Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jangan Menyentuhku


__ADS_3

Setelah beberapa saat bersiap- siap dengan dibantu seorang wanita, Amartha keluar dengan maxy dress yang sangat pas di tubuh wanita itu. Wajahnya hanya terkena sapuan bedak yang tipis dengan lip tint berwarna nude, serasi dengan warna dress yang sesuai dengan kulitnya yang putih.


Amartha berjalan ke arah sebuah tempat yang sudah dihias dengan lampu dan bunga.


Seorang pria sudah duduk menunggu wanitanya, di meja makan yang dilapisi kain putih. Suasana malam sangat dingin, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri. Dia berjalan ke arah pria tersebut, sambil matanya melirik kesana kemari melihat sekeliling, berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari tempat ini. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginan Ashraf, air matanya hampir saja lolos, namun segera disekanya. Melihat saat ini ia dikelilingi lautan membuat dia putus asa, tak ada jalan pulang.


"Cantik!" puji Ashraf berdiri dan menarik sebuah kursi untuk Amartha, dan pria itu melepas mantel hitam yang dikenakannya untuk melindungi tubuh wanita yang ada di hadapannya.


"Udaranya dingin," ucap Ashraf setelah memakaikan mantel miliknya, ia pun kembali ke tempat duduknya.


Amartha hanya diam tidak menjawab sedangkan Ashraf tersenyum memandang wanita yang bersikap acuh padanya. Wanita itu hanya melihat wajah pria yang ada di depannya dengan tatapan dingin, dalam hatinya tak berhenti memanggil nama suaminya, berharap ada keajaiban, sang suami bisa membawanya pergi dari sini.


Seorang pelayan menghidangkan menu appetizer, pumpkin soup. Namun Amartha hanya melihat mangkuk itu tanpa berniat untuk menyentuhnya


"Apakah harus aku yang menyuapi baru kamu akan makan soup itu?" ucap Ashraf yang membuat Amartha menyentuh sendoknya dan mulai mengaduk soup berwarna kuning itu.


"Tenang, aku tak akan memberimu racun atau semacamnya, aku tak mungkin membahayakan calon istriku," lanjut lelaki itu


Amartha tak menjawab setiap ucapan Ashraf, dia sungguh muak melihat wajah pria itu, pria yang menjadikannya tawanan di kapal pesiar ini. Matanya sekilas melirik ke beberapa sudut, banyak pengawal yang memakai pakaian serba hitam yang berjaga disekeliling mereka.


Amartha mencoba menyuapkan satu sendok soup, namun ia segera menutup mulutnya dengan punggung tangan, berpura-pura bahwa dia merasakan mual saat menikmati makanannya.


"Howeekk," Amartha mencoba untuk memainkan raut wajahnya.


"Kenapa? mual?" tanya Ashraf saat melihat wajah Amartha yang menahan mual. Ashraf menepukkan kedua tangannya, dan seorang pelayan menghampirinya.


"Ambilkan air putih hangat!" ucap Ashraf pada pelayan.


"Baik, Tuan..." ucap pelayan itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pelayan itu membawakan gelas yang berisi air hangat, seperti yang diminta Ashraf.


"Ayo, minum, Honey ... ini akan membantu meredakan rasa mual diperutmu," ucap Ashraf, namun Amartha tak menjawab. Ia mengambil air itu dan hidungnya mencoba mencium apakah ada bau yang mencurigakan.


"Astaga, apakah aku seburuk itu dimatamu, hah? baiklah kalau kamu ragu, biar aku minum terlebih dulu," ucap Ashraf yang akan meraih gelas bening itu.


Namun tanpa menjawab, Amartha segera meneguk air itu, sebenarnya ia merasakan lapar, namun ia ragu untuk memakan apa yang tersaji di hadapannya.


"Sudah merasa lebih baik?" Ashraf bertanya dan hanya dijawab anggukan oleh Amartha. Wanita itu hanya ingin membuat Ashraf marah atau setidaknya ilfeel padanya. Namun pria itu sepertinya tidak terganggu dengan apa yang dilakukannya tadi.


Seorang pelayan kemudian membawa 2 piring yang berisi beef welington dan vegie salad, membuat perut Amartha kian meronta, namun Amartha sebisa mungkin menahan keinginan untuk makan bersama pria yang menculik dirinya.


"Aku potongin buat kamu," ucap Ashraf yang lagi-lagi tak mendapatkan jawaban dari wanita yang hanya duduk diam bagaikan patung hidup.


"Makanlah," Ashraf memberikan piring miliknya, dan mengambil piring Amartha yang masih utuh, belum tersentuh.


"Howek, howek," Amartha berpura-pura akan menyuapkan satu potong daging ke dalam mulutnya, namun ia meraih tisu dan membuang daging dari mulutnya, mengikis kesabaran Ashraf yang baru saja akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Pria itu menaruh kembali alat makannya, dan menatap Amartha dalam.


"Calon istri saya tidak suka dengan makanan ini," ucap Ashraf membuat segurat rasa takut diwajah mereka yang berdiri dengan seragam chef jacket.


"Kamu ingin makanan apa? mereka akan segera membuatkannya," ucap Ashraf.


"Entahlah, mungkin..." ucapan Amartha terhenti.


"Sesuatu yang manis," lanjutnya.


"Kalian dengar? kenapa masih disini? cepat pergi!" Ashraf mengibaskan tangannya, kemudian ia melanjutkan menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Apa masih mual?" ucap Ashraf yang menyentuh punggung tangan Amartha

__ADS_1


"Maaf, jangan menyentuhku! aku nggak suka," wanita itu segera menarik tangannya.


"Oh ya? tapi aku suka," ucap Ashraf yang tersenyum penuh arti.


"Makanlah, calon anakku itu pasti sudah sangat kelaparan," ucap Ashraf saat melihat pelayan menyajikan sepotong chocolate cake di hadapannya.


"Ini anakku dengan Mas Satya, dan tidak ada yang bisa mengubah itu, sampai kapanpun!" ucap Amartha dengan tatapan tajam, namun Ashraf malah terkekeh melihat ekspresi wajah wanita dihadapannya.


"Begitu, ya? tapi jika kamu bersamaku secara tidak langsung dia akan menjadi anakku, kecuali jika kamu ingin memberikannya pada ayahnya, tentu aku tidak akan keberatan," Ashraf cuek, menikmati makanannya.


"Jangan mimpi! aku lebih baik mati daripada harus hidup dengan kamu!" sarkas Amartha.


"Lakukan saja, aku yakin kamu tidak akan senekat itu," jawab pria yang kemudian meneguk minumannya.


"Aku yakin kamu masih sayang dengan nyawamu, terutama anak dalam kandunganmu itu," Ashraf menatap Amartha dengan senyum mengejeknya, pria itu yakin wanita yang ada dihadapannya hanya menggertaknya saja.


Amartha sekilas melihat ada sesuatu yang bergerak diatas sana, ia berharap bahwa ada yang patroli laut atau apalah, dia berharap mereka yang diatas sana akan melihatnya, wanita itu langsung berdiri, dan membuang mantel yang sedari tadi melindungi tubuhnya dari hawa dingin, lalu ia segera berlari ke ujung geladak kapal.


"Hey! berhenti!" seru pria itu.


"Wanita ini benar-benar menguji kesabaranku!" gumam Ashraf yang segera bangkit mengejar Amartha. Ashraf memberi kode para pengawal, bahwa ia yang akan membereskan wanita yang saat ini berada di ujung geladak, tangannya berpegangan pada besi. Para pengawal mendekat ke arah wanita yang kini semakin terpojok.


Satya yang melihat dari ketinggian dibagian buritan kapal tidak ada penjagaan, ia memanfaatkannya untuk turun dan menyusup ke dalam kapal. Lalu ia memerintahkan orang- orang suruhannya untuk ikut masuk ke dalam.


Menyadari beberapa helikopter tengah mengepung kapal mereka, para pengawal segera berlari ke arah buritan, namun terlambat. Karena Satya dan Firlan sudah berhasil menjejakkan kakinya diatas kapal itu. Para pengawal tak tinggal diam, mereka menyerang Satya dengan senjata tajam, begitu pun dengan Firlan, mereka memukul menendang untuk melumpuhkan lawan.


"Kamu mau lari kemana, Honey? sudah malam, jangan bermain-main," ucap Ashraf yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Amartha.


"Ayolah, jangan membuatku marah! kamu tidak akan bisa lari dariku, ayo kemarilah," ucap Ashraf, namun langkahnya terhenti saat ada seseorang mendekatinya dan memberitahu Ashraf bahwa kapal mereka telah dimasuki penyusup dalam jumlah yang cukup banyak. Kondisi kapal sungguh kacau bahkan banyak orang yang terluka, beberapa kali timah panas menyerang mereka yang lengah.

__ADS_1


"Sial! sepertinya suamimu menemukan kita, Honey! ah, maafkan aku jika malam ini menjadi malam terakhir bagi kalian berdua," ucap Ashraf, yang tanpa sadar ada seseorang yang kini berlari ke arahnya.


...----------------...


__ADS_2