Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tanggung Jawab?


__ADS_3

"Kamu dimana, Mas? kok ada suara cewek nangis," tanya Amartha penasaran.


"Ivanka, matanya kelilipan." jawab Satya asal.


"Oh, lagi sama dia. Ya udah, yang penting bukan kamu yang niupin matanya dia," ucap Amartha mencoba untuk tidak cemburu. Perasaannya tetap tidak enak, meskipun sudah mendengar suara Satya.


"Nggak lah, Yank. Nggak sopan juga kan kayak gitu," ucap Satya mengusir prasangka di hati istrinya.


"Ya udah kalau gitu, kalau ada waktu telfon aku ya, Mas?" ucap Amartha.


"Iya, Sayang..." sahut Satya yang memutuskan telepon dari Amartha.


Satya melambaikan tangannnya memanggil seorang pelayan, ia mengeluarkan sejumlah uang pada pelayan tersebut untuk membayar makanan dan minuman, ia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Sepertinya tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi, kalau begitu saya permisi," ucap Satya yang segera bangkit dari duduknya.


Banyak cibiran ketika Satya beranjak dan melangkahkan kakinya keluar dari cafe. Samar-samar beberapa orang mendengar si wanita ingin dinikahi, mereka berpikir si wanita tengah mangandung dan meminta si pria untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mereka yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, malah bersimpati pada Ivanka yang masih menangis. Salah seorang perempuan mendekatinya.


"Sabar, Mbak. Laki-laki emang gitu maunya enaknya aja, giliran tanggung jawab nggak mau. Yang sabar ya? semoga kandungannya sehat sampai nanti melahirkan," ucap perempuan itu. Ivanka mencoba tersenyum, walaupun awalnya Ivanka kaget dengan apa yang disampaikan perempuan tadi.


"Ehm, terima kasih..." ucap Ivanka, perempuan itu pun pergi meninggalkan Ivanka yang bergumam.


"Tanggung jawab?" muncul seringai di wajah Ivanka.


"Benar, dia memang harus tanggung jawab," ucap Ivanka lagi.


Namun ia tidak menyadari ada seseorang yang mendengar dengan jelas percakapan dua orang berlain jenis itu. Ivanka segera menghapus air matanya dan melenggang keluar dari cafe. Dia langsung menelepon Alia.


"Udahan pura-pura sakitnya. Sekarang saya tunggu kamu di kantor 10 menit dari sekarang!" perintah Ivanka.


Alia yang masih di ruang tunggu rumah sakit menghela nafasnya.


"Siapa juga yang pura- pura sakit?" guman Alia, kemudian ia mengantongi ponselnya kembali.


"Pak Firlan, saya harus ke kantor sekarang," ucap Alia tengah terbaring di IGD, dia habis disuntik untuk mengatasi nyeri lambungnya.


"Tapi bukannya kamu lagi sakit?" ucap Firlan yang melihat Alia masih pucat.


"Saya sudah lebih baik, terima kasih atas bantuannya." ucap Alia yang langsung turun dari brankar.


"Ya sudah, biar saya antar." ucap Firlan, tidak tega melihat kondisi Alia.

__ADS_1


Akhirnya Firlan mengantarkan Alia untuk ke kantornya. Alia yang mendapatkan perhatian dari Firlan merasa sangat senang. Sudah lama ia tidak mendapatkan perhatian dari seseorang.


Setelah mengantarkan Alia sampai di kantornya, Firlan langsung menancapkan gasnya ke perusahaan Ganendra group.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Alia?" ucap Firlan bermonolog dengan dirinya.


"Aku rasa kamu sengaja melakukan itu agar Nona Ivanka bicara berdua dengan Tuan Satya. Baiklah aku akan mencari tau," lanjutnya.


Sementara di sebuah rumah yang megah. Amartha kedatangan Bik Surti, istri dari Mang Tatang.


"Baiklah bik Surti, ini kamar bibik. Kalau begitu saya tinggal dulu, ya?"


"Nyonya mau dimasakkan apa untuk makan siang nanti?" tanya Bik Surti.


"Saya mau sate madura, Bik. Jadi kayaknya nggak usah masak kayaknya, ya? kalau begitu saya tinggal dulu ya, Bik?" ucap Amartha. Dia sengaja memesan makanan untuk makan siangnya, karena Bik Surti baru saja datang. Amartha memberi waktu untuk Bik Surti membereskan baju-bajunya terlebih dahulu.


Tak lama setelah Bik Surti datang, kini giliran Sasa dan Damian yang membawa barang-barangnya dan mulai bekerja di rumah itu. Amartha menunjukkan kamar Sasa disebelah kamar Bik Surti.


Kemudian Amartha berjalan ke arah taman menghampiri Rudy dan Rosa yang tengah duduk santai.


"Mah?" sapa Amartha pada Rosa. Wanita hamil itu duduk di samping Rosa.


"Lagi ngobrolin apa? seru banget," lanjutnya.


"Ini loh, katanya Papah mau ngajuin pensiun dini," ucap Rosa pada Amartha.


"Kenapa emangnya?" tanya Amartha lagi.


"Nanti kalau cucu kami lahir, kami bisa jadi sering kesini, paling nggak kami bisa bantuin kamu, Sayang..." ucap Rudy yang mungkin ketika cucunya lahir, dia akan sering bolak-balik ke kota itu.


"Aku sih terserah Mamah sama Papah aja gimana baiknya," Amartha tersenyum.


"Iya, Satya menawarkan Papah buat buka usaha, biar Papah ada kegiatan," ucap Rosa.


"Tapi kok Mas Satya nggak belum ngomong sama aku?" kata Amartha, Rosa mengelus lengan putrinya.


"Mungkin belum, karena dia ngomong juga baru semalam kok," ucap Rosa.


"Perasaan Amartha seharian ini nggak enak terus, kenapa ya?" Amartha memandang kedua orangtuanya.


"Ibu hamil kan gitu, Sayang. Banyak godaannya, harus kuat. Banyakin dzikir dan berdoa, supaya nggak diganggu jin dan sejenisnya," ucap Rosa yang diangguki Rudy.

__ADS_1


"Dan dijauhkan dari prasangka buruk," timpal Rudy.


"Jangan biarin pikiran kamu kosong, dan jangan kepikiran yang aneh-aneh," Rosa mengelus rambut panjang anaknya.


"Iya, Mah..." ucap Amartha tersenyum.


Amartha membuka sebuah aplikasi pesan antar makanan, ia memesan sate madura. Rasanya ia ingin sekali makan sate ayam dengan bumbu kacang yang melimpah, ditambah dengan acar dan sambal dan kecap. Perutnya mendadak lapar.


"Mah, Amartha ke dapur ya? mau bikin susu." ucap Amartha yang beranjak dari duduknya. Rosa pun segera berdiri mencegah anaknya untuk pergi.


"Biar mama bikinin, Papah pengen dibikinin apa?" Rosa menatap suaminya.


"Papah kopi hitam aja, Mah..." kata Rudy.


"Ya udah, Mamah bikinin dulu," ucap Rosa yang langsung melangkah pergi.


"Mah?" Amartha memanggil Risa, wanita itu menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.


"Sama biskuit juga," lanjut Amartha nyengir.


"Oke," sahut Rosa yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Amartha," Rudy tiba-tiba memanggil anaknya.


"Ya, Pah?" Amartha menatap Rudy lembut.


"Papah sangat bahagia melihat kamu mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu, Nak..." ucap Rudy.


"Iya, Pah. Aku pun bersyukur sekali bisa mendapatkan suami seperti Satya," kata Amartha.


"Kehidupan pernikahan itu bukan hanya tentang kecukupan materi, Nak. Tapi juga menyangkut hati. Semakin sukses seorang pria, semakin banyak godaan diluar sana." kata Rudy menatap anaknya lekat.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Amartha yang seketika was-was dengan ucapan Rudy.


"Bukan kamu, tapi kalian berdua. Kalian harus saling percaya satu sama lain, apapun yang terjadi, jangan mempercayai omongan oranglain yang belum tentu kebenarannya. Papa bicara seperti ini karena papah pernah mengalaminya," ucap Rudy mengingat masa lalu.


"Ketika seorang pria menikah daya tariknya akan semakin meningkat, seperti sebuah magnet yang menarik benda-benda disekitarnya. Hanya kekuatan cinta yang mampu mempertahankan keutuhan sebuah rumah tangga, pupuk dan siramlah cintamu setiap hari, dengan begitu tidak akan ada celah bagi orang lain untuk masuk kedalamnya." lanjut pria paruh baya itu.


Amartha menatap Rudy namun pikirannya entah kemana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2