumahnya sekarang berubah, dari segi bentuk maupun luas. Banyak guci-guci kristal yang terpajang di rumah itu. Amartha memandang suaminya meminta penjelasan.


Rosa membawa Amartha duduk di ruang keluarga.


"Kamu duduk dulu, mama tadi udah beliin es boba kesukaan kamu," ucap Rosa


"Amartha boleh minum es yang kayak gitu kan, Sat?" Rosa menatap Satya


"Boleh, Mah ... asal nggak terlalu sering," jawab Satya.


"Mah, papa juga mau..." ucap Rudy.


"Kamu mau minum apa, Sat?" tanya Rosa pada menantunya.


"Aku air putih aja, Mah ... liat muka anak Mamah aja udah manis banget, jadi minumnya yang netral-netral aja," seloroh Satya.


"Nggak jauh beda sama mama waktu masih muda, Sat! iya kan, Pah?" ucap Rosa melirik suaminya.


"Iya, Mah..." jawab Rudy.


"Ya udah mama ke dapur dulu, ambil minum..." kata Rosa.


"Rumah kita?" ucapan Amartha menggantung, ia menatap Rudy dan Satya secara bergantian.


"Rumah kita direnovasi, Satya membeli 4 rumah tetangga kita lalu rumah ini dirombak total semuanya dibangun dari awal,"


"Sebenarnya rumah ini terlalu luas untuk kami yang mulai menua ini," kata Rudy berbarengan dengan Rosa yang datang dengan membawa beberapa gelas minuman. Rosa duduk disamping suaminya bersebrangan dengan anak dan menantunya.


"Iya kan nanti rumah ini juga ramai dengan anak-anak, Pah..." kata Satya.


"Kita kan mau bikin kesebelasan. Iya kan, Sayang?" lanjut Satya. Amartha hanya bisa mendesis mendengar ucapan suaminya, Rosa dan Rudy pun tertawa melihat tingkah anaknya itu.


"Kok Mas nggak cerita kalau ngerenov rumah ini?" tanya Amartha.


"Kalau aku cerita bukan kejutan namanya..." kata Satya.


"Kalau rumah ini dibangun dari awal lalu Mama sama Papa tinggal dimana?" tanya Amartha pada Rosa dan Rudy.


"Di hotel, sampai rumah ini selesai dan siap dihuni," jelas Rosa.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, mama dan papa itu nggak akan sendirian mengurus rumah ini, karena aku juga menyediakan beberapa pelayan..." Satya menambahi penjelasan Rosa.


"Diminum dulu, Sayang .... penasarannya dilanjut nanti," kata Rosa.


Amartha mengambil gelas bening yang berisi minuman favoritnya.


"Makasih ya, Mas?" kata Amartha setelah meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya.


"Sudah kewajiban aku, Yank..." kata Satya, Rudy dan Rosa pun tersenyum mendengar ucapan Satya.


"Ini sudah jam makan siang, kita makan dulu, yuk! mama sudah masakin kamu gurame bakar, dan nasi kemangi..." ucap Rosa.


Mereka pun akhirnya berpindah ke ruang makan.


"Silakan, Nyonya..." ucap seorang pelayan.


"Oh ya, ini anak saya namanya Amartha dan ini menantu saya, Satya..." ucap Rosa memperkenalkan anak dan menantunya pada kedua pelayannya.


"Saya Ida, Nyonya ... dan ini Nur..." kata Ida memperkenalkan dirinya dan seorang wanita disampingnya yang membungkulkan sedikit badannya.


"Salam kenal Mbak Ida dan Mbak Nuri ... betah-betah ya disini," kata Amartha.


"Pasti betah, Nyonya karena bu Rosa orangnya sangat baik dan tidak pernah marah-marah seperti majikan yang di sinetron-sinetron itu," kata Nuri keceplosan.


"Hahaha, kamu bisa aja, Nur!" kata Rosa.


"Silakan Nyonya, Tuan ... kami permisi," ucap Ida yang berjalan ke belakang diikuti Nuri.


"Sekalian sama kamu aja, Yank..." kata Satya.


"Tangan kamu kenapa, Sat?" tanya Rudy yang baru menyadari tangan menantunya dibalut.


"Luka, Pah..." sahut Satya.


"Habis adu jotos sama meja kaca, Pah..." timpal Amartha.


"Mejanya salah apa kok sampe dipukul pakai tangan?" tanya Rudy.


"Aku juga bingung, Pah ... karena saat itu aku mungkin sedang banyak pikiran, sampai aku ketiduran di kantor dan aku mengalami mimpi bertingkat, aku pukul meja bukan karena marah tapi aku mau memastikan aku berada di dunia nyata atau dunia mimpi," jelas Satya.


"Bukan hal yan perlu dikhawatirkan, Pah..." lanjut Satya.


"Iya, tapi kamu perlu mengelola pikiran kamu, Sat ... supaya kejadian itu nggak terulang kembali," kata Rudy.


"Sudah, sudah ... kita makan dulu, baru nanti ngobrol lagi, kasian mereka pasti lapar habis perjalanan jauh," kata Rosa.


"Aku suapin, yah?" kata Amartha pada suaminya. Satya mengangguk.

__ADS_1


Rosa dan Rudy pun sangat senang melihat kemesraan Amaryha dan Satya, terlebih lagi Satya sangat menyayangi anak mereka, Amartha.


Sementara di tempat lain, Vira sedang di kamar Raharjo. Wanita itu sedang berbincang dengan ayahnya, sedangkan Dewi sedang memasak di dapur.


"Kamu nggak masuk kerja? atau masih libur?" tanya Raharjo.


"Emh..." Vira bingung harus mengatakannya.


"Kenapa?" tanya Raharjo.


"Vira ... emh, Vira udah nggak kerja," kata Vira.


"Kenapa? ada masalah di tempat kerja kamu?" tanya Raharjo.


"Vira pikir, Vira mau konsen ngerawat Papa dulu ... Vira punya cukup tabungan untuk bertahan hidup. Bagi Vira yang terpenting sekarang kesehatan papa," jelas Vira.


"Bener?" tanya Raharjo menatap anaknya lekat-lekat.


"Iya beneran, Paa..." kata Vira seraya menipiskan bibirnya.


"Tadi pagi kayaknya papa denger suara Firlan, tumben dia nggak nemuin papa?" tanya pria yang sedang masa pemulihan itu.


"Iya tadi cuma sebentaran aja, kan dia harus berangkat kerja, Paa..." kata Vira.


"Iya juga, ya?" kata Raharjo.


"Paa, rencana kita selanjutnya gimana? nggak mungkin kita terus-terusan ngerepotin kak Ricko," kata Vira.


"Waktu itu Ricko bilang, selama 2 sampai 4 bulan lebih baik papa disini dulu, sampai papa kuat untuk melakukan perjalanan jauh," jelas Raharjo.


"Papa juga sebenarnya tidak enak selalu menyusahkan Ricko dengan tinggal disini, tapi beginilah keadaan kita ... mau bagaimana lagi? nanti kita bicarakan lagi dengan Ricko," kata Raharjo.


Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar, lalu perlahan membuka pintu.


"Kak Ricko?" cicit Vira, ia melihat Ricko sudah berpakaian santai ia memakai masker dan penutup kepala.


"Kok udah pulang?" tanya Vira saat melihat Ricko mendekat.


"Aku masih membatasi aktivitasku, kerjaan aku bawa ke rumah, Vir..." jelas Ricko.


"Gimana, keadaan Bapak hari ini?" tanya Ricko. Pria itu duduk di kursi disamping tempat tidur pria tua itu, sedangkan Vira duduk di sisi ranjang bersebelahan dengannya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik ... sudah tidak terlalu sakit juga," ucap Raharjo.


"Syukurlah, Pak ... kalau keadaan Bapak semakin membaik," kata Ricko.


"Lalu bagaimana dengan luka bekas operasimu, Nak?" tanya Raharjo.

__ADS_1


"Mungkin karena saya masih muda, jadi luka disini lebih cepat sembuh. Atau mungkin karena saya makan gongso buatan Vira wajtu itu, Pak..." seloroh Ricko. Vira tertawa mendengar ucapan Ricko begitu juga dengan Raharjo. Mereka mengingat bagaimana rasa gongso ayam yang acakadul itu.


...----------------...


__ADS_2