Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kembali Menemui Kegagalan


__ADS_3

Firlan memutuskan untuk kembali ke hotel tempat ia menginap dia memesan kamar disamping kamar yang ditempati Andini. Beruntung kamar itu kosong, jadi ia bisa langsu menempati kamar itu. Dia tahu kalau masih menginap di hotel itu, dia ingin memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.


Dia tidak mau terus-terusan dibohongi oleh wanita itu. Malam menjelang, Firlan duduk di belakang pintu kamarnya, pikirannya kalut, kacau, ia sangat kecewa dan marah dengan Andini. Ia tak membiarkan satu tetes pun airmata meluncur dari matanya, airmatanya terlalu berharga untuk menangisi wanita penghianat seperti dia. Dia menyenderkan punggungnya di pintu, sementara pikirannya melayang jauh.


Tak berapa lama ia mendengar suara wanita tertawa di depan kamarnya, suara tawa kemudian berganti dengan suara-suara yang tidak sepatutnya terdengar. Firlan menajamkan telinganya, tangannya mengepal kuat, namun sesaat ia mencoba mentralisir perasaannya, pria itu bangkit, dengan cepat ia membuka pintunya, dan matanya menangkap kekasihnya berada dalam rengkuhan seorang pria.


"Andini?" kata Firlan dengan wajah datarnya. Sepasang manusia yang tidak tahu malu itu akhirnya menghentikan aksinya, dan menoleh kesamping.


"Fi-firlan! ka-kamu," Andini terbata-bata melihat kekasihnya ada di depan matanya, dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Kenapa? kaget? aku baru tahu, ternyata rumah nenek kamu pindah ke sini, ya?" sindir Firlan yang membuat Andini menelan salivanya dengan susah payah.


"Siapa dia, honey? apa kau mengenalnya?" tanya pria yang bersama Andini.


"Bukan siapa-siapa, lanjutkanlah ... maaf mengganggu," ucap Firlan yang kemudian menutup pintu kamarnya.


Hati Firlan hancur, remuk, melihat apa yang telah tersaji di depan matanya. Sementara Andini, tersenyum kaku pada pria bersuara bariton yang sedari tadi bersamanya.


"Tidak ada tempat untuk seorang penghianat!" gumam Firlan.


Tak ingin berlama-lama, Firlan langsung mengambil kopernya dan segera check out dari hotel tempatnya menginap. Dia memesan taksi untuk mengantarnya ke bandara, entahlah, dia ingin pergi ke tempat yang jauh untuk menenangkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Sinta sedang memperhatikan seorang pria yang sepertinya sedang menunggu kedatangan seseorang. Sinta duduk membelakangi pria itu dengan sengaja mengubah tatanan rambutnya yang lurus menjadi ikal, dia dengan seksama mendengarkan pesanan si pria. Sinta menyuruh seseorang untuk mengawasi Kenan, ketika orang suruhannya memberitahu Kenan pergi ke restoran ini, dia langsung meluncur, berharap rencananya kali ini akan berhasil.


Tak lama, Sinta beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju suatu tempat.


"Eh, mbak ... ehm, ini pesanan untuk meja nomor 12, ya?" tanya Sinta sok ramah pada pelayan yang sedang membawa minuman.


"Bukan Nona, ini untuk meja 11," sahut pelayan itu


"Oh, boleh nambah satu pesanan lagi? ehm, lemon tea hangat satu untuk meja 11," ucap Sinta setelah, memastikan yang pelayan itu bawa adalah pesanan Kenan.


"Saya antar pesanan ini dulu,"

__ADS_1


"Ehm, mbak temen saya udah pusing banget katanya, minta tolong ya ... please," Sinta memasang muka memelasnya, ia menunjuk Bella yang memegang kepalanya pura-pura sakit.


"Ya sudah, saya ambilkan dulu, Nona," pelayan itu akhirnya memutar tubuhnya, hendak kembali ke dalam.


"Taruh disini, aja sih mbak, dijagain kok, aman," Sinta menunjuk sebuah meja di depannya.


"Baik mbak tunggu sebentar," pelayan itu menaruh nampan tadi dan berjalan ke belakang.


Dengan segera Sinta mencampurkan sesuatu ke dalam minuman itu, sebungkus serbuk yang langsung larut ke dalam air tanpa harus diaduk.


"Ini Nona, lemon teanya, mau saya antar ke meja mbak atau," ujar pelayan tadi.


"Siniin aja mbak, biar saya bawa sendiri," kata Sinta yang langsung mengambil segelas lemon tea hangat yang ditaruh diatas baki yang dibawa oleh pelayan itu.


"Baik, Nona..." ucap pelayan itu yang kemudian pergi mengantarkan minuman yang dipesan Kenan.


"Hahahahaha, aku akan mendapatkanmu walaupun dengan cara kotor sekalipun," gumam Sinta.


Saat Sinta memutar tubuhnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang menabrak tubuhnya sehingga, sebagian minuman itu tumpah ke bajunya.


BRUKKK!


"Jalan pake mata, dong!" ucap Sinta yang marah karena bajunya basah


"Sorry, nggak sengaja," kata seorang gadis yang memasang wajah menyesalnya.


"Shi*t!" umpat Sinta, seraya menaruh gelas diatas meja yang paling dekat dengannya.


"Saya bantu bersihkan Kak, maaf..." ucap gadis itu lagi.


"Jangan pegang-pegang, gue bisa sendiri," ucap Sinta seraya berjalan ke arah toilet.


Tak berapa lama ia kembali dari toilet, tapi ketika ia mengedarkan pandangannya ia tak menemukan sosok Kenan.


"Kemana dia?" Sinta bergumam sambil berjalan ke arah meja yang di duduki Kenan.

__ADS_1


"Si Bella juga kemana lagi tuh anak, disuruh jagain disini malah ngloyor pergi, brengs*k!" Sinta lalu duduk di kursi yang sudah ditinggalkan Kenan. Ia merogoh ponsel yang ada di tasnya. Sinta berusaha menghubungi Bella.


"Nggak diangkat lagi," gumam Sinta sambil bersungut.


"Eh, Mbak..." Sinta memanggil pelayan yang sedang membersihkan meja di sebelahnya.


"Laki-laki yang duduk disini tadi, kemana ya?" Sinta bertanya setelah pelayan itu mendekat


"Sudah pergi beberapa menit yang lalu, Nona ... permisi," ucap si pelayan.


"Sial! aku belum pastiin dia minum itu atau nggak, aarrghhh!" Sinta mengerang frustasi, dia harus mencari tahu keberadaan Kenan. Saat ia akan menelepon, orang suruhannya tiba-tiba seorang pria menarik kursi dan duduk di depannya.


"Ehem!" pria itu berdehem.


"Kita nggak ada urusan, mending lo cari tempat lain, gue lagi nggak pengen liat muka lo itu, Fendy," ketus Sinta saat melihat Fendy ada dihadapannya.


"Nggak nyangka kamu licik juga ya ternyata," kata Fendy seraya menyeringai.


"Apa lo bilang?" Sinta berdecak kesal saat melihat orang yang sangat tidak ingin ia temui saat ini.


"Aku bilang licik!" Fendy kembali menertawakan Sinta yang sudah sangat geram dengan tingkah Fendy.


"Deuh sama pacar jangan garang-garang, nggak baik," ucap Fendy dengan senyum mengejeknya.


"Kalau lo nggak mau pergi, biar gue yang pergi," Sinta segera beranjak dari duduknya namun Fendi segera bangkita dan mencekal lengan Sinta.


"Hari ini bukan hari keberuntunganmu, Sinta..." bisik Fendy ke telinga Sinta, yang membuat Sinra membulatkan matanya.


"Maaf, rencanamu nggak berhasil," lanjutnya, membuat Sinta menatap pria itu dengan tajam.


"Aku bener, kan? duh kasiaaan, hahahaha," Fendy menjarak tubuhnya dengan Sinta, pria itu tertawa, dan semakin menyulut emosi wanita itu.


"Jangan-jangan, kamu yang membuat rencanaku berantakan!" Sinta menatap tajam, kearah pria yang kini melipat tangannya didepan dada.


"Menurutmu?" ucap Fendy, yang membuat Sinta marah karena pria itu telah membuat semuanya tidak sesuai dengan harapannya.

__ADS_1


...----------------...


Ngebul pemirrsaaaaaah, 6 hr 2000 kata tuh brrasa otak mulai oleng


__ADS_2